
"Ya ampun kamu masih di sini, kita sudah hampir seumuran. saya juga sangat senang bertemu dengan kalian semua."
Ajarin kebingungan, gugup, takut.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan, Mamah nya Tuan tidak boleh tau aku istri simpanan Tuan Bagas." batin Ajarin.
Dia menoleh ke arah Bagas yang juga hanya diam saja, bisa di rasakan oleh Ajarin kalau sebenarnya dia juga takut kalau sampai kelakuan nya di ketahui oleh mamah nya.
Untung saja sebelum sampai dia sudah meminta Farel untuk berbicara kepada semua orang agar pernikahan siri nya di sembunyikan.
Mamah Bagas mendekati Ajarin.
"Kamu seperti nya baru di sini, siapa nama kamu?" tanya Mamah Bagas."
"Nama saya Ajarin Bu."
"Kamu masih sangat muda, umur berapa?"
"Saya 20 tahun Bu."
"Oohh."
"Mari masuk Bu, saya akan membawa ibu jalan-jalan melihat rumah ini." ajak Bibik Siti.
"Tuan kenapa tuan tidak ngomong kalau orang tua tuan akan datang ke sini?"
Bagas menoleh ke arah Ajarin yang ternyata mengikuti nya ke dalam kamar.
"Saya tidak ingin membahas apapun sekarang. Sebisa mungkin jangan sampai mamah saya tau kamu istri saya."
Ajarin menghela nafas panjang.
"Lalu saya harus bagaimana Tuan?"
Ajarin terlihat sangat bingung sekali.
"Apa kamu bisa membuat kan saya Susu hangat?"
Ajarin melihat wajah Bagas tidak seperti biasanya dia tidak berani bertanya banyak dan langsung membuat Susu hangat.
Ajarin kembali membawa susu ke kamar.
"Kalau Tuan lagi lelah kenapa memaksa kan nyetir sendiri ke sini?" tanya Ajarin.
Bagas menatap wajah Ajarin.
"Kalau begitu Tuan istirahat saja, saya akan keluar."
Namun tiba-tiba Bagas menahan tangan Ajarin.
"Kenapa kamu terlihat lebih kurus?" tanya Bagas karena kemarin badan Ajarin sudah mulai berisi.
Ajarin langsung terdiam.
"Humm.."
"Akhir-akhir ini saya kurang berselera Makan Tuan."
Bagas menghela nafas.
"Kemana adik kamu?"
"Di masih di sekolah Tuan."
"Tuan," panggil Ajarin.
"Ada apa?"
"Saya sangat berterimakasih kepada Tuan karena membawa Akbar ke sini dan menyiapkan sekolah untuk nya."
"Seandainya kamu tau saya melakukan itu karena saya ingin kamu tetap di sini bersama saya, rasa kesal, lelah saya hilang begitu saja ketika sudah melihat kamu," batin Bagas.
"Berterimakasih saja tidak cukup, tidak ada yang gratis di dunia ini."
Seketika Ajarin langsung kaget.
__ADS_1
"Apa tuan mau melakukan hal seperti itu dalam keadaan lelah dan orang tua tuan di sini?"
"Kamu selalu berfikir kotor,. bukan itu yang saya maksud."
Ajarin menggaruk kepala nya.
Bagas tersenyum melihat wajah kebingungan dan malu Ajarin.
"Saya ingin kamu memijit-mijit badan saya."
Ajarin tidak menolak dia langsung menginyakan dan mulai memijit kaki Bagas.
"Ibu mau makan siang dengan apa?" tanya pelayan.
"Siapa yang biasa nya masak di sini?"
"Biasanya Ajarin Bu karena Pak Bagas sangat suka masakan Ajarin.
"Anak itu bisa masak?"
"Bisa Bu, dan Masakan nya sangat enak, bahkan Tuan Bagas yang sangat jarang makan di rumah, dia memilih balik ke sini hanya untuk makan masakan Ajarin." ucap pelayan.
Tiba-tiba teman-teman nya mengingat kan agar tidak terlalu jujur takut orang tua Bagas curiga.
"Kalau begitu panggil dia, suruh dia masak untuk saya."
"Tapi seperti nya Ajarin masih bersama Tuan Bagas Bu."
"Bersama Bagas?"
"Iyah Bu, karena Ajarin adalah asisten pribadi Tuan Bagas."
"Huff Bagas benar-benar keterlaluan, bagaimana bisa dia menjadikan wanita yang sangat muda menjadi asisten pribadi nya."
"Tok!! Tok!! Tok!!"
Ketukan pintu kamar Bagas. Ibu Bagas masuk dan melihat Ajarin yang sedang memijit-mijit badan Bagas.
"Ibu." Ajarin langsung berdiri ketika melihat orang tua Bagas.
"Kamu ikut saya keluar."
Ajarin sangat takut.
"Iyah Bu, ada yang bisa saya bantu?"
"Hum saya dengar kamu sangat pintar masak bahkan anak saya sangat suka masakan kamu."
"Itu terlalu berlebihan Bu, saya hanya memasak seperti yang saya tau," ucap Ajarin.
Ibu nya tersenyum dia melihat wajah Ajarin.
"Ibu kenapa menatap saya seperti itu? Apa ada yang salah dengan wajah saya?"
"Wajah kamu seperti mirip seseorang."
"Wajah saya memang pasaran Bu."
Mereka sama-sama tersenyum ketika Ajarin mengatakan hal itu.
Setelah itu mereka ke dapur memasak untuk makan siang.
"Ibu istirahat saja," suruh Ajarin.
"Tapi saya sangat lapar,"
Ajarin tersenyum. "Baiklah Bu saya akan memasak dengan cepat.
Di sore hari nya Ajarin menunggu Akbar pulang dari sekolah.
"Kak Ajarin aku pulang."
Ajarin langsung memeluk nya.
"Bagaimana hari ini di sekolah?"
__ADS_1
"Sangat lelah Kak, tapi aku tetap harus belajar."
Ajarin tersenyum.
Tidak beberapa lama akhirnya Bagas datang ke depan.
"Humm Akbar kenalin ini Tuan Bagas."
Akbar Langsung menyalim tangan Bagas dan mengucapkan terimakasih.
"Oohh ini adik kamu?" tanya mamah nya Bagas.
Akbar dengan Sopan langsung memberikan salam kepada orang tua Bagas.
"Kamu sangat ganteng sekali," ucap Mamah nya Bagas kepada Akbar.
Bu Yani langsung membawa Akbar ke dalam. Bagas melihat betapa suka nya mamah nya kepada anak kecil.
Dan baru kali ini Bagas melihat mamah nya seceria itu dan sangat sehat.
Di malam hari nya...
"Tok!! Tok!!" ketukan pintu kamar Bibik.
Bibik membuka nya ternyata itu adalah Bagas.
"Tuan,"
"Di mana Ajarin?"
"Di dalam Tuan."
"Kenapa kamu tidur di sini?" tanya Bagas.
"Saya takut nanti Orang tua Tuan tau kita satu kamar."
Bagas menghela nafas panjang.
Bagas melihat ke arah Bibik yang melihat Bagas.
"Ada yang mau saya bicarakan." Bagas langsung keluar.
Ajarin mengikuti Bagas.
"Kenapa saya merasakan seperti nya Tuan Bagas memiliki rasa kepada non Ajarin yah? Bagaimana kalau itu benar? saya bingung harus bahagia atau bersedih." ucap Bibik.
"Ada apa Tuan?" tanya Ajarin setelah sampai di kamar.
Bagas menarik tangan Ajarin dan membaringkannya di tempat tidur.
"Tuan sebaik nya kita istirahat saja."
"Saya menginginkan nya, apa kamu tidak bisa memberikan nya?"
Ajarin terdiam bingung harus menjawab apa.
"Sebaiknya Tuan menormalkan emosi Tuan, saya melihat Tuan dari tadi terlihat memikirkan sesuatu."
Bagas menghela nafas panjang dan duduk.
"Saya sudah berusaha melupakan nya, namun kenapa kamu mengingatkan nya?"
Bagas terlihat kesal.
"Maaf Tuan, saya tidak bermaksud,"
Ajarin merasa bersalah.
"Saya Bercerai dari istri saya."
"Kenapa bisa Tuan?"
"Tidak ada kecocokan lagi di antara kami, dia sudah memiliki pria lain dan dia juga sudah mengurus surat cerai kami."
"Maaf Tuan."
__ADS_1
"Kenapa kamu harus meminta maaf? Bukan kamu yang salah, ini salah saya karena saya tidak pernah mengerti dengan istri saya."