
Di Pulau Sumatera bagian utara tepatnya di daerah Simalungun terdapat sebuah gunung yang dinamakan Gunung Tinggi Raja. Di kanan kiri gunung tinggi raja terdapat hutan lebat dengan pemandangan alam yang sangat indah. Bermacam-macam bunga tumbuh dengan subur di sana.
Gunung Tinggi Raja! Mengapa dinamakan demikian? Pasti ada sebabnya. Untuk mengetahuinya marilah kita ikuti cerita berikut ini.
Dahulu kala, kawasan tempat berdirinya Gunung Tinggi Raja adalah bekas sebuah kerajaan yang dipimpin oleh raja Purba Silangit.
Sang raja memerintah dengan adil dan bijaksana. Ia mempunyai seorang permaisuri dan beberapa selir. Dari permaisuri dan para Selirnya ia mempunyai beberapa Puteri yang cantik-cantik. Konon sang raja memang tidak dikaruniai Putra laki-laki. Diantara sekian banyak Puterinya itu yang paling cantik adalah Puteri dari sang permaisuri, karena itu sang Puteri sangat disayang oleh sang raja.
Pada suatu ketika tibalah musim menanam padi. Biasanya sebelum menanam padi akan diadakan upacara ritual agar hasil panen menjadi berlimpah ruah. Seluruh keluarga istana ikut serta dalam upacara itu. Hanya ibunda raja dan Puteri dari permaisuri yang tidak ikut.
“Ayahanda kenapa saya tidak boleh ikut?” Puteri cantik itu mengajukan protes.
Dengan tersenyum Baginda raja menjawab “Tidak anakKu, kau di rumah saja bersama nenek. Aku tidak tega melihat kulitmu terbakar sinar matahari. Kulit dan wajahmu yang cantik itu bisa rusak nantinya.”
“Tapi Ayahanda... saya sangat ingin melihat upacara menanam padi” Sang Puteri merajuk.
“Ketahuilah anakku, untuk menuju ladang tidak boleh naik kendaraan, harus berjalan kaki demi menghormati nenek moyang. Kau akan kelelahan dan aku khawatir nanti kau jatuh sakit. Turutilah perintah ayah. Semua ini demi kebaikanmu.”
“Tapi... ”
“Sudahlah anakku, kau akan ditemani nenek...!”
Puteri cantik itu merasa sangat kecewa. Betapa inginnya dia mengikuti upacara menanam padi yang katanya sangat meriah itu. Selama hidupnya hanya satu kali ia melihat upacara menanam padi yaitu ketika ia berumur sepuluh tahun. Kini semenjak ia berusia tujuh belas tahun ayahnya selalu melarang mengikuti upacara itu.
“Ayahanda tidak adil, kenapa Saudara-saudaraku yang lain boleh ikut tetapi aku tidak...” Demikian gerutu sang Puteri dalam hati.
Hari itu juga sang raja berangkat bersama seluruh prajurit dan penduduk berangkat ke ladang. Semua anak-anaknya yang cantik ikut berjajar di barisan depan. Hanya Puteri dari permaisuri yang tidak boleh ikut.
Semua orang bergembira, sepanjang jalan nampak meriah sekali rombongan iringan raja yang diikuti para Puteri dan prajurit istana. Penduduk mengelu-elukan mereka. Puteri Cantik hanya bisa memandangi kepergian rombongan itu dari halaman istana. Setelah rombongan itu lenyap dari pandangan sang Puteri. Suasana benar-benar terasa sunyi. Karena merasa kesepian akhirnya Puteri itu menangis tersedu-sedu.
“Mengapa Ayahanda pilih kasih! Mengapa saya tidak boleh ikut upacara itu...!” Teriak sang Puteri disela-sela tangisnya.
Suasana istana yang sunyi sepi menjadikan suara tangis sang Puteri terdengar keras. Suara tangis itu terdengar oleh ibu Raja Purba Silangit. Datanglah wanita tua itu menengok cucunya.
__ADS_1
“Cucuku... ada apa gerangan?”
“Oh, nenek, saya ingin sekali ikut upacara menanam padi. Tetapi Ayahanda tidak mengijinkan. Padahal Puteri-Puteri yang lain diperbolehkan ikut.”
Sang nenek merasa iba mendengar tangis dan pengaduan cucunya.
“Cup! Cup! Sudahlah cucuku... biarlah nanti musim tanam berikutnya aku yang minta agar kau boleh turut serta.”
“Tapi nenek... saat ini saya betul-betul ingin ikut seta.”
“Oh, jadi mau masih ingin melihat upacara itu?”
“Betul nenek...!”
“Hanya melihat ya!”
“Ya hanya melihat!”
“Tidak boleh mendekat, hanya melihat dari atas! Mau?” Sang nenek menegaskan.
“Nanti kau akan tahu. Kalau mau memang ingin melihat sekarang turuti perintahku aku akan membantumu.”
“Ya nenek...!”
Sang nenek di kenal sebagai orang yang tahu masalah ghaib. Ia meminta kepada cucunya agar memasak air di belanga yang besar sekali. Di dalam belanga berisi air itu harus dimasukkan daging, ditambah beberapa aneka bunga. Semua yang diminta oleh sang nenek dikerjakan oleh sang Puteri. Kayu dalam tungku besar sudah dinyalakan. Perlahan-lahan namun pasti air dalam belanga segera mendidih. Di saat air dalam belanga itu mendidih sang nenek menyuruh cucunya masuk.
“Cucuku... sekarang masuklah kau ke dalam belanga!”
“Apa nenek...? Apa tidak sakit...? Tanya sang Puteri dengan ragu.
“Aku nenekmu sendiri, tak mungkin aku mencelakakanmu.”
“Ya nenek... saya percaya.”
__ADS_1
Sang Puteri menceburkan diri ke dalam belanga. Sungguh aneh, biarpun air dalam belanga bergolak karena mendidih tapi sang Puteri tidak merasa kepanasan. Beberapa saat setelah Puteri tenggelam dalam belanga, menjelmalah ia menjadi seekor burung merpati putih yang cantik sekali.
“Terima kasih nenek...!”
Terbanglah merpati jelmaan sang Puteri itu menuju ladang tempat ayahnya. Sementara itu upacara menanam sudah dimulai. Di tengah-tengah upacara tiba-tiba nampak seekor burung merpati putih terbang berputar-putar di atas ladang. Sambil berputar-putar burung merpati itu bernyanyi dengan suara merdu. Semua orang tercengang mendengar suara nyanyian sang burung merpati. Termasuk Raja Purba Silangit.
“Sepertinya aku pernah mendengar suara dan nyanyian itu...” Gumam sang raja sambil mengingat-ingat.
“Astaga... Suara itu seperti suara anakku yang kutinggalkan di istana.”
Memang... demikian asyiknya mengikuti upacara itu sehingga sang raja dan permaisuri lupa untuk mengantarkan makanan kepada sang Puteri dan ibundanya yang tinggal di istana. Berbagai jenis makanan telah dimasak dalam upacara tapi justru raja lupa pada ibu dan Puterinya. Raja Purba Silangit segera memerintahkan seorang prajurit pergi mengantarkan makanan ke istana untuk ibu dan Puterinya.
Celakanya... prajurit ini adalah prajurit yang suka berbuat culas. Ia suka korupsi, segala hal sudah biasa disalahgunakan. Di tengah jalan makanan-makanan yang lezat itu justru dilahapnya sendiri, hanya sebagian kecil dan tulang yang ia sisakan. Sisa-sisa makanan itulah yang ia bawa ke istana menghadap ibunda raja.
“Apa? Hanya ini yang diberikan raja kepadaku...?” Tanya sang ibunda dengan wajah murka.
“Maafkan hamba... hamba hanya menjalankan perintah.” Sahut sang prajurit culas.
“Sudah seharian aku kelaparan. Sementara kalian enak-enak mengadakan upacara dengan makanan lezat-lezat. Sungguh tak tahu diri. Ini penghinaan besar namanya!” Sang bunda benar-benar murka.
“Hamba... hamba... mohon diri...” Ucap prajurit itu ketakutan. Segera saja ia berlari cepat menuju ladang.
Dengan mata berapi-api sang bunda raja pegi ke halaman istana. Ia menangkap seekor kucing. Kemudian ia mengikat kepala kucing itu dengan kain. Kain yang dipakai adalah kain pengikat kepala yang biasa dipakai oleh perempuan saat melakukan tarian adat. Selanjutnya ia memanggil anak-anak kecil agar mengikutinya ke balai pertemuan dekat istana. Setelah anak-anak berkumpul mereka diajak memainkan gendang. Bukan sembarang gendang, melainkan gendang pusaka adat yang diyakini punya kesakitan ampuh. Dengan iringan bunyi gendang itu sang nenek menyuruh kucing yang diikat itu untuk menari-nari.
Maka menarilah kucing itu dengan gerakan yang sangat aneh. Tak lama kemudian awan gelap menyelimuti langit dan terdengar suara petir menggelegar. Anak-anak makin keras menabuh gendang, si kucing semakin gila tariannya.
Petir di angkasa terus meledak bersahut-sahutan seiring dengan itu terjadilah gempa yang sangat dahsyat. Tanah terbelah dengan menganga dari dalam tanah yang terbelah itu memancar air panas. Semakin lama goncangan gempa semakin keras, semakin banyak tanah yang terbelah dan runtuh semakin banyak air panas yang menyembur dan mengalir ke mana-mana.
Raja dan semua peserta upacara menjadi ketakutan. Mereka berlari ke sana kemari untuk menyelamatkan diri. Tapi percuma saja, ke mana pun mereka berlari bumi selalu terbelah dan menelan mereka. Beberapa jam kemudian lenyaplah kerajaan Raja Purba Silangit beserta seluruh penduduknya. Semua habis di telan bumi. Tidak ada seorang pun yang selamat. Yang lebih aneh lagi tanah di sekitar kerajaan tiba-tiba membubung tinggi membentuk sebuah gunung. Di kemudian hari gunung itu dinamakan Gunung Tinggi Raja.
Berpuluh-puluh tahun kemudian, di sekitar Gunung Tinggi Raja tumbuhlah hutan yang lebat. Di sekitar hutan terdapat banyak aneka bunga yang berwarna-warni.
Konon bunga yang berwarna-warni itu adalah jelmaan permaisuri, selir dan Puteri-Puteri Raja Purba Silangit. Di kawasan itu terdapat pula tanah membukit yang bentuknya mirip bangunan istana yang disebut rumah bolong.
__ADS_1
Demikianlah Cerita yang hidup di kalangan masyarakat Simalungun Sumatra Utara.