
Mikayla adalah anak yang baik dia sangat menyayangi ke dua orang tuanya, Mikayla mempunyai adik yang enggak kalah cantik darinya Natasya Antawiguna nama adiknya.
Erlan Antawiguna adalah seorang pengusaha yang terbilang sukses dan Renata adalah sosok ibu yang sangat perhatian dan pengertian, kehidupan mereka sangatlah bahagia tak ada keluh kesah dalam kehidupan mereka.
Di pagi yang cerah udara dingin menusuk tubuh suara kicauan burung menambah keasrian suasana pagi yang indah selain suara burung terdengar dering jam yang nyaring.
Kriiiiiiiiiiiiiing!
Bunyi alaram jam Kayla, jarum jam menunjukan pukul 05.30 pagi, Kayla beranjak dari ranjangnya dan dia segera mandi.
Selesai mandi dan berpakaian rapi Kayla turun kebawah menbantu Ibunya masak.
''Pagi Bu! mau masak apa hari ini?''
Kayla berdiri di samping ibu.
''Nasi goreng udang kesukaan mu!''
Senyum mereka dari bibir ibu.
''Hmm! Bakalan naik lagi berat badan, Kayla.''
Kayla meraih gelas di rak.
''Yang penting Kamu sehat, Sayang.''
Ibu masih sibuk memotong wortel.
''Hayoo, Lagi gosipin apa Kalian?''
Ayah muncul tiba-tiba.
''Aah, Ayah bikin Kayla kaget aja!''
Kayla memeluk lengan Ayahnya.
''Kemana Adikmu kok belum turun?''
Ayah melirik kearah anak tangga.
''Anak Ayah yang satu itu kalau dandang berabad-abad, Yah!''
Kayla menyiapkan piring dan gelas.
Terdengar derap langkah kaki yang menuruni anak tangga, terlihat Tasya yang berjalan sedikit tergesah-gesah karna melihat jam di kamarnya sudah menunjukan pukul 09.00 pagi.
''Kenapa terburu-buru gitu, Sayang?''
Tanya Ibu karna heran.
''Tasya terlambat Bu! Pasti enggak boleh masuk ke dalam kelas Pak Beny...''
Tasya meraih cangkir teh milik Kayla.
''Jam berapa Kamu kuliah?''
__ADS_1
Ibu masih menatap serius Tasya.
''Jam 09.00 Bu! Dan ini ulah Kakak yang enggak bangunin, Tasya.''
Tasya mendengus kesal.
''Hahaa, Ya udah cepat jalan dan jadilah security disana!''
Tawa Kayla memenuhi ruangan.
Tasya mengerutkan dahinya mendengar ucapan Kayla barusan.
''Ini masih jam 06.30 sayang! Ayo duduk kita sarapan.'' Ayah memperlihatkan jam tangannya, seketika Tasya berbalik badan dan menatap Kayla dengan tatapan tajam.
''Kenapa Kakak selalu jahilin Tasya?''
Tasya merengek.
''Karna itu sangat menyenangkan, Sya!''
Kayla tersenyum sinis.
''Ayo cepat Duduk, Kita sarapan nanti nasinya dingin!'' Ibu menuangkan nasi ke piring ayah.
Mereka pun makan bersama tidak ada perbincangan di antaramereka hanya ada suara sendok dan garfu yang berdenting, Setelah selesai makan Tasya membantu ibu membereskan piring yang ada di meja makan.
Kayla dan ayah berpamitan dan berangkat bersama karna arah kantor dan kampus Kayla searah, ayah melajukan mobilnya dan selang beberapa waktu mereka kini telah sampai di depan kampus Kayla, karna ayah mengendarai mobil dengan sedikit ngebut.
Kayla mencium punggung tangan ayah dan berpamitan untuk masuk ke dalam kampus, karna Kayla telah masuk kedalam ayah menginjak pedal gas, belum begitu jauh dari kampus Kayla terdengar suara tambrakan yang lumayan keras di ujung jalan.
Ciiiiiits! Braaaaaaack!
semua mahasiswa berhamburan keluar kampus.
''Kalian mau kemana?'' Tanya Kayla kepada salah satu teman nya.
''Aku pun kurang tahu apa yang sedang terjadi!'' Jawab pria itu.
Karna penasaran Kayla juga ikut berlari kedepan kampus dia ingin memastikan kejadian apa yang sedang terjadi, betapa terkejutnya Kayla melihat mobil ayahnya yang tertabrak dan terbalik, segera Kayla berlari dengan cepat air mata Kayla jatuh bercucuran melihat ayah nya sudah tak bergerak lagi.
''Ayaaah, Kenapa ini terjadi pada Ayah?''
Suara Kayla tertahan karna tangisan nya, tak lama mobil ambulan datang dan dua orang perawat Pria menggotong tubuh Ayah Kayla ke dalam mobil ambulan.
''Apa Nona anak Tuan ini?''
Tanya salah satu perawat, Kayla hanya mengangguk membenarkan perkataan perawat itu nampak wajah Kayla yang begitu sedih dan air matanya masih berlinang mebasahi pipinya. Setelah sampai di rumah sakit ayah Kayla langsung di tangani oleh beberapa dokter dan perawat sedangkan Kayla berdiri tegang mencemaskan kondisi ayahnya yang tak sadarkan diri sejak kecelakan itu terjadi, Tubuh Kayla gemetar pandangan matanya kosong dia terdiam dalam lamunan memikirkan ibu dan adiknya.
''Apa Nona keluarga Tuan Erlan?''
Tanya dokter Robi.
''Saya anaknya Dok! Bagaimana dengan kondisi Ayah Saya sekarang?''
Mata Kayla tertuju ke dalam ruangan tempat ayahnya di rawat.
__ADS_1
''Kami telah berusaha semaksimal mungkin, Namun Tuhan berkehendak lain! Nyawa Ayah Nona tidak dapat Kami selamatkan.''
Jelas dokter Robi dengan suara lembut.
''Itu tidak mungkin! Ayah Saya masih hidup.''
Ishak tangin Kayla menggema, dokter Robi menepuk bahu Kayla sembari pergi meninggalkan Kayla menangis sendiri tanpa teman.
Kayla masih larut dalam kesedihannya dia juga bingung harus berbuat apa dan harus bagaimana menghadapi ibu dan Tasya di rumah, kepala Kayla di penuhi dengan pertanyaan dan penyangkalan tentang kematian Ayahnya yang secara tiba-tiba,
Di perjalanan pulang Kayla terdiam dan termenung memikirkan hidupnya tanpa kehadiran ayah yang selalu menyayangi dan mencintainya dengan segenap jiwa dan raga.
Kini sampailah Kayla di rumahnya di depan pintu gerbang ada pak Joko yang patroli keamanan.
''Ada apa Non, Kok naik ambulan?''
Pak Joko celingukan penasaran.
''Ibu sama Tasya dimana Pak?''
Kayla bertanya sembari jemarinya menyekat air mata yang berlinang.
''Nyonya ada di dalam! Nona Tasya pergi sejak 2 jam yang lalu.'' Pak Joko menatap heran.
''Tolong, Bukakan gerbangnya Pak!''
Kayla berlalu pergi.
Setelah puas berteriak memanggil manggil Ibu nya Kayla duduk tersipuh di lantai, kini dia kembali menangis tiada henti di hadapan peti jenazah ayah, Kayla duduk dengan tangan yang terus mengelus peti itu dengan berkata lirih. Dua perawat rumah sakit mendesak menyarankan segera mengkebumikan jenazah ayahnya karna merasa terus di desak Kayla berteriak kencang dan sedikit meronta, Kayla menolak karna Ia menginginkan ibu dan adiknya sedikit lebih lama melihat wajah ayah untuk terakhir kalinya. Samar-samar Kayla mendengar suara derap kaki memasuki ruang tamu dengan bergegas Kayla berlari mengejar suara itu.
''Buu, Ayaaah... Ayaah!''
Teriak Kayla.
''Ada apa dengan Ayah, Sayang?"
Ibu menakupkan kedua tangannya di wajah Kayla.
Kayla memeluk ibu dengan erat dengan terus menangis tanpa henti, Ibu bingung melihat sikap Kayla segera Ibu masuk dan melihat ada peti jenazah dan dua orang perawat rumah sakit.
''Ini ada apa, Ya?''
Tanya Ibu.
''Suami Nyonya mengalami kecelakaan hari ini! Kami menyarankan segera mengkebumikan jenazahnya."
Jawaban dari salah satu perawat.
"Kalian jangan bercanda!"
Ibu tersenyum hambar.
"Nyonya boleh melihat jenazah Tuan!"
Perawat itu membuka peti jenazahnya.
__ADS_1
"Aaargh! Itu tidak benar, Ayah masih hidupkan Nak?'' Ibu berjalan sempoyongan ke arah Kayla. Kayla tak menjawab dia hanya menangis dan memeluk tubuh ibu nya yang lemas dan ibu berteriak sangat kencang menyangkal kematian suaaminya itu, semua pelayang yang mendengar teriakan ibu berbondong-bondong keluar melihat apa yang sedang terjadi.
Karna syok Ibu jatuh pingsan dan di rawat bi Inah kepala pelayan di rumah itu dan jenazah ayah pun di kebumikan segera, para tetangga berdatangan setelah jenazah ayah di makam kan tak sedikit orang yang menggunjing pemakaman tuan Erlan yang terbilang buru-buru, Tasya yang datang terlambat karna ia pergi ke rumah profesor untuk mendiskusikan materi yang di berikan nya, nampak jelas penyesalan di wajah Tasya tangisan nya menyayat hati dia meronta-ronta di pusaran terakhir ayahnya, Kayla memeluk tubuh adiknya itu dengan terus menerus menenangkan hati Tasya tanpa henti.