Cinta Tulus Danti

Cinta Tulus Danti
Rein putus asa


__ADS_3

Untung saja ketika sampai di rumah warisan orang tua Danti, Deo menyukai rumah itu. Hanya saja rumah itu sudah terlalu lama tidak ditinggal, sepertinya ada beberapa bagian yang perlu direnovasi.


Dengan semangat Danti segera membersihkan rumah yang penuh kenangan itu. Adi hanya bisa menatap sedih ke Danti, tidak ada yang bisa dia bantu, Adi saat ini merasa menjadi orang yang benar-benar tidak berguna. Tapi dia hanya menyimpannya dalam hati, kalau dia mengeluh lagi malah akan membuat Danti semakin sedih.


...********...


"Mas Adi, aku berencana buka toko sembako lagi. Dulu orang tua ku juga buka toko seperti itu mas. di sini cukup ramai dan padat penduduk, jadi lumayan mas!", ujar Danti.


"Boleh juga Danti, setidaknya aku juga bisa bantu menjaga", ujar Adi langsung setuju, lagipula memang dulu Adi juga sudah pengalaman buka toko sembako, untuk harga-harga nya dia sudah hafal. Walaupun dia di atas kursi roda. dia masih bisa bantu menjaga, asal susunan barangnya diatur rapi dan ada ruang gerak. Tanpa aktifitas, hidupnya juga terasa hampa.


"Iya mas, nanti aku akan mengatur susunannya sebaik mungkin, biar mas leluasa bergerak. Aku juga sangat membutuhkan bantuan mas juga, saat ini kita kerja sendiri dulu ya mas, nanti kalau sudah maju baru pakai pegawai", ujar Danti yang selalu membesarkan hati Adi, dan selalu membuat Adi merasa dibutuhkan.


Danti sudah pernah merasakan bagaimana rasanya dianggap sebagai orang tidak berguna, Danti tentu tidak ingin Adi mengalami hal yang sama dengannya,sungguh sakit rasanya, kalau kita dianggap tidak becus mengerjakan apa pun.


...********...


Rein menatap foto Danti yang dia cetak dari hapenya. Tentu Bu Tati tidak pernah tahu, mau dia memusnahkan semua hal yang berhubungan dengan Danti, kalau perasaan Rein masih terpaku pada Danti, tentu hal itu bukan masalah besar.


Rein suka sekali memfoto Danti saat menjadi istrinya dulu. Rein selalu bangga dengan istrinya yang cantik itu.


"Buat apa lagi kau foto aku, mas? Aku kan setiap hari ada di samping mu! Kau kan bisa lihat sepuas mu!", protes Danti suatu kali, saat dia diminta bergaya dan memandang ke arah kamera Rein, padahal Danti sedang memetik kangkung dan takut diomeli Bu Tati kalau kelamaan.


"Aku senang saja, kalau aku kangen kamu di kantor, aku kan bisa melihat foto mu!", sahut Rein.


"Iya juga ya, siapa tahu kalau suatu saat kita terpisah, kau masih bisa lihat foto aku ya! Oke aku akan bergaya secantik mungkin untuk mas Rein ku!", ujar Danti tersenyum.


Mendengar perkataan Danti saat itu, Rein langsung menghampiri Danti dan membekap mulut Danti.

__ADS_1


'"Kau jangan pernah berkata kita berpisah, sampai kapan pun kita tidak akan pernah berpisah. Janji pada ku, kau tak akan meninggalkan aku apa pun yang terjadi!", pinta Rein.


"Iya mas, aku janji tidak akan meninggalkan mu mas, tapi kan kita tidak bisa melawan kehendak Tuhan!", ujar Danti mengelus rambut Rein dengan sayang.


Rein langsung memeluk erat Danti saat itu. "Yang penting kau jangan pernah berniat meninggalkan ku, kau harus berjanji pada ku!", pinta Rein.


"Iya mas, aku pun tidak sanggup berpisah dengan mu, mas. Kau sudah membuat ku susah bernafas, mas Rein!", protes Danti.


Rein akhirnya sadar kalau dia sudah memeluk Danti terlalu kencang, karena takut berpisah dengan Danti.


...********...


Walaupun Bu Tati sudah memusnahkan semua foto Danti, tentu Rein masih bisa mempunyai foto Danti. Apalagi di jaman digital sekarang ini. Rein mencetak salah satu foto tercantik milik Danti yang disimpannya di hapenya, sudah tentu dengan ukuran jumbo, yang disimpannya di laci meja kerjanya di kantor.


Setiap dia merasa rindu kepada Danti, dia bisa menatap foto itu sepuasnya. Tapi pikiran Rein mulai terpengaruh, sejak mendengar perkataan Mira.


Tiba-tiba hatinya merasa sakit, terpengaruh perkataan Mira.


"Danti kalau kau sudah menikah dengan pria lain, aku akan membuat hidup mu tidak tenang! Kau sudah mengingkari janji mu!Setiap saat aku selalu memikirkan mu, mengapa kau bisa melupakan ku begitu saja?", timbul rasa dendam dalam hati Rein, terpengaruh perkataan Mira.


...********...


Entah apa yang sudah membawa Rein tiba-tiba ingin melihat rumah peninggalan orang tua Danti sore itu, saat dia pulang dari perusahaan.


Biasa beberapa bulan sekali Rein akan melihat rumah itu, berharap kalau Danti kembali ke rumah orang tuanya. Bahkan di awal-awal hilangnya Danti, hampir tiap hari dia mendatangi rumah itu.


Betapa terkejutnya Rein ketika melihat rumah itu sudah bersih dan rapi, bahkan toko yang dulu sering dia datangi sudah dibuka kembali .

__ADS_1


Rein dengan jantung berdebar segera mendekati toko itu, berharap dia segera bertemu Danti kembali.


Tapi Rein harus mengalami kekecewaan, ketika melihat penjaga toko itu adalah seorang pria yang duduk di atas kursi roda.


"Mau beli apa om?", tanya seorang anak kecil berkulit putih dengan wajah menggemaskan


"Rokok dek", ujar Rein tersenyum pada anak laki-laki yang lucu itu.


Deo segera berlari ke ayahnya, dan meminta sang ayah mengambilkan pesanan Rein, setelah itu Deon kembali menghampiri Rein dan memberikan rokok yang dipesan Rein.


Rein segera membayar rokok itu, "Kembalian nya ambil saja dek", ujar Rein yang langsung meninggalkan tempat itu, masih sempat didengarnya ucapan terimakasih dari anak kecil itu sayup-sayup.


"Benar kata orang-orang di sekitar sini, rumah Danti sudah dijual! Kemungkinan aku untuk bertemu dengan Danti semakin kecil!", pikir


Rein dengan kecewa meninggalkan tempat itu.


Memang orang di sekitar tempat itu dulu sudah berkata pada Rein kalau rumah Danti sudah dijual, karena saat Danti meninggalkan rumahnya ada beberapa orang yang tertarik dengan rumah Danti dan ingin membelinya, Danti saat itu berbohong bahwa rumahnya sudah dibeli orang, agar orang-orang sekitarnya tidak banyak tanya lagi.


Tapi Rein sering mengintip rumah Danti itu, minimal setiap sebulan sekali, Rein masih berharap suatu hari Danti akan kembali lagi ke rumah orang tuanya. Siapa tahu orang-orang sekitar situ hanya salah informasi pikir Rein, karena sudah begitu lama rumah itu dibiarkan kosong. Walaupun di kota banyak investor yang suka menginvestasi rumah, dan rumah yang dibiarkan kosong sesudah dibeli itu adalah hal biasa, tapi Rein masih berharap.


Tapi hari ini harapannya sudah harus dibuang, ternyata benar rumah itu sudah dibeli, bahkan sekarang sudah ditempati orang lain. Rein benar-benar sudah putus asa kali ini!


Bersambung........


Hai pembaca tersayang, kali ini author mau merekomendasikan karya teman author yang bergenre romance fantasi, tidak kalah menariknya. Coba mampir ya teman-teman pembaca, siapa tahu suka juga dengan ceritanya.🤗🤗


Terimakasih🙏🙏

__ADS_1



__ADS_2