
Pontang-panting aku berlari berusaha menyelamatkan nyawaku. Segera aku belok ke kanan menuju Taman Javanesia belakang gedung Pemkot Sarikarto.
Aku ingin berada di tempat yang rimbun banyak pohon dan berharap perampok itu tidak dapat menemukan ku.
'' krakkk glarrr...!".. Suara benturan keras dan benda keras berserakan disampingku??
Lompatan kedua perampok itu mendarat 5 meter di samping kiri ku. Terlihat aspal terkelupas dibawah kakinya, seperti menginjak lumpur ada bekas ia bergeser setengah meteran setelah mendarat.
Aku sudah berlari sekitar 25 meter dan dia menyusul dengan sekali lompat??? benar-benar gawat..
" Kamu tidak bisa lari dariku..! hahaha " teriak perampok itu.
Sekuat tenaga kucoba berlari lebih jauh. Menuju pojok utara Taman Javanesia, disitu banyak sekali pohon, kotak kendali listrik dan Telekomunikasi Kota Sarikarto. Kalau aku sembunyi disitu mungkin dia tak akan tahu.
" Kamu tak bisa sembunyi dari Prakoso! aku bisa melihatmu dengan jelas.. hahaha ". kembali Perampok itu meneriakiku yang makin menjauh.
Benar, nama itu... nama yang sering dibicarakan di Jalanan. Kenapa aku harus berurusan dengan preman kelas kakap?. Aku harus bisa lolos darinya, tapi bagaimana caranya? aku berlari ke sudut tanpa lampu yang paling gelap dimana banyak box kontrol listrik dan telekomunikasi. Tapi percuma di tempat gelap sekalipun, dia memakai kacamata nightvision.
Aku berhenti dan teringat didalam tas aku punya senter SWAT yang kubeli karena sering terjadi pemadaman listrik. Segera ku ambil dari dalam tas slempangku dan kugenggam erat. Kuputar bagian lensa nya ke Mode paling cerah.
Kubalikkan badan kulihat Prakoso sudah mengambil ancang-ancang untuk melompat.
" Jdagg !! " Suara hentakan kaki prakoso ke aspal saat melompat.
Prakoso melambung sekitar 8 meter di udara. Gila, setinggi itu di melompat.
"bagaimana bisa? " ucapku terheran dalam hati.
dia mulai turun ke arahku.
segera kunyalakan senter SWAT kearah matanya..
"Aaargh .. mataku!!" teriak prakoso sambil menutup matanya.
" gubrakkkk.. klasarrrr!!! " prakoso jatuh tersungkur menghantam beberapa kursi kayu dan tiang listrik.
segera aku melompat keluar taman dan bersembunyi di semak-semak seberang Taman Javanesia. Dia tak akan bisa menemukanku di sini.
__ADS_1
Perlahan Prakoso bangkit dan berdiri, kulihat kakinya berkilau seperti besi, beberapa lampu menyala di bagian samping pahanya, apakah dia punya kaki bionik? atau apapun itu dia memakai alat penguat.
Pasti itu sebabnya ia bisa melompat seperti manusia super. Aku berusaha tidak bergerak didalam semak yang dulunya pagar hidup kota.
" Dimana kau curut sialan !?" Prakoso berteriak dengan agak tertatih.
" zzzt ...Jdaakkkk!!" salah satu box telkom melayang ditendang olehnya.
"gubrakkk!!!" Box itu jatuh tak jauh di depanku.
Beberapa bagiannya terlempar ke arahku namun aku tak bergeming. Aku akan tetap diam disini apapun yang terjadi.
Tapi, apa ini? terasa ada yang merayap di tanganku.. ahh bersembunyi di semak ternyata kurang tepat. Kupikir prakoso akan langsung pergi menebak arah lariku ternyata dia masih mencari di sini.
" aku tahu kamu disini curut got!.. keluarlah... hahaha ". Ucap prakoso seperti sedang menakut-nakuti anak kecil.
Dia berjalan mengitari sudut Taman javanesia, bahkan sekarang menuju ke arahku. Aku harus tetap diam, keringatku mengalir deras, nafasku yang tersengal berusaha kutahan dan kuhembuskan perlahan.
Prakoso berhenti tepat di depanku. karena aku di dalam semak tak bergerak dengan jaket hitamku dia tak mengetahuinya. Kulihat lampu merah di kepalanya tidak menyala pasti night visionnya dimatikan antisipasi jika disorot cahaya lagi seperti tadi.
Semakin banyak serangga yag merayap di tanganku. aku berusaha untuk tidak merasakannya, walau gatal dan jijik bercampur jadi satu. kenapa dia tak pergi juga.
" Dantjuk!! mlayu nandi bocah mau (sialan, lari kemana bocah tadi)!!?? Prakoso mengumpat dan melangkah menjauh.
Mungkin karena nafasku, makin banyak serangga yang mengerumuni badanku
" gawat gatal sekali." Batinku.
Kutahan gatal di kaki dan tangan ku. Namun hanya bertahan tidak sampai semenit. beberapa serangga tiba-tiba menggigit bersamaan.
" Aargh " aku berteriak sambil melompat kebelakang keluar dari semak.
Gawat, Prakoso menoleh dari ujung Jalan. Mundur kebelakang badanku tertahan sesuatu, ternyata pagar besi pengaman pembatas trotoar.
Kukibaskan tangan dan kakiku melemparkan serangga-serangga itu berjatuhan ke tanah.
" krakk ... Srhreekkk" tiba-tiba prakoso sudah mendarat dihadapanku.
__ADS_1
" Di sini rupanya kau. . hahaha " ujarnya penuh kemenangan.
Dia langsung mencekik leherku dan mengangkatku, seperti sedang digantung.
"khkkk hhkkhh". aku tak bisa bernafas.
Tangan kiriku berusaha melepas cekikannya. Untung dia tidak memakai teknologi penguat itu di tangannya, jika ia pakai juga sudah patah leherku.
Kalau dengan Jarak pointblank seperti ini lampu senterku juga bisa membutakan matanya.
Dengan sisa kesadaran yg kupunya kuarahkan senterku ke matanya dan kunyalakan.
"Aaaaargh sialan kau!! matakuu!! teriak prakoso kesakitan.
Dilemparkannya tubuhku kebelakang terpental pagar pembatas dan membentur tembok. Seketika GELAP! tak sadarkan diri, Aku tak tahu apa-apa lagi.
*** di Taman Javanesia***
Prakoso mengerang dan mengucek matanya sebentar. Tidak seperti sorotan lampu senter sebelumnya efeknya kali ini hanya sebntar.
"Byurr!!"terdengar suara benda trcebur.
Setelah pengelihatannya kembali normal ia perhatikan sekitarnya terutama arah dimana ia melemparkan Mandala. ternyata di depannya adalah saluran air sedalam 5 meter.
"Harus kupastikan mayat curut got itu" ucap Prakoso.
Namun terdengar suara mesin truk lewat dan lampu sorot menyinari tiap pojok Taman sarikarto.
"Patroli jam malam? aku tidak akan bisa menang melawan satu kompi tentara bersenjata sendirian " gerutu Prakoso.
" Jatuh sedalam itu, dia pasti mati " Prakoso memantapkan hati.
" zzzzt, tap tap tap tap " Exosuit Prakoso menyala dan ia pun lenyap berlari dengan kecepatan 60 km/jam.
Di bawah Saluran air yang gelap itu.. apa yang terjadi pada Mandala, apakah ia masih hidup?
To be continued . . .
__ADS_1