Cinta Dan Pembalasan Dokter Cantik

Cinta Dan Pembalasan Dokter Cantik
Draft


__ADS_3

Setelah menemani Adeline di pengadilan dan mengantar sahabatnya pulang ke rumahnya Freed langsung pulang ke apartemennya, Freed berencana sedikit lama di Rusia, karena dia harus mengurus semuanya, sebelum dia kembali ke Amerika.


Setelah sampai di apartemen, Freed langsung melepaskan jasnya, lelaki itu membuka kancing kemejanya dan setelah itu mendudukkan diri di sofa. Saat Freed melamun, tiba-tiba wajah Amora terlintas di otaknya di mana Amora melihatnya sedang memeluk wanita lain.


Anehnya, dia sama sekali tidak merasa bersalah, walaupun tadi dia sempat terkejut melihat kedatangan Amora tapi Freed sama sekali tidak ingin minta maaf, ataupun menjelaskan pada kekasihnya. Toh, nanti juga Amora akan menghubunginya lagi begitulah pikir Freed.


3 bulan kemudian.


Freed berguling kesana kemari, entah kenapa dia merasa tidak tenang, sedari tadi ia sudah berusaha untuk tertidur. Namun dia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, lelaki itu merasa gelisah dia merasa ada yang aneh dan ada yang asing.


Freed bangkit dari berbaringnya kemudian menundukkan diri, matanya menatap ke dengan tetapan hampa ia meraih ponsel yang ada di sebelahnya kemudian mengotak-atiknya, lalu saat itu dia membuka Instagram dan melihat Instagram Amora, melihat-lihat foto kekasihnya.


Dia mengelus layar ponselnya, seolah dia sedang mengelus wajah kekasihnya. Namun tak lama, helaan nafas besar terlihat dari wajah tampan Freed.


Ini sudah 3 bulan berlalu dan selama 3 bulan itu Amora tidak pernah menghubunginya lagi dan tidak pernah mengirimnya pesan.


Awalnya Freed merasa enjoy dengan keadaan ini, dia merasa senang Amora tidak mengganggunya lagi, setidaknya dia tidak perlu terbebani ketika tidak membalas pesan Amora.


Namun lama kelamaan, Freed merasa ada yang hilang, dia merasa ada yang aneh, dia merindukan hal-hal kecil yang selalu dilakukan oleh kekasihnya. Tapi, Freed masih gengsi untuk mengakui perasaannya, dan dia selalu membohongi hatinya sendiri.


Padahal sebenarnya, tanpa dia sadari dia merindukan Amora, dia merindukan semua yang dilakukan oleh kekasihnya, dia merindukan Amora mengirimnya pesan, dia merindukan Amora menelponnya dan menanyakan hal-hal sederhana.


Tapi tentu saja gengsi Freed sangat tinggi hingga dia tidak mau mengakui itu, Freed menghela nafas berkali-kali, kemudian menghembuskannya, dia kembali membaringkan tubuhnya di ranjang tak lupa dia mematikan lampu agar bisa terlelap lagi.


Malam berganti pagi, Freed keluar dari kamarnya dengan tubuh yang lesu bagaimana tidak, semalaman dia tidak bisa tertidur dan baru tertidur pada pukul 4 dini hari, dan pada pukul 07.00 dia harus kembali terbangun karena dia harus pergi ke kantor.


“Oh, Freed, kau sudah bangun.” tiba-tiba terdengar suara Amora dari arah depan, membuat Freed yang sedang melamun langsung menoleh, dia membulatkan matanya ketika melihat Amora sedang berada di dapur dan sedang memasak untuknya.


Wajah pria itu begitu berbinar, dia merasa senang hati karena ada Amora di Amerika dan dia berpikir Amora datang tanpa memberitahunya.


Saat dia akan maju ke arah dapur, tiba-tiba bayangan Amora menghilang hingga Freed langsung menolehkan kepalanya ke sana kemari, dia terdiam lagi. “Sial! Aku hanya berkhayal.” Ada rasa sesak tersendiri ketika menyadari bahwa Amora tidak nyata


Namun seperti biasa dia masih mengedepankan gengsinya, untuk mengakui perasaannya hingga dia pun langsung pergi ke luar dari apartemennya dan berniat sarapan di luar.


waktu menunjukkan pukul 12 siang, Freed menghela nafas kala pekerjaannya sudah sedikit santai, dia melihat ponselnya lalu menghela nafas gusar, ketika lagi-lagi tidak ada pesan yang dikirim oleh Amora.


Dia selalu berharap Amora mengirimnya pesan lagi tapi harapannya hanya sia-sia tidak ada satupun jejak yang Amora tinggalkan lagi di ponselnya.


Tak lama, satu notifikasi masuk ke dalam ponsel Freed di mana ada pemberitahuan bahwa Amora mengunggah sebuah foto di Instagram, hingga dengan cepat Freed pun langsung membuka Instagram Amora.


Jantung Freed berdebar tak karuan, dadanya tiba-tiba merasa sesak kala Amora mengunggah sebuah foto, lelaki yang sedang memasak. Namun dengan posisi membelakangi.


Sepersekian detik, tubuh Freed diam membeku, dan kembali tersadar. Freed memegang dadanya yang benar-benar terasa nyeri.


“inikah alasanmu kenapa kau tidak menghubungiku lagi,” lelaki itu begitu egois.


“Tidak, aku harus memastikan semuanya.” Freed mengutak-ngatik ponselnya, kemudian lelaki itu langsung menelepon sekretarisnya.


“Pesankan aku tiket ke Rusia,” ucap Freed pada akhirnya, satu foto itu membuat Freed, tersadar bahwa dia merindukan Amora bahwa hatinya sudah tertaut pada kekasihnya. Dan ketika melihat Amora mengunggah sebuah foto lelaki lain, ia ngin memastikan semua..

__ADS_1


***


Setelah mendarat di Rusia, Freed langsung pergi ke apartemennya, rasanya dia ingin bertemu dengan Amora secepatnya. Namun, tentu saja rasa gengsi Freed masih terlalu tinggi untuk melakukan itu, hingga dia memutuskan untuk berdiam dulu sejenak di apartemennya dan menemui Amora besok.


Namun saat tidak akan berbaring, tiba-tiba rasa gelisah menghinggapinya, sepertinya dia harus menelpon Amora sekarang. Lelaki itu pun mengutak-atik ponselnya, lalu menelepon Amora dan tak lama Amora mengangkatnya.


Lagi-lagi hati Freed merasa aneh ketika Amora menjawab pertanyaannya dengan dingin, tidak ada antusias sama sekali padahal jika dipikir untuk pertama kalinya selama mereka berpacarann dia menelepon Amora terlebih dahulu, bukan seharusnya Amara senang, begitulah pikir Freed.


Freed menurunkan ponselnya, ketika Amora mematikan panggilannya terlebih dahulu, mereka sepakat bertemu di sebuah cafe.


Dan di sinilah Freed berada, dia sudah berada di cafe yang mereka setujui, dia menunggu Amora karena Amora belum tiba. 10 menit kemudian, pintu cafe terbuka hingga Freed menoleh dan muncul sosok Amora.


Jantung Freed berdetak dua kali lebih cepat saat melihat Amora berjalan ke arahnya, dadanya berdegup kencang dia begitu terpesona dengan Amora, hal yang tak pernah ia rasakan ketika dulu.


“Maaf membuatmu menunggu lama,” ucap Amora, lagi-lagi Freed tertegun saat melihat reaksi Amora yang biasa saja. Padahal saat dulu Freed selalu melihat Amora bahagia ketika menghampirinya. Tapi sekarang, raut wajah wanita itu tampak biasa saja.


“Kenapa kau mengundurkan diri menjadi pengacara Adelin?” tanya Freed, sebenarnya tidak berniat bertanya, hanya saja dia terlalu bingung membahas apa hingga dia membahas tentang Adeline.


Lagi-lagi Freed terpaku saat melihat ekspresi Amora yang tampak biasa saja dan ketika Amora membalas Freed langsung berbicara lalu kembali. “Lalu kenapa kau ...” lagi-lagi Freed menghentikan ucapannya ketika Amora terlihat akan berbicara.


“Satu bulan lagi aku akan menikah, aku tidak tahu kapan bisa bertemu denganmu lagi. Jadi, aku memberitahumu sekarang.” Tubuh Freed menegang saat mendengar ucapan Amora, dadanya berdegup dengan kencang, seolah ada pisau yang menusuk jantungnya ketika mendengar Amora akan menikah


Nafas Freed terasa tercekat untuk pertama kalinya dia merasakan sakit yang seperti ini dan di titik ini Freed sadar bahwa dia sudah mencintai Amora.


Seperti biasa, Freed selalu bisa menyamarkan ekspresinya, seolah dia tidak peduli dengan ucapan Amora yang akan menikah. Padahal hatinya begitu hancur lebur dan merasa ini sebuah mimpi.


Amora yang selama ini sabar menghadapinya, kini mengatakan akan menikah dengan orang lain disaat dia sudah mempunyai perasaan.


Amora melihat ke arah jam di tangannya.


“Aku tidak tahu kau perduli tentang ini atau tidak. Tapi aku hanya ingin mengatakan sesuatu,” ucap Amora dia menjeda sejenak ucapannya. “Maaf aku tidak mengatakan putus terlebih dahulu padamu, karena aku tahu kau tidak akan peduli dengan hal semacam ini, calon suamiku adalah orang yang sudah mencintaiku dari dulu saat kita belum berpacaran. Aku memutuskan untuk menikah dengannya karena kami seiman dan yang paling penting dia mencintaiku hingga aku tidak merasa berjuang seorang diri. Aku tidak pernah menyesal mengenalmu, aku juga tidak pernah menyesal menyia-nyiakan waktuku untukmu. Terima kasih atas semuanya." Amora pun bangkit dari duduknya kemudian dia langsung menatap Freed.


“Sampai jumpa, semoga kau bisa hadir dalam pesta pernikahanku.” Setelah mengatakan itu Amora langsung berbalik wanita itu langsung keluar dari cafe.


Saat keluar dari cafe, Amora merentangkan tangannya. Entah kenapa dia merasakan lega yang luar biasa, dia merasa sudah tidak ada beban, dia benar-benar bahagia sekarang karena bisa melepas Freed dengan ikhlas dan bisa merasakan cinta dari Farish.


Mungkin cinta Amora pada Freed masih ada dan mungkin hanya tertinggal 30% dan Walaupun dia belum sepenuhnya bisa mencintai Faris, tapi Amora lebih bahagia dari sebelumnya.


Amora pun berjalan ke arah mobilnya,. berencana untuk langsung pergi ke rumah sang bibi setelah itu dia akan menjemput Faris di kampus, karena Faris mengatakan mobil Farish mogok


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang akhirnya mobil yang dikendarai oleh Amora sampai di kediaman sang bibi, dia menekan klakson kemudian memajukan mobilnya.


“Amora!" panggil Maria ketika Amora masuk.


“Mobil Bianca tidak ada, Bi. Kemana Dia?” tanya Amora.


“Dia sedang pergi ke rumah sakit,” jawab Maria.


“ Ayo masuk, Kau sudah makan?”

__ADS_1


****


Amora yang sedang berada di kamar Bianca, melihat jam di dinding, kemudian dia keluar kamar karena dia berencana untuk menjemput Farish di kampus.


Setelah pamit pada paman dan bibinya Amora pun keluar kemudian berjalan ke arah mobil dan di sinilah Amora berada, di depan kampus tempat Farish mengajar, dia pun turun dari mobil kemudian masuk ke dalam kampus karena Amora berencana untuk menunggu Farish di ruangannya..


Namun saat akan masuk ke dalam area kampus, Amora menghentikan langkahnya saat melihat Farish sepertinya sedang mengobrol bersama seorang wanita, tiba-tiba hati Amora merasa nyeri saat melihat adegan itu.


Dia merasa flashback ketika dia melihat Freed memeluk wanita lain, mood Amora yang tadinya membaik mendadak memburuk hingga akhirnya dia pun berbalik.


Dan ketika Amora berbalik, Farish melihat ke arah Amora, hingga dia dengan cepat pamit pada mahasiswanya yang sedang bertanya.


“ Amora!” panggil Farish, dia langsung dilanda kepanikan ketika Amora berbalik hingga Amora menghentikan langkahnya dan berusaha tenang, dia tidak boleh terlihat kekanak-kanakan di hadapan Farish.


“Amora, aku bisa menjelaskan.” Farish berucap dengan panik. “Dia mahasiswa yang sedang bertanya padaku lihat aku bahkan membawa membawa kertasnya.” Farish berucap dengan cepat menjelaskan pada Amora, karena takut Amora salah paham dan seketika rasa kesal rasa, marah Amora pun hilang.


hatinya terasa menghangat saat melihat Farish seperti ini. “Aku tidak apa-apa, aku lupa meninggalkan ponselku di mobil,” ucap Amora yang tidak ingin terlihat cemburu.


Helaan nafas lega terlihat dari wajah Faris saat Amora percaya, hingga dia mengelus rambut Amora. “Aku sudah selesai ayo pulang.” Amora mengangguk, kemudian dia mengulurkan tangannya pada Farish, hingga Mereka pun berjalan ke arah mobil bersama-sama.


“Farish!" panggil Amora ketika mereka sudah berada di mobil.


“Hmm?”


“Farish, temani aku pergi ke mall. Aku ingin membeli sesuatu.”


“Hmm, tentu biar aku yang mentraktirmu tapi sebelum itu ayo makan dulu, aku lapar,” jawab Farish.


***


Amora sudah pergi setengah jam lalu dan Freed masih terdiam di tempat, lelaki itu serasa kehilangan separuh jiwanya hingga sedari tadi dia hanya melamun dan menganggap semua apa yang di ucapkan Amora adalah mimpi.


Tapi sayangnya, dia menerima kenyataan bahwa Amora benar-benar akan menikah dengan laki-laki lain. Tak lama, lamunan Amora Freed buyar, kala ponselnya berdering satu panggilan masuk ke dalam ponselnya.


hingga Freed pun langsung mengangkatnya. “Oh, baiklah. Aku akan ke sana.” Freed dengan segera bangkit dari duduknya. Lalu setelah itu keluar dari cafe, dia pergi ke sebuah restoran di mana kliennya sedang menunggu di sana.


Freed masuk ke dalam restoran dia langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari klien bisnisnya. Namun tak lama, tatapannya berhenti di sebuah meja di mana ada Amora dan seorang lelaki lain di sana.


Nafas Freed rasa terdekat saat melihat interaksi Amora dan calon suaminya, dia baru bertemu Amora setengah jam lalu dan Kini dia kembali bertemu dengan mantan kekasihnya.


Wajah Freedy yang tadinya datar, berubah menjadi yang sendu saat melihat betapa hangatnya lelaki itu memperlakukan Amora. Dan tak lama ponsel Freed berdering hingga Freed tersadar, ternyata kliennya yang menelepon dan mengatakan posisi mejanya.


Dan Freed kembali mengedarkan pandangannya, saat rekan bisnis Freed melambaikan tangannya, hingga Freed langsung menghampiri rekan bisnisnya.


Selama berbincang-bincang tentang pekerjaan, mata Freed terus melihat ke arah Amora yang tampak tertawa lepas. Sungguh, tawa Amora membuatnya merasa nyeri.


“Maaf sepertinya aku tidak bisa melanjutkan membahas ini, tidak apa-apa kan kita tunda,” ucap Freed pada rekan bisnisnya, dia tidak sudah tidak sanggup melihat kebersamaan Amora dengan lelaki lain, hingga itu sebabnya dia memilih untuk pulang.


Dan ketika Freed bangkit, Amora menarik sudut bibirnya, dia tersenyum tipis, dia melihat Freed. Namun dia berpura-pura tidak melihat mantan kekasihnya, dan entah kenapa hati Amora merasa puas saat memperlihatkan bahwa dia bahagia dengan lelaki lain

__ADS_1


Sedangkan Freed ....


Tinggalin komen ya. Gengs give away Devabo di sebar Januari ya.


__ADS_2