
AYAH TEMANKU
Tentang cinta beda usia, misteri, dan masa lalu.
DI bawah ini, ada satu bab lagi Jordan. kalian tinggal Scrol aja. jarinya jangan jahat ya gengs.
Judul Ayah Temanku, Tayang di K-b-m) Info 088222277840
Bab 1 mobil yang di tumpangi Fikri melaju dengan kecepatan pelan. Apalagi ibukota sedang diguyur hujan, hingga sekretaris Fikri menyetir mobilnya dengan kecepatan yang sedang.
Fikri menyenderkan tubuhnya ke belakang, beberapa kali ia menghela nafas. Rasanya, ia ingin secepatnya sampai di rumah dan beristirahat.
“Pak, Bukankah itu Putri Anda?” ucap Septian yang tak lain adalah sekretaris Fikri. Fikri menoleh ke arah samping, ia melihat putrinya dan teman putrinya sedang berteduh, seraya memeluk tubuhnya. Ia tahu, mungkin putrinya kedinginan. Tapi walaupun begitu, Fikri tidak berniat untuk mengajak putrinya pulang bersama
“Apakah kita harus mengajak Nona untuk pulang bersama, Tuan?” tawar Septian, ia melihat Fikri dari kaca depan. Walaupun ia sudah tahu jawabannya, tapi ia tetap bertanya. Siapa tahu, kali ini tuannya berubah pikiran dan mau mengajak Farah untuk pulang bersama.
“Tidak usah, biarkan saja dia!” kata Fikri, seperti biasa. Ia sama sekali tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh putrinya, dan apa yang terjadi pada putrinya. Sedangkan Septian hanya mengangguk.
Fikri Atmaja, seorang lelaki matang yang kini menginjak 39 tahun, lelaki itu berperawakan tegap, tampan dengan rahang kokoh dan tubuh yang atletis. Semua wanita mengidamkannya, apalagi dia seorang duda dengan anak satu yang kini berusia 19 tahun.
Farah Atmaja, adalah putri pertama dari Fikri Atmaja Putri. Orang pikir, mungkin akan beruntung menjadi Farah di mana Farah adalah anak satu-satunya dari seorang konglomerat. Tapi sayangnya, semua tebakan itu salah. Karena faktanya, Fikri begitu acuh dan abai pada putrinya
Entah apa yang membuat pikir begitu dingin pada putrinya sendiri, yang pasti sejak Farah lahir sampai detik ini Fikri tidak pernah mau peduli apapun yang terjadi pada Farah.
Sedari kecil, Farah lebih sering diurus oleh susternya. Hanya saja, saat usia Farah 13 tahun, suster yang mengurus Farah sedari bayi meninggal dan sejak saat itu, Fikri tidak lagi mencarikan suster lagi untuk Farah, karena menganggap putrinya sudah dewasa dan sejak saat itu Farah selalu menghabiskan waktunya sendiri.
Ia begitu kesepian, beberapa kali ia meminta waktu sang ayah untuk sekedar menemaninya. Tapi, Fikri tidak pernah menggubris putrinya
Hingga akhirnya, seiring berjalannya waktu Farah mulai mengerti, bahwa sang ayah tidak pernah menyayanginya. Setelah ia mengerti semuanya, ia tidak pernah lagi meminta apapun pada ayahnya. Semua ia lakukan sendiri.
Dan ketika sekolah menengah, Ia mempunyai teman bernama Aqila, yang bernasib sama sepertinya. Hanya saja Farah sedikit beruntung, karena mempunyai ayah yang kaya. Berbeda dengan Aqila.
Aqila hidup dengan penuh kegetiran. Ia hidup bersama ibu tiri dan kedua Kaka tiri yang menindasnya, belum lagi, hidup mereka serba kekurangan dan Aqilalah yang menjadi tulang punggung keluarga. Ayah kandungnya seolah tak perduli, bahkan ia selalu abai ketika Aqila di perlakukan buruk oleh kedua Kaka tirinya dan ibu tirinya.
Karena nasib Aqila dan Farah sama, keduanya bisa berteman, Aqila mampu membuat Farah nyaman, padahal Farah adalah orang yang cukup introvert dan jarang bisa bergaul dengan orang lain, belum lagi kehidupan pribadinya yang tidak mendapat kasih sayang dari ayahnya
Ia tidak mengerti, kenapa sang ayah tidak pernah tersenyum padanya. Setiap ia sakit, ia selalu melewatinya seorang diri. Diabaikan diacuhkan sudah biasa. Tapi yang paling menyakitkan adalah, ketika ia melihat sang ayah tersenyum pada anak rekan bisnisnya, sedangkan padanya sang ayah sama sekali tidak pernah tersenyum, tidak pernah bertanya apa yang terjadi dan tidak pernah bertanya apa yang ia rasakan dan apa yang ia butuhkan.
Ia dan ayahnya memang tinggal satu rumah. Namun setelah di rumah, ayahnya tidak pernah menyapanya, tidak pernah mengajaknya makan bersama,.keberadaan Farah seolah tidak terlihat oleh ayahnya, bahkan mungkin ayahnya menganggap Farah tidak ada di rumah itu.
Tapi Farah bisa apa, seiring berjalannya waktu. Ia sudah lelah menggapai hati sang ayah, ia ingin bertanya kenapa ayahnya mengabaikannya. Tapi, jangankan bertanya, untuk berbicara pada sang ayah saja rasanya ia begitu segan.
•••
“Farah itu mobil ayahmu!” pekik Aqila ketika melihat mobil Fikri melaju di hadapan mereka.
Farah hanya menoleh sekilas pada Aqila, kemudian ia kembali menunduk seraya memeluk tubuhnya yang begitu dingin. Aqilah yang mengerti tatapan Farah langsung mengelus punggung temannya.
“Tidak apa-apa aku yang akan mengantarkanmu!” kata Aqila, Farah pun menggangguk, karena memang dia takut pulang sendiri, apalagi ini sudah malam dan perumahan Farah berada di perumahan elit, hingga jarang ada orang di jam seperti ini.
Farah menyetop taksi, kemudian mengajak Aqilah untuk naik. Sedari tadi, mereka menunggu taksi online. Tapi, tidak ada yang datang dan beruntung ada taksi yang melintasi di depan mereka, sehingga mereka pun naik ke dalam taksi tersebuy.
“Kau menginap saja deh di sini, Ini juga masih hujan!” kata Farah pada Aqila, saat mobil yang ditempati mereka sampai di depan gerbang. Aqila tampak berpikir, ini sudah larut malam. Jika ia pulang, ia pasti akan dimarahi oleh ibu tirinya karena pulang terlambat, belum ia harus membereskan semua rumah.
Aqila menggangguk. “Hmm, aku akan menginap!” balas Aqila, hari ini saja ia ingin beristirahat dengan tenang, ia akan memikirkan nasibnya besok. Mereka pun turun dari taksi dan berlari ke arah gerbang.
“Non, kenapa hujan-hujanan!" pekik Bi ira saat membukakan pintu untuk Farah dan Aqila.
“Bi, tolong siapin makanan ya buat kami. Kami mau naik ke atas dulu,” balasn Farah, bi Ira pun mengangguk.
“Ayo Aqila!" ajak Farah, mereka pun masuk ke dalam rumah. Saat masuk ke dalam rumah, Farah menghentikan langkahnya kala melihat Fikri turun dari tangga.
Jantung Aqila berdetak dua kali lebih cepat, saat melihat ayah temannya yang memakai pakaian Casual dan begitu tampan. “Wow!” tanpa sengaja, Aqila berdecak kagum, seolah memuji tampilan Fikri yang begitu tampan. Hingga Farah yang berada di sebelah Aqila langsung menoleh, dan akhirnya Aqila pun tersadar lalu menetralkan ekspresinya.
“Ayah!” panggil Farah, ia berusaha menyapa sang ayah
, “Ayah boleh Aqila nginep di sini?” tanya Farah saat Fikri melewati tubuhnya begitu saja. Sebenarnya Ia hanya basa-basi bertanya, karena sang ayah tidak perduli. Namun entah kenapa hari ini ia ingin mendengar sang ayah berbicara padanya. Apalagi hari ini hari ulang tahunnya.
“Memangnya kamu pikir rumah rumah ini penampungan!” balas Fikri dengan sadis.
“Apa Om tidak bisa bersikap sedikit ramah pada Farah!” ucap Aqila tiba-tiba, membuat mata Farah membulat, Farah tidak menyangka bahwa Aqila akan menjawab seperti itu pada sang ayah.
Mendengar ucapan Aqila yang tidak sopan Fikri menoleh. Lalu, menatap Aqila dari atas sampai bawah. “Kamu pikir, kamu siapa di sini. Berani sekali kamu berbicara begitu sama saya!” kata Fikri, nyali Aqilah seketika menciut saat melihat tatapan Fikri yang begitu tajam.
Bab 2
Farah menggenggam tangan Aqila, mengisyaratkan agar Aqila tidak berbicara lagi begitupun Aqila yang langsung terdiam saat mendengar ucapan Fikri yang begitu sadis. Ia.benar-benar hanya refleks berkata begitu pada Fikri.
Selama ini, ia tidak pernah ikut campur urusan Farah, ia hanya selalu menenangkan Farah. Tapi barusan, saat mendengar ucapan Fikri yang begitu dingin pada Farah, ia refleks mengatakan apa yang ada di dalam hatinya, apalagi ini hari ulang tahun Farah, dan Aqila yakin, ada banyak hal yang ingin disampaikan Farah pada Fikri, itu sebabnya ia melontarkan kata-katanya begitu saja.
“Maafkan Aqila, Yah. Kami akan naik ke atas.” secepat kilat, Farah langsung menarik tangan Aqila untuk berjalan ke atas, sedangkan Aqila hanya mengikuti langkah Farah, ia benar-benar masih gugup karena ditatap begitu oleh Fikri.
Fikri menggeleng saat putrinya dan Aqila pergi ke atas, kemudian ia langsung berjalan ke arah meja makan untuk makan malam. Seperti biasa, di meja makan sudah terhidang beraneka menu.
Fikri menarik kursi, kemudian ia mendudukkan dirinya lalu mengambil piring dan mengambil makanannya dan ia pun mulai memakan, makan malamnya dengan hening.
Seperti biasa, Fikri selalu makan seorang diri. Tapi, Jika kebetulan Farah sedang berada di meja makan, ia akan langsung berbalik, karena ia tidak ingin makan bersama dengan putrinya.
•••
“Aqila Apa kau bodoh, kenapa kau harus berkata seperti itu pada ayahku,” ucap Farah, ketika masuk ke dalam rumah. Aqila menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
“Maaf Farah, aku terlalu greget dengan ayahmu!” kata Aqila, Farah mendudukkan dirinya di sofa, kemudian ia menyadarkan tubuhnya ke belakang. Ia tidak peduli dengan pakaiannya yang basah, Ia hanya memikirkan nasibnya besok.
Selama ini, ayahnya sangat dingin padanya, dan ia yakin sikap ayahnya akan semakin mendingin, karena apa yang diucapkan Aqila barusan.
“Farah maaf,” ucap Aqila.
“Lupakanlah!” kata Farah. Farah pun kembali bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk menyegarkan diri, sedangkan Aqila mendudukkan dirinya di sofa.
Saat mendudukkan diri di sofa dan Farah sudah berada di kamar mandi, Aqila melihat ke sekelilingnya kamar Farah begitu mewah, dan ia tahu Farah tidak kekurangan apapun, berbeda dengannya.
Aqila tersenyum getir, ia melihat telapak tangannya yang menghitam dan mengeras, itu semua karena dia melakukan kerja berat. Bagaimana tidak, setelah ia pulang kuliah, ia harus melakukan pekerjaan part time.
Belum lagi Ia juga mempunyai bisnis kecil-kecilan dan ia harus mengantar barang Jika ada yang memesan barang darinya, belum lagi setiap hari ia selalu mendapatkan perkataan yang tidak enak dari keluarganya, sedangkan ayahnya hanya diam seperti tidak peduli padanya.
Kakak-kakaknya hanya bermalas-malasan, satu kakaknya fokus kuliah dan tidak boleh bekerja oleh ibu tirinya, sedangkan kakak tirinya yang lelaki hanya bermain game dan Aqila sendiri yang memenuhi kebutuhan di dalam rumah tersebut.
__ADS_1
Ia ingin pergi dari rumah itu. Tapi seperti ada yang menahannya, ia tidak punya siapapun dan ia tidak punya tempat berteduh. Dulu, Ia pernah kabur dan menyewa sebuah kosan untuk dirinya sendiri. Tapi ternyata sang ayah menemukannya, dan ia kembali di siksa oleh ibu tirinya dan kedua Kaka tirinya. Ia tidak punya kemampuan untuk melawan, karena saat itu ia masih sekolah.
Dan selain masalah ia yang harus menjadi tulang punggung keluarga, ia juga harus menahan was-was, saat berada di rumah. Bagaimana tidak terkadang kakak tirinya yang lelaki selalu berusaha untuk melecehkannya, ia tidak pernah tertidur saat malam dan itu sebabnya setelah pulang kuliah, ia lebih memilih untuk melakukan beberapa pekerjaan part time, setidaknya ia bisa menunjang kuliahnya d membantu untuk kebutuhan rumah tangganya
Sebenarnya bukan membantu, karena dia sendirilah yang menjadi tulang punggung. Ibu tirinya selalu meminta jatah setiap Aqila mendapat gaji dan akhirnya tidak bisa menolak. Hidup Aqila benar-benar getir, Ia tidak tahu sampai kapan ini berlalu.
Dan sekarang, ketika Farah mengajaknya untuk menginap, Aqila tidak ingin memikirkan hari esok karena ia tahu hari esok ia tidak akan selamat dari ibu tirinya, dan hari ini saja ia ingin tidur lelap dan tidak memikirkan tentang hari esok.
Waktu menunjukkan pukul 11.00 malam, Aqila terbangun dari tidurnya, kemudian ia melihat ke arah samping di mana Farah sudah tertidur. Ia menarik selimut dan menyelimuti tubuh Farah.
Ia menatap Farah dengan sendu, ia ingat sebelum tidur, Farah meminum obat tidur, ia tidak bisa melarang Farah melakukan itu, karena ia mengerti dengan apa yang dirasakan Farah. Farah tidak ingin melewati malam ini dengan kesedihan, apalagi ini adalah malam ulang tahunnya.
Sedangkan ia terbangun karena ia merasakan haus. Setelah menyelimuti tubuh temannya, Aqila pun langsung turun dari ranjang, kemudian ia langsung keluar untuk ke dapur dan mengambil minum.
Saat ia turun ke bawah, langkahnya terhenti matanya fokus melihat keluar, tubuhnya diam mematung saat melihat apa yang ada di depannya, ternyata Fikri sedang duduk di tepi kolam renang, dan sepertinya lelaki itu baru saja selesai berenang.
Jantung Aqila seperti akan melompat dadanya, saat melihat tubuh atletis Fikri, ia bahkan tidak mengedipkan matanya karena begitu tersihir dengan tampilan Fikri, yang hanya bertelanjang dada.
Fikri bangkit dari duduknya, kemudian ia berniat masuk ke dalam kamar. Namun tak lama, ia menghentikan langkahnya saat melihat Aqila ada di depannya. Fikri menatap Aqila dengan datar, sedangkan Aqila masih belum tersadar, ia masih menata Fikri tanpa berkedip.
“Kamu mau apa?” tanya Fikri yang mulai berjalan, ia langsung bertanya ketika berada di depan Aqila. Aqila menggeleng, kemudian ia tersadar.
Bukannya menjawab, ia malah fokus pada perut Fikri yang sixpack.
“Kamu mau apa?” tanya Fikri lagi, seketika Aqila mengerjap.
“Maaf om, saya cuma mau ambil minum!” kata Aqila dengan wajah yang memerah. Fikri langsung berjalan, meninggalkan Aqila begitu saja dan setelah Fikri pergi.
Aqila mengusap dadanya. Ia perempuan yang normal, tentu saja dia tertarik dengan Fikri, apalagi Fikri bisa didefinisikan lelaki yang sempurna. Namun, ketika mengingat kelakuan Fikri pada Farah, Aqila menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi ke dapur dan mengambil minum
Pagi berganti malam, Aqila dan Farah sudah sama-sama bangun dari tidurnya dan mereka pun bersiap untuk pergi ke kampus. Seperti biasa, setiap menginap Aqila selalu memakai pakaian milik Farah, karena ia tidak memakai baju ganti.
Saat akan sarapan Farah, langkahnya menghentikan kala sang ayah ada di meja makan, dan ia tidak seberani itu untuk bergabung bersama ayahnya. Namun tak lama, ia terpikirkan sesuatu
“Aqila kau tunggu di sini, aku harus berbicara dengan ayahku!” kata Farah, Aqila pun menggangguk.
Farah berjalan ke arah meja makan, kemudian ia berdiri di samping ayahnya. “Ayah!” panggil Farah dengan ragu, Fikri tidak menoleh membuat Farah menggigit bibirnya.
“Bolehkah aku meminta kartu kredit lain, kartu kreditku sudah limit bulan ini," ucap Farah.
“Kalau begitu aku pergi!” Farah lebih memilih pamit dari hadapan Fikri, karena ayahnya tidak menjawab, sedangkan Aqila hanya menatap Farah yang berjalan ke arahnya dengan getir apalagi melihat ekpresi Farah yang sepertinya tidak ingin menangis.
Dunia ini benar-benar tiada adil untuk mereka.
••••
Bab 3
Aqila menghela nafas, kemudian menghembuskannya saat berada di depan rumah orang tuanya. Akhirnya, setelah bekerja partime, ia harus pulang dan ia sudah bersiap untuk menebalkan kupingnya, karena pasti ia akan dimarahi oleh ibu tirinya
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Aqila pun melangkahkan kakinya untuk masuk.
“Kemana aja kamu, kamu enggak tahu, semuanya habis. Mana uang? bukannya hari ini kamu gajian?” tanya Mina, ibu tiri Aqila.
Aqila mengigit bibirnya, kemudian menggeleng. “Maaf Bu, Aqila harus bayar semester. Jadi Aqila Enggak bisa ngasih gajih Aqilah ke ibu!” kali ini, Aqila berani melawan. Sebab, ia memang harus membayar biaya semesternya, jika tidak, ia tidak akan bisa mengikuti ujian
“Ayah, lihat anak kamu! masa dia enggak mau kasih uang gajinya, sedangkan kebutuhan dapur menipis,” ucap Mina, mengadu pada sang suaminya.
“Aqila kamu kan bisa berhenti kuliah, cepat kasih uangnya ke ibu!” Tanpa rasa belas kasihan, Harso menyuruh Aqila memberikan uang yang baru saja Aqila dapat. Ia sama sekali tidak memperdulikannya Aqila, yang tak lain adalah anak kandungnya sendiri.
“Ayo cepat!” ucap Harso. Dengan tangan bergetar, Aqila pun langsung merogoh tasnya, kemudian ia mengambil uang hasil gajiannya kemudian memberikannya pada tangan Mina.
“Nah, gitu dong! sekarang cepat cuci piring. cucian numpuk” .Helaan nafas, terlihat dari wajah Aqila, begitulah setiap hari. Ia tidak pernah mendapat ketenangan.
Aqila melepaskan tasnya, kemudian ia masuk ke dalam. “Kamu mau ngapain?’ tanya Mina, ketika Aqila, mengambil piring. ”Bu aku lapar, aku mau makan!” Kali ini, Aqila memberanikan diri menjawab ucapan ibu tirinya.
biasanya ia tidak akan berani membantah, ia akan mematuhi ibu tirinya, untuk melakukan pekerjaan rumah terlebih dahulu. Tapi kali ini, Aqila benar-benar sedikit emosi, apalagi uang yang ia kumpulkan untuk membayar kuliahnya harus diambil secara paksa.
“Cepat makan! beresin semua di dapur!" kata Mina, lagi-lagi Aqila hanya mampu menghela nafas, saat melihat perlakuan ibu tirinya. Ia pun segera menyendokan nasi ke piring beserta lauk-pauknya.
Namun, baru saja ia akan memakannya ayam yang berada di piring, ayam itu direbut oleh Irma, kakak tirinya.
“Enak aja lu makan enak!” Irma memakan ayam tersebut, membuat lagi-lagi Aqila memejamkan matanya, akan percuma jika ia meladeni kakak tirinya, Ia pun memilih melanjutkan memakan makanan yang ada di piringnya.
“Udah lu makan, beliin gue boba ke depan!” titah Irma, Aqila tidak menjawab. Ia, fokus memakan makanan yang ada di depannya.
“Denger enggak lu!” Irma menoyor kepala Aqila, hingga Aqila menjadi murka. Aqila melemparkan piring yang sedang ia pakai, karena ia tidak terima kepalanya ditoyor oleh kakak tirinya.
“Apa-apa ini!” teriak Mina.
“Bu lihat! dia mecahin piring!” Irma mengadu pada sang ibu.
“Aqila!” bentak Mina.
Aqila memejamkan matanya, rasa lelah rasa marah, emosi bercampur menjadi satu, Aqila mengepalkan tangannya, hingga ia melototi ibu tirinya
“Berani kamu melototin ibu!” bentak Irma lagi.
Rasanya, kekesalan Aqila semakin menjadi-jadi. Emosi benar-benar menjadi bensin untuk membakar rasa takutnya. Ia pun langsung berjalan ke arah ibu tirinya, lalu merogoh saku ibu tirinya dengan paksa, ia mengambil uang yang tadi Ia berikan, karena ia melihat, ibu tirinya masukkan uang itu ke dalam saku.
Setelah melawan ibu tirinya, Ia pun berhasil mengambil uang yang tadi ia serahkan pada Mina. Sedangkan Mina berusaha mengambil uang itu dari tangan Aqila. Namun, Aqila melawannya
“Cukup!” bentak Aqila, rasanya ia sudah berada di ujung emosinya, bertahun-tahun diperlakukan tidak adil dan inilah puncak emosinya.
“Ayah!” teriak Mina yang memanggil suaminya, karena ia tahu Aqilah akan menurut jika Harso yang memerintahkannya.
“Apa Bu?” tanya Harso.
“Lihat anak kamu! masa dia ngambil lagi uang yang tadi dikasih!” ucap Mina. Namun, kali ini, Aqila tidak gentar.
“Balikin duit itu ke ibu!” titah Harso, ia melotot galak pada Aqila.
“Enggak mau, aku enggak akan pernah balikin uang ini!” Baru saja Harso akan maju untuk memukul Aqila, Aqila menantang Harso.
“Aku bisa laporin kalian ke Komnas ham atau aku juga bisa laporin kalian ke kantor polisi, karena kalian udah semena-mena sama aku!" teriak Aqila. Lalu Aqila melihat ke arah Irma.
“Dan lu juga, selama ini lu kuliah pakai uang gaji gua kan” tiba-tiba Aqila terpikirkan sesuatu, ia pun langsung berjalan ke arah kamar Irma.
__ADS_1
Lalu setelah itu, ia mencari-cari dompet Irma, dan Ketika menemukan dompet Irma yang ada di atas meja belajar, Aqila pun langsung mengambil dompet Irma dan mengeluarkan seluruh isinya dan ia pun mengambil sisa uang milik Irma.
Saat sudah mengambil dompet Irma, Aqila melemparkan dompet itu ke arah Irma, hingga dompet itu mengenai kepala Kaka tirinya. Aqila benar-benar sudah berada di titik lelahnya, ia rasa bertahan pun percuma, dan sebenarnya saat ini tidak sepenuhnya berani, lututnya pun sedikit gemetar.
Tapi, Jika ia tidak melawan, ia akan terus diperlakukan tidak adil. “Aqila!" teriak Irma. Saat Irma akan maju, Aqila langsung mengambil ponsel Irma yang ada di ranjang, kemudian ia berjalan ke arah jendela.
“Berani lu maju, gue lemparin handphone lu ke jendela,” ucap Aqila.
“Ayah ... Ibu!” Irma berteriak dengan panik saat Aqila akan melemparkan ponselnya, sedangkan Aqila hanya menyeringai.
“Wah, Irma HP lu bagus juga dan ini lu pasti beli pakai duit gue!”
“Tutup mulut lu!” kata Irma yang tak terima dengan ucapan Aqila, kali ini Harso yang masuk ke dalam kamar Irma, kemudian ia melotot galak pada Aqila.
“Aqila!” bentak Harso. “Kamu udah berani sama ayah, yah!”
“Ayah, kalau ayah macam-macam sama aku.. Aku laporin ayah ke Komnas HAM dan ayah bakal diproses secara hukum!” ucap Aqila, ia tidak tahu apakah perlakuan keluarganya bisa dipertanggungjawabkan di depan hukum atau tidak, yang pasti Ia hanya asal bicara agar keluarganya tidak semena-mena.
Seketika Harso terdiam, rupanya ia sedikit menciut dengan ucapan Aqila, setelah Harso terdiam, Aqila langsung berjalan ke arah pintu sambil membawa ponsel Irma.
“Ayah minggir!” ucap Aqila ketika Harso menghalangi pintu, sedangkan Irma berusaha untuk tenang. Ia tidak ingin Aqila menghancurkan ponsel yang baru saja ia beli.
Taanpa diduga, Harso mencekik Aqila dan menyudutkan putrinya ke dinding, hingga Aqila kesulitan untuk bernafas, Aqila terus berusaha meronta agar sang ayah melepaskan cengkramannya dari lehernya.
Walaupun sempat takut pada ucapan Aqila, tapi tak lama, ia tak terima saat Aqila berteriak padanya. Hingga ia gelap mata, ia tidak terima putrinya membangkang.
Saat Aqila sudah lelah untuk memberontak, Aqila menggerakkan kakinya untuk menendang senjata sang ayah, dan sedetik kemudian senjata Harso langsung melepaskan tangannya dari leher Aqila.
Saat Harso masih kesakitan, Aqila langsung keluar dari kamar Irma, dan ia langsung keluar dari rumah. Saat sudah diluar, ia berlari sekencang mungkin, agar sang ayah tidak mengejarnya. Beruntung, selama ini Aqila menyimpan peralatan kuliah dan sebagian pakaian-pakaiannya di loker tempat ia bekerja part time, hingga ia tidak tidak terlalu kesulitan.
Gengs tinggalin komen ya biar semangat
Bab 4
Aqila terdiam di sisi jalan, ia duduk di kursi yang ada di bahu jalan tersebut. Tatapan matanya lurus ke depan, ia memeluk tubuhnya saat angin malam berhembus sangat kencang. Matanya mulai berkaca-kaca, membayangkan kejadian saat tadi, di mana ia hampir saja mati di tangan ayahnya.
Tiiba-tiba, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya saat mengingat kejadian di mana ayahnya mencekiknya. Ayah yang seharusnya melindunginya, yang seharusnya ada untuknya, malah bertindak sebaliknya.
Terkadang, ia heran siapa yang anak kandung dan siapa yang anak tiri, karena faktanya ia lebih sering melihat bahwa ayahnya terlihat menyayangi kedua kakak tirinya, berbeda dengannya yang dijadikan tulang punggung keluarga dan dijadikan pembantu di rumah itu.
Aqila menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak boleh larut dalam apa yang terjadi, karena ia sadar hidupnya yang baru akan dimulai. Dan ia merasakan kelegaan yang luar biasa hebat, saat ia berhasil keluar dari rumahnya.
Ia tidak menyangka, ia akan seberani ini. Padahal, dulu iya begitu ragu untuk pergi. Tapi sekarang, ia benar-benar yakin, Ini adalah keputusan yang terbaik, setidaknya ia bisa mengurus dirinya sendiri, tanpa mengingat kedua orang tua dan kedua kakak tirinya.
Aqila mengerjap, kemudian ia langsung bangkit dari duduknya, setelah itu, ia memutuskan untuk berjalan. Ia tidak tahu malam ini akan kemana, hanya saja, yang pasti ia tidak akan pulang ke rumahnya lagi.
Temannya hanya Farah. Tapi, ia tidak seberani itu untuk datang ke rumah Farah. Walaupun ia dan Farah memang berteman dekat, tapi dia tidak berani untuk meminta tolong pada Farah. Ia tidak ingin, Farah menganggapnya sebagai teman yang memanfaatkan keadaan.
•••
waktu menunjukkan pukul 10.00 malam, Fikri masih betah berada depan laptop. Sebenarnya, pekerjaan Fikri sudah selesai. Hanya saja, ia memeriksa berkas-berkas yang lain yang belum ia sempat ia periksa.
Tak lama, pintu ruangan Fikri terbuka, sosok Septian, sekretaris Fikri masuk ke dalam. “Pak, anda tidak pulang?” tanya Septian, Fikri menoleh.
“Kau duluan saja, aku akan membawa mobil sendiri!” kata Fikri, septian pun mengangguk, kemudian ia merogoh saku, lalu menyerahkan kunci mobil ke hadapan Fikri.
“Kalau begitu saya permisi, Pak." pamit Sepitian, Ia pun berbalik, kemudian keluar dari ruangan bosnya. Setengah jam kemudian, Dikit merentangkan tangannya, kemudian ia langsung menutup laptopnya. Setelah itu, ia pun bangkit dari duduknya lalu memakai jas dan menyambar kunci mobil, lalu keluar dari ruangan.
Fikri menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, jalanan tanpa lenggang. Ia menyetir dengan pikiran yang melanglang buana. Tak lama, ia melihat ke arah bawah, lalu memejamkan matanya seraya menghela nafas.
Sepertinya, sekretarisnya lupa membeli bensin, dan untuk pertama kalinya, Fikri harus memberi bensin seorang diri. Ia pun langsung berbelok, kemudian mencari Pertamina yang dekat.
•••
Aqila berjalan tak tentu arah, jujur saja ... Ia bingung, ini sudah setengah jam berlalu ia berjalan, dan ia berjalan hanya mengikuti kemana kakinya melangkah. Tak lama, ia merasa merinding dan ia merasa ada yang mengikuti dari belakang.
Ia menghentikan langkahnya sejenak, kemudian ia menoleh ke belakang. Namun saat ia menoleh, tidak ada siapapun di sana. Ia menggigit bibirnya, sebenarnya ia sudah melihat ada seseorang yang mengikutinya. Namun, saat ia berbalik, seseorang itu bersembunyi dan ia tahu, itu adalah Egi, kakak tiri lelakinya.
Tiba-tiba, jantung Aqila berdetak dua kali lebih cepat, ia berada di dalam ketakutan yang luar biasa. Apalagi jalanan di sekitarnya cukup sepi. Secepat kilat, Aqila pun langsung berlari dengan kencang, karena ia takut kakak tirinya menangkapnya. Apalagi, Ia seorang wanita ... tentu saja ia tidak akan menang melawan Egi.
Saat berada di depan pom bensin, mata Aqila berbinar saat melihat ada Fikri sedang mengisi bensin. Pom itu cukup sepi, dan Aqila tidak bisa memikirkan jalan lain. Secepat kilat, Aqila berjalan ke arah sisi, kemudian ia langsung berlari ke arah mobil Fikri dan masuk ke dalam mobil ayah dari temannya.
Fikri yang sedang diluar dan membayar tidak menyadari bahwa Aqilah masuk ke dalam mobilnya, apalagi Aqila masuk ke dalam mobil dengan pelan.
“Terima kasih!” ucap Fikri, ia turun karena ingin mengecek sesuatu dan setelah memastikan kondisi mobilnya, Fikri pun langsung masuk ke dalam mobil.
“Astaga!” Fikri terpekik kaget, saat melihat Aqila ada di mobilnya. Ia mengucek mata dan menatap Aqila tak percaya
Kenapa juga ada Aqila, wanita yang tak lain teman putrinya dan berada di mobilnya. Padahal, jelas-jelas dia tadi sendiri
“Kamu ngapain di mobil saya!” teriak Fikri membuat Aqila terperanjat.
“Tolong aku, Om!” kata Aqila “aku ikejar kakak tiri ku!”
“Memangnya apa urusan saya!” hardik Fikri.
“ Keluar!”! usir Fikri pada Aqila.
“Om tega usir aku, gimana kalau ada apa-apa sama aku!” Aqila tidak memperdulikan lagi sikap dingin Fikri, ia mengusir ketakutannya pada ayah temannya. Yang terpenting, ia harus pergi dari kakak tirinya terlebih dahulu.
“Om ayo!” Aqila menggoyang-goyangkan tangan Fikri, membuat Fikri terperanjat, karena selama ini tidak ada yang berani menyentuhnya. Tapi sekarang, gadis yang merupakan teman anaknya begitu lancang .
Seketika Fikri menghempaskan tangan Aqila dengan keras, hingga Aqila tersadar, dan meringis, karena tangannya mengenai ujung pintu.
Fikri berdecak malas, kemudian ia menyalahkan mobilnya, lalu menjalankannya. Setelah itu, Aqila langsung menunduk agar tidak terlihat oleh kakak tirinya yang terlihat sedang mencari-carinya.
Setelah mobil melaju dengan jarak yang cukup jauh dari pom bensin tadi, Fikri langsung menghentikan mobilnya. Kemudian, ia menoreh ke arah Aqila yang sedang melamun.
“Kamu turun!” usir Fikri, Aqila menoleh.
“Om, ini jalan sepi. Masa om tega nurunin aku di sini,” ucap Aqila.
“Saya, enggak peduli. Turun!" lagi-lagi, Fikri berucap dengan datar dan dingin. Nadanya seperti enggan dibantah, sedangkan Aqila menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia begitu penakut, dan sekarang Fikri malah menurunkannya di jalan pintas yang cukup sepi. Bahkan tidak ada orang satupun di sana.
“Om ...." Aqila berusaha untuk membujuk Fikri, berharap Fikri mau mengajaknya. Setidaknya malam ini ia bisa aman. Sebenarnya, ia bisa saja menelepon Farah. Tapi berhubung ia sedang bersama Fikri, lalu apa salahnya ia menebeng pada Fikri.
Fikri menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Dia pun turun dari mobil,.membuat Aqila mengerutkan keningnya. Fikri memutari mobil, kemudian membuka pintu mobil untuk Aqila. “Keluar!” titah Fikri.
__ADS_1
“Om ....” ucap Aqila dengan lirih, ia berusaha menampilkan wajah yang memelas. Fikri menarik tangan Aqila dengan paksa, hingga Aqila pun terpaksa keluar dari mobil. Dan setelah Aqila keluar, Fikri, kembali masuk ke dalam mobilnya. dan ia pun, kembali menjalankannya dan meninggalkan Aqila yang ketakutan seorang diri.