
Rania tidak tahu harus berbuat apa. Dia berdiri di samping pria yang terluka parah di tepi sungai. Pria itu adalah seorang pangeran dari kerajaan fantasi yang sedang dilanda perang. Pria itu bernama Rayan, seorang ksatria yang gagah berani, baik hati, dan romantis. Dia jatuh cinta pada Rania begitu melihat nya dan menyatakan perasaan nya kepadanya.
Rania juga merasakan ketertarikan kepada Rayan. Dia merasa Rayan adalah sosok yang sempurna untuk nya, berbeda dengan suami nya yang tidak peduli padanya. Dia mulai menjalin hubungan cinta dengan Rayan di dunia mimpi.
Namun, hubungan cinta mereka tidak berjalan mulus. Raka mulai curiga dengan perilaku Rania yang sering mengurung diri di kamar dan membaca buku itu. Dia mencoba mencari tahu apa isi buku itu dan siapa yang ada di balik halaman-halaman nya.
Sementara itu, Rayan juga menghadapi bahaya dari musuh-musuh nya yang ingin menghancurkan kerajaan nya dan merebut tahta nya. Dia harus berjuang untuk melindungi Rania dan rakyat nya dari ancaman-ancaman itu.
Rania menatap wajah Rayan yang pucat dan lemah. Dia merasa bersalah karena tidak bisa membantu nya. Dia tidak tahu apa-apa tentang dunia ini, tentang perang ini, tentang pangeran ini. Dia hanya tahu bahwa dia mencintai nya.
“Rayan … apa yang terjadi padamu?” tanya Rania dengan suara gemetar.
Rayan tersenyum lemah dan memegang tangan Rania. Dia berusaha menjelaskan dengan suara serak:
“Aku … diserang oleh pasukan musuh … mereka … ingin membunuhku … merebut kerajaanku … aku … berhasil melarikan diri … tapi … terluka parah …”
Rania menahan tangisnya. Dia merasa sedih dan marah. Siapa musuh-musuh itu? Mengapa mereka begitu kejam? Apa salah Rayan?
“Siapa mereka? Mengapa mereka melakukan ini padamu?” tanya Rania.
Rayan menghela nafas dan menutup mata nya. Dia berkata dengan suara pelan:
__ADS_1
“Mereka adalah orang-orang dari kerajaan Zalim … kerajaan tetangga kami … mereka selalu iri dan dengki pada kami … mereka ingin menguasai seluruh benua ini … mereka tidak peduli dengan damai dan keadilan … mereka hanya ingin kekuasaan dan kekayaan …”
Rania terkejut mendengar penjelasan Rayan. Dia tidak bisa membayangkan ada orang-orang yang begitu jahat di dunia ini. Apa motif mereka? Apa tujuan mereka?
“Apa yang mereka inginkan? Apa yang mereka cari?” tanya Rania.
Rayan membuka mata nya lagi dan menatap Rania dengan tatapan serius. Dia berkata dengan suara tegas:
“Mereka ingin merebut Mahkota Mimpi … mahkota yang menjadi simbol kerajaanku … mahkota yang memiliki kekuatan ajaib untuk mengendalikan dunia mimpi … mahkota yang hanya bisa dipakai oleh pewaris sah tahta kerajaanku … yaitu aku …”
Rania tercengang mendengar jawaban Rayan. Dia tidak bisa percaya bahwa ada benda seperti itu di dunia ini. Apa itu Mahkota Mimpi? Bagaimana bisa ada benda yang bisa mengendalikan dunia mimpi?
“Apa itu Mahkota Mimpi? Bagaimana bisa ada benda seperti itu?” tanya Rania.
“Lihatlah … itu adalah Mahkota Mimpi … mahkota yang terbuat dari bintang-bintang …”
Rania mengikuti arah jari Rayan dan menatap langit. Dia terpesona melihat sebuah mahkota yang bersinar di antara bintang-bintang. Mahkota itu tampak indah dan megah, seperti sebuah karya seni yang sempurna.
“Mahkota Mimpi adalah warisan dari nenek moyangku … mereka adalah orang-orang yang pertama kali menemukan dan menjelajahi dunia mimpi … mereka adalah orang-orang yang bijak dan mulia … mereka menggunakan kekuatan mahkota itu untuk membawa kedamaian dan kemakmuran bagi rakyat mereka … mereka juga melindungi dunia mimpi dari orang-orang jahat yang ingin menyalahgunakan nya …”
Rayan melanjutkan ceritanya dengan suara penuh hormat:
__ADS_1
“Mahkota Mimpi hanya bisa dipakai oleh orang-orang yang memiliki darah kerajaan … orang-orang yang memiliki hati yang bersih dan jiwa yang mulia … orang-orang yang bisa memahami dan menghargai dunia mimpi … orang-orang seperti aku …”
Rayan menatap Rania dengan tatapan penuh cinta. Dia berkata dengan suara lembut:
“Dan orang-orang seperti kamu …”
Rania merasa tersentuh mendengar ucapan Rayan. Dia merasa dihargai dan dicintai oleh Rayan. Dia merasa beruntung bisa bertemu dengan Rayan. Dia merasa bahagia bisa bersama dengan Rayan.
“Rayan … aku …” Rania ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia terputus oleh suara dentuman yang menggelegar.
Rania dan Rayan menoleh ke arah suara itu. Mereka melihat sebuah pasukan besar yang mengenakan baju zirah hitam. Pasukan itu membawa senjata-senjata tajam dan bendera-bendera merah. Pasukan itu tampak garang dan menyeramkan.
Rania dan Rayan menyadari bahwa itu adalah pasukan musuh dari kerajaan Zalim. Pasukan itu telah menemukan tempat persembunyian Rayan. Pasukan itu datang untuk membunuh Rayan dan merebut Mahkota Mimpi.
Rania dan Rayan merasa ketakutan dan cemas. Mereka tidak punya tempat untuk lari atau bersembunyi. Mereka tidak punya senjata untuk melawan atau melindungi diri. Mereka hanya bisa berharap pada keajaiban.
Pasukan musuh semakin mendekat. Mereka bersorak-sorak dengan suara keras dan kasar. Mereka mengejek dan menghina Rayan dan Rania. Mereka berniat untuk menghabisi mereka.
Rania dan Rayan saling berpegangan tangan. Mereka saling menatap mata. Mereka saling mengucapkan kata-kata cinta.
“Aku mencintaimu, Rania …”
__ADS_1
“Aku juga mencintaimu, Rayan …”
Mereka bersiap-siap untuk menghadapi kematian.