Cerita Rakyat Dan Legenda

Cerita Rakyat Dan Legenda
CERITA RAKYAT LA UPE


__ADS_3

Alkisah, di sebuah kampung di daerah Sulawesi Selatan, Indonesia, ada seorang anak yatim bernama La Upe. Ia tinggal bersama ayahnya di sebuah rumah kecil di pinggir kampung. Ibunya meninggal dunia sejak ia masih kecil. Ketika ia berumur sepuluh tahun ayahnya menikah lagi seorang janda dari kampung lain nan bernama I Ruga. Sang Ayah berharap agar La Upe mempunyai ibu nan dapat merawat dan menyananinya. Namun, harapannya berbeda dari kenyataan. Setiap hari I Ruga menyiksa dan memukul La Upe ketika ia pergi ke sawah.


Sejak bersama ibu tirinya, hidup La Upe sangat menderita. Ia gak pernah lepas dari siksaan dan perintah nan berat dari ibu tirinya. Setiap hari, ia disuruh pergi ke sungai tuk memancing ikan. Jika pulang tanpa membawa hasil, ia disiksa dan dipukul dengan tongkat. Begitulah nan dialami La Upe setiap hari tanpa sepengetahuan ayahnya.


Pada suatu hari, La Upe disuruh oleh ibu tirinya ke sungai tuk memancing ikan. Setelah mempersiapkan pancing dan umpan nan banyak, berangkatlah ia ke sungai dengan harapan bisa mendapatkan hasil nan banyak agar terhindar dari siksaan ibu tirinya. Sesampainya di tepi sungai, ia memasang kailnya, lalu duduk di tepi sungai sambil bersiul-siul. Sudah hampir setengah hari ia memancing, namun tak seekor ikan pun nan menyentuh umpannya. Hatinya pun mulai cemas.


“Aduh, aku pasti mendapat pukulan lagi kalau gak mendapat ikan hari ini,” keluh La Upe.


Berkali-kali La Upe memindahkan pancingnya ke tempat nan lebih dalam agar umpannya di makan ikan, namun tak seekor ikan pun nan menyentuhnya. Karena hari sudah siang dan perutnya pun sudah terasa sangat lapar, akhirnya ia memutuskan tuk berhenti memancing. Ia sudah pasrah tuk mendapatkan hukuman dari ibu tirinya. Ketika akan mengangkat kailnya, tiba-tiba seekor ikan besar menyambar umpannya. Dengan hati-hati, ia menarik kailnya perlahan-lahan ke tepi sungai. Setelah kailnya terangkat, tampaklah seekor ikan besar nan terkait di ujung kailnya. Hati La Upe nan semula cemas tiba-tiba menjadi senang, karena ia akan terbebas dari hukuman. Betapa terkejutnya ia ketika akan memasukkan ikan itu ke dalam wadahnya, ikan itu tiba-tiba berbicara layaknya manusia.


“Ampun, Tuan! Tolong jangan bunuh saya! Saya ini adalah raja ikan. Jika Tuan sudi melepaskan saya, apa pun permintaan Tuan akan saya kabulkan. Dengan menyebut ‘ilmunya raja ikan’, maka permintaan Tuan akan terkabulkan,” kata ikan itu.


Karena merasa iba, La Upe melepaskan kembali ikan itu ke sungai. Akhirnya, ia pun pulang tanpa membawa hasil. Sesampainya di rumah, ia melihat ibu tirinya sedang menunggunya.


“Hei, La Upe! Mana ikannya?” tanya ibu tirinya.


“Maaf, Bu! Tadi saya mendapatkan seekor ikan besar, tapi saya melepasnya kembali ke sungai,” jawab La Upe.


Mendengar jawaban itu, I Ruga menjadi murka. Ia segera mengambil tongkatnya nan sering digunakan tuk memukul La Upe. Ketika ibu tirinya hendak memukulnya, La Upe tiba-tiba teringat pada pesan ikan besar nan ditolongnya tadi. Ia pun segera membaca mantra sakti nan diberikan kepadanya.


“Tolong lekatkan ibuku di pintu, berkat ilmunya raja ikan!”


Pada saat itu pula, I Ruga pun melekat pada pintu. Ia meronta-ronta tuk melepaskan diri, namun usahanya sia-sia. Tubuhnya lengket bagaikan terkena perekat. Beberapa kali ia berteriak meminta tolong agar La Upe melepaskan tubuhnya dari pintu itu, namun La Upe menolaknya. La Upe justru pergi meninggalkannya dan membiarkannya terus melekat pada pintu itu.

__ADS_1


Tak berapa kemudian, ayah La Upe pulang dari sawah. Betapa terkejutnya ia ketika akan membuka pintu rumahnya. Pintu itu sangat berat seakan-akan ada orang nan mendorongnya dari dalam.


“Bu, apakah kamu nan mendorong pintu ini?” tanya ayah La Upe.


“gak! Aku gak mendorongnya. Tubuhku terlekat di balik pintu ini dan gak bisa bergerak,” jawab I Ruga.


Ayah La Upe pun mendorong pintu itu dengan sekuat tenaga. Saat pintu itu terbuka, tampaklah istrinya sedang melekat pada pintu sambil memegang sebuah tongkat.


“Siapa nan melakukan ini, Bu?” tanya ayah La Upe.


I Ruga pun menceritakan semua peristiwa nan menyebabkannya terlekat di pintu itu. Mendengar cerita istrinya itu, ayah La Upe hanya tersenyum dan berkata:


“Itulah akibatnya kalau selalu menyiksa dan memukul anak nan gak bersalah.”


“Tolong lepaskan ibu tiriku, berkat ilmunya raja ikan!”


Seketika itu pula, I Ruga pun terlepas dari pintu dan segera meminta maaf kepada suaminya dan La Upe. Sejak saat itu, I Ruga gak pernah lagi menyiksa dan memukul La Upe karena takut mendapatkan kutukan. Akhirnya, mereka pun hidup rukun dan bahagia.


Beberapa tahun kemudian, La Upe pun tumbuh menjadi seorang pemuda nan gagah dan tampan. Sejak itu, ia sering berjalan-jalan ke kota kerajaan tuk melihat suasana keramaian kota. Suatu hari, ketika ia sedang lewat di depan istana kerajaan, tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia melihat putri raja nan cantik nan rupawan sedang bersantai di jendela.


“Aduhai, cantik sekali putri raja itu!” ucap La Upe dengan kagum.


“Andai saja aku bisa menikah dengannya, betapa bahagia rasanya hati ini,” ucapnya lagi sambil terus menatap wajah cantik sang Putri.

__ADS_1


Merasa ada nan memerhatikannya, Putri Raja pun menoleh ke arah La Upe. Sang Putri pun tersentak ketika melihat ketampanan pemuda itu. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Rupanya, ia jatuh hati kepada La Upe. Pada suatu hari, secara diam-diam mereka mengadakan pertemuan di suatu tempat tanpa sepengetahuan sang Raja dan permaisuri. Dalam pertemuan itu, mereka saling mengungkap perasaan masing-masing. Akhirnya, mereka pun bersepakat tuk menikah.


Suatu hari, La Upe bersama kedua orang tuanya datang melamar sang Putri. Namun, lamaran mereka ditolak oleh raja dan permaisuri, karena menganggap La Upe gak sederajat dengan sang Putri. Sang Putri adalah seorang keturunan raja, sedangkan La Upe hanya masyarakat biasa dan miskin. Mendengar penolakan itu, La Upe pun kembali ke rumahnya dengan perasaan sedih.


Setibanya di rumah, La Upe pun mencari cara agar dapat menikahi sang Putri. Setelah berpikir keras, ia pun menemukan sebuah cara. Ia akan menarik simpatik sang Raja dan permaisurinya dengan melekatkan sang Putri pada pintu. Dengan begitu, tentu gak ada orang nan bisa menolong sang Putri kecuali dia. Namun, sebelum melaksanakan niat itu, terlebih dahulu ia meminta restu kepada sang Putri dan memberitahunya bahwa apa nan akan dilakukan itu hanyalah sebuah siasat agar bisa menikahinya. Sang Putri mengerti dan bersedia tuk melaksanakan siasat tersebut, karena ia mencintai La Upe.


Pada suatu malam, La Upe menyusup masuk ke dalam kamar sang Putri. Dengan mantra saktinya, ia melekatkan sang Putri pada pintu kamar. Setelah itu, ia meninggalkan sang Putri dalam keadaan terlekat di pintu. Beberapa saat kemudian, seluruh penghuni istana menjadi gempar, termasuk raja dan permaisuri. Mereka mendapati sang Putri sedang melekat di pintu kamarnya. Sang Raja pun segera mengerahkan seluruh tabib istana tuk menolong sang Putri, namun hingga pagi menjelang tak seorang pun nan berhasil. Akhirnya, sang Raja memutuskan tuk mengadakan sayembara. Ia pun mengumpulkan seluruh rakyat di halaman istana.


“Wahai, seluruh rakyatku! Barangsiapa nan sanggup melepaskan putriku dari pintu, akan kunikahkan dengan putriku. Aku gak peduli apakah ia orang biasa ataupun orang miskin. Selain itu, dia juga akan kuangkat menjadi raja tuk menggantikan aku kelak.”


Setelah itu, sayembara pun dimulai. Satu persatu peserta sayembara mengeluarkan seluruh kemampuannya tuk melepaskan sang Putri dari pintu, namun tak seorang pun nan berhasil. Kini tinggal satu peserta nan belum maju, dia adalah La Upe. Dengan tenangnya, ia berjalan masuk ke dalam istana dan menghampiri sang Putri nan sedang melekat di pintu, lalu membaca mantra saktinya.


“Tolong lepaskan sang Putri dari pintu, berkat ilmunya raja ikan!”


Sungguh ajaib. Sang Putri pun terlepas dari lekatan pintu sambil tersenyum bahagia. Seluruh hadirin terperangah menyaksikan peristiwa itu. Sang Raja dan permisuri sangat kagum melihat kehebatan La Upe.


“Baiklah, La Upe! Sesuai dengan janjiku, aku akan menikahmu dengan putriku dalam waktu dekat. Aku dan seluruh keluarga istana minta maaf karena sebelumnya telah menolak lamaranmu,” kata sang Raja.


Sepekan kemudian, pesta pernikahan La Upe dan sang Putri pun dilangsungkan sangat meriah. Berbagai macam pertunjukan seni musik dan tari dipertontonkan. Seluruh rakyat negeri pun turut meramaikan pesta tersebut. Mereka sangat berbahagia melihat pasangan pengantin nan sedang duduk bersanding di pelaminan. Kedua mempelai benar-benar pasangan nan serasi. La Upe seorang pemuda nan gagah dan tampan, sedang sang Putri seorang gadis nan cantik nan rupawan.


La Upe dan sang Putri pun hidup berbahagia. La Upe mengajak kedua orang tuanya tuk tinggal di istana. gak berapa lama kemudian, La Upe pun diangkat menjadi raja tuk menggantikan sang Raja. Maka semakin lengkaplah kebahagiaan La Upe dan istrinya.


...Demikianlah Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan ...

__ADS_1


... kisah La upe yang bisa kami berikan untuk anda semuanya, semoga cerita rakyat Sulawesi Selatan diatas bisa menghibur dan memberikan sedikit wawasan kepada anda semuanya....


__ADS_2