
Bagas menatap wajah Ajarin sambil tersenyum.
"Saya selalu menyiksa nya sampai seperti ini."
Bagas mencium kening Ajarin.
Namun tidak lupa dia mengelus perut Ajarin.
"Walaupun dia belum hamil, namun entah mengapa saya sangat senang sekali ketika bisa mengelus perutnya."
Keesokan harinya Bu Yani memerhatikan Ajarin yang sangat teliti mempersiapkan barang-barang yang di butuhkan oleh Bagas untuk bekerja dan juga sarapan nya, belum lagi mengurus Akbar namun Ajarin sama sekali tidak mengeluh.
Dengan senyuman dia melakukan semua nya.
"Pantesan saja semua orang sangat menyukai Ajarin dia sangat baik sekali." batin Bu Yani.
"Iyah Bu, Biasanya perempuan di usia Ajarin pasti sibuk dengan diri sendiri namun Ajarin berbeda." ucap Bibik Siti.
Bagas dan Akbar sudah pergi. Ajarin bisa istirahat karena semua pekerjaan nya sudah selesai.
Baru saja mau duduk tiba-tiba perut nya mual.
"Ajarin ini untuk kamu." ucap Bu Yani memberikan kue.. Namun Ajarin langsung berlari ke kamar mandi.
"Ajarin kamu baik-baik saja kan?"
Ajarin menggeleng kan kepala nya.
Bu Yani sangat panik karena Ajarin muntah-muntah dan wajah nya pucat dan sekarang dia terkulai lemas.
Semua orang sangat panik dan membawa Ajarin ke kamar.
Bibik menemani Ajarin.
"Kenapa seperti nya Non Ajarin hamil yah? Dari kemarin saya sudah melihat keanehan pada nya."
"Bagaimana kalau benar-benar Ajarin hamil?" Bibik sangat panik sekali.
Tidak beberapa lama Bu Yani dan Dokter masuk.
Beberapa menit memeriksa Ajarin.
"Ada apa dengan tubuh saya Dok?"
"Gejala yang kamu rasakan seperti tanda-tanda hamil."
"Hamil?" Bu Yani kaget.
Ajarin juga sangat kaget.
Dokter memberikan alat tes kehamilan setelah di periksa ternyata benar Ajarin hamil.
"Sebaiknya langsung di periksa di rumah sakit melihat pertumbuhan janin nya."
Dokter memberikan obat dan setelah itu pergi.
"Ajarin!" tiba-tiba Bu Yani menatap Ajarin.
"Saya minta maaf Bu, saya bisa menjelaskan nya."
"Kamu mengandung anak siapa? Kenapa kamu membuat saya kecewa seperti ini? Saya yakin kamu perempuan baik-baik."
"Jujur siapa yang membuat kamu hamil? Apa itu pengawal, atau tukang kebun? Jangan bilang kalau itu supir?"
Ajarin diam sambil menunduk kan kepala nya.
"Saya pikir kamu perempuan yang baik Ajarin, ternyata saya salah, kamu wanita murahan!"
Ajarin hanya bisa diam.
__ADS_1
Setelah itu Bu Yani keluar dalam keadaan emosi.
Bibik masuk dan melihat Ajarin sudah menangis.
"Non yang sabar yah."
Bibik mencoba menenangkan Ajarin.
"Bik aku harus bagaimana bik?"
"Jangan terlalu memikirkan nya non, nanti terjadi sesuatu dengan janin non Ajarin."
"Bik saya mohon jangan sampai Tuan tau tentang ini."
Bibik mengangguk.
"Ini kabar bahagia untuk Tuan Bagas seharusnya, namun karena Bu Yani marah saya bingung harus berbuat apa," batin Bibik.
Di malam hari nya Bagas baru saja pulang dia melihat Suasana rumah sangat sepi.
"Mah aku pulang." Bagas melihat mamah nya di ruang tamu duduk sambil memasang wajah yang datar.
"Ada apa mah? kenapa mamah kelihatan marah?"
"Apa kamu tidak tau kalau Ajarin hamil? Mamah yakin dia pasti bermain dengan Pria yang kamu kerjakan di sini!" ucap Mamah nya.
Mendengar itu Bagas sangat kaget.
"Kenapa kamu diam saja? Mamah ingin kamu mencari pria yang sudah menghamili Ajarin? Mamah sudah percaya kalau Ajarin anak yang baik, namun kenapa dia menghianati kita seperti ini!"
"Mah.."
"Jangan mencoba membela nya! Mamah sangat kecewa kepada nya."
Bagas menghela nafas panjang.
"Bagaimana aku menjelaskan nya kepada mamah?"
"Tuan sudah pulang?" tanya Bibik yang sedang menemani Ajarin.
"Bagaimana keadaan Ajarin Bik?"
"Hanya sakit biasa Tuan, tuan tidak perlu khawatir."
"Bibik tidak perlu menutupi nya saya sudah tau kalau Ajarin hamil."
Bibik menghela nafas panjang.
"Bagaimana ini Tuan? bagaimana kalau Ibu tau kalau anak yang dikandung oleh non Ajarin anak Tuan?"
"Untuk sementara Bibik bantu saya untuk menutupi nya sampai keadaan Ajarin membaik."
Bibik mengangguk dan meninggalkan mereka.
"Ajarin.." Panggil Bagas duduk di pinggir kasur.
Ajarin membuka mata nya dia melihat Bagas dan langsung duduk.
"Kamu tidur saja."
"Tuan, Tuan pasti sudah tau kan?"
Bagas tersenyum dia tidak bisa menahan diri dia langsung mencium bibir Ajarin.
"Tuan."
"Terimakasih banyak Ajarin, Terimakasih." Bagas tidak bisa menutupi rasa bahagia nya dia langsung memeluk Ajarin.
Ajarin yang tadi nya sangat takut tiba-tiba takut nya hilang begitu saja.
__ADS_1
Sekarang dia merasa kan kehangatan Bagas, dan ketulusan nya.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan mamah, saya akan berbicara kepada dia."
"Jangan Tuan."
"Kalau begitu jangan terlalu stress agar anak kita sehat."
Mendengar itu Ajarin sangat tersentuh. Dia menatap wajah Bagas.
"Mulai hari ini jangan bekerja terlalu berat."
"Tuan..."
"Berhenti khawatir Ajarin!"
Ajarin menghela nafas panjang.
"Baiklah Tuan."
"Besok pagi kita akan ke rumah sakit."
Setelah itu Bagas kembali ke kamar nya.. Sampai di kamar dia menangis terharu.
"Aku akan menjadi seorang Ayah? Aku tidak bermimpi kan?" tanya Bagas sambil duduk di lantai.
Dia tidak bisa menahan air mata nya dia benar-benar sangat bahagia sekali, kebahagiaan yang benar-benar dia tunggu.
Keesokan harinya..
Bu Yani tidak melihat Ajarin dia terlihat sangat kesepian dan mencari Ajarin mengkhawatirkan Ajarin namun dia tetap kecewa.
"Ibu mencari Ajarin?"
"Tidak, kenapa saya mencari wanita itu!"
"Ajarin pergi ke rumah sakit bersama Tuan memeriksa kandungan nya."
"Kenapa dengan Bagas?"
Mereka tidak bisa menjawab.
"Tuan kapan kita akan sampai kalau seperti ini?" tanya Ajarin karena sudah sangat bosan di dalam mobil yang sangat lambat sekali.
"Saya harus berhati-hati agar anak kita tidak kenapa-napa."
Ajarin menghela nafas panjang.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah Sakit dan langsung di periksa.
Setelah di periksa ternyata sudah tiga Minggu.
"Saya minta maaf Tuan, saya tidak tau kalau saya hamil." ucap Ajarin mengejar Bagas ke dalam mobil, dia kesal karena sudah tiga Minggu lebih namun Ajarin tidak jujur.
"Berhenti panggil saya Tuan karena saya suami kamu, Ayah dari anak yang kamu kandung."
"Apa yang harus saya panggil?"
"Panggilan yang layak untuk suami istri."
"Panggilan ini sudah sangat nyaman."
"Kalau begitu saya akan lanjut marah."
"Baiklah tuan, saya akan memikirkan nya."
Tidak beberapa lama sampai di rumah
Bu Yani ternyata sudah menunggu. Melihat Bu Yani Ajarin terlihat sangat takut.
__ADS_1
"Apa maksud nya ini?" tanya Bu Yani sambil menunjuk kan satu surat.
Ajarin dan Bagas sangat kaget kenapa surat nikah sirih mereka ada di tangan ibu nya.