
4 hari telah berlalu semenjak tragedi penusukan Denji. Pasca operasi, Denji harus rawat inap di rumah sakit untuk memulihkan kondisinya.
Jenuh yang ia rasakan ketika berada di rumah sakit, walaupun teman-temannya seperti Aki, Power dan pujaan hatinya Makima menemaninya.
Akan tetapi, Denji merindukan satu sahabatnya yang kini sedang berada dirumah.
"Aki, apa kau sudah memberi makan Pochita?" Tanya Denji kepada Aki yang sedang duduk di sofa samping ranjangnya.
"Tenanglah ia sudah aku rawat selama kau dirumah sakit" jawab Aki sambil menyeruput kopinya.
"Nee... Denji-kun apa kau begitu mencintai Pochita?" tanya gadis cantik bersurai merah yang sedang duduk di sampingnya.
"Emm tentu saja, Pochita sudah bagai saudara bagiku" jawab Denji dengan senyuman.
Makima hanya mengangguk saja mendengar jawaban dari Denji tersebut. Lalu, ia pun kembali bertanya "mana yang lebih kau cintai? Pochita atau aku?".
Mendengar pertanyaan tak biasa itu membuat Denji terkejut. "E-eh apa m-maksudmu Makima-chan?".
Makima kembali merubah wajahnya menjadi dingin ketika mendengar jawaban yang tidak ia inginkan tersebut.
"Bukankah sudah kubilang untuk memanggilku Makima-san!!" Ketus Makima.
Denji menelan ludahnya, ia benar-benar tak menyangka kalau Makima telah berubah 360 derajat.
"Denji bodoh!!! Laki-laki tidak peka!!" Power pun juga merasa marah karena kebodohan Denji dalam menghadapi wanita.
"Sudahlah ini rumah sakit, jangan berisik" Aki berusaha menenangkan mulut berisik dari temannya yang berambut pink tersebut.
Setelah sedikit drama tersebut, Makima bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan.
Sudah dapat dipastikan jika wanita itu sedang bad mood sekarang.
"Eh, Makima-chan tunggu!!!" Power berusaha menyusul Makima yang berjalan keluar.
Denji hanya bengong menyaksikan gadis idamannya itu keluar, ia tak mengerti apa kesalahannya. Ia hanya berusaha memperjelas pertanyaan Makima.
"Aki, apa salahku?" Tanya Denji yang kebingungan.
"Tch, kau itu tidak peka! Makima ingin mengetes mu apakah kau benar-benar cinta kepadanya!!" Jawab Aki dengan geram.
Walaupun sudah di jelaskan oleh Aki, nampaknya otak bodoh Denji tak mampu menggapai penjelasan itu. Ia masih tetap bingung dengan apa yang ia perbuat hingga membuat Makima marah.
"Denji, jika kau sudah keluar dari sini katakanlah perasaanmu kepada Makima" Aki memberi saran kepada temannya yang bodoh itu.
Denji sedikit ragu dengan saran dari Aki itu, dia merasa tidak percaya diri bila harus menyatakan cintanya kepada Makima sekarang.
"Apakah dia mau menerimaku?" Gumam Denji sambil berpikir.
"Kau itu polos apa bodoh!!" Aki semakin geram dengan sahabat nya tersebut.
Menasehati Denji benar-benar membuktikan kalau istilah masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri itu benar.
*Ceklek
Yoshida membuka pintu kamarnya Denji sambil membawa buah-buahan di tangannya. Setelah ia meletakkannya di meja, ia pun berjalan menuju ranjangnya Denji.
"Tuan muda, saya telah berbicara kepada dokter dan dia berkata kalau anda sudah boleh pulang" Yoshida memberitahukan kabar gembira itu kepada Denji.
"Benarkah??!!! Yattaa!!!" Denji sangat senang dengan informasi itu.
Sebab, ia benar-benar sudah merasa bosan di rumah sakit. Makanan yang tidak enak, bau obat-obatan, dan suasana rumah sakit yang menurut Denji sangat tidak menyenangkan.
"Syukurlah bila seperti itu, aku akan mencari Makima dan Power untuk bersiap-siap" Aki pun beranjak pergi keluar ruangan.
"Tuan muda, jika anda sudah pulang nanti, izinkan saya mengawal anda" Yoshida membungkukkan badannya kepada Denji.
"Yoshida-san, kau tidak perlu sampai seperti itu, aku berjanji kepadamu tidak akan ceroboh lagi" Denji menolak secara halus tawaran Yoshida itu.
Dia benar benar tak mau melibatkan orang lain demi keselamatannya. Cukup Denji saja yang menjadi incaran Gun Devil, jangan sampai orang terdekatnya juga menjadi incaran karena dirinya.
"Tuan muda, saya benar-benar tak ingin anda terluka lagi" Yoshida mencoba membujuk Denji untuk menerimanya menjadi pengawalnya.
Denji pun tersenyum mendengar kata-kata dari Yoshida itu, mantan anak buah ayahnya itu benar-benar loyal kepadanya.
"Yoshida-san, apakah kau mau ikut berperang bersamaku?" Mendengar pertanyaan itu, sontak membuat Yoshida kaget.
"Apa maksud anda tuan muda??" Tanya Yoshida.
"Aku ingin mengakhiri ini semua, aku harus menemui Gun Devil itu" Denji dengan serius mengakatan niatnya kepada Yoshida.
Yoshida pun dibuat sangat syok mendengar niat tuan mudanya itu "tuan, Gun Devil itu adalah orang yang sangat berbahaya. Jika anda ingin membunuhnya, anda hanya perlu memerintahkan Goro-san, anda tak perlu mengotori tangan anda".
__ADS_1
"Yoshida-san, apa artinya pemimpin jika tak berada di medan perang bersama pasukannya?" Kata-kata Denji itu seolah menusuk hati Yoshida.
Dia benar-benar tak menyangka kalau Denji memiliki sifat yang sama persis seperti Shimano.
"T-tapi tuan..."
"Yoshida-san, itu adalah perintah!" Kali ini, Yoshida dibuat mati kutu.
Ketika Denji sudah mengatakan kalau itu adalah perintah darinya, maka Yoshida sudah tak berani membantahnya.
"Baik, saya akan segera menghubungi Goro-san" Yoshida kembali membungkuk dengan sopan setelah mengatakan itu kepada Denji.
Setelah perbincangan itu selesai, Makima, Power, Aki dan seorang dokter masuk ke ruangan itu.
"Selamat tuan Denji anda sudah boleh pulang hari ini" kata dokter itu sambil melepas infus di tangan Denji.
"Terima kasih dokter karena telah menyelamatkan saya" Denji membukuk kepada dokter tersebut dan langsung diikuti oleh teman temannya yang lain.
"Terima kasih banyak dokter" seru Aki yang sedang membungkuk.
"Ahh kalian tidak perlu berterimakasih kepadaku, sebenarnya selamatnya tuan Denji itu mukjizat. Luka tusuknya benar-benar dalam hingga kami hampir putus asa, namun tiba-tiba harapan muncul dan tuan Denji bisa selamat sekarang". Setelah mendengar penjelasan dokter tersebut, Denji berserta teman-temannya dibuat merinding.
Mereka tak percaya kalau Denji benar-benar hampir mati karena luka tusukan itu. Namun, karena kehendak Tuhan yang ingin Denji masih hidup untuk menikmati hidupnya maka mukjizat itu terjadi.
"Kau dengar itu bodoh?!!! Bayangkan saja bila darahku ini tidak langka pasti kau sudah mati sekarang!!" Power dengan mulutnya yang cerewet langsung memarahi Denji karena kecerobohannya.
Karena satu wanita yang ia sukai, nyawanya hampir saja melayang.
Setelah semuanya selesai, mulai dari berkemas dan membayar biaya rumah sakit, Denji pun diantar pulang dengan naik taxi.
Ia hanya berdua di taxi itu bersama Aki, karena keterbatasan kursi maka Makima, Power dan Yoshida harus naik taxi yang berbeda.
"Aki, jika nanti aku tidak ada jagalah Makima dan Pochita" Denji membuka pembicaraan dengan Aki setelah keheningan selama perjalanan.
Aki pun terkejut dengan permintaan Denji yang nyeleneh itu "apa yang kau katakan bodoh!! Kau selamat sekarang!!".
Karena Aki marah mendengar permintaannya, ia pun menjelaskannya "aku akan bertempur melawan Gun Devil, entah setelah pertempuran itu aku masih hidup ataukah tidak".
Aki kaget mendengar kata-kata dari Denji tersebut, ia tak habis pikir kenapa Denji ingin menantang kelompok mafia yang sangat berbahaya itu.
"Mengapa kau ingin melakukannya bodoh!! Tentu saja kau akan mati bila kau bertempur dengannya!!" Aki mencoba mencegah niatan Denji untuk bertempur melawan Gun Devil.
Denji hanya ingin hidup normal tanpa adanya orang yang mengincar nyawanya.
"Aki Hayakawa, kau adalah satu-satunya sahabatku dari kecil. Aku akan memberikan semua hartaku untukmu jika aku mati nanti" Denji menunjukkan sebuah kartu ATM berwarna hitam.
Kartu ATM itu adalah peninggalan ayahnya dulu, tentu saja isinya tidak main-main karena ayah Denji memiliki banyak bisnis baik itu bisnis bersih atau kotor.
"Berikan saja itu kepada Makima, aku akan ikut bertempur denganmu" Aki menolak kartu tersebut dan memutuskan untuk menemani Denji di Medan pertempuran.
Denji tentu saja kaget dengan keputusan yang dibuat oleh sahabatnya itu, ia ingin mengakhiri perseteruannya dengan Gun Devil. Ia berharap kalau ia menang ia bisa menikmati hidup secara normal. Kalau dia kalah dan terbunuh ia berharap kalau semua orang-orang terdekatnya hidup bahagia tanpa terancam bahaya.
"Aki, kau masih punya masa depan!! Hiduplah... Maka kau akan tau mengapa aku memutuskan untuk bertempur!!" Seru Denji.
De Javu???
"Hehh, apa artinya masa depanku tanpamu. Lagi pula, aku belum pernah mencoba katana ku di pertempuran sebenarnya" Aki terlihat juga sudah membulatkan keputusannya untuk ikut bertempur bersama Denji.
Aki mengulurkan kepalan tangannya kepada Denji. Denji yang melihat hal itu langsung tersenyum, tanpa perintah apapun ia langsung membalas kepalan tangan itu.
Setelah cukup lama, akhirnya taxi yang mereka naiki sampai di apartemen.
Aki membantu Denji berjalan sebab walaupun sudah sembuh, badan Denji masih lemas.
Taxi yang dinaiki oleh Power dan Makima juga sudah sampai di apartemen, kedua wanita itu langsung menurunkan barang-barang yang mereka gunakan selama menginap di rumah sakit.
Sambil mengikuti Aki yang sedang membopong tubuh Denji, mereka berdua berbisik-bisik.
"Makima-chan, apa kau masih marah kepadanya?" Bisik Power ke telinga Makima.
"Hmm?? Tidak" jawab Makima singkat.
Obrolan itu berlangsung sangat singkat karena mereka telah sampai di lift apartemen.
Power pun memencet tombol lift tersebut, di dalam lift hanya ada keheningan.
Tak ada satupun dari mereka yang membuka suara, karena merasa ada yang janggal, Denji pun bertanya "ehh, dimana Yoshida-san??".
"Dia tadi bilang ada urusan dengan seseorang" timpal Power.
Seolah mengerti, Denji kembali diam. Ia tahu urusan apa yang sedang di kerjakan oleh Yoshida dan ia juga tau siapa orang yang dimaksud.
__ADS_1
Setelah sampai di lantai tujuan dan pintu lift terbuka, mereka pun melangkahkan kaki menuju ke apartemennya Aki.
Lagi-lagi, hanya keheningan yang terjadi di antara mereka. Denji memandang Makima dengan perasaan masih penasaran, sebaliknya Makima sama sekali tidak membalas tatapan itu dan hanya memandang kosong ke depan.
Setelah sampai di depan pintu, Aki pun mengambil kunci di saku celananya. Ia membuka pintu itu secara perlahan....
"Guk gukk"
Pochita langsung berlari ke arah Denji ketika melihat majikannya itu pulang, sudah beberapa hari ia tak bertemu dengan majikannya.
"Pochita!!! Aku juga merindukanmu" Denji memeluk dan mengelus-elus leher anjing kesayangannya tersebut.
Makima tersenyum ketika melihat kejadian tersebut, baru kali ini dia melihat Pochita di depan matanya sendiri. Anjing kesayangan orang yang telah membunuh ayahnya.
"Oe dimana fox??" Tanya Aki yang keheranan karena tidak melihat rubah kesayangannya itu.
Tiba-tiba, seekor rubah albino keluar dari arah dapur. Seolah-olah ia mengerti panggilan dari majikannya tersebut.
"Hahh... Andaikan meowy juga ada disini" resah Power yang cemburu melihat kedua temannya akrab dengan hewan peliharaannya.
"Oiya Makima-chan, apa kau tidak ingin memelihara hewan peliharaan?" Tanya Power kepada Makima.
"Hmm, aku?? Aku ingin memelihara Pochita" katanya sambil menghampiri Pochita.
Makima mengelus kepala anjing itu dengan lembut, Pochita pun bereaksi senang karena elusan itu.
"Emm Makima-san, kau bisa bertemu Pochita kapanpun kau mau" kata Denji dengan cengingisan, ia masih merasa tak enak dengan Makima karena telah membuatnya marah. Walaupun sebenarnya ia sendiri juga tak tahu kesalahannya apa.
"Iya" balasnya singkat.
Power menepuk kepalanya, ia benar-benar tak habis pikir kalau Denji sangat bodoh dalam hal menaklukkan hati wanita.
Sedangkan Aki langsung menggendong fox menuju ke balkon, ia tak ingin terlibat dengan drama tersebut.
"Makima-san, apakah nanti malam kau mau kencan denganku?" Power membelalakkan matanya mendengar kata-kata Denji tersebut.
Dia benar-benar tak percaya kalau temannya yang bodoh itu mengajak kencan wanita secara terang-terangan.
"Ahh aku permisi dulu!!!" Power langsung berjalan ke ruang tamu meninggalkan Denji dan Makima.
Dia tak ingin mengganggu momen kedua pasangan belum resmi tersebut.
"Bukankah kau masih lemah?" Tanya Makima.
"Ahh, untuk permintaan maafku tidak apa-apa, hanya jalan-jalan saja aku kuat" jawab Denji.
Lalu Makima pun terdiam, setelah berpikir ia pun menganggukan kepalanya tanda setuju.
Denji tersenyum senang melihat anggukan kepala Makima tersebut, ia yang sebelumnya juga tak mengerti mengapa mulutnya mengatakan tawaran kencan kepada Makima.
"Jam 7, aku akan datang" kata Makima kepada Denji.
----------
"Sudah ia putuskan??" Tanya Goro kepada Yoshida.
"Iya, tuan muda sudah memantapkan hatinya untuk bertempur melawan Gun Devil" jawab Yoshida dengan mantap.
"Ingatlah Yoshida, apapun yang terjadi kita harus menjadi tameng untuk tuan muda, walaupun itu nyawa kita sendiri" Goro memperingatkan Yoshida jika ingin bertempur.
Goro sendiri juga setuju dengan keputusan Denji, ia sudah lama tak bertempur dan merasa rindu dengan pertempuran melawan mafia.
"Baik, saya mengerti" kata Yoshida.
"Shimano-san, putramu benar-benar mewarisi sifatmu" kata Goro sambil menatap ke atas.
----------
"Gun-sama, apakah kau yakin ingin turun langsung??" Tanya Santa kepada bosnya itu.
"Aku harus segera mengakhiri ini, aku tak peduli jika Goro membunuhku, tujuan hidupku hanya untuk membalas dendam kepada Shimano" jawab Gun Devil sambil memainkan senapan di tangannya.
Entah kebetulan atau memang takdir, Gun Devil memutuskan untuk turun langsung memburu Denji disaat Denji memutuskan untuk bertempur dengannya.
"Kau tidak ingin menunggu Reze??" Tanya Santa kembali.
"Ck, aku akan membunuh gadis sialan itu jika bertemu!!!!" Gun Devil benar-benar merasa marah jika mendengar nama Reze.
"Siapkan pasukan kita Santa, malam ini jam 7 kita akan memburu anaknya Shimano!!!".
-----tobecontinued-----
__ADS_1