
"Na, kita makan dimana?" Tanya Putra.
"Terserah loe," kata Nasya cuek. "Ya, kamu lah kan aku ajak kamu jalan," kata Putra sambil lempar-lempar tentang tempat makan.
"Ya, udah kita beli di tempat langganan gue aja," kata Nasya dan menuju ketempat langganan tersebut.
"Mba, beli kayak biasa ya," kata Nasya.
"loe mau apa?" Tanya Nasya kepada Putra.
"Samain aja sama loe," kata Putra bingung mau pilih yang mana. "Kenapa loe suka makan dipinggir jalan?" Tanya Putra heran dengan satu perempuan ini ia merasa jika Nasya ini berbeda dengan perempuan lain.
"Ya, karena murah dan enak," kata Nasya dengan singkat dan Putra hanya beroh ria.
"Selesai makan"
"gue bayar dulu," kata Nasya sambil menuju kekasir. "Jangan, gue aja yang bayar!" kata Putra tidak enak masa yang bayar perempuan.
"Gak ada penolakan!" kata Nasya dengan melotot. "Mba saya pesan 4 bungkus ya," kata Nasya dengan ramah tamah.
"Ini mba," kata mbanya. "Berapaan mba?" Tanya Nasya sambil mengeluarkan uang di dompetnya.
"Totalnya enam puluh delapan ribu mba," kata kasir dengan ramah. "Makasih mba," kata mba kasir itu.
"Kok lama?"Tanya Putra bingung. "Abang gue nitip," kata Nasya judes."Yaudah yuk pulang," ucap Putra sambil menyalakan mobil tersebut menuju kerumah Nasya.
"Masuk sana gih udah dingin harinya," kata Putra dengan lembut dan dianggukan dengan Nasya. "Na, ini buat loe," ucap Putra menyodorkan hadiah yang isinya gelang permata yang berwarna merah.
"Loh, kan hadiahnya buat adek sepupu loe?" tanya Nasya heran. "Itu cuman alasan doang.
"Biar gue ketemu loe," kata Putra cengegesan dan Nasya hanya beroh ria.
"Gue duluan ya. Bye-bye jangan lupa mimpiin gue, LOVE YOU." kata putra dengan romantis.
"Haduh, Putra baper nih gue. loh harus tanggung jawab!!" batin Nasya meronta-ronta.
"Ohh, ya bye," kata Nasya singkat.
"Heh, kalian keluar dari sana!" kata Nasya, dia tau kalau temannya lagi ngintip.
"HEHEHE, tau aja lok Sya," mereka cengegesan. "Ciee, baper nih hati dedek gara gara abang," kata Aqila mengejek Nasya.
"loe, kalok masih ngolok gue loe gak usah makan!" kata Nasya kesal sambil menenteng makanan yang ia beli tadi.
"IYA IYA BOSS dasar pengambekkan," kata Aqila memohon tapi ujung-ujungnya membuat Nasya marah.
"Ohh, iya gimana tadi jalannya seru gak?" Tanya Vela penasaran. "Biasa aja," kata Nasya jutek.
"Maza sih," ucap Vela sambil menoel-noel Nasya dengan tangannya. "Ehh, tadi kayaknya loe dikasih hadiah sama Putra?" tanya Aqila penasaran.
"Aduhh, ****** nih gue!" batin Nasya. "Hah, memang tadi ada apa ya. Dia gak ngasih apa apa kok," kata Nasya mengelak. "Bohong loe ya?" kata Vela mengejek.
"Iya iya, tadi putra bilang dia mau beli hadiah buat adek sepupunya terus pas pulang dia malah ngasih gue," kata Nasya enteng sambil membuka gelang tersebut.
"Ada buih-buih cinta nih kayaknya," kata Aqila mengejek. "Buih-buih cinta mulu yang ada buih ikan jigong tuh dilaut," ucap Nasya kesel dengan sahabatnya.
__ADS_1
"Gue, mau curhat kalok gue dulu pernah suka sama Putra pas SMP dulu," kata Nasya serius.
"Tapi, Putra nembak orang lain dan dari situ gue mulai benci sama dia," kata Nasya lesu.
"Hoo ,pantesan loe kayak menjauh dari Putra. Coba loe ngomong ke kita. Kita pasti bakal bantuin loe," kata Vela dan Aqila.
"Tidur udah malam, nanti bangun kesiangan," kata Vela. "Maaf ya, gue baru cerita sekarang," kata Nasya cemas.
"Gak papa kok, kan kamu belum siap cerita," kata Aqila dan dianggukan dengan vela.
Tringg... Tring.. alarm pun berbunyi menunjukkan jam 07.30 pagi.
"Heh, kebo bangun kalian udah pagi. kalian gak siap siap kah?" tanya Vela membangunkan Aqila dan Nasya.
"Ntar, lima menit lagi," kata Aqila sambil memeluk bantal guling. "Bangun Qil, kalok ngga gue tinggal loe," kata Nasya memperingatkan.
"Tinggalin aja, gue mau PDKT sama abang loe," kata Aqila membayangkan muka Alvino.
"Bye, gue tinggal loe," kata Nasya menuju keluar kamar. "Iya iya, tunggu bentar," kata Aqila gelabakan.
\\\*
"Ohh, iya gue denger-denger, ada anak baru cewek sama cowok," kata Aqila berbicara sambil memakan cemilan.
"Anak-anak silakan duduk semuanya," kata ibu guru. "Kita sekarang ada murid baru, silahkan masuk," kata ibu guru mempersilahkan.
"Hi, kenalin nama gue Kyara Zhaqueen Pratama panggil gue Rara.
"Rara, dia kembali lagi!" gumam Nasya. "Hi, Sya," kata kei menyapa Nasya.
"Sya, loe kenal sama dia?" kata Aqila penasaran dengan cowok didepan itu.
"Dia sahabat gue dari kecil," kata Nasya singkat dan padat. "Silahkan duduk disamping Putra dan Rara duduk di belakang Putra," kata Ibu guru mempersilahkan mereka duduk ditempat masing-masing.
"Kayaknya gue suka sama Kei," kata seseorang sambil senyum-senyum sendiri.
Tringg ... Tringg ... bel istirahat berbunyi.
"Sya, bareng gue yuk?" tanya Kei dan Nasya mengganguk.
"Duluan bro," kata Kei sambil memengang pundak Putra.
"Putra, bareng gue yuk ke kantin?" ajak Rara. "Kayaknya, Rara suka sama Putra deh. Liat aja dia buntutin Putra mulu dari tadi"kata Aqila kesel melihat Rara ganjen.
"Huss, gak boleh gitu," kata Vela. " Astaghfirullah, Qila hilaf." ucap Aqila sambil menuju ke kantin.
"*AAA!! Ganteng banget Putra" teriak seorang fans Putra.
"Omggg ganteng banget Ivan"
"Sumpah!!! Cool banget Arka makin tambah cinta*"
__ADS_1
"Kalian mau makan apa?" Tanya Nasya. "Gue, kayak biasa," kata Aqila.
"Gue, bakso sama es teh," kata Vela sambil memainkan handphonenya. "Kei, loe mau apa?" Tanya Nasya.
"Gue, ikut loe aja," kata Kei dan Nasya hanya mengganguk.
Ada seseorang yang cemburu melihat kei dan Nasya dekat, begitu pula dengan Putra cemburu melihat Nasya dekat dengan Kei.
Rara curiga Putra suka sama Nasya," Gue bakal rebut Putra, dari loe." gumam Rara.
"Put, gue manggil kamu dari tadi kok gak dijawab?" tanya Rara penasaran. "Gak papa." kata Putra singkat.
Nasya dan Kei datang membawa makanan "Nih, makanan kalian," Kata Kei. "Sya, kayaknya Putra liatin loe dari tadi?" tanya Aqila membisikkan Nasya.
"Masa sih?" kata Nasya sambil menoleh ke Putra. "Iya kan?" tanya Aqila. "Lagi kebetulan aja kalik," kata Nasya mengelak.
"Makan gih, nanti keburu masuk kelas," kata Kei. "Kei, gue mau nanya. loe dari kapan kenal Nasya?" Kata Vela.
Nasya dan Aqila pun heran ada apa dengan temannya satu ini?
"Oh, itu udah lama banget. Mungkin waktu umur 8 tahun?" kata Kei dan Vela hanya beroh ria.
Tringg... Tring.. bel masuk bunyi pun berbunyi dengan suara yang cukup nyaring.
"Pengumuman, hari ini kita jamkos.Tapi, tidak boleh pulang!" kata Ketua kelas memberikan pemberitahuan.
"Bosen, mau ngapain?" tanya Aqila sambil memainkan pulpennya. "Gimana, kalok kita main Truth or Dare" kata Kei mengusulkan.
"Gue, ikutan dong," kata Putra dan teman temannya disusul dengan Rara.Kei langsung memutarkan pensil dan yang kena adalah Ivan.
"Truth atau Dare?" Tanya Kei menunggu jawaban Ivan."Sebagai cowok pemberani, gue mau Truth aja, hehe" kata Ivan percaya diri.
"Gue mau, loe cerita yang gak bisa lo lupain," kata Arka penasaran.
"Jujur nih ya, gue pernah di kejar sama orang gila lagi patah hati. Trus, gue dikira cowoknya," kata Ivan malu dan satu dua ti.. belum tiga detik mereka udah tertawa.
"Pasti gara-gara muka loe pasaran?" tanya Putra mengolok Ivan. "Enak aja loe," kata Ivan.
"Kalok, Ivan pasaran gue juga dong"kata Arka tidak terima. " Yaiyalah kan kalian kembar," ucap Rara mengolok mereka berdua.
"Gue, mau loe nembak cewek yang loe suka berani kagak?" tantang Aqila dan Ivan pun langsung menghela napas.
"VEL, GUE SUKA SAMA LO. MAU NGGA JADI PACAR BABANG GANTENG?" kata Ivan dengan percaya diri.
Orang orang disana pun berteriak Terima ... Terima ....
"Ciee, Vela akhirnya ditembak sama cowok," kata Aqila mengejek Vela.
"Huft ..."Vela menghela napas panjang panjang dan membuat teman temannya penasaran.
.
.
.
__ADS_1
Semangat menunggu ya bukan menunggu kepastian dari seseorang ya.