
Selamat malam semuanya
Buat kalian jangan lupa like dan komen
Selamat membaca
.
.
.
πππ
Kini Arkan dan Billy sudah berada di sebuah ruang tunggu.
Mereka sedang menunggu kedatangan sang desainer pemilik butik Muslimah Boutique.
cklek
Terdengar suara pintu yang terbuka dan menampakkan dua orang gadis yang mulai melangkah mendekat sambil berjalan beriringan dengan senyum ramah yang tak pernah hilang dari wajahnya kedua gadis tersebut.
" Deg" Seketika jantung Rania berhenti berdetak saat mata bulatnya bertemu dengan mata hitam pekat yang menusuk tersebut dirinya sempat membeku beberapa saat sebelum kemudian kembali merubah mimik wajahnya seperti semula. Ia kembali melangkah kan kakinya dan memberikan senyum manisnya.
Sedangkan Arkan tidak bergerak sama sekali selain melihat setiap penggerakan yang di lakukan oleh salah satu gadis yang melangkah mendekat ke arah sofa yang mereka duduki. Aliran darah di tubuh Arkan membeku ketika ia melihat wajah gadis yang ia rindukan dalam waktu yang lama ini. Ketika ia melihat senyum manis yang terpatri di wajah sang gadis membuat jantungnya berdisko dengan hebat tanpa ada tanda-tanda akan segera kembali berdetak dengan normal. Rasa yang sudah lama tidak ia rasakan kini kembali menerjangnya, persaan yang begitu menyenangkan untuk ia resapi.
"Ekhem" deheman tersebut keluar dari mulut sang asisten pribadinya yang mencoba untuk menyadari sang tuan dari ke terdiamnya. Arkan yang sadar dari lamunannya pun kembali memasang wajah dinginnya.
"selamat pagi Nona Rania dan nona Riska, maaf mengganggu waktu bekerja anda-anda" sapa Billy dengan ramah.
"selamat pagi juga. Sama sekali tidak menggangu waktu bekerja kami. Bahkan saya merasa terhormat karena kedatangan anda" sapa balik Riska.
"Silahkan duduk tuan"Riska mempersilahkan dan menghentikan ucapannya karena tidak mengingat nama orang yang berada di hadapannya ini.
"Billy anda bisa memanggil saya asisten Billy dan ini tuan Arkan nona" Lanjut Billy mencoba memperkenalkan dirinya dan sang tuan kepada sekretaris tunangan tuannya.
Sedang kan para tuan mereka hanya diam saja tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Arkan yang sibuk memandang wajah ayu yang ada di hadapan nya saat ini dengan penuh rasa bahagia.
Dan Rania yang sibuk memikirkan kenapa bisa seorang Arkan Erlangga Smith atau lebih tepatnya sang tunangan yang sudah lama tidak ia lihat secara nyata dan hanya bisa ia pandangi di sebuah foto yang di berikan oleh calon mertuanya dua tahun yang lalu kini berada di hadapannya. Bahkan ia tak menyadari jika pemuda tersebut terus menatap setiap inti wajahnya tanpa ada satu garis pun yang terlewatkan.
"Jadi desain baju seperti apa yang tuan Arkan inginkan untuk tunangan tuan". Tanya Rania setelah ia tersadar dari lamunannya. Kini ia mulai membuka suara setelah beberapa saat terjadi keheningan diantara mereka.
Arkan yang sedang dilanda rasa bahagia akan pertemuan pertama mereka setelah beberapa tahun terakhir ini tak pernah bertemu kembali. Kini langsung mengerutkan keningnya pertanda ia tidak suka dengan cara gadis tersebut berbicara. Bukankah itu terlalu formal untuk mereka yang telah bertunangan selama delapan tahun, meskipun mereka tidak bertemu lagi setelah acara tunangan tersebut. Tapi tetap saja bahasa yang digunakan gadisnya terlalu kaku untuk di dengar oleh dirinya.
Namun sepertinya Rania tampak tidak menyadari akan perubahan pada wajah Arkan, yang sudah tampak tidak menyenangkan itu.
__ADS_1
"Apapun yang anda sukai pasti juga akan di sukai oleh tunangan saya nona Rania".kata Arkan yang tampak sedikit menyeringai namun tidak ada yang menyadarinya selain sang asisten yang berada di sampingnya. Sepertinya Arkan ikut bermain-main dengan mengikuti permainan yang diciptakan oleh Rania.
Rania yang berada di hadapan Arkan hanya tersenyum. Tapi tidak dengan sekretarisnya yang tampak heran akan perkataan yang di ucapkan oleh Arkan.
"Bukankah anda tunangannya tuan Arkan?.
Bagai mana bisa anda menyamakan tunangan anda dengan nona Rania" tanya Riska yang tampak heran dan sedikit tidak suka dengan perkataan yang di ucapkan Arkan.
Rania tampak tersenyum manis dengan perkataan yang di ucapkan oleh sekretarisnya itu. Sedangkan Arkan tetap tenang dengan wajah dingin dan tatapan datarnya itu.
"Bukan maksud tuan muda untuk menyamakan atau membandingkan antara nona Rania dengan tunangan tuan muda nona. Tapi mereka memang benar-benar memiliki selera dan kemiripan yang sama persis nona Riska" jelas Billy yang mulai angkat bicara ketika ia melihat sekretaris Rania yang ikut dalam percakapan antara tuan dan nona nya.
"Mana mungkin ada orang yang memiliki kemiripan yang sama persis. Anda jangan coba-coba menipu saya tuan Billy". Ujar Riska yang tampak tidak percaya sama sekali dengan ucapan asisten Billy.
"Tapi ini memang kebenarannya nona Riska" Ujar Billy yang kini dengan wajah yang sudah memerah kerena menahan kekesalannya.
"Saya. tidak. percaya". ujar Riska dengan penekanan di setiap katanya.
Jika di antara asisten dan sekretaris mereka sedang terjadi perdebatan. Beda lagi dengan Arkan dan Rania yang tampak saling curi pandang.
"Ekhem"
terdengar suara deheman dari mulut Rania ketika ia menyadari suasana yang semakin kacau tersebut.
"Bukankah saya sudah mengatakan apapun pilihan anda tunangan saya pasti menyukainya nona Rania". ujar Arkan sambil menyodorkan kembali kertas-kertas tersebut kehadapan Rania.
"Karena anda pasti sudah sangat mengenal tunangan saya bukan non Rania". Lanjut Arkan
Rania tampak terdiam beberapa saat sebelum kemudian ia berbicara.
"Baik. Saya akan memilih yang terbaik untuk tunangan anda". ujarnya ia masih tidak ingin menyerah dengan mengakui kalau ia adalah tunangannya. Siapa suruh saat lelaki tersebut berada di luar negeri tidak pernah memberinya kabar apapun selain lewat kedua orang tuanya atau calon mertuanya. Rania mulai memasukkan kertas-kertas tersebut kedalam tasnya dan beranjak dari duduknya yang langsung di ikuti oleh sang sekretaris yang sedari tadi hanya diam saja setelah perdebatannya dengan asisten Billy.
"Anda dapat kembali ke butik saya untuk mengambil gaun yang anda pesan satu Minggu lagi tuan muda". Ujar Rania.
"Baik saya akan kembali kemari dengan membawa tunangan saya. Agar ia dapat mencobanya sebelum di bawa pulang". Ujar Arkan dengan menyunggingkan senyum tipis diwajahnya yang bahkan nyaris tak terlihat sangking tipisnya.
"Baik saya akan menyambut kedatangan anda dan tunggangan anda dengan sangat baik". Ujar Rania dengan sedikit kekehan di bibirnya.
Arkan hanya menganggukkan kepalanya dan beranjak keluar ruangan tersebut dengan di ikuti oleh asisten Billy dan Rania beserta sekretarisnya.
" Senang berbisnis dengan anda tuan Arkan. semoga hari anda lancar terus". ujar Rania dengan sedikit membungkuk kan badannya yang juga di ikuti sang sekretaris.
"Senang juga berbisnis dengan anda nona Rania semoga hari anda menyenangkan". Bukan Arkan yang menanggapi ucapan Rania melainkan sang asistennya.
"Sampai jumpa bertemu kembali"ucapnya kembali sambil melambaikan tangannya kepada Arkan. Yang hanya menatapnya datar. (gaya Lo sok-sokan natap orang datar padahal dalam hati kejang-kejang Lo Arππ€£).
__ADS_1
πππ
Setelah menghabiskan waktu dua jam lebih untuk melakukan pertemuan dengan tuan muda keluarga Smith kini Rania dan Riska sedang berada di sebuah kafe hanya untuk sekedar melepas dehaga mereka.
"Gila tuh tuan muda masa dia ngebandingin kamu Sam tunangannya. Kan jahat banget gimana coba perasaan tunangannya pasti sakit banget". Ujar Riska memulai percakapan dengan emosi yang menggebu.
"Hus!.. Mbak Riska gak boleh ngomong gitu istighfar mbak jangan sampai di kuasai oleh amarah" ujar Rania dengan nada memperingati.
"Astaghfirullah....Huh.. Habisnya Mbak tuh kesel banget sama kelakuan tuh tun muda". Ucap Riska yang masih tidak bisa menahan kekesalannya terhadap Arkan.
Rania hanya menggelengkan kepalanya dan terkekeh geli melihat kekesalan yang sangat kentara di wajah Riska.
"Mbak Riska mau tau sesuatu ga?" Tanya Rania sambil sedikit mendekatkan kepalanya ke hadapan Riska.
"Apaan?" tanya Riska yang tampak sangat penasaran dengan sesuatu yang akan di ucapkan oleh Rania.
"Mbak Riska kan tau kalau aku udah di tunangin sejak kecil oleh keluargaku". ujar Rania yang hanya di angguki oleh Riska.
"Tapi Mbak Riska kan gak tau siapa dan apa pekerjaan tunangan Nia" Lanjut Rania yang kembali di angguki oleh Riska. Ya orang-orang banyak yang tau jika Rania sudah di tunangkan sejak kecil. Namun tidak ada yang tau siapa tunangannya itu, hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya dan para-para pembisnis yang di undang oleh keluarga mereka saja.
"Jadi Mbak Riska mau tau ga identitas tunangan Nia?" Tanya Rania kemudian. Yang langsung di balas anggukkan antusias Riska. Jujur ia sangat penampilan dengan calon suami dari Ibu bosnya tersebut.
"Arkan Erlangga Smith. Pria yang udah buat Mbak Riska sampai jadi kayak gini marah-marah ga jelas" Lanjut Rania sambil terkekeh pelan.
Sedangkan Riska hanya terbengong atas perkataan yang di ucapkan oleh Rania antara percaya dan tak percaya.
"You're serious" Setelah kembali dari kesadarannya Riska bertanya untuk memastikannya lebih jelas lagi.
Rania hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja dan kembali meminum minumannya.
Sedangkan Riska sudah terkulai lemas karena mengetahui hal tersebut. Ia benar-benar tidak percaya pantas saja tuan dan asistennya mengatakan bahwa tunangan tuan muda Arkan dengan Bu bosnya memiliki selera dan kemiripan yang sama ternyata mereka adalah orang yang sama.
.
.
.
Assalamualaikum semuanya ποΈποΈ
pada sehat-sehat aja kan.
buat kalian jangan lupa like dan komen ya π
Saleum dari Aneuk Nanggroe Aceh
__ADS_1