
"Saya Bercerai dari istri saya."
"Kenapa bisa Tuan?"
"Tidak ada kecocokan lagi di antara kami, dia sudah memiliki pria lain dan dia juga sudah mengurus surat cerai kami."
"Maaf Tuan."
"Kenapa kamu harus meminta maaf? Bukan kamu yang salah, ini salah saya karena saya tidak pernah mengerti dengan istri saya."
Bagas terlihat sangat pusing, Ajarin bingung harus bagaimana agar bisa membantu Bagas.
"Apa yang harus saya lakukan agar Tuan tidak sedih?"
Bagas menatap Ajarin.
Ajarin langsung paham dia langsung memberikan nya kepada Bagas melayaninya dengan baik.
Sampai akhir Bagas bisa tertidur dengan sangat nyenyak sekali.
Keesokan harinya..
"Ajarin kamu sedang apa?" tanya Bu Yani melihat Ajarin sangat lama di kamar mandi.
"Ajarin kamu baik-baik saja kan?"
Ajarin yang di dalam kamar hanya bisa berdiri di depan wastafel karena perut nya terasa sangat mual.
"Huff ada apa dengan ku, apa aku masuk angin?"
Ajarin keluar.
"Kamu kenapa?" tanya Bu Yani.
"Tidak apa-apa Bu, ayo kita lanjutkan lagi," ajak Ajarin karena mereka sedang memasak di dapur.
Sementara Bagas mengantarkan Akbar ke sekolah nya.
"Tuan apa saya harus membayar sekolah saya nanti?" tanya Akbar saat di dalam mobil.
"Jangan panggil Tuan, panggil Om saja."
"Baik Om."
"Kamu tidak perlu membayar nya dengan uang, kamu hanya perlu membayar nya dengan nilai yang bagus, perilaku yang baik."
Akbar mengangguk sambil tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu kamu masuk sana," suruh Bagas setelah sampai di sekolah.
Tidak beberapa lama Bagas kembali ke rumah dia melihat Mamah nya dan juga Ajarin beberapa hari ini benar-benar sangat kompak sekali.
Bagas bisa fokus dengan pekerjaan nya dan masalah nya karena melihat mamah nya di jaga dengan baik oleh Ajarin.
"Ajarin sini deh ibu ada sesuatu untuk kamu."
"Ada apa Bu?" Ajarin masuk ke kamar Bu Yani.
"Lihat lah baju-baju ini sudah sangat sempit di badan ibu, beberapa hari di sini badan ibu langsung gemuk. Ibu mau kamu ambil untuk kamu masih sangat cantik."
"Tidak perlu Bu."
"Ambil saja, kamu sangat cocok memakai pakaian seperti ini karena badan kamu bagus."
Ajarin tersenyum dia langsung mencoba nya dan ternyata sangat cocok.
"Nak Ajarin sudah punya pasangan?" tanya Bu Yani.
__ADS_1
Ajarin terdiam langsung ketika di tanya.
"Bagaimana aku harus menjawab nya?" batin Ajarin.
"Kamu pasti belum punya kan karena kamu setiap hari fokus mengurus Bagas, rumah dan juga adik kamu, di tambah lagi ibu yang datang ke sini membuat kamu kerepotan."
"Tidak sama sekali Bu, saya sangat senang karena setiap hari ada teman di ajak ngobrol dan memasak, masakan ibu sangat enak sekali pantesan saja Tuan Bagas selalu membanding-bandingkan masakan saya dengan ibu."
"Ibu minta maaf yah ."
"Kenapa minta maaf Bu?"
"Kamu anak yang baik namun Bagas selalu kasar sama kamu."
"Ibu tau dari mana?"
"Tadi pelayan bilang sama ibu, kalau kamu selalu di marahin oleh Bagas."
"Tidak seperti itu Bu, tuan marah karena saya melakukan kesalahan."
"Seandainya saya memiliki menantu yang sangat baik seperti kamu," batin Bu Yani.
Beberapa hari kemudian Bu Yani sudah sangat betah di sana dan memutuskan untuk tinggal di sana.
"Kamu tidak istirahat? Ini sudah malam." ucap Bu Yani kepada Bagas yang sedang bekerja di ruangan kerja nya.
"Eh mamah, mamah sendiri ngapain di sini? Kenapa tidak tidur?"
"Mamah belum ngantuk karena melihat anak mamah belum tidur."
Bagas tersenyum dia langsung menutup laptop nya.
"Baiklah mah aku akan tidur sekarang.
"Tunggu dulu mamah mau bicara sama kamu."
"Apa kamu sudah mengurus surat cerai kamu?"
Bagas menghela nafas panjang.
"Aku minta maaf mah, tapi aku tidak bisa memperjuangkan pernikahan ini, kami sudah resmi Bercerai."
Bu Yani sama sekali tidak memasang wajah sedih dia seperti memasang wajah bingung.
"Mamah mau menyampaikan sesuatu? Apa Mamah tidak Marah?"
"Kalau menurut kamu itu yang terbaik mamah bisa apa?"
"Apa ada yang mau Mamah sampaikan?"
"Mamah ingin tinggal di sini selamanya."
Bagas menghela nafas panjang.
"Aku sudah bercerai dari Cindy mah, aku juga sudah membeli rumah baru untuk mamah di kota."
"Tapi mamah ingin di sini, Mamah lebih suka di sini karena sangat ramai dan ada Akbar dan Ajarin."
"Tapi Mah."
"Pokoknya mamah mau di sini, kalau mamah kembali ke kota Ajarin dan Akbar harus ikut."
Bagas terdiam, dia tidak berfikir kalau mamah nya langsung dekat dengan istri nya itu.
"Baiklah mah."
Bagas tidak bisa menentang kata-kata mamah nya.
__ADS_1
Mamah nya tersenyum dan langsung keluar dari ruangan itu.
"Loh ini belum tidur? Kenapa belum tidur Bu, bagaimana kalau ibu sakit?" tanya Ajarin mau mengantar kan pesanan suami nya susu hangat.
"Justru kamu juga harus istirahat Ajarin, seperti nya badan kamu kurang sehat karena ibu melihat kamu sangat lemas beberapa hari ini."
"Hanya masuk angin saja Bu, sekarang ibu harus istirahat. Bukan kah besok Ibu mau jalan-jalan pagi di sekeliling tempat ini?"
"Huff kamu sangat pandai membujuk saya, kalau begitu saya akan tidur karena Akbar pasti sudah menunggu."
Ajarin tersenyum.
"Pantesan saja tuan Bagas keras kepala, Bu Yani memiliki sifat yang unik."
"Kamu berani mengatai ibu mertua dan suami mu?" tiba-tiba Bagas membuat Ajarin kaget.
"Tidak Tuan, saya minta maaf."
Bagas mendekati Ajarin.
"Katakan apa yang sudah kamu berikan kepada saya dan ibu saya sehingga kami sangat perduli kepada mu dan bahkan saya sekarang menyukai kamu?"
Tiba-tiba Ajarin terdiam ketika Bagas mengatakan itu.
"Maksud tuan?"
"Tidak perlu berpura-pura seperti itu, kamu pasti sudah menyadari hal ini, saya juga tau kalau kamu sudah menyukai saya."
Bagas mengambil susu hangat nya.
"Wajah kamu sangat pucat, apa kamu sakit? Jangan sampai Ibu saya marah lagi karena kamu sakit."
Karena sebelumnya Bu Yani marah kepada nya karena sifat nya yang sangat kasar sebelum nya kepada Ajarin.
"Gak tau kenapa akhir-akhir ini badan saya sangat suka sakit tuan."
"Pergi lah istirahat."
Ajarin mengangguk.
Bagas melanjutkan bekerja namun dia tidak bisa fokus dan akhirnya menyusul Ajarin ke kamar.
"Untung saja Mamah tidur di lantai bawah dan tidak bisa naik ke atas." batin Bagas sebelum masuk ke dalam kamar.
Dia masuk dan melihat Ajarin mengoleskan minyak ke punggung nya.
"Apa mau saya bantu?"
Awal nya Ajarin menolak namun Bagas memaksa nya dan memijat nya dengan baik.
"Apa jawaban kamu?"
"Jawaban apa Tuan?"
"Hal yang saya katakan di ruangan kerja tadi."
"Saya sangat lelah tuan, saya mau istirahat.. Bisa kan malam ini kita tidak melakukan nya?" ..
Bagas menatap wajah Ajarin sambil tersenyum.
"Saya selalu menyiksa nya sampai seperti ini."
Bagas mencium kening Ajarin.
Namun tidak lupa dia mengelus perut Ajarin.
"Walaupun dia belum hamil, namun entah mengapa saya sangat senang sekali ketika bisa mengelus perutnya."
__ADS_1