
"Ini udah datang semua kan?" Tanya Pembina Osis. "Iyaa," kata murid-murid berteriak dengan semangat.
"Sya, gue duduk bareng loe ya?" tanya Kei dan Putra bareng. "Gue, duduk sama Vela aja," kata Nasya judes.
"Gara gara elo sih!" kata Putra menyalahkan Kei. "Vel, gue duduk sama loe ya?" tanya Nasya, Vela pun mengganguk.
"Qil, bareng gue yuk?" tanya Arka sambil berdiri disamping Aqila. "Ogah, gue mendingan gue duduk sendiri," kata Aqila menolak.
Tiba-tiba ada ketua Osis datang dan ia mulai bertanya kepada Aqila.
"Boleh, duduk disini ngga?" Tanya Cowok tersebut. "Boboleh kak. Duduk aja," kata Aqila terbata bata.
"Kenalin nama gue Alandra Reymon Bagasditya panggil aja Andra," kata Andra memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangan kearah Aqila.
"Nama gue Aqila Mashel Purnama panggil Aqila," ucap Aqila sambil berjabatan tangan.
"Ihiy, dari sekian lama kejar cowok baru kali ini cowok yang dekatin dulu maka Ketua Osis lagi," gumam Aqila meronta-ronta.
"Kamu udah punya cowok?" Tanya Andra penasaran. "Ngga kak," kata Aqila antara heran atau bingung.
"Masih punya kesempatan dong," kata Andra dengan bersuara kecil. "Hah, kak Andra ngomong apa?" kata Aqila penasaran.
"Ngga papa," kata Andra dan Aqila hanya beroh ria.
\(\\\*\)
"Huft ... akhirnya sampai juga," kata Aqila menghela napas. "Semuanya kumpul sekarang!" kata Pembina Osis berteriak dengan tegas.
"Kita sebutkan kelompoknya," kata Pembina Osis. "Kelompok Satu ada Vela, Kei, Putra sama Nasya. Kelompok Dua ada Arka, Ivan, Rara, Aqila dan Andra yang sudah silahkan membuat tenda masing masing!" kata Pembina Osis membubarkan.
"Pak, boleh ganti orang kah?" Tanya Rara sambil mengedipkan mata agar diperolehkan.
"Ngga boleh!!" kata Pembina Osis dengan tegas.
"Hahaha," tawa murid-murid saat mendengar Rara tidak dibolehkan.
"Diam kalian semua!" teriak Rara sambil melotot.
"Sya, loe tadi disuruh sama Kei ke hutan. Katanya dia mau ngomong sama loe," kata seorang cewek dan membuat Nasya heran.
Nasya pun langsung menuju ke hutan. Di dalam hutan Nasya bingung mencari keberadaan Kei dan ia pun sadar bahwa tersesat dihutan.
"Aduh, gimana nih cara gue bisa keluar. Apalagi udah mau malam," kata Nasya cemas sambil melihat-lihat agar bisa keluar dari sana namun nihil ia melihat disana cuman ada pohon yang sama.
\(\\\*\)
"Apakah, ada yang melihat Nasya tadi?" kata Pembina Osis cemas dengan keadaan Nasya sekarang.
__ADS_1
"Tadi sore saya melihat Nasya pergi menuju kehutan," kata Vela mulai khawatir dengan sahabatnya.
"******, loe Sya. Loe, ngga bakal bisa ditemukan lagi!" Gumam seseorang senang saat mendengar Nasya menghilang dihutan.
"Ya, udah. Kita semua cari Nasya sekarang!" kata Pembina Osis mulai mencari keberadaan Nasya.
Putra pun langsung mencari Nasya
"Nana ... Nana .. loe dimana?" teriak Putra namun tidak jawaban sekali pun.
"Sya ... Sya ...," kata Kei dan Aqila mencari Nasya dengan cemas.
"Kei gu..e kha .. wa .. tir ka .. lo Na .. sya ke .. na .. pa na .. pa," kata Aqila menangis dengan sesegukan.
"Tenang aja, pasti Nasya baik-baik aja. Loe doa aja buat Nasya yang terbaik," kata Kei untuk membuat Aqila tenang dan Aqila pun mengangguk.
"Oh, iya Vela mana ya?" Tanya Aqila celingak-celinguk mencari keberadaan Vela hilang dengan tiba-tiba.
"Mungkin dia mencari ditempat lain," kata Kei berpikir agar terus mencari Nasya. "Apa kalian udah menemukan Nasya?" tanya Pembina Osis dan yang lain menggelengkan kepala.
"Kalian tidur aja. Kita bakal panggil Timsar," kata Pembina Osis memanggil bantuan lain agar mudah mendapatkan Nasya.
Salah satu Pembina OSIS pun menelpon keluarga Nasya.
"Halo Bu, apa benar ini bundanya Nasya,"
"Benar pak. Ada apa ya?"
"Maaf bu, anak ibu hilang dihutan dan semampu kami mencari anak ibu,"
"Bunda kenapa?" Tanya Alvino cemas melihat bundanya terjatuh. "Nasya ... Nasya ... dia," kata Bundanya terbata bata.
"Bun, Nasya kenapa?" Tanya Alvino khawatir keadaan adik kesayangannya.
"Nasya hilang dihutan dan belum ditemukan sampai sekarang," kata Bundanya mulai mengkhawatirkan Nasya anak perempuan satu-satunya itu.
Alvino pun terkejut saat mendengar jika adeknya hilang dihutan.
\(\\\\)
"Nenek ... Nenek ... disini ada cewek jatuh dari jurang," ucap Anak laki laki itu berteriak histeris saat melihat seorang perempuan.
"Aduh, kasian sekali dia. Ayo kita bawa pulang kerumah," kata Nenek itu dan cucunya pun mengganguk.
Nasya pun belum kunjung sadar padahal hari sudah beberapa hari.
"Nenek kok kakak itu juga belum sadar?" tanya anak laki laki itu dengan cemas.
"Ayo, kita sholat supaya dia cepat sadar," kata Nenek tersebut dan anak laki laki itu mengangguk.
"Aduh ... gue dimana ini?" Tanya Nasya melihat sekelilingnya.
__ADS_1
"Ehh, Neng Alhamdulillah udah sadar," kata Nenek itu dengan cemas.
"Lingga ... ambilkan minum buat kakaknya," kata Nenek itu menyuruh Lingga.
"Iya nek" kata anak laki laki tersebut.
"Maaf nek ini saya dimana ya?" Tanya Nasya dengan sopan.
"Saya menemukan neng jatuh dari jurang dan untung saja luka neng tidak terlalu parah," kata Nenek tersebut menjelaskan.
"Kalo boleh tau saya sudah berapa hari tidak sadar?" tanya Nasya memastikan.
"Neng sudah 3 hari tidak sadarkan diri," kata Nenek itu bercerita.
"Aduh ... Pasti bunda, ayah sama bang Alvin pasti khawatir," gumam Nasya.
Nasya pun segera meraba bajunya agar menemukan handphonenya dan ternyata ia meninggalkannya ditenda.
"Makasih nek, udah nolongin saya," kata Nasya berterimakasih.
"Ya, neng. Wajib atuh bagi manusia buat nolong sesama manusia."kata Nenek dan Nasya pun mengganguk.
"Nek, kira kira kalo pulang ke kota sampai kapan ya?" Tanya Nasya. "Sampai 2 hari Neng,"kata Nenek itu memperkirakan.
"Neng, makan aja dulu. Besok baru berangkat," kata Nenek itu dan Nasya pun mengganguk.
Kuku ruyukkk ... Suara ayam pun terdengar ditelinga Nasya dengan merdu beda sekali dengan rumah yang ia tempati jika dirumah pasti ia mendengar suara bundanya.
"Neng, ayo bangun kita sarapan," kata Nenek yang bernama nenek Jumiah.
"Maaf ya neng makananya cuman ada ini," kata Nenek jumiah.
"Gak papa nek ini aja saya sudah bersyukur ada yang nolongin saya," kata Nasya bersyukur saat ia terjatuh ada orang baik yang menolong dia.
"Nenek, Lingga. Saya terimakasih sekali banyak sudah menolong saya," kata Nasya dengan sopan.
"Saya permisi dulu," kata Nasya pamit. "Ini buat Eneng pasti ngga bawa duit kan?" tanya Nenek Jumiah dengan menyodorkan duit yang cukup buat balik kekota.
"Makasih banyak nek," kata Nasya dan nenek Jumiah pun mengangguk.
"Nanti kalo sempet mampir kesini ya neng," ucap nenek Jumiah.
Nasya pun segera menaiki bus menuju kota selama dua hari satu malam.
"Bun, Nasya pulang," kata Nasya lesu dengan baju yang sangat-sangat berantakan.
Bundanya pun langsung memeluknya Nasya dengan hangat saat melihat Nasya udah didepan pintu dengan selamat.
"Sya, loe darimana aja?" Tanya Alvino bertanya kepada adiknya. "Nanti, aja bang. Nasya ngantuk," kata Nasya menahan diri agar tidak tertidur diruang tamu.
.
.
.
__ADS_1
Tambah seru atau gak? oh iya jangan lupa like and comment ya