
"Huh?? Apa ini?" Denji keheranan, ia saat ini sedang berada di rumahnya Power untuk mengambil CD nya Makima.
"Apa maksudmu?? Ini CD nya Makima!" Tegas Power.
"Kenapa kau memasukkan nya ke dalam kantong plastik?" Denji bertanya dengan polosnya.
Power hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia tak tahu apakah temannya ini polos ataukah bodoh.
"Sudahlah cepat berikan itu kepadanya!" Power langsung masuk ke dalam dan menutup pintunya.
Denji yang sangat penasaran dengan isi dari kantong plastik tersebut mencoba melihat isinya. Dengan perlahan lahan ia mulai membuka kantong plastik tersebut.
"Ahhh!!!!" Denji hanya melihat sekilas dan dia langsung kembali menutup kantong plastik tersebut.
"W-warna merah!!!" Katanya sambil nafasnya tersengal-sengal.
Ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke tempat Makima, ia benar-benar merasa tak normal setelah melihat CD milik wanita yang di cintainya secara langsung.
"Hahh, membosankan sekali!!" Power yang sedang berada di sofa merentangkan badannya.
Setelah ia menemui Denji untuk memberikan CD milik Makima, ia hanya rebahan di sofa di depan tv-nya.
Karena Makima telah pindah kembali ke apartemennya, ia kini tak mempunyai teman dirumah lagi.
Rasa sepi kembali menghampiri nya ketika Makima memutuskan untuk kembali.
"Huh, apa aku ikut dengan Denji saja??" Kata Power sambil mendongakkan kepalanya ke atas.
"Ah tidak,tidak aku bisa mengganggu momen mereka berdua" timpalnya.
Ia pun beranjak dari Sofanya dan menuju ke lemari, ia mengambil Hoodie berwarna abu-abu.
Tak lupa ia juga memakai bando tanduk favoritnya dan celana ketat berwarna putih.
Power memutuskan untuk keluar sebentar, ia sebenarnya juga tak tahu ingin kemana. Ia hanya ingin mencari hiburan karena merasa sangat kesepian di rumah.
Sesaat ketika ia melintasi sebuah gang "meow..." Sebuah suara berhasil membuatnya terdiam.
Ia pun mencari-cari dimana asal suara tersebut. "Meow...."
Lalu ia melihat sebuah kardus yang terletak di bawah tong sampah, ia mendekati nya dan suara itu semakin jelas terdengar. "Meow..."
Power pun membuka kardus tersebut dan alangkah terkejutnya dia, dia melihat seekor anak kucing dalam kondisi yang mengenaskan.
Badannya kurus dan kotor, nampak sekali kalau anak kucing itu telah dibuang oleh pemiliknya.
Power yang merasa kasihan dengan kondisinya langsung membawa pergi, ia berlari menuju ke dokter hewan untuk menyelamatkan kucing tersebut.
"Bertahanlah, aku akan menyelamatkan mu!!" Power berlari sambil meneteskan air matanya, ia merasa tak tega melihat anak kucing yang terlantar sendirian di pinggir jalan.
Setelah ia berlari cukup jauh, ia sampai di depan klinik hewan.
Dengan nafas yang terengah-engah, Power melihat sekilas anak kucing yang ia gendong tersebut "kita sudah sampai" kata Power.
Ia pun masuk ke dalam dan langsung memeriksakan anak kucing yang ia temukan tersebut, beruntung klinik sedang sepi jadi dia tak perlu menunggu lama.
"Hmm, tenanglah ia baik-baik saja, hanya kelaparan dan dehidrasi" kata dokter hewan tersebut kepada Power.
Mendengar kalau kucing itu baik-baik saja dan tidak terserang penyakit, Power pun sangat lega.
Ia bersyukur telah menemukan anak kucing itu.
"Umurnya belum lama, pasti dia masih berusia sekitar 2 Minggu, belikan susu yang cocok untuk usianya" tambah dokter hewan tersebut sambil menyuntik kucing yang sedang ia periksa.
"Terima kasih dokter" setelah semuanya selesai Power pun keluar dari klinik tersebut.
Ia lalu berjalan menuju pet shop untuk membeli susu dan kandang.
"Mulai sekarang kau adalah temanku, kau akan tinggal bersamaku dan aku akan menjagamu selamanya" Power berkata sambil mengangkat kucing kecil ditangannya.
"Meow..."
"Hmm, kurasa aku akan memberimu nama 'Meowy' ".
"Silahkan menikmati" Aki menyodorkan dua buah minuman kepada pelanggannya.
Ia sedang bekerja malam ini, walaupun sebenarnya ia lelah namun Aki sangat menyukai pekerjaannya.
Meracik minuman adalah kegemarannya, ia bisa meracik kopi yang nikmat, para pelanggan pun puas dengan pelayanan yang Aki berikan.
Oleh karena itu cafe tempat Aki bekerja itu tak pernah sepi pelanggan, dan juga walaupun sebenarnya cafe itu milik Denji, tapi Denji tak pernah mengambil untung sepeserpun dari cafenya.
Ia memberikan semua penghasilan dari cafe itu kepada Aki, ia selalu menolak ketika Aki memberikan hasil penjualan kepadanya.
Yaa bisa dibilang kalau cafe itu sekarang milik Aki Hayakawa.
"Aki-kun!!! Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu!!" Seru Himeno dari kejauhan.
Himeno lumayan sering datang ke cafenya Aki, entah ia akan menjadi pelanggan ataupun membantu Aki menyiapkan pesanan ketika cafenya sedang ramai pembeli.
"Aku datang!!" Aki pun menuju ke tempatnya Himeno.
__ADS_1
Sesampainya di sana, ia melihat Yoshida yang sudah duduk sambil menikmati kopinya "Hayakawa-kun" sapanya.
"Yoshida-san, selamat datang" jawab Aki sambil menunduk.
"Duduklah, aku ingin berbicara denganmu" Aki pun langsung duduk berhadapan dengan Yoshida.
Merasa kalau pembicaraan itu penting, Himeno pun lantas menyingkir untuk memberikan privasi kepada mereka.
"Kau mengenal wanita yang bernama Reze??" Tanpa basa-basi, Yoshida langsung bertanya kepada Aki.
"Reze?? Iya aku mengenalnya, ia murid baru di kelasku" jawab Aki.
"Apakah tuan muda, dekat dengannya??" Mendengar pertanyaan itu Aki sedikit kaget.
Bagaimana bisa Yoshida mengetahui hal itu, padahal Yoshida tidak bersekolah dengannya.
"Hmm, kurasa mereka cukup dekat, padahal gadis itu baru masuk hari ini tapi dia sudah dekat dengan Denji" Aki menjelaskan secara rinci.
Yoshida pun mengangguk-anggukan kepalanya "sudah kuduga".
"Wanita bernama Reze itu adalah seorang perakit bom, dan dia jugalah yang melakukan pengeboman terhadap rumahnya tuan muda" tambahnya.
Aki kaget, ia tak menyangka kalau gadis yang baru masuk itu adalah seorang yang berbahaya, apalagi Denji terlihat sangat akrab kepadanya.
"Yoshida-san, apakah yang kau katakan itu benar? Apakah wanita itu adalah utusan langsung Gun Devil??" Tanya Aki kembali.
"Yaa itu benar" jawaban dari Yoshida itu kali ini telah membuka teka-teki sebenarnya.
Sekarang ia telah mengetahui orang yang hampir merenggut nyawa sahabatnya. Dengan perasaan penuh amarah, Aki mengepalkan tangan kanannya.
"Tak usah khawatir, kalian tak perlu bersembunyi lagi, soal Gun Devil akan diurus langsung oleh Goro-san" kata Yoshida sambil kembali menyeruput kopinya.
"Huh?? Benarkah kalau itu akan baik baik saja?? Lalu bagaimana dengan Reze?" Tanya Aki kembali.
"Tenang saja, tanpa bom rakitannya wanita itu tidak berbahaya, lagi pula dia berada di kelasmu kan? Tenang saja Kishibe pasti tidak akan membiarkan nya berbuat onar" mendengar nama pak Kishibe yang disebut, Aki kembali keheranan.
"Huh pak Kishibe?? Apa yang bisa dia lakukan? Apakah dia juga mantan mafia?" Aki bertanya tanya, ia sempat mengira kalau pak Kishibe adalah mantan anak buah ayahnya Denji.
"Bukan, dia adalah mantan petarung jalanan, dia sudah turun ke jalan sejak umur 7 tahun, Shimano-san berulang kali merekrutnya tapi dia selalu menolaknya" penjelasan Yoshida kali ini sukses menjawab misteri tentang pak Kishibe.
Bagaimana bisa seorang guru matematika memiliki skill bertarung yang diluar nalar manusia?? Itulah pertanyaan yang selama ini menghantui Aki dan Denji.
Akan tetapi sekarang terjawab sudah kalau gurunya itu adalah mantan petarung veteran, karena sudah bertahun-tahun selalu bertarung setiap hari dan menerima pukulan setiap hari, maka untuk menghadapi remaja seperti Denji dan Aki bukanlah masalah bagi pak Kishibe.
"Hah... Wajar saja kalau dia sangat kuat" gerutu Aki.
"Denji-kun, kemarilah!!" Makima menyuruh Denji untuk duduk di sampingnya.
Entah mengapa ia bisa dibuat takluk oleh Makima, apakah memang benar kalau Makima itu cinta sejatinya??
"Kenapa kau malu-malu seperti itu?" Tanya Makima setelah melihat Denji yang membuang mukanya.
"Makima-san, kenapa kau memakai pakaian seperti itu?!!" Denji memejamkan matanya, pipinya merona merah.
Makima hanya memakai tank top dan short.
Dia memang sengaja memakai pakaian seperti itu untuk melihat reaksi Denji, ia ingin mengetahui apakah Denji benar-benar mencintainya.
"Hmm? Apakah kau tidak suka??" Tanya Makima sambil memegang tangannya Denji.
Denji yang merasakan sentuhan di tangannya mencoba untuk tetap tenang, ia tak ingin terlihat panik di depan wanitanya itu.
Akan tetapi, suatu kejadian yang tak pernah terpikirkan oleh Denji terjadi, ia merasakan jari telunjuknya tergigit oleh gigi yang berjejer rapi.
Denji sangat kaget dengan apa yang dilakukan oleh Makima itu, ia sedang melihat kalau jarinya tengah digigit pelan oleh Makima.
"Ingatlah Denji-kun, ingatlah kekuatan gigitan ini" kata Makima sambil memainkan gigitan di mulutnya.
"I-iyaa"
"Situasi ini, mungkin lebih gawat dari yang kita kira" Gun Devil menjelaskan kepada semua anak buahnya.
"Apapun yang terjadi kita harus bisa membunuh anaknya Shimano!!! Aku tak perduli walaupun Goro akan ikut campur!!!" Seru Gun Devil.
Semua anak buahnya yang mendengarkan pidato itu hanya bisa menunduk, mereka tak berani untuk menjawab.
Bila mereka salah kata sedikit saja sudah pasti peluru akan menembus dahi mereka.
"Apa perlu aku panggil Reze kembali?" Santa, satu-satunya orang yang berani berbicara kepada Gun Devil saat ini.
"Tidak, suruh saja dia fokus untuk membunuh bocah itu!!!" Jawab Gun Devil.
"Itu mungkin akan sulit, kau tau kan kalau Goro juga ada di kota itu" timpal Santa.
*Brakk.....
Suara gebrakan meja terdengar begitu keras hingga membuat beberapa orang merinding ketakutan.
"SIALAN!!!! harusnya ini bisa lebih mudah jika anak buah Shimano tidak ikut campur" Gun Devil benar-benar dibuat murka dengan situasi saat ini.
Rencananya sebenarnya hanya ingin membalas dendam kepada Shimano dengan membunuh anaknya. Namun, siapa sangka karena rencananya itu membuat legenda hidup yang telah lama tertidur bangun kembali.
__ADS_1
"Jika memang benar kalau Goro itu akan datang kesini, bukankah lebih baik kita bunuh saja dia?" Santa menyarankan ide kepada Gun Devil.
Mendengar saran itu, nampak wajah Gun Devil semakin memerah karena menahan amarah.
"Bodoh!!! Apakah kau akan berpikir kalau dia datang sendirian??!! Bila kita macam-macam dengannya akan ada perang besar!!!" Gun Devil menjelaskan dengan murka.
Walaupun menerima bentakan, namun wajah Santa tidak menunjukkan rasa takut sama sekali, ia tahu kalau bosnya itu tidak mungkin membunuhnya.
"H-hahh hahh... Kenapa Makima-chan berubah drastis seperti itu??" Denji berhenti di sebuah kursi di pinggir jalan.
Ia awalnya memang berniat untuk menginap di apartemennya Makima, namun ia mengurungkan niatnya itu karena merasa belum siap.
"Kesempatan di depan mata, tapi aku sia-siakan" Denji mengacak-acak rambutnya.
Ia sebenarnya juga sedikit menyesal karena keputusannya yang menolak tawaran Makima.
Namun, ia merasa kalau ia belum siap melakukan hal itu.
Denji pun bangkit dari duduknya dan berjalan kembali, ia pun melihat seorang gadis yang menurutnya tak asing.
Ia pun segera lari menyusulnya "Reze-chan!!!!" Teriaknya.
Gadis yang sedang berjalan itupun menoleh ke belakang "D-denji??".
Setelah mereka berdiri sejajar, Denji pun langsung bertanya kepada Reze mengapa ia meninggalkannya tadi siang.
"Kenapa tadi kau meninggalkan aku??" Tanya Denji dengan wajah serius.
"Emm, maaf tadi aku ada urusan" jawab Reze yang jelas jelas berbohong.
"Hahh, lain kali bilang dulu.. sekarang kau mau kemana??" Denji bertanya sambil berjalan di samping Reze.
"Aku hanya ingin jalan-jalan untuk terakhir kalinya di kota ini" mendengar kata-kata itu, Denji pun kaget karena mengira kalau Reze akan pindah.
"Huh?? Apa maksudmu? Bukankah kau masih satu hari disini??" Tanya Denji yang keheranan.
"Aku tidak bisa mengakatan yang sebenarnya kepadamu, tapi Denji... Hiduplah dengan bahagia" Reze berhenti dan memegang dada milik Denji.
Ia merasakan detak jantung yang berdebar kencang, ia menatap ke arah matanya Denji dan berkata "Denji, apakah kau mencintaiku?"
Denji melihat tatapan mata yang sayu dari gadis di depannya ini, ia kembali merasakan tatapan cinta pandangan pertama yang ia rasakan bersama dua orang yang berbeda.
Tanpa menunggu jawaban dari Denji, Reze segera menyeretnya untuk masuk ke sebuah gang yang sepi.
Denji yang tak tahu harus bersikap seperti apa hanya menurut saja.
"Denji-kun, aku akan pergi dari kota ini dan mungkin... Tak akan pernah kembali lagi, Denji-kun... Aku mencintaimu"
*Cuppp
Sebuah kecupan manis mendarat di bibirnya Denji, sontak hal itu membuatnya terdiam.
Kecupan yang tiba-tiba terjadi itu seolah menghentikan waktu, Denji dengan tangannya yang gemetar memegang kepala Reze dan mulai menikmati kecupan tersebut.
Setelah hampir satu menit, mereka pun melepaskan bibir mereka yang menempel, terlihat rona merah dipipi tergambar jelas di kedua pipi mereka.
Perasaan aneh ini muncul kembali di hati Denji, apakah ia akan meninggalkan Makima dan menerima Reze??
"Reze-chan, aku mencintaimu" Denji segera memeluk erat tubuh Reze.
Ia menariknya ke dalam dekapannya yang hangat, Reze pun juga membalas pelukan itu dengan erat.
"Terimakasih Denji-kun, terimakasih karena mencintaiku" entah jujur atau tidak perkataan itu seolah membius Denji.
Apakah perasaan Reze terhadap Denji itu hanya demi rencananya untuk membunuhnya atau kah ia juga mengalami cinta pandangan pertama kepada Denji.
"Sekarang aku akan pamit" Reze melepaskan pelukannya dan mulai berjalan pergi.
Apakah ia sudah melupakan tugasnya untuk membunuh Denji??
"Tunggu Reze-chan!!" Denji berlari dan mendekap erat tubuh Reze dari belakang.
Reze pun seketika kaget dan menghentikan langkahnya.
"Aku akan ikut denganmu, aku akan pergi dari kota ini dan memulai hidup baru bersamamu!!" Denji mengatakan itu tepat di telinga Reze.
Reze pun langsung berbalik dan kembali membalas pelukan Denji.
"Terima kasih Denji-kun" kata Reze sambil memejamkan matanya.
*Jlebbbb
Tanpa aba-aba apapun, tiba-tiba sebuah pisau kecil sudah menembus perut Denji.
Yaa siapa lagi pelakunya kalau bukan Reze, kata-kata yang ia katakan tadi hanyalah bualan untuk mengelabuhi Denji.
"R-Rez....." *Brukk
Seketika tubuh Denji ambruk ke tanah dan langsung tak sadarkan diri. Darah mengalir dari mulutnya, ia memegangi perutnya yang telah tertusuk pisau.
Sebuah senyuman licik terukir di bibirnya Reze, sambil memandang Denji yang tengah berbaring ia berkata "terimakasih karena memudahkanku".
-----tobecontinued-----
__ADS_1