Dendam Asmara

Dendam Asmara
Episode 5


__ADS_3

"Lihat saja," Alisa berlari dari suatu arah menelusuri lorong sekolah. Siapa lagi yang Ia cari jika bukan kekasihnya? Alisa tahu tindakan prianya tersebut sudah sangat keterlaluan. Tidak hanya pada Rey, Alisa juga pernah memergoki Ken sedang mengganggu para gadis dengan teman sebayanya.


"Ken!" Alisa berteriak, wajahnya memanas saat Ia dengan jelas memergoki Ken sedang mer*aba tubuh seorang wanita di sudut ruangan.


"Sia*l!" Ken menghentikan aksinya, tentu dirinya sangat kesal. Bukan karena Ia tertangkap basah, Tapi saat Ken kini harus menunda hasra*tnya.


"Kau, Apa yang Kau lakukan disini?" tanya Alisa marah. Parahnya, Alisa juga melihat noda bercak di celana si Pria.


"Sayang, Maafkan Aku. ******* itulah yang lebih dulu menggodaku." ujar Ken beralasan.


Haruskah Alisa percaya? Bagaimana pun juga Ken adalah seorang laki-laki biasa. Dilihat dari wanitanya, Alisa memang sudah tahu jika gadis yang baru saja berlalu pergi dari hadapannya adalah kupu-kupu sekolah. Mona, Ia memang sering menjajakan tubu*hnya melalui sebuah aplikasi kencan, yang sudah buruk imagenya.


"Ayolah, Aku tahu aku salah, anggap saja ini adalah hukuman karna kau sering menolak ku untuk berhubungan." tukas Rey lembut penuh kehati-hatian.


Plak...


Alisa geram, bukan kali pertama Ken membuatnya kecewa di atas sebuah kesalahan. Lalu bagaimana? Alisa tak bisa mengontrol perasaannya. Berulang kali di kecewakan, Ia selalu saja memaafkan. Alasannya karna tak lain jika Ken adalah seorang pria keren dan paling populer. Tidak hanya itu, dalam sekejap nama Alisa pun langsung melejit pesat, dengan dukungan wajahnya yang menawan membuat para siswa dan siswi di sekolah menilai jika Ken dan Alisa adalah pasangan yang sempurna.


"Kau keterlaluan, Ken!" Alisa memekik, urat di rahangnya sampai terlihat jelas. Giginya mengerat, tangannya mengepal kasar, emosinya begitu memuncak.


Di tempat lain, Rey melebarkan senyumnya pada setiap orang yang berlalu di hadapannya. Penampilan Rey terlihat berbeda meskipun masih terlihat kuno dan norak. Ia membawa beberapa tangkai bunga mawar dengan balutan plastik transparan dihiasi pita biru yang menawan.


Rey cukup menarik perhatian, tak sedikit para siswa menatapnya dengan sorot aneh dan geli. Mereka juga saling berbisik melempar kata-kata gunjingan.


"Astaga, si cul*un berulah lagi."


"Apa yang akan ia lakukan kali ini?"

__ADS_1


"Tidak waras, bukankah itu sangat kampungan."


Dengan wajah penuh air mata, Alisa terus berjalan cepat menuju ruang kelasnya. Berulang kali Ia terus mencoba untuk menyeka air matanya yang terus saja keluar.


"Itu Alisa," Perasaan Rey membuncah. Ekspresi wajahnya semakin berbinar kala melihat sesosok pujaan hati sedang berjalan kearah berlawan.


"Sayang, tunggu..." Ken berteriak sambil mengekor di belakang Alisa, ia terus berusaha membujuk sang gadis agar memberinya kesempatan seperti sebelumnya.


"Tidak! lepaskan aku!" Alisa menepis tanpa menghentikan tangisannya.


Bukankah ini waktu yang bagus? Rey mampu membaca situasi di hadapannya. terlihat Ken dan Alisa memang tampak jelas sedang bertengkar, membuat Rey berpikir mungkin ini adalah kesempatan emas yang dapat menguntungkanny.


"Ha... hay, Alisa." Rey berdiri tegak di hadapan Ken dan Alisa, sorot mata keduanya pun kini menatap ke satu objek yang sama.


Benar saja, para siswa dan siswi yang melihat langsung menertawakan mereka. tak sedikit dari murid-murid tersebut bersorak geli seolah mengejek kekunoannya.


"Astaga, Apa yang sedang kau lakukan?" cicit Alisa menahan malu.


"A... Alisa, Ma... maukah kau menjadi... menjadi pacarku?"


Deg...


Alisa tertegun, Bukannya terkesan Ia justru semakin merasa di permalukan.


"Kurang ngajar!" Ken marah, "Bruak..." Pria itu langsung menghantamkan sebuah kepalan tangannya ke wajah bagian kanan Rey.


"Ken!" Alisa terkesiap, Ia langsung membelalak.

__ADS_1


"Kenapa? Apa ini alasanmu tidak ingin mendengar penjelasanku?" Ken begitu geram, tak hanya Alisa yang merasa di permalukan. Ken juga merasakan hal demikian, bersaing dengan pria cul*un Ia anggap sebagai penghinaan.


"Tidak!" Alisa menentangnya spontan, "Kau bercanda aku akan menyukai pria sepertinya?"


Dengan nafas yang berat, Rey berkaca-kaca. Ia terus menyentuh wajahnya yang terasa begitu sakit. "Me... memangnya apa yang salah denganku?" Rey memelas, "Apa aku salah jika tertarik padamu?"


"Beraninya kau!" Dug... Ken menendang dada Rey hingga tubuh pemuda itu terjatuh tak berdaya ke belakang membentur tembok dan lantai. "Nyalimu cukup besar, hingga kau ingin merebut Alisa dariku!"


"Ken, cukup!" Alisa mencoba menghentikan penyiksaan yang terus Ken lakukan.


"Aku akan berhenti jika kau memaafkan ku!" Bruak... Hantaman menyakitkan itu terus Ken hunjamkan ke tubuh Rey tanpa ampun.


"Rey dengar, Aku tidak mungkin menyukai mu, aku baik padamu, bukan berarti aku menginginkan mu. Dan satu lagi, aku hanya mencintai Rey. jadi tolong jauhi aku dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Lihat saja penampilanmu, sangat bertolak belakang dengan Ken. Kau sama sekali bukan typeku."


Deg... Rasa sakit yang Ken berikan akibat pukulan sungguh tak berarti. Penolakan Alisa dan kalimat-kalimat hinaannya sungguh membuat Rey merasa ingin mengakhiri hidupnya saat itu juga.


"Ini," Ken memberikan sebotol air mineral pada Alisa.


"Apa?" tanya wanita itu bingung.


"Siram dia dengan ini jika kau benar-benar menolaknya."


Haruskah hal itu Alisa lakukan? Gadis itu berpikir sejenak sambil menatap dua bola mata Ken yang menantang.


"Baik!" Alisa merebutnya, Ia langsung membuka tutup botol tersebut dan menyiram sekujur tubuh Rey untuk memenuhi apa yang Ken inginkan.


Tak pernah terbayangkan oleh Rey, jika Hal ini akan terjadi padanya. seorang gadis yang Rey anggap baik dan berbeda ternyata sama saja. Alisa kini justru telah menjadi bagian dari perundangnya. Mereka semua tertawa melihat Rey sangat terhina. Bunga mawar yang Rey khusus siapkan kini Ken hujankan ke tubuh pria malang itu, seperti layaknya seorang sedang menaburkan bunga dan air di pemakaman.

__ADS_1


"Semoga kau masuk neraka, Cul*un!" cela Ken memiringkan senyum liciknya.


TINGGALKAN KOMENTAR DAN LIKENYA UNTUK MEMBANGUN SEMANGAT AUTHOR.


__ADS_2