Dendam Asmara

Dendam Asmara
Episode 1


__ADS_3

"Aku jatuh cinta," batin seorang gadis itu sambil memandang sendu suaminya.


Namanya adalah Alisa Alexandria, Seorang putri tunggal dari keluarga kaya. Ini adalah hari yang menurutnya cukup bahagia, lantaran kali ini Alisa telah menyandang status sebagai istri dari Rey Lawrence, Seorang pengusaha muda, meskipun kekayaan yang di milikinya karena faktor keturunan.


Sebuah Genesis G90 terhenti di suatu pekarangan rumah. Alisa sepintas melirik kerah Rey yang saat itu hanya terus menyentuh tab mahalnya. Wajar jika hal tersebut Alisa rasakan, lantaran sebelumnya Ia bersama sang suami berpamitan pada keluarga untuk pergi berbulan madu ke suatu negara.


"Apa ini tempat tinggal pribadinya?" lagi-lagi sebuah pertanyaan mencuat dalam isi kepalanya, "Atau ada sesuatu yang ingin dia ambil disini?"


"Tuan, Kita sudah sampai."


Pandangan Alisa teralihkan pada sang sopir, di detik berikutnya Alisa kembali melirik ke arah Rey yang saat itu hendak turun dari mobil, karena para pelayan telah membuka pintunya.


Dingin dan teracuhkan, itulah yang Alisa rasakan. Bahkan selama satu jam perjalanan, selama itu pula Rey tak berbicara padanya. Alisa tahu, pernikahannya hanya terjadi karena keduanya telah di jodohkan. Tapi, apakah ini hal wajar? lagi-lagi keadaan membuat Alisa terus bertanya-tanya.


"Apa ini?" Alisa mengerutkan dahinya, tatapannya menajam melihat Rey yang pergi masuk kedalam rumah begitu saja meninggalkannya.


Tidak hanya itu, para pelayanmu hanya membuka pintu di satu sisi milik Rey. sedangkan sisi yang ia duduki masih tertutup rapat, di ikuti supir yang juga pergi mengikuti Rey di belakangnya.


Tak berhenti disana, meskipun Alisa mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang-orang sekitar, Ia dengan jengkel membuka pintu mobil dan mulai melangkah memasuki sebuah hunian mewah tersebut. Semua pelayan memandangnya dengan tatapan yang sulit Alisa artikan. Gadis itu mencoba membuang wajahnya, agar terkesan bersikap acuh pada sikap semua orang.


Pintu terbuka, sebuah pengharum ruangan langsung menyapa indra penciumannya. Meskipun tak seluas rumah orangtuanya, Namun Alisa cukup salut karena tingkat kerapihan dan kebersihan rumah tersebut terlihat sangat terjaga. Dalam waktu singkat, suasana hati Alisa yang sebelumnya terasa memburuku, seketika langsung kembali membaik.


"Ehh, maaf, bolehkah aku tahu dimana kamarku?" tanya Alisa pada seorang gadis kecil yang sedang menata bunga.


Gadis itu tersenyum manis, Ia juga sedikit menundukkan kepala setelah melempar senyumannya. tangan kanannya menunjuk ke suatu arah, dimana saat itu Alisa di arahkan untuk melewati tangga untuk mencapai tujuannya.


"Apa maksudmu di lantai atas?" tanya kembali Alisa untuk memastikan.

__ADS_1


Gadis itupun menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat. Dari situlah Alisa langsung memahaminya jika gadis kecil yang ia ajak bicara adalah seorang tuna wicara.


Alisa lantas mulai memijakkan kakinya di atas tangga satu-persatu. Senyumnya mulai terukir, bola matanya terus bergerak untuk mengabsen setiap sudut ruangan. Apa yang sedang Alisa pikirkan? Tentu saja adegan-adegan nakal. Statusnya adalah seorang istri, dan ia sudah membayangkan betapa serunya malam pertama yang akan dirinya lakukan.


"Astaga," Alisa bergumam, wajahnya merona begitu pikirannya semakin liar.


Gaun putih pengantin yang Alisa kenakan rasanya tak ingin Alisa lepaskan. Menurut Alisa, gaun tersebut membuatnya semakin cantik. bahunya terbuka lebar, garis dadanya dengan jelas terekspos. Sebuah gaun yang sengaja Alisa pilih, karena mungkin saja Rey akan langsung tidak tahan begitu melihat kesempurnaan dari segala sisi tubuhnya.


Tibalah Alisa di sebuah kamar yang menurutnya ini adalah kamar utama. Benar saja, pintu kamar tersebut tidak di kunci, Alisa juga melihat jas yang sebelumnya Rey kenakan tergeletak di atas ranjang. Suara gemericik air terdengar, sepertinya Rey sedang berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Alisa menggigit bibir bawahnya, ia terus mencoba menyembunyikan rona bahagianya. Gadis itu terduduk di sisi ranjang, perasannya mulai tak karuan. Apapun terus ia pikirkan.


"Emmm, panggilan apa yang pantas untuknya?" Alisa memejamkan matanya sejenak, "Sayangku? Suamiku? atau... Ahhh..." Ia di buat salah tingkah oleh pikirannya sendiri.


Kemudian Alisa merapikan rambutnya, ia melangkah menuju cermin besar yang tersedia. Penampilannya masih terlihat bagus, make up nya juga masih menempel sempurna.


Krak...


Spontan Alisa memalingkan tubuhnya menatap pintu kamar mandi yang kini telah terbuka.


Deg...


"Apa ini?" batin Alisa bertanya-tanya lagi dan lagi, jantungnya terasa hampir meledak saat sepasang matanya menangkap Rey keluar dengan begitu kerennya. "Tidak, Dia terlalu tampan dan mempesona,"


Hanya dengan sebuah handuk putih yang menutupi sebagian tubuh bawahnya, Rey keluar memandang Alisa sebentar. Rambutnya masih sangat basah, tetesan air di tubuh Rey benar-benar membuatnya seolah makin tak terkalahkan. Dadanya sangat bidang, perutnya juga kotak-kotak, garis bibir Rey yang tipis, Namun tampak jelas seakan membuat Alisa ingin meraupnya.


"Apakah aku yang harus memulainya? Bagaimana aku memulainya? Haruskan aku langsung melepas pakaianku di hadapannya? Atau..." ucapan dalam batin Alisa seketika terhenti.

__ADS_1


"Boleh aku meminjam ponselmu?" untuk pertama kalinya, Rey memulai pembicaraan dengan Alisa.


"Hah?" Alisa terlihat kikuk, Ia langsung mengangguk sambil melangkah cepat menghampiri Rey, "I... ini... Setelah memutuskan untuk menikah denganmu, Aku langsung menghapus seluruh nomor pria di ponselku, Aku bahkan sudah menonaktifkan aplikasi kencan dan sosial mediaku."


Rey tersenyum kecut, pria itu hanya memegangi ponsel Alisa tanpa membukanya. sejenak Rey menatap mata Alisa, memandangnya dengan pandangan sulit di artikan. Rey sama sekali tak berekspresi, sorot matanya semakin tajam.


"Apa... apa kau ingin memulainya sekarang?" Alisa mencoba memberanikan diri, Senyum canggungnya tercipta, Ia bahkan perlahan mengarahkan tangannya untuk menurunkan lengan gaun yang dirinya kenakan.


"Tentu saja, ini yang sudah aku tunggu-tunggu sejak lama..."


Alisa merona, Ia semakin mendekati Rey lalu meraih kedua bahunya.


"Ini adalah pertama kalinya bagiku, jika aku tidak bisa melakukannya dengan baik, tolong jangan hukum Aku."


"Benarkah?" Rey memiringkan senyumnya, Ia semakin memperdalam tatapannya, "Bagaimana jika aku tidak yakin bahwa ini adalah yang pertama bagimu?"


Alisa mengerutkan dahinya, senyumnya memudar seketika, "Kau bisa mencobanya sekarang jika memang kau meragukannya."


Grep...


Alisa mendorong tubuh Rey ke atas ranjang hingga keduanya jatuh bersama. Gadis itu tepat berada di atas Rey, dengan jarak intens Alisa mulai menyentuh wajah tampan sang suami dengan penuh kekaguman.


"Bagaimana Aku bisa percaya? jika Kau seliar ini?" Rey berucap dengan nada meremehkan, "Bukankah seharusnya Kau bersikap polos, menunggu Aku yang bertindak?"


Ini cukup membuat Alisa muak. perasaannya menjadi khawatir tak beralasan, "Ayolah, Bukankah untuk mendapat gelar istri yang baik, Aku harus sedikit berinisiatif?"


Bersambung...

__ADS_1


Berikan dukungan sebanyak-banyaknya untuk membangun semangat Author. Jangan lupa like dan komen agar Author rajin update...


__ADS_2