
luar biasa,, serasa habis dipukuli beberapa orang sakit sekali seluruh badan, tulangku serasa lepas dari persendiannya. Kucoba menyeimbangkan tubuhku yang linglung terkena shockwave dari ledakan barusan. susah payah kuperhatikan sekeliling, terasa perih kubuka mata yang terlilip hembusan begitu banyak debu bertebaran.
"Gusti.. ampun gusti... tulung gusti..."
Babeh Parto tertelungkup gemetar sambil mengaduh dan memanggil Tuhan, sedang barang jualannya berserakan tak jauh dari gerobaknya.
terlihat beberapa orang yg sebelumnya ada disekitar sudah lari tunggang langgang menjauh, begitu pula orang2 dari arah sumber ledakan berlarian, samar-samar terdengar sebagian berteriak histeris.
Dengung di telingaku sudah hilang dan badanku yang sempoyongan sudah kembali menemukan keseimbangannya. Entah kenapa aku tidak ingin lari, belasan orang berlari menjauh sedang aku perlahan mendekat menuju sumber suara tadi.
****
Terlihat asap membumbung dari arah utara, segera aku langkahkan kakiku kesana. Penasaran apa yang terjadi, ada apa ini. Harusnya aku sudah ikut berlari menjauh mencari tempat yang aman dari bahaya apapun itu. Bukan aku yang biasanya, tak mau tau masalah yang terjadi, kali ini aku begitu ingin tahu peristiwa apa barusan.
__ADS_1
Kuperhatikan gedung-gedung kepemerintahan, gerbangnya yang berlilit kawat berduri tertutup rapat. petugas keamanan hanya menengok dari dalam halaman tanpa keluar dari area tugasnya. nampak beberapa lampu di lantai atas gedung menyala, beberapa orang berdiri menghadap ke arah bumbungan asap pekat disebelah utara jalan pahlawan.
semakin dekat semakin terlihat lokasi ledakan, ternyata tepat di gedung BRS, Bank Rakyat Sarikarto. aku harus menyebrang jalan untuk kesana. ketika berada di pulau jalan yang tertutup pohon palm besar, terdengar suara sirine polisi dan pemadam mendekat dengan kecepatan tinggi. kuhentikan langkahku agar tidak terjadi hal yg tidak diinginkan.
"wiiiuuuw wiiiuw wiiiiiiuw...."
suara sirene bersautan yang memekakkan telinga terdengar dekat sekali tepat dibelakangku.
Benar saja, 4 mobil barakuda, 1 pemadam serta sebuah mobil ambulan melaju kencang menuju lokasi kejadian.
Seruan megaphone dari mobil barakuda kepolisian berulang ulang, tak nampak lagi warga sipil dalam jarak 1km dari lokasi BRS. namun rasa penasaran menolak untuk beranjak dari tempat aku berdiri. Aku harus tahu apa yang terjadi barusan.
Kulihat personel kepolisian tidak mengetahui keberadaanku yang sudah dekat. dengan mengendap endap, segera aku cari tempat bersembunyi dibawah lampu kota yang tidak menyala 10 meter dr lokasi.
__ADS_1
kutengok sebentar lampu kota setinggi 4 meter di atasku, korban vandalisme anak jalanan. Kufokuskan kembali ke arah Bank Rakyat Sarikarto, mobil polisi sudah mengepung pintu keluar.
Belasan Personel kepolisian membentuk formasi barikade disekitar Bank. saat itu aku ada di pojok gelap pagar bumi sebelah selatan bank, cukup gelap sehingga tak ada yang melihatku.
ternyata ,,
"perampokan??" ujarku dalam hati.
Sebuah mobil van hitam terparkir menghadap keluar membelakangi pintu utama Bank Rakyat Sarikarto. nampak pintu masuk utama bank sudah porak poranda, pintu otomatis dari kaca itu sudah bolong sama sekali, hanya nampak bingkai stainless pintu yang masih berdiri. kaca pintu yg tebal itu hancur berkeping-keping terserak jauh sampai pintu gerbang depan bank. Begitu banyak personel kepolisian yang diturunkan, harusnya ini menjadi penyergapan yang mudah fikirku.
"Lapor!.. semua sudah aman pak!" seru salah satu personel polisi
Namun dapat kusaksikan ada yang aneh, pimpinan polisi melangkah dengan tenang menghampiri mobil van hitam itu..
__ADS_1
to be continued ...