Dark And Light Emperor

Dark And Light Emperor
ACADEMY


__ADS_3

3 hari kemudian...


"Raizel!!"


"Hmm?"


Aku terbangun saat Paman Norman menepuk pelan bahuku.


"Kita sudah sampai," ujar Paman.


Aku tertidur rupanya. Setelah meregangkan tubuh sejenak, aku turun dari kereta kuda sambil menenteng kedua tasku.


Sebelum memasuki Academy, aku memeluk Paman Norman dan mengucapkan salam perpisahan.


"Paman terima kasih telah mengajariku banyak hal selama ini. Terima kasih juga karena selalu membantu dan juga Bunda, aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi saat liburan tiba."


Paman Norman tersenyum dan membalas pelukanku. "Tak perlu sungkan, Rai. Kau sudah Paman anggap sebagai putra Paman sendiri. Kau tau kan, Paman hanya memiliki Noran seorang. Dari dulu Noran ingin memiliki seorang adik laki-laki dan kebetulan kau datang dalam hidup kami. Tumbuhlah menjadi pria yang kuat, Rai. Tapi jangan terlalu memaksakan dirimu, kau mengerti?"


"Baik Paman."


Aku dan Paman mengobrol sejenak sebelum akhirnya benar-benar berpisah.


•••••


Marquess Norman Von Grayson. Beliau dan keluarganya adalah orang yang selalu membantuku dan Ibunda selama ini. Keluarga mereka jugalah yang memberi kami tempat tinggal di Desa Dawn, Kerajaan Selatan.


Ibunda pernah mengatakan, bahwa selama ini kami hidup dari harta seseorang. Orang itu adalah kerabat Paman Norman. Bisa dibilang, dia menjaminkan seluruh hartanya untuk kebutuhan hidup kami.


Selain itu, Bunda dan aku juga bekerja di kebun dan peternakan milik Paman Norman, dan dari sanalah kami menghasilkan kepingan koin untuk memenuhi kebutuhan hidup.


Sejak kecil, Bunda selalu mengajariku untuk berhemat dan menabung. Hingga akhirnya setahun yang lalu tabunganku terkumpul sangat banyak dan aku berhasil memanfaatkannya dengan baik.


Setahun yang lalu, akhirnya aku berhasil mendirikan sebuah toko kue kecil di Ibukota dengan bantuan seseorang. Namun aku belum memberi tahu tentang hal ini pada Bunda ataupun keluarga Paman Norman. Aku akan memberi tahu mereka ketika toko ku sudah cukup terkenal dan memiliki nama.


Aku ingin membuat mereka bangga.


Tidak hanya membantu kebutuhan hidup kami, Paman Norman juga menjadi sosok master bagiku. Karena beliaulah yang melatih ku cara mengendalikan energi mana, elemen dasar, serta beberapa sihir dasar sebelum memasuki Academy.


Sejak kecil, aku juga sering berlatih bersama Noran Grayson. Dia adalah putra tunggal Paman Norman.


Usianya lebih tua setahun dariku, karena itu dia pergi lebih dulu ke Academy. Noran sudah seperti seorang kakak bagiku, karena sejak dulu dia selalu melindungi dan membela ku.


Bicara tentang Noran. Yah, sebentar lagi aku akan bertemu dengannya.


•••••


Paman Norman melambaikan tangannya padaku, sebelum akhirnya melaju meninggalkan pekarangan Academy.


Saat hendak berjalan memasuki gerbang, tiba-tiba aku melihat seekor kucing berbulu abu-abu yang sangat gemuk. Kucing itu memiliki bola mata hijau yang terlihat berkilau. Kucing itu terus berjalan menuju arah belakang Academy. Tepatnya menuju semak-semak yang tumbuh di sekitar Academy.


Sedikit penasaran, aku memutuskan untuk mengikuti kucing tersebut.


Tak jauh berjalan, kucing itu akhirnya berhenti di sebuah pohon besar dan tertidur di sana.

__ADS_1


Kucing ini terlihat manis. Dia memiliki bulu yang lebat dan tampak mewah. Aku mengelusnya pelan dan kurasakan dia mendengkur di tanganku.


Hm, kira-kira siapa ya pemiliknya?


"Willa!! Dimana kau." Tak jauh dari tempatku, aku mendengar suara teriakan seseorang.


"Willaaa!"


Teriakkan itu semakin kuat terdengar. Kulihat kucing ini terbangun dan mengeong. "Miaw... Miaww...".


Setelah kucing ini mengeong, terdengar suara langkah kaki yang berlari kearah ku.


"Willaa, disini kau rupanya. Aku sudah mencari mu kemana-mana, dasar kucing nakal!"


Seorang pria?, dengan surai perak berkilau muncul dan segera membawa kucing ini ke dalam pelukannya.


"Kau pemiliknya?" Tanya ku pada pria tersebut.


Pria itu mengangguk. "Benar, tadi aku sempat berbicara sebentar dengan pengawal ku dan saat aku menoleh, Willa sudah tak ada di sampingku."


Hm, pengawal? Apa dia seorang bangsawan?


"Apa kau murid baru?" tanya ku.


"Iya, apa kau juga murid baru?"


Aku mengangguk.


Hm? Tunggu! Harivein?


Ah, ternyata dia bukan bangsawan melainkan keluarga Kerajaan.


Nama 'Harivein' sendiri adalah nama keluarga Kerajaan Selatan. Berarti dia adalah seorang pangeran kerajaan.


"Kau--ah maksudku anda adalah Pangeran Kerajaan Selatan?"


"Benar."


"Salam Yang Mulia Pangeran. Semoga Dewa Arios selalu memberkati.


Aku membungkukkan sedikit tubuhku padanya. Namun Luce dengan cepat menarik ku.


"Hei, tidak perlu seperti itu! Santai saja dan tidak perlu berbicara formal. Di Academy kita semua adalah seorang murid dengan status yang setara," ujar Luce sambil terkekeh.


"Bagaimana denganmu? Siapa namamu?" lanjutnya.


Aku tersenyum kecil. "Namaku Raizel Kaiser."


"Salam kenal Raizel. Oh iya, kau sudah bertemu dengan Willa ya?"


"Willa?"


"Iya kucing gemuk ini namanya Willa. Dia sangat lucu bukan?"

__ADS_1


Aku mengangguk dan mengelus kepala Willa, dia pun membalas dengan menjilati tanganku.


"Wah sepertinya Willa menyukaimu," ungkap Luce membuatku tersenyum kecil.


Ah benar, karena terlalu lama berbicara dan bermain dengan Willa aku jadi lupa untuk mendaftar di Academy.


"Kurasa aku harus pergi sekarang, Luce. Aku belum mendaftar."


"Ah, benar juga. Aku juga belum mendaftar. Ayo cepat, sebelum pidato penyambutan dimulai."


Kami berdua bergegas menuju ke arah Academy. Sesampainya di sana, kami bertemu dengan seorang penjaga dan dia mengantarkan kami sampai ke ruang pendaftaran.


Tok, tok, tok.


Kami mengetuk pintu ruang pendaftaran dan tak lama pintu terbuka dengan sendirinya. "


Aku dan Lucius memasuki ruang pendaftaran dan kami disambut oleh seorang wanita. "Kami ingin mendaftar," ucapku dan Luce secara bersamaan.


"Astaga kalian dari mana saja? Lima menit lagi pidato penyambutan dimulai," ungkap wanita tersebut.


"Maaf, tadi kucingku tersesat," jawab Luce merasa bersalah.


"Yasudah, itu tidak penting. Namaku Madam Marry, aku adalah petugas diruang administrasi ini. Sebutkan nama lengkap, Kerajaan, dan juga elemen dasar kalian."


"Namaku Lucius De Alryne Harivein. Dari Kerajaan Selatan dan elemen ku air."


Madam Marry terkejut sesaat setelah mendengar nama Luce namun tetap melanjutkan kegiatan menulisnya.


"Lalu, bagaimana denganmu?" Madam Marry beralih menatapku.


"Raizel Kaiser dari Kerajaan Selatan. Elemen api dan air."


Madam Marry mencatat informasi kami dengan cepat. Lalu dia memberikan kami masing-masing sebuah kunci.


"Kalian akan berada dalam satu ruangan. Terdapat dua kamar dan sebuah ruang tamu kecil. Asrama kalian berada di gedung 1-C lantai 3, ruangan nomor 15, semua perlengkapan kalian sudah disediakan di masing-masing kamar. Kalian tidak keberatan berada dalam satu ruangan, kan?" tanya Madam Marry.


"Tidak masalah." Jawab kami bersamaan.


Sekedar informasi, di Academy of Avior memang terdapat sebuah peraturan mutlak untuk tidak membedakan kasta antara Keluarga Kerajaan, Bangsawan, maupun rakyat biasa.


Hal ini dilakukan agar tidak timbul kesenjangan sosial dalam lingkungan Academy. Hal ini juga dilakukan agar pihak Academy dapat menilai kemampuan para murid Academy dengan lebih leluasa tanpa terhalang oleh kasta. Peraturan ini diusulkan oleh Sang Kaisar sendiri. Karena itu, semua pihak menerimanya.


"Letakkan barang kalian disini saja dulu dan cepatlah pergi ke aula. Sebentar lagi pidato penyambutan akan dimulai," ujar Madam Marry sedikit panik.


"Ah, bagaimana dengan kucingku?"


"Jangan khawatir. Aku akan menjaganya." Madam Marry mengambil alih Willa dari gendongan Luce.


"Sekarang cepatlah ke aula!"


Kami mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Madam Marry lalu segera berlari kearah aula Academy.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2