
“Sudah selesai menangisnya?”tanya Erson.
Stefani tidak menghiraukan Erson sedikit pun.
“Masih mau begitukah? Sungguh kekanak-kanakan. Sungguh tidak pantas buat Rey. Merepotkan saja.”
“Apa hakmu berkata begitu?” Tanya Stefani kesal.
“Memang begitu kenyataannya kan? Pikir saja sendiri.”
“Kamu ini lelaki atau bukan sih? Cerewet sekali. Kata-katamu juga sangat tajam. Mimpi apa aku semalam bisa sesial hari ini.”
“Suatu saat kau akan merasa ini adalah keberuntunganmu Nona.”
“Dasar pria tua menyebalkan.”
Sesampainya dirumah Erson.
“Selamat datang Tuan Muda.”
“Pak tolong suruh supir antarkan Nona ini ke Kediamannya Rey.”
“Baik Tuan. Silahkan Nona.”
“Biar bagaimanapun. Terimakasih atas sedikit kebaikan mu ini.” Kata Stefani tulus.
Erson mengabaikan. Berjalan begitu saja menuju kamarnya.
Sesampainya di kediamannya Rey.
“Selamat datang Nona. Mari saya tunjukkan dimana kamar Nona.” Seorang pelayan mengarahkan.
Malam pun tiba. Sudah begitu larut Rey tak kunjung pulang. Steafani menanyakan pada pelayan,tapi tidak membuahkan hasil. Stefani tidak tahu dimana keberadaan Rey. Rey sebenarnya menginap di hotel. Rey tidak pulang ke rumah karna tidak mau bertemu dengan Stefani.
Keesokan paginya. Stefani pergi ke kantor Rey diantar oleh supir kediamannya Rey.
“Kakak. Mengapa semalam tidak pulang? Apa kakak lupa semalam aku tiba.”
“Stefani pulanglah kerumah atau pergi ke mall atau kemana. Aku sangat sibuk.” Kata Rey dingin.
__ADS_1
“Baiklah.” Stefani menuruti.
“Halo Tante. Kak Rey tidak berubah sedikit pun. Dia masih begitu dingin terhadapku. Aku sedih sekali Tante.”
“Jangan sedih sayang. Tante akan menasehati Rey. Tante tutup dulu telponnya ya.”Mama Rey menenangkan.
Rey tidak pulang lagi. Stefani merasa kecewa. Stefani tahu jelas maksud Rey. Sudah seminggu begitu. Stefani sudah tidak tahan lagi. Stefani menelpon Rey,tidak diangkat Rey juga. Dikamarnya Stefani menangis.
“Wanita seperti apa aku ini. Jelas-jelas tidak diinginkan tapi tetap bertahan. Dimana harga dirimu Stefani?” Sambil menangis tersedu-sedu.
Keesokkannya Stefani pergi jalan-jalan ke mall. Saat Stefani berbelanja tanpa sengaja Stefani bertemu dengan Erson. Saat itu Erson sedang makan siang dengan Renata.
‘Dasar pria hidung belang. Bisa-bisa berlaku semanis itu terhadap wanita itu. Sungguh tidak ku sangka.’kata stefani dalam hati. Tidak tahan melihatnya. Stefani datang menghampiri Erson.
“Maaf ya mengganggu sebentar. Nona hati-hatilah dengan pria ini. Dia tidak sebaik yang kamu kira. Aku tahu pasti pria ini.”
“Siapa Nona ini kak Erson? Kakak kenal dia?”
“Dia adalah calon istrinya Rey.”
Renata hanya bisa terdiam.
“Kamu baik-baik saja Ren?” Tanya Erson khawatir.
“Nona pikirkanlah baik-baik.” Stefani mengingatkan.
Tring
‘Nanti malam ada waktu untuk pergi makan?’
‘Jam 7 aku jemput ya?’
Renata binggung mau membalas apa. Akhirnya Renata membalas ok. Renata ingin memperjelas semuanya.
Malam pun tiba. Rey sudah menjemput Renata.
“Maaf aku telat ya.”
“Hanya terlambat 3 menit. Aku maafkan.” Sambil tersenyum.
__ADS_1
“Ren.”
“Iya.”
“Ren apakah kamu mau membantuku?”
“Bisa.”
“Pura-pura jadi kekasihku ya?Apakah kamu keberatan?”
“Boleh. Tapi bagaimana jika nanti aku jatuh cinta padamu Rey?”
“Kita akan jalani.”kata Rey sambil tersenyum.
“Aku hanya bercanda.”kata Renata sambil tersenyum.
“Ok kamu setuju ya.”
“Ok deal.”
“Oh iya. Kamu mau membantu aku begini. Bagaimana dengan kekasihmu?”
“Tenang saja. Aku belum punya kekasih.”
“Aku bisa tenang. Ren,besok aku jemput ya. Besok tolong bantu aku. Sebenarnya ibuku menjodohkan aku dengan gadis pilihannya. Padahal selama ini aku selalu bersikap dingin pada gadis itu, tapi dia tetap tidak menyerah. Sekarang dia tinggal dirumahku. Sudah seminggu. Aku juga bosan menginap dihotel terus.”
“Aku pernah bertemu calon istrimu itu Rey. Saat aku sedang makan siang di mall bersama kak Erson. Kelihatannya dia tidak menyukai kak Erson.
“Iya aku minta sedikit bantuan pada Erson akan hal itu. Besok tolong bantu aku ya.”
“Ok.”
__ADS_1