
langsung meninggalkan apartemennya, ia terlalu takut dan malu untuk bertemu Khalisia, hingga ia lebih memilih pergi. Sebelum pergi, ia menempatkan asisten rumah tangga di apartemen untuk melayani Khalisia.
Saat berbelok untuk menuju lift, Gemma melihat Garnia sedang mengobrol dengan seseorang di ujung lorong, mata Gemma membulat saat melihat lawan bicara Garnia yang ternyata adalah sekretaris kakeknya.
Seketika Gemma terpikirkan sesuatu. Mungkinkah kakeknya yang menyuruh Garnia untuk memutuskannya dan menghindarinya.
"Garnia!" panggil Gemma. Seketika Garnia menoleh dan langsung membuat tubuhnya menegang. Sekarang, bagaimana jika Gemma mengetahui semuanya.
Bab 9 Seminggu berlalu, Khalisia masih setia terdiam di kamarnya. Di tengah duka dan luka yang menerjangnya, Khalisia berusaha berpikir jernih dan berusaha untuk tetap waras, walaupun itu sulit.
Karena nyatanya, bayang-bayang mengerikan itu selalu terbayang setiap malam, selama seminggu ini gadis malang itu hanya melamun-melamun dan melamun.
Ia mengabaikan semua panggilan yang masuk ke ponselnya, rasanya ia tak mau berbicara dengan siapa pun. Termasuk keluarganya. 3 hari lalu, Julian datang ke apartemen untuk melihat dirinya, karena Khalisia tak bisa di hubungi.
Khalisia yang belum mau bertemu siapapun, menyuruh asisten rumah tangganya untuk berbohong, mengatakan pada Julian bahwa dirinya sedang pergi ke luar kota.
Julian percaya begitu saja karena menganggap Khalisia pergi dengan Gemma, karena nomer ponsel Gemma pun sama-sama tak bisa di hubungi.
Saat hari ke 4 setelah kejadian naas itu, Khalisia memanggil dokter pribadinya untuk datang ke apartemennya. Karena setiap malam, tubuhnya menggigil, ia merasakan napasnya sesak bukan main.
Seminggu berlalu, Khalisia sudah berpikir matang-matang, tentang keputusan apa yang akan di ambil.
Walaupun ucapan Gemma begitu menyakitkan dan begitu menusuk, tapi Khalisia sadar, semua yang di ucapkan Gemma adalah kebenaran.
Ia yang bersalah di sini. Ia yang terlalu memaksakan kehendaknya, ia yang memaksa Gemma untuk masuk kedalam hidupnya. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri dan ucapan Gemma sebelum kejadian, membuat Khalisia hancur sekalipun semua yang di ucapkan Gemma adalah kebenaran.
Dan saat ini, Khalisia sudah menyadari semuanya. Dia harus mengembalikan semua pada tempatnya. Khalisia harus menepati janjinya pada sang ayah, harus menerima konsukuensi dari keputusannya dan tak mengeluh tentang apa yang terjadi di hidupnya.
Ia harus mengubur semuanya rapat-rapat, lukanya, dukanya dan kesakitan yang dia alami.
Waktu menunjukan pukul 9 pagi. Khalisia terduduk di meja rias, ia memandang wajahnya lekat-lekat, masih terlihat sembab dan kuyu.
Ia mengambil kuas make up dan mulai menyapukannya make up ke seluruh wajahnya hingga wajahnya terlihat segar, walaupun masih ada jejak sedikit sembab.
Setelah selesai, Khalisia membuka laci di depannya, ia mengambil buku nikah miliknya dan milik Gemma.
"Kau, kan, yang ingin menikah. Jadi kau simpan saja buku nikah itu."
Tiba-tiba Khalisia mengingat sekebat ucapan Gemma. Saat selesai ijab qobule, Khalisia memberikan buku nikah milik Gemma, Namun, Gemma menolak dengan sadis, hingga Khalisia menyimpan buku nikah itu seorang diri.
"Kau benar, Kak. Akulah yang terlalu berharap di sini," lirih Khalisia. Obsesinya begitu besar. Hingga menghancurkannya hanya dalam hitungan hari.
Khalisia bangkit dari duduknya, ia mengambil buku nikah dan memasukannya pada tasnya, lalu ia bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar.
"Non, mau pergi, Non?" tanya asisten rumah tangga yang di tugaskan oleh Gemma. Wanita berumur 40 tahun itu memandang Khalisia lekat-lekat. Selama seminggu ini, ia hanya melihat Khalisia sekali saat Khalisia menyuruhnya berbohong pada Julian. Selebihnya, ia hanya melihat punggung Khalisia karena setiap ia mengantarkan makanan ke kamar, Khalisia selalu sedang meringkuk di ranjang
Khalisia menarik sudut bibirnya. Ia tersenyum samar.
"Saya mau pergi, Bi. Saya permisi," pamit Khalisia, ia tak ingin terlalu berbasa-basi hingga ia memutuskan untuk pergi.
•••
"Anda ada masalah, Nona?" tanya Riyadh saat Khalisia masuk kedalam mobilnya. Khalisia sengaja meminta Riyadh mengantarnya karena ia tak ingin menyetir sendiri.
Khalisia tak menjawab, ia menyenderkan kepalanya ke jendela dan memejamkan matanya membuat Riyadh menghela napas.
"Anda yakin ingin pergi ke pengadilan?" tanya Riyad, apa anda tak ingin berunding terlebih dahulu dengan Tuan Julian dan Nyonya Tania?"
Mendengar nama kedua orang tuanya di sebut, Khalisia membuka matanya. Ia langsung menatap Riyadh dengan tatapan tajam.
"Bisakah kau berhenti berbicara!" hardik Khalisia, Riyad menggeleng. Ia sangat mengenal Khalisia, jika Khalisia sudah berbicara dengan nada tinggi, berarti Khalisia sedang tak baik-baik saja.
•••
"Garnia!" panggil Gemma. Dengan mata menyipit, ia maju ke hadapan Garnia.
Tubuh Garnia mengegang, ia langsung menyembunyikan amplop yang di tangannya, amplop yang di berikan oleh sekretaris kakek Gemma.
"Om sedang apa di sini?" tanya Gemma pada Andre, sekretaris kakenya.
"Garnia, saya harap kamu paham apa yang saya bicarakan!" ucap Andre. Andre malah berbicara pada Garnia tanpa menghiraukan pertanyaan Gemma. Membuat Gemma berdecih.
Setelah Garnia mengangguk, Andre langsung pergi dari hadapan Garnia, dan kini Gemma menatap Garnia dengan tatapan menyelidik.
"Ada urusan apa kau bertemu sekretaris kakekku?" tanya Gemma.
"Maaf, Dokter Gemma saya permis!" jawab Garnia, ia tak ingin Gemma tau yang sesungguhnya.
Saat Garnia sudah berbalilk, Gemma menarik paksa amplop yang ada di tangan Garnia, membuat Garnia terperanjat kaget.
"Apa yang kau lakukan!" teriak Garnia, saat Gemma menarik amplop di tangannya.
"Apa ini?" tanya Gemma. Napasnya memburu saat melihat isi amplop tersebut yang merupakan sebuah cek yang bernominal fantastis dan terdapat tanda tangan sang kakek di cek tersebut.
"Bukan urusanmu!" Seru Garnia, ia mencoba mengambil cek dari tangan Gemma. Namun, secepat kilat, Gemma menyobek cek tersebut, membuat mata Garnia terbelalak.
"Gemma!" bentak Garnia saat Gemma menyobekan cek tersebut.
Napas Gemma memburu, secepat kilat ia menarik tangan Garnia dan berjalan memasuki lift, berniat membawa.
"Sebenarnya ada urusan apa kau dengan kakekku hingga kakekku memberi uang yang sangat besar padamu! Apa ini alasan kau memutuskanku dan kau menjauhiku?" Hardik Gemma saat sampai di atap. Ia menghempaskan tangan Garnia dengan kasar, hingga Garnia meringis. Kemudian dia menangis, bukan karena sakit di tangannya, melainkan karena mengingat cek yang di sobekan oleh Gemma.
"Garnia!" bentak Gemma lagi saat Garnia tak menjawab ucapannya. Ia meremas kedua bahu Garnia dengan keras hingga Garnia refleks menghempaskan tangan Gemma.
"Jawab aku Garnia! apa kakekku yang menyuruhmu untuk meninggalkanku?" tanya Gemma, dengan nada suara yang lebih pelan, namun.ada geraman di dalam nada suaranya.
"Ya, aku meninggalkankanmu karena kakekmu yang menyuruhku!" teriak Garnia sambil terisak
Tubuh Gemma terasa lemas saat mendengar ucapan Garnia, "Apa aku menukarku dengan uang?" tanya Gemma..Ia menatap Garnia dengan tatapan nyalang.
"Aku bisa apa? Kakekmu menjodohkanmu dengan wanita lain, beliau tau aku membutuhkan uang untuk pengobatan kedua orang tuaku. Jadi menurutmu aku harus bagaimana. Haruskah aku mementingkan perasaanku, dan membiarkan orang tuaku kesakitan!" teriak Garnia dengan berderai air mata.
"Kenapa kau tak bicara padaku tentang orang tuamu," jawab Gemma lirih, jantungnya terasa di tikam ribuan jarum saat mendengar ucapan Garnia.
"Mungkin kau bisa membantuku jika, tapi pada akhrinya, aku harus tetap meninggalkanmu." ujarnya. "Sekarang, kau sudah menikah dengannya bukan? lalu kenapa aku harus terus bertahan saat aku sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya?" isak Garnia. Baru saja ia akan berbalik untuk pergi. langkahnya terhenti saat Gemma menarik tangannya dan membawa Garnia kedalam pelukannya.
Saat di dalam pelukan Gemma, tangis Garnia kembali luruh. Ia membalas pelukan Gemma, dan memeluk Gemma begitu erat.
"Maafkan aku, aku berjanji akan selalu berada di sisimu!" ucap Gemma. Membuat Garnia refleks melepaskan pelukannya.
"Tidak, Gemma. Kau sudah menikah dengan wanita lain dan aku tak ingin jadi duri dalam hubungan kalian," ucap Garnia
"Garnia dengarkan aku," ucap Gemma ia memegang bahu Garnia dan menatap Garnia dengan tatapan tegas. "Aku tak mencintainya. Aku tersiksa hidup dengannya. Sangat tersiksa. Kumohon Garnia, bantu aku. Kembalilah padaku," ucap Gemma di sertai dengan tatapan memohon.
"Ge-Gemma ...." Garnia terbata saat melihat irish mata milik Gemma. Ia melihat bahwa lelaki di depannya ini begitu putus asa.
"La-lu, bagaimana kakekmu?" tanya Garnia.
"Bantu aku, Garnia. Bantu aku agar dia mundur, jika dia mundur sendiri. Kakek tak akan bisa berbuat apa-apa," kata Gemma.
"Caranya?"
••••
Beberapa hari kemudian.
"Gemm, apa kau yakin ini akan berhasil?" tanya Garnia saat berada di unit apartemen milik Gemma.
"Aku yakin, ayo masuk!" ajak Gemma. Ia menekan sandi apartemennya dan pintu terbuka.
Gemma menghela napas saat masuk ke apartemen miliknya. Ia berusaha menguatkan dirinya, jujur saja ia masih malu bertemu Khalisia. Tapi, ia tak punya pilihan lain, ia harus mengakhirinya sekarang juga.
Perlahan, Gemma mulai melangkahkan kakinya. terdengar suara dari ruang televisi, dan Gemma yakin bahwa Khalisia sedang menonton.
"Ekhemm!" Gemma berdehem saat sampai di ruang televisi. Khalisia yang sedang menonton menoleh.
"Oh kalian," ucap Khalisia. Tak ada raut terkejut sama sekali di wajah Khalisia, ia seperti sudah menduga kedatangan Gemma.
Bohong jika Khalisia tak hancur, nyatanya ia hancur berkeping-keping saat melihat tak ada sedikitpun raut bersalah di wajah Gemma. Bahkan, Gemma menatapnya dengan tatapan menantang.
"Aku ingin bicara denganmu!" ucap Gemma dengan pongahnya, membuat Khalisia tersenyum getir. Lelaki di depannya benar-benar seperti monster.
"Bicaralah," jawab Khalisia dengan santai. Padahal hati dan jantungnya remuk redam.
__ADS_1
"Dia Garnia. Wanita yang aku cintai, dan dia sedang mengandung anakku, jadi bisakah kau mundur dan beritau keluargaku dan keluargamu bahwa kau menyerah. Tolong jangan menghalangi kebahagiaan kami," kata Gemma. Ia menekankan setiap kata demi kata, tangannya menggenggam tangan Garnia dan menyimpan di pahanya agar Khalisia melihatnya.
Tak bisa di bayangkan, betapa hancurnya Khalisia. Setelah semuanya hancur malam itu, lelaki brengsek di depannya ini kembali berulah.
Dengan hati yang benar-benar nyeri. Khalisia tersenyum lembut. Ia mengambil map dari kolong meja dan memberikannya pada Gemma.
"Ini ...." Gemma tak sanggup lagi meneruskan ucapannya saat melihat map yang berada di depannya.
"Ya, itu akta cerai. Aku mempercepat perceraian kita beberapa hari lalu. Kau tak perlu khawatir, biar aku yang mengurus keluargamu dan keluargaku. Aku menjamin, mereka takan pernah bertanya padamu alasan perpisahan kita. Kalau begitu aku permisi," pamit Khalisia. Ia bangkit dari duduknya kemudian mengambil koper dari belakang sofa yang sedari tadi ia sudah ia simpan sebelum datang Gemma dan Garnia.
Gemma terpana saat melihat Khalsia bersikap datar, matanya terus melihat punggung Khalisia yang berjalan semakin menjauh, lamunan Gemma buyar kala Garnia menggoncangkan tubuhnya.
Saat akan keluar dari pintu, sejenak Khalisia menghentikan langkahnya. Ia berbalik untuk yang terakhir kalinya. Tak lama, ia tersenyum getir saat melihat mantan suaminya sedang berciuman dengan Garnia.
Pada akhirnya, obsesinya menghancurkannya hanya dalam beberapa hari. Khalisia datang membawa seribu harapan. Tapi, pulang membawa sejuta luka dan kesakitan.
Khalisia menggeret kopernya dengan lesu. Ia ingin menangis sekencang-kencangnya. Tapi ia harus menahannya karena ia harus menghadapi sang ayah
Tapi, sekuat-kuatnya Khalisia. Ia tetap manusia biasa, pada akhirnya tangisnya luruh. Ia berjalan ke tangga darurat karena ingin menangis sekencang-kencangnya.
Hal yang paling menyakitkan adalah ketika tak ada rasa bersalah di mata orang yang menyakiti kita. `Khalisia Kim`
Bab 10 duka yang mendalam
"Garnia, kita bisa membuatnya mundur dengan berpura-pura kau mengandung anakku. Dia pasti akan mundur."
Tangis Khalisia semakin pecah saat mengingat ucapan Gemma saat di atap. Faktanya, Khalisia mendengar semuanya.
Setelah dari pengadilan, Khalisia menelpon Tanu untuk berbicara dan kebetulan Tanu juga sedang di rumah sakit dan di ruangan pribadinya, sembari menunggu sekretarisnya berbicara dengan Garnia.
Saat Gemma menarik tangan Garnia dan masuk ke arah lift, Khalisia keluar dari lift sebelahnya hingga dia melihat Gemma menarik tangan Garnia.
Awalnya, Khalisia tak ingin mengikuti Gemma, karena ia hanya berniat bertemu Tanu, untuk memberitahukan bahwa ia akan bercerai dengan Gemma. Tapi, hati kecilnya berontak. Dengan mengumpulkan segenap keberanian, Khalisia pun menyusul Gemma ke atas.
Dan dia mendengar semua. Semua percakapa Gemma dan Garnia.
Hancur.
Tentu saja Khalisia hancur saat mendengar semua ucapan Gemma, tak bisa di bayangkan bagaimana hancur dan perihnya hati Khalisia. Rasanya, ia bahkan tak sanggup untuk bernapas. Ini menyakitkan, sangat menyakitkan dan ini lebih menyakitkan dari apa pun.
Ia bahkan membatalkan janjinya bertemu Tanu dan memutuskan untuk memberitaunya lewat telpon, karena rasanya, ia begitu malu menghadapi kakek mertuanya.
Khalisia masih menangis tergugu di tangga darurat. Kakinya melemas, bahkan rasanya ia tak sanggup untuk berjalan.
Khalisia, seorang manusia yang tak pernah kekurangan apa pun, kasih sayang, harta dan kehangatan keluarga selalu ia dapatkan sedari kecil.
Tak pernah ada yang memeralukannya dengan buruk, hingga saat Gemma berulah, kehancuran yang Khalisia rasakan tentu berkali-kali lipat.
Khalisia menghela napas dan menghembuskannya berulang-ulang, berusaha meredam gejolak dan menetralkan napasnya. Ia tak ingin pulang ke rumah, tapi ia harus bertanggung jawab atas keputusan yang sudah dia buat di depan sang ayah. Hingga kini, ia harus menghadapi Julian.
Perlahan, Khalisia bangkit dari duduknya. Ie kembali naik ke atas karena ia menyimpan kopernya di dekat pintu tangga darurat.
Saat ia berada di dalam taxi, Khalsia merapikan tampilannya, menyapukan wajahnya dengan makeup tipis agar keluarganya tak melihat bahwa dia baru saja menangis.
Dan disinilah dia berada di depan rumah mewah milik orang tuanya. Khalisia tersenyum getir, beberapa waktu lalu, ia keluar dari rumah ini dengan senyum dan harapan setinggi langit dan sekarang, dia pulang dengan sejuta luka yang sangat mendalam.
Khalisia menghela napas lagi, lalu berjalan ke arah pintu, tangannya terangkat untuk menekan bel tapi tak lama ia menghentikan gerakannya, rasanya ia ragu untuk bertemu keluarganya, termasuk sang ayah.
"Bismillah, kuatkan aku ya Allah," lirih Khalisia. Tangannya kembali terangkat untuk menekan bel.
Sekali
dua kali
tiga kali
Terdengar derap langkah dari dalam, Khalisia memejamkan matanya, lalu terdengar suara handle pintu dan Khalisia Refleks memejamkan matanya
"Khalisia!" panggil Julian saat membuka pintu, ia mengernyit saat melihat sang putri berada di depannya dan memejamkan matanya.
"Ha-hai, Dad!" jawab Khalisia terbata. Sungguh, Khalisia merasa asing saat melihat sang ayah di depannya.
Mata Julian menyipit, ia melihat putrinya lekat-lekat batin Julian mendadak nyeri saat melihat sang putri, padahal ia belum tau apa yang terjadi dengan Khalisia.
Khalisia menggeleng. "Da-dad," ucap Khalisia. Pertahanan Khalisia hampir saja runtuh saat Julian menatapnya dengan tatapan menyelidik. Ia ingin sekali menerjang dan memeluk sang ayah seperti biasa, ia ingin menangis di pelukan sang ayah, tapi menatap Julian saja rasanya ia begitu malu.
Julian tersadar, "Ayo masuk!" ajak Julian. Khalisia pun mengangguk. Saat Julian akan menarik lengannya, Khalisia langsung menghindar, membuat tubuh Julian terpaku.
"Khalisia tatap Daddy!" titah Julian, ia mengenal putrinya lebih dari siapa pun di dunia ini. Ia tau, bahwa sang putri sedang menghadapi masalah yang besar.
"Kau mau bicara di sini atau di depan Mommy dan juga yang lain," ucap Julian lagi, Saat Khalisia masih tak mau menatapnya.
Tubuh Khalisia bergetar, ia hanya manusia biasa. Julian adalah cinta pertamanya, tempatnya pulang. Dan saat ini, ia sedang dalam hancur-hancur hingga sekuat apa pun ia menahannya, pada akhirnya ... Pertahananya runtuh.
"Daddy ...." Khalisia berjalan dengan cepat, ia berhambur memeluk sang ayah dan menumpahkan tangisannya.
Batin Julian tercubit saat mendengar tangisan Khalisia, ini pertama kalinyan ia mendengar sang putri menangis begitu pilu.
Julian mengelus punggung putrinya, membiarkan Khalisia tenang.
Julian melepaskan pelukannya, lalu memegang kedua bahu Khalisia. "Apa ini ada hubungannya dengan suamimu?" tanya Julian. Khalisia berusaha menghentikan tangisnya. Ini yang dia takutkan, pertanyaan dari sang ayah dan menghadapi pertanyaan dari keluarganya
"Da-dadd ...." Jawab Khalisia dengan berderai air mata.
Napas Julian memburu, amarahnya berkobar hebat. Tak perlu mendengar jawaban dari putrinya, dari cara Khalisia menatapnya saja ia bisa tau apa yang terjadi.
"Kau masuklah! Daddy akan memberi perhitungan dengannya," ucap Julian. Amarahnya masih membara, ia benar-benar tak akan melepaskan Gemma.
Mata Khalisia membulat saat sang ayah bicara akan menemui Gemma. Ia langsung menarik tangan Julian sehingga sang ayah kembali berbalik.
"Dad jangan!" pekik Khalisia dengan tubuh bergetar. Ini pertama kalinya melihat wajah sang ayah yang memerah. "Aku dad yang salah. Aku sudah menceraikannya," teriak Khalisia saat melihat sang ayah yang sepertinya tak memerdulikan ucapannya.
"Khalisia!" panggil Tania yang baru datang dari dalam. "Ada apa ini?" tanya Tania, matanya menyipit saat ada koper di dekat Khalisia.
Julian menghela napas, ia mengusap wajah kasar. "Ayo kita bicarakan di dalam," ajak Julian. Tania yang masih bingung hanya mampu melihat Khalisia lekat-lekat.
"Ayo Sayang," ajak Tania. Ia menarik lembut tangan Khalisia yang masih diam mematung.
Saat masuk kedalam rumah, Khalisia terdiam. Dulu, rumah orang tuanya adalah tempat ternyaman. Tapi kini, ia merasa menjadi tamu, sangat asing begitu asing.
"Khalisia ada apa, Sayang?"tanya Tania ketika mereka sudah duduk di sofa. Julian mengedahkan kepalanya. Yang di pikirannya adalah ia akan menemui Gemma dan bertanya tentang apa yang terjadi, hingga putrinya terlihat hancur.
Khalisa yang menunduk langsung mengangkat kepalanya. " Mommy kami ....." Khalisia pun menjelaskan semuanya. Ia berkata keinginan pisah adalah keinginannya sendiri. Dan Gemma sama sekali tak bersalah. Karena sedari awal memang dialah yang terlalu memaksakan kehendakanya.
Mendengar alasan putrinya. Amarah Julian hilang seketika. Ia mengusap wajah kasar, karena memang ia sadar, semua adalah keputusan sang putri yang terlalu memaksakan kehendaknya.
"Lalu kenapa dia tak mengembalikan kau pada Daddy?" tanya Julian setelah Khalisia menyelesaikan ucapannya.
"Aku yang melarangngnya. Aku terlalu malu untuk memintaya mengantarkanku pulang. Jadi kumohon, Dad. Aku tak ingin kau memermanjang ini. Kau benar, Dad. Aku salah dalam melangkah. Dan aku menerima semua konsuekensi dari keputusan yang telah aku ambil. Jadi tolong jangan bertanya padanya, karena menikah dengannya adalah keputusanku dan berpisah dengannya juga adalah keputusanku." Khalisia menjawab Julian dengan tegas. Walaupun batinnya terasa ngilu. Tapi ia tak punya pilihan
Khalisia tak melindungi Gemma sama sekali. Dia sedang berperang dengan luka, dengan kecewa dan dengan rasa malu. Dia sungguh malu, menatap keluarganya. Dulu, dia sesumbar akan bertahan dengan pernikahannya dan dengan percaya diri, dia memaksa sang ayah untuk menikahkannya dengan Gemma. Rasa sombong dan percaya dirinya membuahkan hasil yang sangat menyakitkan.
Dan pilihan apa yang Khalisia punya? Tak ada! Khalisia tak mempunyai pilihan apa-apa, selain harus memendam lukanya seorang diri.
"Kha-khalisia ... Kau tidak apa-apa?" tanya Tania dengan bibir bergetar. Feeling seorang ibu tidak lah salah. 13 hari lalu, putrinya pergi dari rumahnya dengan senyum yang mengembang karena berhasil menikah dengan Gemma. Tapi, hanya dalam waktu 13 hari, senyuman itu berganti dengan tangisan.
Batin Khalisia kembali tercubit saat melihat mata sang ibu berkaca-kaca. Ia memang sangat dekat dengan sang ayah. Tapi, sang ibu pun sama berarti di hidupnya.
"Mommy ... Daddy, aku permisi untuk ke kamarku!" pamit Khalisia. Rasanya ia tak sanggup lagi untuk berhadapan dengan kedua orang tuanya.
•••
Khalisia mengerjap, ia membuka matanya lalu melihat ke arah jam. Ternyata, waktu menunjukan pukul 8 malam. Ternyata, ia sudah tertidur selama dua jam.
Setelah tadi masuk kamar, Khalisia langsung membaringkan dirinya, lalu tanpa sadar ia memejamkan matanya hingga terlelap.
Perutnya terasa lapar, ia pun memutuskan untuk turun ke bawah. Saat ia akan berjalan ke arah lift, ia menghentikan langkahnya, saat berada di depan kamar Mommy dan Daddynya. Pintu kamar mereka terbuka, hingga Khalisia bisa mendengar semuanya.
"Seharusnya sedari dulu kau tegas padanya, Dad. Seharusnya sedari dulu kita melarangnya. Seharusnya sedari dulu kau mengirimnya keluar negri agar dia ...." Tania menghentikan ucapannya karena suaranya berganti dengan tangisan. Hatinya hancur, saat melihat putrinya harus berakhir dengan seperti ini.
"Lalu bagaimana kita akan menghadapi ini, Dad?" lirih Tania lagi. Ia memukul-mukul dada Julian yang sedang memeluknya. Tania menangis tergugu., karena harus melihat kondisi sang putri.
"Ba-bagaimana mungkin dia menjadi janda di usia muda, bagaimana mungkin, Dad!" isak Tania lagi. Ia sungguh takut bahwa sang putri akan kesulitan kedepannya karena setatusnya.
__ADS_1
Dunia Khalisia menggelap, saat mendengar ucapan sang ibu. Jantungnya benar-benar seperti di tusuk ribuan jarum saat sang ibu menyinggung tentang statusnya sebagai seorang janda muda. Ia tau, sang ibu mengkhawatirkannya. Tapi di sisi lain, ia merasa bahwa ia telah membuat aib di keluarganya.
Otak Khalisia kosong. Dengan berderai air mata, Khalisia melanjutkan langkahnya untuk turun. Saat turun, Khalisia bukannya pergi ke ruang makan melainkan pergi ke arah pintu.
Sejanak, ia menghentikan langkahnya lalu ia menatap koper yang tadi ia bawa dan masih tersimpan di dekat pintu karena saat naik ke kamarnya, ia tak membawa kopernya.
"Mommy ... Daddy, maafkan aku telah membuat keluarga kita malu. Semoga kalian selalu di berikan kebahagian," lirih Khalisia dengan pelan. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya dan kembali menggeret kopernya kemudian ia keluar dari rumah orang tuanya.
Selamat tinggal semua, Khalisia pergi dengan luka yang dasyat serta bertubi-tubi. Ia takan pernah sanggup untuk tetap tinggal dan menyaksikan kesedihan orang tuanya dan ia takan sanggup untuk menatap semua keluarganya, karena ia sungguh malu dengan apa yang terjadi di hidupnya.
Tangisan, kesedihan, angin malam, cahaya bulan mengiringi langkah Khalisia. Ia berjalan dengan bahu yang bergetar, ini sulit. Tapi, Khalisia harus menghadapi semuanya.
7 tahun kemudian
"Anda yakin akan pergi ke Indonesia besok?" tanya Riyad pada seseorang di depannya yang tak lain adalah Khalisia.
7 tahun berlalu, banyak yang terjadi di hidup Khalisia. Ia berubah total, sangat berubah. Hidup Khalisia menggelap. Ia bahkan jarang tersenyum, atau jarang memberikan senyumannya pada orang lain.
Khalisia sekarang, sangat irit berbicara dan begitu dingin, sangat dingin bahkan mungkin, api saja takan sanggup untuk mencairkan sikap dingin Khalisia. terlalu banyak kesakitan yang terjadi selama 7 tahun ini, hingga mengubah Khalisia.
Khalisia yang sedang berdiri di jendela sambil menatap gedung-gedung di depannya hanya menjawab ucapan Riyad dengan deheman. Tak lama, ia memejamkan matanya karena sinar matahari mengenai wajahnya.
"Tuan Julian dan Nyo ...."
"Sampaikan pada mereka, aku belum siap bertemu siapa pun," jawab Khalisia dengan dinginnya. Membuat Riyad menggeleng. Selama 7 tahun ini, dia mendampingi Khalisia, dan melihat bagaimana Khalisia bangkit dari keterpurukan.
"Baik kalau begitu," Riyad pun keluar dari ruangan Khalisia, dan setelah Riyadh pergi Khalsia berbalik dan berjalan ke kursi kerjanya.
Ia membuka laci lalu mengambil foto. "Sebentar lagi kita akan bertemu, Sayang," ucap Khalisia sambil membelai foto di tangannya, wajah dingin yang ia tampilkan sedari tadi akhirnya berubah menjadi wajah sendu dan terlihat jelas gurat-gurat kesedihan di mata Khalisia.
Keesokan harinya.
Saat turun dari pesawat, Khalisia menghirup dalam-dalam udara indonesia. Negri yang hanya ia datangi setahun sekali. Rasanya ingin menangis dan juga ingin tersenyum secara bersamaan.
Khalisia melanjutkan langkahnya dan berniat pergi ke tempat tujuannya. Tempat yang selalu ia ingin datangi setiap saat.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh menggunakan taxi, akhirnya, Khalisia pun sampai di tempat tujuannya
Ia menatap gerbang di depannya dengan mata berkaca-kaca. Setiap tahun, ia selalu merasakan sesak yang luar biasa ketika menginjakan kakinya di tempat ini, tempat yang menurutnya sangat menyesakkan
Setelah lama terdiam, akhirnya Khalisia pun melanjutkan langkahnya, dia berjalan lebih masuk hingga akhirnya langkahnya terhenti di depan sebuah nisan yang cukup kecil.
Di nisan itu tertulis nama
Afeesya kim binti Gemma syarif rahardja. Bayi mungil yang Khalisia lahirkan 7 tahun silam. Namun, sayang. Afeesya hanya bertahan 3 jam, kemudian bayi tak berdosa itu menghembuskan napas terakhirnya hanya dalam waktu 3 jam setelah di lahirkan oleh Khalisia, sang ibu.
"Assalamualaikum cantik, Mommy datang menemuimu," ucap Khalisia. ia berjongkok mencium nisan sang putri. bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya.
"Apa kau baik-baik saja, Sayang? Apa kau merindukan Mommy? Apa kau ...." Khalisia menghentikan ucapannya, karena suaranya berganti dengan tangisan. Rasanya terlalu perih, dan menusuk.
Tanpa Khalisia sadari, seseorang lelaki memperhatikannya dari jauh. Lelaki itu menatap Khalisia lekat-lekat, kemudian keningnya mengkerut dalam, saat melihat Khalisia ada di sini.
Dan lelaki itu adalah Gemma Raharja, lelaki yang telah membuat Khalisia hancur sehancurnya hancurnya.
Saat ia akan pulang, setelah berjiarah dari makam neneknya. Gemma menghentikan langkahnya saat mendengar suara wanita terisak.
Ia seperti kenal dengan suara isakan itu, hingga ia mengedarkan pandangannya mencari sumber arah suara.
Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat saat melihat Khalisia tak jauh dari tempatnya berdiri. Walaupun ia hanya melihat dari samping, ia tau bahwa itu adalah Khalisia, mantan istrinya.
Tanpa sadar, Gemma maju ke arah Khalisia. ia terus menatap nisan kecil yang di hadapan mantan istrinya. Saat sampai di belakang tubuh Khalisia, matanya langsung tertuju pada nama yang tertera di nisan tersebut.
"Ge-gemma raharja," ucapnya dengan terbata-bata. Otaknya mendadak tak bisa berpikir jernih, saat melihat namanya menjadi wali di batu nisan. Tubuhnya limbung, bahkan kakinya melemas saat menyadari sesuatu.
Khalisia yang mendengar suara di belakangnya langsung menoleh. ia refleks bangkit dari duduknya. Ia tak bisa menyembunyikan ekpresi terkejutanya saat melihat mantan suaminya ada di depannya.
"Kha-Khalisia a apakah it ..." Gemma tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya, matanya terus menatap nisan yang terpangpang namanya.
Khalisia tak menjawab, ia masih bingung menghadapi mantan suaminya. Ia tak menyangka dan tak mengira bahwa mereka akan di pertemukan kembali, bahkan di tempat yang tak terduga, di depan nisan anak mereka.
•••
Suasana caffe tak terlalu ramai, beberapa pengunjung ada yang datang dan juga pergi, di dalam caffe itu sepasang insan saling terdiam. Tak tau ingin membicarakan apa, tak tau ingin membahas dari mana, tak tau cara memulai apa yang akan mereka bicarakan.
Bagi khalisia, pertemuannya dengan Gemma sama sekali tak ada dalam bayangnya. Sedangkan bagi Gemma, ia masih tak percaya melihat nisan yang ternyata adalah anaknya.
Saat tadi berada di kuburan, secara refleks Gemma mengajak Khalisia berbicara. Khalisia menyetujuinya, ia hanya ingin meluruskan apa yang terjadi.
"Kha-khalisia ...." Panggil Gemma lirih. Rasanya, ia tak mampu memandang wanita yang berada di depannya ini.
"Umurnya hanya bertahan selama 3 jam," ucap Khalisia tiba-tiba. Matanya sudah berkaca-kaca saat berbicara tentang kematian anaknya. "Saat itu, aku mengkonsumsi obat anti depresan dan obat keras lainnya. Aku tak sadar sedang mengandung hingga obat yang aku minum mempengaruhi kandunganku." Khalisia meraup oksigen sebanyak-banyaknya, jantungnya terasa di remas. Saat mengingat detik-detik menyakitkan itu terjadi.
"Ma-maafkan aku Khalisia ak ...." Gemma tak sanggup lagi meneruskan ucapannya. Napasnya terasa tercekat, ia memandang Khalisia dengan tatapan sendu. Sama seperti Khalisia. 7 tahun berlalu, Gemma berubah 18 derajat.
Khalisia tersenyum ke arah Gemma. Untuk pertama kalinya, ia tersenyum pada orang lain tanpa terpaksa. Ia tak ingin kembali berperang dengan batinnya, dan ia tak mau kejadian dulu terulang, kejadian di mana ia melakukan hal yang sangat mengerikan.
"Dia sangat cantik tapi wajahnya mirip sepertimu," ucap Khailisia seraya tersenyum membuat jantung Gemma serasa di tikam ribuan jarum.
"Khalisia ...." Gemma tak mampu lagi mengatakan apa pun. Selain hanya bisa memanggil nama Khalisia. Bahkan ia masih terasa bermimpi bertemu mantan istrinya, setelah sekian lama.
"Tak perlu merasa bersalah, karena namanya sudah tertulis di batu nisan," ucap Khalisia. Wajah yang tadinya sendu berubah menjadi dingin dan datar "Kalau begitu aku permisi," pamitnya. Ia rasa ia takan sanggup untuk terus berada di hadapan mantan suaminya.
Setelah ia keluar dari caffe, ia langsung menaiki taxi untuk pergi ke bandara. Ia merogoh tasnya, lalu ia mengambil botol obat mengeluarkannya dan meminum obat tersebut. Obat yang menemaninya selama 5 tahun setelah kejadian mengerikan itu terjadi.
••••
Napas Gemma tercekat, dalam tidurnya, ia kesulitan bernapas. keringat membasahi seluruh tubuhnya. Tak lama ia membuka matanya kemudian langsung bangkit dari berbaringnya.
Ia menghirup dalam-dalam oksigen, mencoba menguasai diri. Waktu menunjukan pukul 7 pagi, ia mengusap wajah kasar. Lalu bangkit dari berbaringnya, kemudian ia berjalan ke kamaar mandi.
•••
Mata Gemma tak lepas memandang nisan di depannya. Ia terduduk di tanah, lalu mengusap nisan itu beberapa kali. Ia tak mampu berucap, matanya hanya mampu menatap nisan itu tanpa berkedip.
Ia pikir, keputusan yang ia buat 7 tahun silam sudah benar. Tapi nyatanya ....
"Gemma!" Panggil seseorang dari arah belakang yang tak lain adalah Julian, tubuh Gemma terperanjat, ia langsung bangkit dari duduknya
Dan kini, sepasang mantan mertua dan menantu itu saling memandang, Gemma memandang mantan mertuanya dengan tatapan takut, sedangkan Julian memadang Gemma dengan rasa penasaran.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian 7 tahun lalu, saat Khalisia pergi dan kau juga menghilang?" Tanya Julian. Saat tadi bertemu di makam, Julian langsung mengajak Gemma berbicara di caffe yang sama, caffe di mana ia dan Khalisia berbicara kemarin.
Julian benar-benar tak bisa menahan rasa penasarannya, putrinya sudah sangat berubah, ia yakin ada alasan tertentu di balik perpisahan mereka, karena mustahil Khalisia berubah jika hanya karena alasan yang di ucapkan saat dulu.
"O-om ...." Dengan terbata-bata, Gemma pun menjelaskan semua. Termasuk hal bejad yang ia lakukan pada Khalisia. Walaupun tak secara rinci. Tapi penjelasan Gemma mampu membuat amarah Julian berkobar.
"Brengsek!" Teriak Julian. Ia langsung menendang meja, hingga Gemma terjungkal kebelakang. Amarah berkobar hebat di dadanya. Ia tak menyangka bahwa putrinya mengalami hal yang sangat mengerikan.
Julian bangkit dari duduknya, ia mengambil kursi dan menghantamkannya pada tubuh Gemma. Lalu ia berjongkok dan menghajar wajah Gemma secara membabi buta, membuat semua pengunjung caffe di landa kepanikan.
"Gara-garamu putriku berubah! Gara-garamu kami kehilangan cucu kami dan .... '" Julian berteriak dengan lantang, tangannya tak berhenti untuk menghajar Gemma. Sedangkan Gemma hanya meringis, ia sama sekali tak berniat melawan.
"Arhhhhhhhhh!" Teriak Julian saat pihak keamanan memisahkannya. Amarahnya masih berkobar hebat. Rasanya, ia ingin sekali membunuh lelaki yang menyakiti putrinya.
•••
Beberapa hari kemudian ...
"Untuk apa kau memanggilku kemari?" Tanya Stevia. Rahangnya mengeras, ia ingin sekali menghajar lelaki yang berada di depannya ini dan Lelaki itu adalah Gemma.
Gemma tak bisa menahan rasa penasarannya, setelah Julian menghajarnya beberapa waktu lalu, sang kakek pun ikut menghajarnya dan mengatakan hal yang membuatnya benar-benar terkejut.
Tanu sama seperti Julian, ia sama sekali tak tau apa yang terjadi, karena saat ia akan bertanya pada Gemma, cucunya sudah menghilang. ia tau karena Julian yang memberitau padanya, dan tentu saja itu membuat Tanu murka dan memanggil Gemma yang baru beberapa minggu ini kembali ke indonesia
Tubuh Gemma remuk, wajahnya membengkak. Tapi ia tak bisa menahan diri lagi dan segera menghubungi Stevia.
"Se-sebenarnya apa yang terjadi dengan Khalisia?" Tanya Gemma dengan menunduk. Membuat emosi Stevia meradang. Ia mengambil gelas di depannya dan langsung menyiram wajah Gemma.
"Kau masih berani bertanya, Hah!" Teriak Stevia
"Karena mu, gadis seceria adikku harus masuk rumah sakit jiwa ... Dia menjauhi kami. Bahkan dia ...." Stevia tak sanggup lagi menerusakan ucapannya. Tangis wanita itu luruh saat mengingat betapa hancurnya hidup adiknya. Khalisia sempat beberapa kali mencoba bunuh diri dan ia juga melakukan hal yang benar-benar membuat batin siapa saja teriris jika melihatnya.
Gemma menutup mulut. "Ru-rumah sakit jiwaa ...."
__ADS_1