
"Mama Deo, anaknya kelas berapa?", tanya Mira yang memang ramah dan pintar bergaul, berbeda dengan Danti yang pendiam dan kurang pergaulan, ketika sudah lewat lima belas menit dan kedua anak itu sudah masuk ke dalam sekolah
"Kelas satu, mama Della", ujar Danti agak gagap, mencoba memanggil nama perempuan di depannya itu, mengikuti cara perempuan itu memanggilnya.
"Wah berarti nanti anak kita sekelas ya? tapi biasa lebih dari satu kelas!", ujar Mira dengan akrab. "Baru masuk sekolah sini ya?, rasanya belum pernah bertemu dengan Deo", sambung Mira lagi. Della memang sejak Taman kanak-kanak sekolah di tempat itu.
"Iya, mama Della. Saya baru pindah dari kota lain, jadi anak saya baru masuk sekolah ini?", jawab Danti berusaha mengimbangi keramahan Mira.
"Ya sudah, saya mau balik dulu, harus mengurus pekerjaan. Mama Deo mau ikut? Saya antarkan!", tawar Mira yang berpikir Danti tidak membawa kendaraan, karena baru pindah ke kota.
"Terimakasih, saya bawa motor sendiri", sahut Danti menunjuk ke arah motornya. Danti benar-benar terharu, pagi-pagi dia sudah bertemu dengan orang yang begitu baik.
"Oo, kupikir mama Deo masih baru di sini, jadi belum mengenal jalan di kota ini, dan tidak membawa kendaraan", ujar Mira menjelaskan dugaannya.
"Dulu pernah tinggal di sini, habis itu pindah kota dan kembali lagi", sahut Danti dengan jujur.
"Oo, habis kuliah, terus balik sini lagi ya?", tebak Mira yang mengira Danti sempat kuliah di kota lain.
"Tidak mama Della, saya cuman lulusan SMA", ujar Danti malu. Danti yakin wanita di depannya itu pasti seorang sarjana, dilihat dari bicaranya saja sangat berbeda dengannya, pikir Danti yang tiba-tiba merasa rendah diri kembali.
"Ah, gak pa pa lulusan SMA. Malah biasa yang lulusan SMA, ketrampilan nya lebih hebat dari pada anak yang kuliah!", ujar Mira membesarkan hati Danti. Hal yang membuat Danti semakin rendah diri lagi.
"Saya tidak memiliki ketrampilan apa-apa mama Della, saja hanya penjual toko sembako", ujar Danti tersipu.
"Tapi mama Deo cantik sekali, setiap orang pasti memiliki kelebihan masing-masing ", ujar Mira mencoba menetralkan suasana. Sepertinya perempuan ini rasa percaya dirinya kurang, padahal dia sangat cantik, pikir Mira dalam hati.
"Terimakasih", ujar Danti.
Untungnya sesudah itu Mira melambaikan tangan dan masuk ke mobil meninggalkan Danti, Danti tentu bersyukur dengan keadaan itu. Danti pikir sifatnya sudah berubah dan lebih bisa bergaul, tetapi ketika dia bertemu dengan perempuan yang kelihatannya hebat itu, rasa rendah dirinya timbul lagi.
Padahal waktu dia di tempat Adi, Danti biasa saja saat bertemu dengan orang tua teman Deo lainnya. Mungkin perempuan di kota memang agak berbeda di tempat lebih terpencil. Perempuan di kota terlihat tangguh-tangguh dan pintar, pikir Danti menghibur dirinya sendiri.
...********...
__ADS_1
Ternyata Della juga tidak berbeda jauh dengan ibunya Mira, sangat pandai berbicara dan bergaul.
Begitu istirahat Della langsung mendekati Dio, Della merasa tadi Dio sudah senasib dengannya datang terlambat, apalagi mereka satu kelas.
"Aldio", panggil Della berlari mendekati Dio.
"Ada apa?", tanya Dio singkat, Dio kalau di rumah bawel dan banyak tanya kepada ibunya, tapi kalau di luar Dio juga agak pendiam seperti Danti.
"Kamu tinggal di mana? Kau berangkat sekolah pakai apa?", tanya Della.
"Aku belum hafal nama jalannya, aku baru pindah, aku berangkat sekolah diantar mama ku pakai motor", jawab Dio, tapi sama sekali tidak tertarik untuk bertanya balik.
"Berarti kita sama ya? papa ku tidak pernah mengantar ku ke sekolah, papa tidak pernah dekat dengan ku. Apakah papa mu sama?", tanya Della sedih, mencari teman yang senasib dengannya.
"Beda, ayah ku dekat dengan ku, sering bercerita dengan ku", sahut Deo.
"Berarti kadang-kadang ayah mu yang nganter kamu ke sekolah ya?", tanya Della lagi.
"Berarti papa mu kerja, jadi gak bisa antar ya?", tanya Della penasaran. Deo pun hanya menggeleng.
"Apakah papa mu mirip papa ku, bosnya?", tanya Della lagi seperti wartawan yang sedang mencari info.
"Papa ku duduk di kursi roda, jadi gak bisa antar aku ke sekolah", ujar Deo sesudah itu langsung meninggalkan Della dengan kesal.
Ih..pusing, anak cewek kok bawel banget sih, gerutu Deo segera ke lapangan melihat anak-anak lain yang sudah lebih besar bermain basket, ingin ikutan tapi dia masih terlalu kecil, akhirnya Deo jadi penonton saja buat mengisi jam istirahatnya, dari pada diwawancara si Della.
Ternyata Della memang seperti wartawan, sebentar saja teman sekelas Deo sudah tahu kalau ayah Deo itu duduk di atas kursi roda.
Deo sungguh kesal di hari pertama dia sekolah, rasanya Deo ingin menangis, tapi sayang dia anak laki-laki, jadi dia malu.
...********...
"Mama, besok kita balik ke tempat lama saja ya?", pinta Deo saat Danti menjemputnya pulang.
__ADS_1
"Lho kok mendadak berubah pikiran? Bukannya kemaren Deo senang-senang saja tinggal di sini?", tanya Danti kaget.
"Deo gak suka sekolahnya, si Della itu bawel, Deo gak suka", ujar Deo kesal.
"Ya udah, Deo gak usah temanan saja dengan Della. Lagian kan Della cewek, Deo bisa cari teman sesama cowok, biar mainnya lebih seru!", hibur Danti.
"Tadi dia ikutin Deo terus ma, banyak tanya, eh.. Deo kelepasan ngomong ayah duduk di kursi roda, masak teman satu kelas bisa langsung tahu ma!", ujar Deo masih dengan wajah kesal.
"Gak pa pa Deo, kan memang ayah duduk di kursi roda. Emang Deo malu?", tanya Danti.
"Enggak ma! cuman Deo gak suka saja", ujar Deo.
"Biarkan saja Deo, nanti kalau sudah lama mereka juga lupa dan tidak akan membicarakannya lagi. Deo anak cowok, jangan gampang malu dan gak percaya diri hanya gara-gara masalah kecil ya", nasehat Danti.
Memang lebih mudah memberikan nasehat daripada mempraktekkannya. Padahal Danti sendiri juga percaya dirinya kurang dan pemalu.
....********...
"Mama ingat Deo gak?", tanya Della pada Mira saat berada dalam mobil menuju perjalanan pulang
"Ingat dong! Ingatan mama kan paling hebat!", ujar Mira tersenyum.
"Kasian Deo ma, ayahnya gak pernah bisa nganter Deo ke sekolah", ujar Della bercerita.
Mira hanya menghela nafas, Mira tahu kenapa Della selalu bertanya kepada anak-anak lain, apakah hubungan mereka dengan ayah mereka akrab, karena Della selalu merasa penasaran mengapa Rein tidak pernah memperhatikannya dan mengajak pergi bersama.
"Mungkin ayahnya sibuk Del, seperti papanya Della", tebak Mira yang langsung teringat wajah cantik ibunya Deo
"Bukan ma, ayah Deo itu duduk di atas kursi roda ma, jadi gak bisa ngantar Deo. Bukan seperti papanya Della, bisa bawa mobil tapi gak pernah pergi bareng Della!", sahut Della langsung mengerucutkan bibirnya cemberut.
Perempuan yang begitu cantik, kenapa bisa memiliki suami yang cacat? Aku yakin banyak yang suka perempuan itu, pikir Mira dalam hati.
Bersambung.........
__ADS_1