Cerita Rakyat Dan Legenda

Cerita Rakyat Dan Legenda
CERITA RAKYAT TERJADINYA SELAMATAN DUDUK PERUT


__ADS_3

Selamatan duduk perut nan selama ini dilaksanakan di Gorontalo, Limboto bukanlah sekedar selamatan biasa saja, melainkan sudah menjadi adat kebiasaan disana bahwa setiap pasangan suami istri nan telah dilakukan dalam akad nikah nan sah, maka tuk hamil nan pertama diadakanlah selamatan duduk perut, nan mulanya berasal dari Raja Zulkarnain. Sekedar pengantar, baiklah kiranya dikemukankan terlebih dahulu tentang siapa dan bagaimana sebenarnya si Zulkarnain tersebut sebelum menjadi raja, dan sekaligus menjadi pengantar kita tuk memahami isi cerita nan sebenarnya.


Sebelum Zulkarnain menjadi raja, para pemangku adat memang memegang peranan nan penting dalam masyarakat pada waktu itu, sehingga pada suatu ketika Zulkarnain didatangi oleh salah seorang pemangku adat dan meminta kesediaannya tuk diangkat menjadi raja di tempat itu. Mendengar permintaan nan demikian, seraya Zulkarnain menjawab dan berkata, “Saya belum bersedia diri tuk diangkat menjadi raja di tempat ini, berhubung saya masih sementara mengidam penyakit, yaitu bisul dibagian kepala saya nan makin lama makin besar sehingga kelihatannya seakan-akan sudah menyerupai tanduk.”


Pemangku adat itu menjawab dengan penuh rasa optimis bahwa dia akan berusaha dengan sekuat tenaga tuk mengatasi masalah itu, dan akhirnya ternyata bahwa usahanya berhasil dengan baik, yaitu dengan jalan memotong kaki celana panjangnya. Kemudian bagian nan dipotong itu diserahkan kepada Zulkarnain dengan maksud agar dia pakai sebagai penutup kepalanya nan sekaligus dapat menutupi bisul nan sudah menyerupai tanduk itu, sehingga sampai sekarang ini celana panjang dari para pemangku adat di Gorontalo panjangnya hanya diantara buku-buku dengan pergelangan kaki. Karena alasan Zulkarnain sudah dapat diatasi dengan baik, maka dengan demikian Zulkarnain pun resmilah menjadi raja di Gorontalo.


Pada saat-saat mulainya memangku jabatan raja, pada suatu ketika Zulkarnain menyuruh petugas kerajaan tuk mencarikan seorang tukang Pangkas Rambut, nan tiada berapa lama kemudian mereka telah temukan dan terus datang bersama-sama mereka langsung menghadap kepada sang raja. Berkatalah Sang Raja kepada tukang pangkas rambut itu, katanya “Engkau ini akan aku jadikan tukang pangkas rambutku nan tetap, namun dengan catatan engkau harus jujur dan setia, sebab aku ini mempunyai tanduk dan gak boleh engkau beritahukan kepada siapa saja. Jika engkau akan bukakan rahasia mengenai keadaan diriku nan bertanduk ini, maka akan kusuruh bunuh engkau.”


Mendengar titah sang Raja demikian si tukang pangkas rambut itu pun setuju, sekaligus menyatakan kesediaannya kepada sang Raja. Mulailah ia melaksanakan tugasnya dengan baik terus menerus dan sampai meninggal ia gak pernah menodai kepercayaan sang Raja kepada dirinya, sehingga gak ada seorangpun dalam masyarakat itu nan sempat mengetahui rahasia tentang keadaan diri sang Raja nan bertanduk itu.


Atas meninggalnya itu, sungguh susah sang Raja memikirkan siapa gerangan kelak nan dapat menggantikan tukang nan sejujur itu, lalu segera memerintahkan kembali petugas kerajaan pergi mencari tukang nan di maksud, dan tiada berapa lamanya kemudian kembalilah mereka menghadap sang Raja bersama-sama dengan calon pengganti si mati dalam tugas memangkas rambut sang Raja. Seketika sang Raja melihat si calon itu, segera berkata, “Aku ini sebenarnya mempunyai tukang pangkas rambut nan tetap, tetapi sungguh sangat disanankan karena saat ini dia telah tiada, dia telah pergi mendahului kita semua menuju ke alam baqa. Maka tuk itu aku minta agar engkau bersedia menggantikan tugasnya dengan catatan, engkau gak boleh engkau beritahukan kepada siapa saja. Bila engkau akan bukakan rahasia mengenai keadaan diriku nan bertanduk ini, maka akan kusuruh bunuh engkau.”


Demikian titah sang Raja nan langsung disambut dengan hangat oleh tukang pangkas rambut itu. Mulailah ia melaksanakan ketrampilannya dengan cermat tahulah ia dengan nyata dan terang bahwa sang Raja itu benar-benar bertanduk nan menyebabkan ia selalu gelisah dan gak bisa tenang, rasanya ia gak betah memendam hal nan seaneh itu. Dalam suasana bathin nan penuh tanda tanya itu, mulailah ia mencari penyaluran semua agar hal itu gak akan menjadi beban nan makin berat dalam jiwanya, maka pergilah ia seorang diri ke tengah-tengah hutan belantara.


Makin lama ia pergi, makin jauh jarak nan ia tempuh dan akhirnya tibalah ia pada sebatang pohon kayu nan besar dan berlobang, maka gak segan-segan lagi ia segera menyalurkan apa nan menjadi beban jiwanya selama ini. Jenis penyaluran nan ia laksanakan di tempat itu ialah berteriak dengan sekuat-kuatnya dan sepuas-puasnya serta berulang kali nan kata-katanya, “Raja bertanduk, Raja bertanduk, Raja bertanduk.” Dengan demikian puaslah hatinya, legalah perasaannya lepaslah beban jiwanya, segeralah ia meninggalkan tempat itu dan melangkahlah kembali menuju rumahnya.

__ADS_1


Kemudian pada suatu ketika orang-orang dari kampungnya masuk hutan dengan maksud mencari batang kayu nan bagus tuk dibuat menjadi beduk di mesjid. Secara kebetulan sekali mereka dapatkan batang kayu besar dan berlobang, lalu mereka bawa ke kampung. Setiba di kampung mereka kerjakan bersama-sama sampai selesai, lalu digantung di mesjid, nan nanti dibunyikan setelah waktu sembahnan tiba. Tiada berapa lama berselang, waktu sembahnan pun tiba dan tuk itu beduk pun harus dibunyikan.


Seketika beduk dibunyikan, tercengang dan heranlah mereka nan sempat mendengar bunyinya berupa teriakan, “Raja bertanduk, Raja bertanduk, Raja bertanduk,” seraya mereka bertanya-tanya kira-kira raja mana sebenarnya nan dimaksudkan bertanduk itu. Betapa malu bercampur marah Sang Raja langsung memanggil tukang pangkas rambut itu karena hanya dia satu-satunya nan mengetahui keadaannya nan sebenarnya, lalu bertanya katanya, “Apakah engkau telah ceritakan kepada masyarakat tentang diriku bertanduk.?” Tukang pangkas rambut, menjawab, “gak!” disertai penjelasan bahwa ia pada suatu ketika, karena terdorong oleh rasa gak betah memendam rahasia nan sangat aneh itu, terus pergi ke tengah hutan belantara dan berteriak pada sebatang pohon kayu nan berlobang secara berulang kali dan sekeras-kerasnya dengan kata-kata, “Raja bertanduk, Raja bertanduk, Raja bertanduk,” dan akhirnya ternyata batang kayu dimaksud sudah terambil oleh orang lain dari sana, lalu mereka jadikan beduk di mesjid itu.


Namun demikian, tukang pangkas rambut itu langsung dibunuh oleh petugas kerajaan atas perintah sang Raja. Oleh karena ia gak bersalah lalu dibunuh, sehingga akhirnya setelah mayatnya dikuburkan atas kehendak dan izin dari Tuhan nan maha Kuasa, kuburnya menjadi keramat sehingga menarik perhatian seluruh isi negeri itu tuk pergi berziarah kesana. Melihat keadaan nan ajaib itu pada suatu ketika salah seorang anak gadis dari Sang Raja memberitahukan hal itu kepada ayahnya sekaligus memohon supaya ia diizinkan tuk pergi berziarah ke sana.


Ayahnya menjawab,”Tunggu sebentar, “biarlah orang banyak itu kembali dulu semua, baru ayah beranak itu pergi kesana. Tiada berapa lama kemudian, melangkahlah keduanya ke sana, dengan maksud tuk pergi menziarahi kuburan keramat tersebut. Tiga bulan lamanya sesudah mereka berziarah kesana, tiba-tiba pada suatu saat si anak gadis itu memberitahukan kepada ayahnya bahwa ia sejak kembali dari kuburan itu menstruasinya gak turun-turun lagi. Ayahnya menyesal dan segera memerintahkan kepada petugas kerajaan supaya memanggil dukun.


Para petugas kerajaan bersama seorang dukun datanglah dan langsung menghadap Sang Raja, dan Raja segera memberitahukan bahwa menstruasi dari gadisnya sudah tiga bulan gak turun-turun lagi sambil ia mengharapkan ketrampilan tangan dingin dan pengetahuan khusus dari Sang Dukun agar dapat menerka apakah anak gadisnya itu sudah hamil atau gak. Segera Sang Dukun mempraktekkan keahliannya baik dengan jalan mengelus-elus perut si anak gadis maupun dengan cara-cara khasnya nan lain, lalu hasilnya segera diberitahukan, bahwa si anak gadis itu gak hamil hanya menderita penyakit di perutnya.


Maka ia pun mempunyai cara dan peragaan-peragaannya tersendiri dalam hal menerka apa gerangan nan terkandung dalam perut si anak gadis tersebut. Dengan penuh yakin, dukun itu memberitahukan hasilnya kepada Sang Raja bahwa si anak gadis tersebut telah hamil, dan kandungannya sudah berumur delapan bulan serta bayi dalam kandungan berjenis kelamin laki-laki, lalu dukun itupun kembali ke rumahnya.


Betapa marahnya sang Raja atas peristiwa nan menimpa anggota keluarganya, lalu disuruh bunuhlah anak gadisnya itu. Kekejaman nan keliru dari Raja sampai ke telinga dukun ternama lalu datanglah ia menghadap raja, sambil menjelaskan bahwa kandungan anak gadis raja benar-benar bayi nan berjenis kelamin laki-laki, tetapi bayi itu terjadi bukanlah dari hasil pembuahan akibat pertemuan sel telur dengan sel ****** melainkan hal itu terjadi justru karena kekuasaan dan kehendak Tuhan semata-mata. Setelah mendengar penjelasan demikian, penyesalan sang Raja sungguh tak terkatakan lagi, seraya mengharapkan kepada dukun supaya segera pergi mencari orang nan bisa dan sanggup menghidupkan kembali anak gadisnya nan telah menjadi mayat itu. Dan sebagai jaminannya sekaligus akan diberikan kepada siapa saja nan dapat menghidupkan anak gadisnya.


Dukun itu pun segera pergi, mendaki gunung, menuruni lembah, menyusup masuk semak belukar, serta onak durinya, dan akhirnya sampai di pinggiran sebuah pantai, dari situ pandangannya, ditujukan ke laut lepas dan nampaklah di sana ada sebuah pulau kecil, lalu berdayunlah ia menuju ke pulau itu. Beberapa saat kemudian sampailah ia kesana, dijemput oleh seorang nan hanya satu-satunya nan tinggal di pulau itu, lalu ia segera menyampaikan maksud tujuannya yaitu mengharapkan kesediaan orang pulau itu kiranya berkenan akan menghidupkan kembali anak gadis nan sudah mati dibunuh atas perintah raja sendiri.

__ADS_1


Dengan penuh keikhlasan hati, orang pulau menyatakan kesediaannya, lalu datanglah keduanya menghadap kepada sang Raja. Setiba mereka di rumah Sang Raja mayat dari anak gadis tersebut sudah dikafankan dan sudah diguling pada sebuah tikar, karena pada waktu itu usungan ataupun dokar belum dikenal. Jadi hanya dengan gulungan tikar itulah mayat dibawa ke kuburan. Memang mujur tak dapat diraih pada saat itulah orang pulau tampil mempraktekkan pengetahuan khususnya dengan peragaan dan bacaan-bacaan khasnya dan terus melangkahi mayat itu sebanyak tiga kali. Langkah nan pertama dirangakaikan dengan lafal atau bacaan “KUN BI IZNI” (Kun berarti jadi, BI berarti Izini berarti izin) nanti pada langkah nan ketiga lafal atau bacaan sudah dilanjutkan dengan “KUN BI IZNILLAH” (Dengan izin Allah) mayat itupun bergeraklah, segera orang pulau mencabut keris dari ikat pinggannya lalu diirisnya semua tali-tali pengikat kafan dari anak gadis itupun berdirilah, terus turun tangga dengan rambut terurai. Orang pulau segera minta diri kembali ke tempatnya.


Dari saat itu, hari berganti hari, minggu bertukar minggu dan akhirnya umur kandungan pun menjadi sembilan bulan sepuluh hari, sakitlah perut si anak gadis, petugas kerajaan pergi atas perintah Raja segera menjemput dukun ternama, nan sebelumnya telah memastikan terkaannya tentang isi kandungan, dengan suatu maksud Raja, bahwa jika seandainya akan terbukti bahwa hasil kandungan bukanlah bayi laki-laki melainkan lain, maka dukun itupun segera dibunuh sama halnya dengan tukang pangkas rambut. Perut tiada lama rasa sakit, saat kelahiran tibalah dan hasilnya adalah seorang bayi nan berjenis kelamin laki-laki, sungguh tepatlah tebakan atau terkaan dukun ternama itu.


Karena terkaan dukun tepat dan sudah terbukti dengan nyata kebenarannya, tambahan pula kehadiran orang pulau adalah justru karena usaha si dukun itu semata-mata, maka sang Raja ingin membalas jasa terhadap dukun itu, sesuai janji nan telah diucapkan sebelumnya, namun hanya disambut dengan penuh keikhlasan agar raja gak perlu menyerahkan apa-apa kepadanya, sekaligus diikuti dengan saran-saran segera bersyukur dan membacakan doa selamat kepada Tuhan nan Maha Kuasa atas keselamatan anak-anak serta kebenaran terkaan dahulu, juga Sang Raja supaya segera memberi makanan kepada semua dukun nan silih berganti dimintai bantuan, sejak kandungan berumur tiga bulan sampai kandungan dilahirkan, jadi ada sebanyak tujuh orang dukun nan harus diberi makan itu.


Berdasarkan saran tersebut Sang Raja segera memerintahkan para petugas kerajaan tuk memasak makanan dimaksud, yaitu tujuh piring nasi warna-warni, dengan ikannya tujuh ekor, ayam panggang, tujuh butir telur rebus, jadi masing-masing memperoleh satu bagian dari tiap jenis.


Namun Zulkarnain berkuasa sebagai raja, tetapi karena ia telah menyuruh membunuh tukang pangkas rambut nan gak bersalah, diturunkanlah, ia dari tahta kerajaan, lalu ditawarkan menjadi kadhi atau pemimpin agama di tempat nan sama. Dengan demikian pakaian kebesaran raja turut ditanggalkan termasuk tutup kepala nan menutupi tanduknya.


Tawaran menjadi kadhi ditolak oleh Zulkarnain dengan alasan tanduknya nanti kelihatan orang Pemangku adat pun todak kehilangan akal, terus memotong lengan atau tangan baju dari salah seorang pagawai Syara’a (Syara’a adalah pelaksana urusan-urusan agama nan dibawah koordinasi Bapak Imam setempat), lalu bagian nan dipotong itu diserahkan kepada Zulkarnain menjadi penutup kepalanya.


Sampai sekarang pun pegawai Syara’a di Gorontalo Limboto masih ada nan pakai baju berlapis dua, bagian luar tiada berlengan dan tangan, itulah nan disebut Sadainya (Sadari berasal dari kata-kata Sadar dan ia, maksudnya ia atau pegawai syara’a itu sadar dan ikhlas dipotong lengan atau tangan bajunya, asalkan negeri itu mempunyai kadhi atau pemimpin agama). Demikian pula, bila diadakan selamatan duduk perut sajian makanan nasi warna-warni, ayam panggang dan telur rebus terus dihidangkan. Juga waktu pelaksanaan, biasanya pada saat kandungan pertama berumur 7 atau 8 bulan nan dilaksanakan oleh dukun setempat nan perlengkapannya berupa selembar tikar nan dialas di lantai dan bukan di ranjang, tempat berbaring sang istri di saat pelaksanaan acara selamatan. Kemudian pada saat selamatan hadir pula dua orang anak kecil laki-laki dan perempuan, serta daun nibun atau daun kelapa dipakai sebagai ikat pinggang sang istri, baju burung tanpa lengan atau tangan bersama kain selimut tuk penutup bagian belakang dan kaki, sebuah keris dipakai sang suami nan siap melangkahi istrinya sebanyak tiga kali, langsung mengiris ikat pinggang sang istri.


Sementara itu diselingi pula dengan tanya jawab tentang umur kandungan dimaksud, kemudian selamatan diakhiri dengan bangkit berdirinya sang istri langsung turun ke halaman, diikuti dengan seluruh perlengkapan pelaksanaan diturunkan dan diletakkan dihalaman rumah. Demikianlah asal-usul terjadinya selamatan duduk perut di Gorontalo.

__ADS_1


__ADS_2