Cinta Yang Mengekang

Cinta Yang Mengekang
Part 2


__ADS_3

Sekembalinya Rania dan kedua orang tuanya dari restoran Rania langsung beranjak pergi ke kamarnya untuk mengerjakan laporan keuangannya yang kini telah ia namai Muslimah Boutique. Butik yang ia olah dari nol dengan bantuan sang Bunda kini telah menamai di seluruh Indonesia bahkan sudah ada beberapa cabang yang di kelola oleh orang kepercayaannya.



kamar Rania


Tettt tettt tetttt...terdengar getaran dari handphone milik Rania yang berada di atas kasur pertanda bahwa ada pesan masuk namun Rania tidak mempedulikannya. Ia masih sibuk melihat-lihat laporannya.


Tett.. tetttt.. suara getaran tersebut kembali terdengar. Membuat Rania harus menghentikan pekerjaannya dan melihat siapa yang mengirimkannya pesan di saat sudah hampir larut begini.



57


πŸ—¨οΈ012++++++*


Lg dm



22 . 01


πŸ—¨οΈ012++++++*


sm sp


sdh mkn


sdg np


Beberapa deretan pesan tampa huruf vokal tersebut di kirim oleh nomor yang sama sekali tidak dikenali oleh Rania.


"Ini gimana cara bacanya ya? Apa jangan-jangan yang ngirim pesan ini ga bisa membaca atau ga bisa ngetik ya" Rania tampak berpikir dalam beberapa saat sebelum kembali berkutat dengan laporannya.


22 . 07


πŸ—¨οΈ012++++++*


Bls. Jgn d lht sj


Nomor tersebut kembali mengirimkan pesan namun tidak di hiraukan oleh sang pemilik ponsel.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Di sebuah kamar yang luas bernuansa hitam terdapat seorang pria yang sedang memegang ponsel sambil menanti balasan dari gadis kecilnya namun sepertinya tidak ada tanda-tanda balasan dari gadisnya.



kamar Arkan


Jika Rania menyukai warna terang maka Arkan lebih menyukai warna gelap seperti hitam coklat abu-abu dan Dongker.


"Hhah!" untuk yang kesekian kalinya ia menghembuskan nafas beratnya. Tadi setelah ia membersihkan diri dan bersiap untuk pergi mengunjungi tunangannya sang Opah menahannya dan mengatakan bahwa tidak baik berkunjung ke rumah orang malam-malam begini. Lebih baik jika esok hari saja berkunjungnya dan mau tidak mau Arkan harus menuruti perintah sang Opah.


Padahal dirinya sendiri sudah tidak sabar hanya untuk bertatap muka secara langsung dan melihat apakah gadisnya tumbuh dengan baik disini tampa ada dirinya disisi sang gadis. Selama ini ia hanya melihat rupa tunangannya dari foto-foto yang di berikan oleh Billy kepadanya namun itupun tidak dapat menangkap dengan jelas wajah sang tunangan.


Hingga kini ia merindukan senyuman manis yang selalu di perlihatkannya kepada banyak orang dan pipi chubby yang sangat menggemaskan dan mata bulatnya yang sangat jernih hidung mungilnya dan bibir yang sangat imut semua itu dapat Arkan ingat dengan jelas.


Arkan beranjak dari tempat tidurnya dan pergi mengambil tablet dan laptop nya untuk melakukan pekerjaannya di sofa yang berada di kamarnya.

__ADS_1



πŸ‚πŸ‚πŸ‚


05 .17 WIB


Rania baru saja menyelesaikan sholat subuhnya dan kini gadis tersebut sedang berada di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan ke dua orang tuanya.


⚫ Bubur Oatmeal dengan peanut Butter



⚫ Mileneal



Setelah selesai membuat sarapan Rania segera kembali ke kamar dan bersiap-siap untuk pergi ke butik karena akan ada salah satu orang penting yang akan datang ke butiknya untuk memesan sebuah gaun untuk tunangannya.



Setelah selesai Rania kembali turun kelantai bawah untuk sarapan pagi terlebih dahulu sebelum ia berangkat.


"Morning Ayah Bunda". ucap sang gadis sambil menarik kursi dan duduk untuk sarapan pagi bersama.


"Pagi sayang" kompak ayah dan bunda menjawab


"Kok sudah rapi pagi-pagi gini. Emangnya adek mau kemana?" tanya sang sarah yang tampak heran dan di anggukkan oleh Bram


"Ia Nia mau berangkat ke butik ada tamu penting yang mau bertemu dengan Nia". Jawab sang gadis yang di angguki oleh kedua orang tuanya.


Mereka pun sarapan dengan khidmat tampa ada yang berbicara karen keluarga Dirgantara termasuk keluarga yang sangat mengikuti ketertiban maupun perintah sang tetua keluarga Dirgantara.


"mungkin satu atau dua bulan lagi mereka akan kembali". ujar sang ayah


Rania hanya dapat menghembuskan nafas beratnya. karena ia sudah sangat merindukan kedua kakaknya tersebut namun mau bagaimana lagi kedua kakak yang sudah memiliki tanggung jawab masing-masing sehingga mereka sudah tidak bisa selalu bersama lagi seperti dulu.


Rania pun beranjak dari tempat duduknya ia mengambil tangan sang ibu dan menyalaminya kemudian mencium pipi ibunya begitupun kepada sang ayahmelakukannya juga kepada sang ayah.


"Nia berangkat kerja dulu Ayah Bunda Assalamualaikum ". ucapnya Rania sambil berjalan keluar rumahnya


Rania pergi ke butik menggunakan mobil yang diberikan ayahnya ketika ulang tahunnya yang ke 17 tahun.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


06 .45 WIB


Di sebuah kamar terdapat seorang pria yang merasa tidurnya terganggu karena silau cahaya matahari yang masuk melalui cela celah-celah jendela.


Ia pun beranjak dari kasurnya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


setelahnya ia pun menggunakan pakaiannya.



⚫ setelan yang digunakan Arkan


Tepat pukul tujuh empat puluh akan selesai bersiap. Dan turun ke bawah untuk ikut sarapan pagi bersama keluarganya.


Ke heningan pun terjadi di meja makan tersebut tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut anak manusia yang berada di situ.

__ADS_1


Setelah selesai Arkan beranjak dari tempat duduknya dan pergi keluar tanpa mengatakan apapun.


"selamat pagi tuan muda" sapa asisten Billy sambil membungkukkan sedikit badannya.


Arkan tidak mau pedulikannya sama sekali melainkan masuk dalam mobil dan duduk dengan tenang sambil menanti sang khusus dan menjalankan mobilnya.


Ketika di perjalanan Arkan merasa heran karena seingatnya ini bukan jalan menuju ke perusahaannya melainkan jalan yang berlawanan.


"Billy kita akan ke mana?" tanya Arkan


Billy sempat melirik dari kaca depan wajah heran Arkan. Sebelum kemudian ia menjawab pertanyaan dari tuan muda.


"bukankah kita akan ke butik untuk memesan gaun yang tuan mudah pesankan untuk nona muda". Jelas sang asisten.


"Apakah Muslimah Boutique menerima pertemuan mendadak ini ?"tanya Arkan ketika ia ingat.


Bahwa ialah yang memerintah Billy ketika mereka tiba di Indonesia agar mengajukan pertemuan dengan sang desainer untuk merancang baju yang akan di pakai oleh tunangannya dalam waktu dekat.


"Benar tuan muda, sekretaris nona muda kemarin malam mengabari saya dan mengatakan bahwa nona muda menyetujuinya" jelas Billy


Arkan tidak lagi mengatakan apapun melainkan hanya mengangguk-angguk kan kepalanya saja.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Setibanya Rania di butik ia langsung menuju ruangan kerjanya. Rania mulai menduduki kursi kebesarannya dan mulai berkutat dengan pekerjaannya.


Baru beberapa saat, kini sudah terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"tok tok tok.."


"Masuk!" perintah Rania tampa beranjak dari tempatnya.


"Assalamualaikum Bu bos".ucap Riska yang menjabat sebagai sekretaris di butiknya.


"walaikum salam" jawab Rania


"Ada apa Mbak" tanya Rania sambil mengangkat kedua alisnya. Riska memang berusia lima tahun lebih tua dari Rania, karena hal tersebut juga Rania memanggil Riska Mbak.


"Itu loh Bu bos. Tamu pentingnya sudah datang dan sedang menunggu di ruang tunggu". Ujar Riska memberi tau kepada Rania.


"oh, ya udah yuk kita pergi" ajak Rania


Merekapun pergi ke ruang tunggu yang sudah di sediakan di butik.


.


.


.


Assalamualaikum semuanya πŸ–οΈπŸ–οΈ


Buat para pembaca jangan lupa like dan komen ya


.


.


Saleum dari Aneuk Nanggroe Aceh

__ADS_1


__ADS_2