
Ada sebuah peraturan yabg Rey buat untuk para pelayan patuhi. Mereka semua di tuntut agar tidak melayani Alisa sedikitpun. Bicara sebutuhnya dan tersenyum pada gadis itupun di larang.
Jiwa Rey sudah di penuhi dengan kebencian, Ia ingin membuat suasana di rumah tersebut bagaikan neraka untuk Alisa. Ia juga tak ingin melepaskan Alisa atau membuat Alisa mati begitu saja. Sebab, Tujuannya hanya ingin membuat Alisa menderita.
Alisa di biarkan beraktivitas, Ia di perbolehkan untuk memasak membuat hidangan sendiri. dengan catatan, tidak ada yang boleh membantunya. Meskipun hal itu sangat sulit Alisa lakukan, akan tetapi Ia mencoba memaksakan diri demi kelangsungan hidup.
Ia juga sering kali melawan Rey dengan berani, bukan tipekal wanita yang hanya diam dan menangis. Alisa justru sering kali berupaya untuk melawan, meskipun yang ia lakukan sama sekali tak ada gunanya.
"Ini tidak enak," Alisa berucap kemudian langsung mengeluarkan makanan tersebut dari mulutnya, "Huwekk..."
Alisa biasa memakan hidangan yang sudah di siapkan oleh para pelayan di rumahnya. Tentu ia tak memiliki kemampuan apapun mengenai urusan dapur. Beruntung di dalam kulkas ada jus kemasan yang tak perlu Alisa olah, Ia hanya tinggal menuangkan kedalam gelas kemudian meminumnya.
Di tempat lain, Rey terlihat sedang menyaksikan aktivitas yang Alisa lakukan melalui monitor komputer. Ruangan dapur yang dilengkapi kamera pengawas sengaja Rey gunakan untuk memantau gerak-gerik Alisa.
Rey mengerjap, ia merem*at gelas dengan emosi yang meluap sampai pada akhirnya gelas pun hancur melukai telapak tangannya. Rey tidak perduli, rasa sakit itu tak mampu menandingi luka dalam hatinya. Pria itu selalu memburu setiap kali melihat wajah Alisa, Ia ingin memukul Alisa, menamparnya, atau bahkan membunuhnya. Tapi, hal itu enggan Rey lakukan karena kematian mungkin bisa membuat perasaan Alisa senang.
Rey berdiri, dengan tergesa-gesa pria itu keluar dari ruangan cctvnya.
"Hmmm, Aku lapar," Alisa frustasi, ia hajya terus memandang telur gosong yang berada di atas piring tanggungnya.
Deg...
Alisa akui, Ia sedikit merasa takut setiap kali melihat Rey muncul di hadapannya. terakhir kali keduanya berinteraksi, Rey melempar wajah Alisa dengan botol air mineral di dalam kamarnya. Dan sekarang, bisa saja hal itu kembali Rey lakukan.
Byur...
Alisa mengerjap dengan mulut yang terbuka, jus jeruk yang sudah Ia siapkan kini telah membasahi seluruh tubuhnya.
"Rasakan kau gadis sia*lan," ucap Rey di sertai penghinaan.
"Rey!" Alisa berteriak, pria itu berhasil membuat amarah Alisa berkecamuk.
__ADS_1
"Apa? Jika ini tidak cukup aku akan segera menenggelamkan tubuhmu di kolam."
Plak...
Alisa mendaratkan tamparan keras di wajah Rey. Penyiksaan yang selalu Ia dapatkan hingga detik ini Alisa belum mendapat jawaban atas perbuatan yang Rey lakukan.
"Beraninya kau menamparku!" Rey langsung meraih rambut panjang Alisa, mencengkram kepalanya dengan sangat kuat.
"Ahhh..." Alisa meringis kesakitan, ia menggenggam tangan Rey yang saat itu masih menempel di kepalanya. "Sebenarnya apa salahku? kenapa kau sangat keterlaluan."
"Tuan,"
Kris ajudan pribadi Rey membungkukkan badannya, "Aku mendapatkan informasi jika orang itu sudah keluar dari penjara."
Tanpa mengalihkan pandangannya, Rey terus menguatkan cengkeramannya di kepala Alisa, kemudian menjawab. "Pastikan jika dia tidak akan mendapatkan pekerjaan di perusahaan manapun, blacklist orang itu dari rekanan perusahaan ku."
"Baik, Tuan."
***
Delapan tahun sebelumnya...
Alisa berjalan sambil menikmati udara segar, mentari di pagi hari terlihat cukup bersahabat. kicauan burung mengiringi langkah kaki Alisa yang saat itu mulai memasuki gerbang sekolah barunya.
Seorang pemuda dengan cepat mengambil satu persatu buku pelajarannya yang tergeletak di tanah. Wajah pria itu di penuhi dengan tinta hitam.
"Ini..."
Pria itu melirik ke sumber suara, ia mengangkat kepalanya dan melihat seorang gadis cantik berdiri menyodorkan tisu basah kepadanya.
Deg...
__ADS_1
Pria itu adalah Rey Lawrence, Ia lebih di kenal dengan panggilan si cul*un ketimbang nama aslinya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Alisa menatapnya.
Sungguh, Rey sama sekali tidak bisa mengalihkan bola matanya untuk tidak memandang Alisa. Pertama kali dalam hidupnya, Rey di hampir oleh seorang gadis. Tidak hanya itu, penampilan Alisa bena-benar menyihir Rey dan seisi pria di sekolah.
"Hallo... Apa kau mendengar ku?" tanya Alisa sambil mengibaskan tangannya di hadapan wajah Rey.
"Sayang..."
Alisa mengalihkan bola matanya, Ia berpaling wajah menatap Ken kekasihnya.
"Kenapa kau bersama si cu*lun ini?" Ken menggeser tubuh Rey dengan bahu kekarnya hingga Rey jatuh tersungkur, "Apa dia mengganggumu?"
"Tidak, Dia tidak menggangguku," sahut Alisa menyaksikan Rey yang saat itu terjatuh di hadapannya.
"Abaikan saja dia, Pemuda ini gila, dia sedang mengganggu para gadis dan memfoto cela*na dalamnya."
"Hah?" Alisa tercengang, "A... apa itu benar?" tanyanya memastikan.
"Kau bisa bertanya pada teman-temanku," ucap Ken tersenyum licik menatap Rey.
"Ya itu benar, Pria ini sangat berbahaya."
"Tidak hanya ****** *****, ia sering mene*puk boko*ng para gadis."
Alisa semakin tak menyangka setelah mendengar hal itu dari beberapa kawan-kawan Ken. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin pria sepolos Rey dapat melakukan hal seperti yang Ken dan orang lain katakan.
Dengan wajah ketakutannya, Rey langsung bergegas pergi. Ia bahkan meninggalkan ranselnya di sana.
Berikan dukungan sebanyak-banyaknya untuk membangun semangat Author. Jangan lupa like dan komen agar Author rajin update...
__ADS_1