
Rein tentu sangat ingin bertemu dengan Danti, tapi Rein sadar saat ini dia sedang ada di sekolahan, Rein tentu tidak ingin menarik perhatian di tempat umum.
Rein dengan sabar menunggu, sambil memperhatikan wanita yang sudah enam tahun ini begitu dia rindukan itu.
Apakah itu anak Danti. apakah Danti sudah menikah lagi, dan pria dia atas kursi roda itu adalah suaminya?, tebak Rein yang cemburu dan mencengkram setir mobilnya sambil menatap kembali ke Danti, memuaskan rasa rindunya itu. Entah mengapa walaupun mereka sudah bercerai Rein tetap menganggap kalau Danti adalah miliknya.
Tak lama berselang terlihat Mira yang juga mengantar Della. Rein yang melihat dari jauh tidak tahu apa yang dibicarakan Mira dengan Danti, terlihat Danti hanya mengangguk-angguk. Rein menduga kalau Mira hanya sekedar basa basi dengan Danti.
...*********...
Begitu melihat Danti beranjak pergi dengan motornya, Rein pun mengikuti dari belakang, beruntung Danti membawa motor agak lambat, sehingga Rein yang menyetir mobil bisa mengikuti dari belakang, apalagi jalan yang dilalui cukup renggang, begitu melihat Danti memarkir motornya berhenti di sebuah pasar tradisional, Rein pun memarkir mobilnya dengan cepat, untung saja ada tempat yang tersedia, kebetulan saat itu pasar sedang sepi pengunjung.
Rein berjalan dengan cepat, menyusul langkah Danti yang santai. Sepertinya Danti berjalan santai sambil melihat-lihat apa yang mau dia beli, tentu dengan mudah Rein sudah menyusul Danti.
Rein merasakan jantungnya yang berdebar kencang ketika jaraknya sudah dekat. "Danti!", panggil Rein dengan suara bergetar.
Danti yang sedang membungkuk memilih ikan yang hendak dia beli, seketika melepaskan ikan yang sudah dia ambil, dan langsung mencari asal suara yang begitu familiar memanggil namanya itu.
Danti langsung terpaku diam menatap pria yang kini berdiri di hadapannya dengan kaget. Danti tidak menyangka kalau dia akan secepat itu bertemu kembali dengan Rein.
"Bu, jadi gak beli ikannya? itu semuanya bagus-bagus Bu, masih segar", tanya penjual menawarkan dagangannya, mengira kalau Danti berubah pikiran.
__ADS_1
"Saya ada keperluan dengan istri saya pak, nanti kami kembali lagi!", sahut Rein yang mewakili Danti menjawab, dan segera menarik Danti untuk mengikutinya.
Danti yang masih bingung tanpa sadar mengikuti langkah Rein, tapi ketika dia sadar, Danti menghempaskan tangan Rein agar melepaskan pegangan pada pergelangan tangannya.
"Apa maksud mu mas? Ingatlah kalau sekarang ini aku sudah bukan istri mu lagi, jangan asal ngomong!", omel Danti setelah sadar dari rasa kagetnya.
Rein memandang bekas istrinya, Rein sadar ternyata sekarang Danti sudah berubah, tidak seperti Danti nya yang dulu lagi. Dulu Danti tidak pernah belanja sendirian ke manapun, setiap Danti mau beli barang, Rein yang selalu mengawalnya. Bahkan tadi Danti membawa motor sendiri, padahal dulu Danti ke mana-mana selalu dia yang antar.
Bahkan Danti bersikap galak dan membantah padanya. padahal dulu Danti adalah perempuan yang lembut dan penurut, ternyata waktu sudah merubah sikap Danti.
"Tapi aku sampai kapan pun selalu menganggap kalau kau itu masih istri ku Danti!", ujar Rein tidak mau tahu.
"Bagaimana kau bisa bahagia jika suami mu cacat?", tanya Rein.
"Kau jangan menghina mas Adi, walaupun dia cacat, dia baik pada ku!", sahut Danti tersinggung, mengira Rein menghina Adi.
"Apakah aku jahat pada mu, apakah aku kurang baik pada mu saat kau menjadi istriku?", tanya Rein geram, dan menarik kedua pergelangan tangan Danti untuk mendekat padanya.
Danti melihat luka di mata Rein, tampaknya Rein masih tidak bisa menerima perpisahan mereka, padahal sudah berlalu enam tahun yang lalu, mereka juga sudah bercerai. Danti makin yakin andai dulu dia tidak menghilang dan tinggal di rumah peninggalan orang tuanya, Rein pasti setiap hari masih akan datang mengunjunginya.
"Baiklah mas, kau tahu dengan sikap mu yang seperti itu kau sudah menyulitkan ku? Aku jadi takut sendiri untuk tinggal di rumah warisan orang tua ku. Aku tahu kau akan datang lagi andai aku masih di sana. Pada akhirnya ibu mu akan datang lagi mendamprat aku dan membuat aku malu. Kau tahu gara-gara ibu mu aku sampai tidak punya tempat untuk berpijak! Aku harus berkelana hanya demi sesuap nasi dan bertemu orang-orang jahat. Untung saja aku akhirnya bertemu dengan mas Adi yang begitu tulus pada ku, menerima apa adanya aku. Bahkan ibunya menganggap ku seperti anaknya sendiri! Aku mohon mas, sudahi obsesimu itu, aku yakin kau hanya terobsesi pada ku. bukan mencintai ku! Aku yakin kau juga sudah berkeluarga, baik-baik lah pada keluarga mu, jangan pernah menyia-nyiakan mereka!", ujar Danti dengan sengaja menyakiti hati Rein.
__ADS_1
"Sampai kapan pun aku akan mencintai mu, Danti! Hubungan ku dan istriku tidak bagus, asal kau kembali pada ku aku akan menceraikan istri ku!", sahut Rein sama sekali tidak perduli dengan semua perkataan Danti.
"Kami sama-sama perempuan mas, tidak mungkin aku akan setega itu. Lagipula aku sudah mempunyai mas Adi, kau jangan pernah berharap kalau kita akan bersama lagi mas. Aku yakin ibumu juga tidak akan setuju! Maaf mas, masih banyak yang harus aku kerjakan, aku tidak bisa bicara lebih lama lagi dengan mu!", ujar Danti segera berjalan meninggalkan Rein menuju ke motornya. Keinginannya untuk belanja hilang sudah.
"Aku tidak percaya kalau kau bisa semudah itu melupakan aku Danti? Apakah kau sungguh-sungguh sudah melupakan semua kenangan indah kita?", tanya Rein yang masih belum menyerah, mengejar Danti dan menarik Danti agar menghentikan langkahnya.
Danti yang tidak mengira ditarik Rein tiba-tiba, hampir saja jatuh, membuat Rein segera menangkap Danti masuk ke pelukannya.
Danti sempat terdiam beberapa saat, bagaimanapun pelukan Rein tetap mempengaruhinya . Rein tentu merasa senang Danti sepertinya masih terpengaruh dengan pelukannya.
"Aku yakin kau masih punya perasaan yang sama pada ku Danti!", ujar Rein.
Perkataan yang membuat Danti sadar seketika dan segera mendorong dada Rein agar menjauh darinya.
"Baiklah mas. kalau kau memang yakin aku masih punya perasaan pada mu, itu terserah kamu. Kau ingin aku kembali? Boleh saja, syaratnya cuman satu! Ibu mu harus minta maaf dan memohon pada ku untuk kembali pada mu! Kalau kau sanggup mengatur ibu mu seperti itu, aku akan kembali pada mu!", ujar Danti.
Danti yakin Rein tidak mungkin bisa mengabulkan permintaannya itu. Danti memang sengaja mengajukan syarat yang tidak mungkin dipenuhi Rein, agar Rein tidak mendekatinya lagi.
Bersambung........
.
__ADS_1