
Di rumah Miranti, Damar tidak mengerti kenapa Ibunya mengusir Hana. Damar berfikir, seharusnya Miranti memeriksa CCTV lebih dulu untuk memastikan.
"Jadi dia udah nggak ada di sini, Mar." tanya Gavin yang sedang bermain ps dengan Damar.
"Iya, kenapa lo kangen?" tanya Damar.
"Enggak, baguslah kalau dia udah nggak di sini, ngeri gue."
"Dasar, parno lu," kata Damar seraya melempar bantal yang di peluknya pada Gavin.
"Apaan sih, kan gue jadi kalah, isssh," gerutu Gavin.
"Hahaa, bodo," timpal Damar.
__________________
Di kamar Hana, ia sedang duduk bersama dengan wanita yang dianggapnya menyeramkan.
"Bu, kenapa Ibu mencari saya? Kita udah nggak ada urusan," kata Hana menatap wanita yang mengenakan dress panjang di depannya.
Bukannya menjawab, tetapi wanita itu bertanya balik.
"Kamu kenal sama Gading?"
"Enggak, saya nggak kenal sama anak Ibu," jawab Hana jujur.
"Baguslah, saya mau ajak kamu kerja sama bagaimana?" kata Wanita itu.
"Oia, perkenalkan nama saya Belina," ucapnya Seraya tersenyum, ia mengulurkan tangannya.
Hana tidak menerima uluran tangan wanita itu, membuatnya kembali melipat tangannya.
"Kerjasama bagaimana?" tanya Hana menatap manik mata wanita itu.
"Jadi begini, dendam saya belum terbalaskan, saya mau kamu mau membantuku untuk menghabisi nyawa Gading, bagaimana? Nanti akan ku berikan imbalan yang cukup banyak," bujuknya seraya menggenggam tangan Hana.
"Saya bukan pembunuh, dan saya tidak akan mau berbuat jahat, kalau urusan dendam anda, saya tidak ikut campur urus saja urusan anda sendiri, sekarang pergilah jangan ganggu saya lagi, saya mohon sama Ibu," kata Hana seraya melepaskan tangannya dari Belina.
"Kamu tinggal meramal saja, saya yakin ramalan mu akan menjadi nyata," kata Belina berusaha meyakinkan Hana.
"Saya mau Ibu keluar dari sini!" kata Hana.
"Ibu macam apa dia, akan menghabisi anaknya sendiri," gumam Hana dalam hati.
"Ok, karena kamu menolak ajakan saya, itu sama saja mencari mati karena sudah terlanjur mengetahui rencana saya," ucap Belina yang sekarang berdiri di depan Hana.
Ia mendorong Hana, mencekiknya di atas ranjang.
''Uhuk," batuk Hana yang tercekik.
Hana berusaha melepaskan tangan Belina dari lehernya. "Wanita iblis," lirih Hana.
__ADS_1
Lalu, Belina merasakan cakaran kucing di punggungnya.
"Aaaaau," teriak Belina seraya melepaskan cekikan di leher Hana.
"Kucing sialan!" gerutu Belina menatap Tomo yang berada di ranjang, ia berada di depan Hana untuk melindungi.
Belinda mengambil tas Hana untuk di lemparkan ke Tomo, lalu, Tomo loncat untuk mencakar wajah Belina yang licin karena saking glowingnya.
"Aaaaaakh," pekik Belina.
Akhirnya, Belina keluar dari kamar Hana membuat Hana merasa lega.
Hana memeluk Tomo, berterimakasih padanya.
"Tomo, terimakasih kamu udah menyelamatkan ku," lirih Hana.
Lalu, Hana yang berfikir sudah aman itu ia bangun untuk menutup pintu, tetapi tidak lama kemudian, Hana mendengar suara ramai-ramai di luar pintu, ternyata Belina memanggil warga sekitar.
"Ini dia Bu Ibu, kamar si pemilik kucing yang menyerang saya, ini bisa berbahaya kalau kucingnya berkeliaran terus menyerang warga, apalagi kalau sampai menyerang anak-anak," ucap Belina mengompori warga.
"Wah, ini nggak bisa di biarkan ini," jawab Warga yang melihat bukti banyak cakaran di punggung dan wajah Belina.
"Keluar kamu!" seru seseorang seraya mengetuk pintu kamar Hana.
"Bagaimana ini Tomo," tanya Hana.
Lalu, Hana mengemasi barangnya, memasukkannya ke tas ia menggendong tas, tidak lupa membopong Tomo, kemudian keluar menerobos kerumunan warga.
Belina tersenyum melihat Hana terlunta malam-malam seperti ini.
Hana berjalan kaki dengan menangis, menundukkan kepala, sesekali mengusap air matanya menggunakan ujung lengan kaosnya.
"Hiks... hiks... hiks, kenapa seperti ini Tomo, apakah aku tidak berhak bahagia, kenapa semua orang berbuat jahat padaku," lirih Hana dengan terus berjalan.
"Tin," terdengar suara klakson motor yang kemudian berhenti di samping Hana.
"Kamu, mau kemana? Nggak betah di kos saya?" tanya si pengendara motor itu yang tak lain adalah Gading.
"Mas Gading, maaf bukannya saya nggak betah, tapi saya nggak bisa tinggal di sana," kata Hana yang kemudian berlari meninggalkan Gading.
Gading mengejarnya, mengendarai motor menyeimbangi langkah kaki Hana.
"Sudah malam begini, sebaiknya kamu pulang ke rumah saya saja dulu, besok baru lanjutkan perjalanan," kata Gading.
"Maaf, nggak bisa, Mas. Saya harus pergi tolong jangan ikuti saya lagi," kata Hana yang kemudian berlari, lalu Hana melambaikan tangan pada angkot.
Ia masuk kedalam, pikirnya ia harus pergi lebih dulu dari keluarga itu.
"Duh, mau kemana ini," ucap Hana.
Lalu, Hana melihat ada rumah di kontrakan, rumah itu di tepi jalan.
__ADS_1
"Hah, buat apalah aku punya uang banyak kalau hidup terlunta, sebaiknya ku gunakan uang ini untuk mencari tempat tinggal yang nyaman, dan rumah aku rasa itu pilihan tepat," gumam Hana.
"Kiri, Pak!" seru Hana, ia membayar angkot itu dengan uang pas, lima ribu rupiah.
Ia segera mendekati rumah tersebut, menelepon nomor yang tertera, tidak lama kemudian, seorang pria paruh baya, menghampirinya, ia mengatakan kalau dia adalah si pemilik rumah.
"Saya mau menyewa rumah ini, Pak," kata Hana seraya menunjuk rumah yang sederhana itu.
"Berapa perbulan, Pak?" tanya Hana.
"Rumah ini di kontrakan pertahun, Dik," jawab pria itu.
"Pertahun ya, berapa untuk satu tahunnya, Pak?"
"Tiga puluh lima juta," kata pria itu.
"Nggak bisa kurang, Pak, nego lah," kata Hana mecoba menawar.
Sedangkan pria paruh baya itu memperhatikan bocah yang berada di depannya, ia ragu kalau Hana memiliki uang.
"Benar ini serius mau ngontrak? Memangnya di mana orang tua kamu?" tanyanya.
"Saya yatim piatu, Pak, tidak memiliki keluarga, tadinya saya sudah mendapatkan kos, tetapi ada alasan yang membuat saya harus pindah," jelas Hana.
Mendengar kata 'yatim piatu' membuat pria paruh baya itu merasa sedikit kasihan.
"Ya sudah, untuk kamu, saya kasih harga 28 juta satu tahun ya, di sini juga kamu bisa buka usaha," kata pria itu.
Kemudian Hana meminta untuk melihat kondisi rumah tersebut lebih dulu.
Dengan senang hati, pria itu membukakan pagar rumah dan mempersilahkan Hana masuk mengecek kondisi rumah tersebut.
Dan Hana menyukai rumah itu yang terdiri dari dua kamar beserta kamar mandi didalamnya, ada juga kamar mandi yang berada di dekat dapur untuk memudahkan tamu mencari kamar kalau ingin buang air, ada ruang tamu, ruang tengah, halaman belakang dengan sedikit tanaman.
Hana menyukai rumah itu, begitu juga dengan Tomo, ia langsung loncat dari gendongan Hana, ia berlari menjelajahi rumah tersebut.
"Tapi begini, Dik, pembayaran harus lunas di awal," kata pria paruh baya itu yang tak menyangka kalau Hana memiliki banyak uang.
"Baik, Pak. Saya siapkan dulu," kata Hana seraya membuka tas gendongnya, ia mengambil uang satu gepok yang masih utuh, Hana menghitungnya lalu mengambil lagi uang dari tasnya karena masih kurang.
"Ini, Pak. Saya bayar lunas, saya tidak mau di usir sebelum kontrak saya habis, apapun itu alasannya, dan kalau memang saya berbuat salah, saya mau uang saya di kembalikan," kata Hana seraya memberikan uang tersebut.
"Baiklah, Dik, lagi pula saya tidak pernah mengusir orang, yang dulu tinggal di sini dia pulang kampung makanya rumah ini jadi kosong, padahal dulu yang tinggal di sini cukup lama, sekitar delapan tahun," kata pria paruh baya itu, sedikit bercerita.
"Kalau begitu, selamat istirahat, Dik, saya pamit," kata pria itu yang kemudian meninggalkan Hana.
Bersambung.
Mampir? jangan lupa like dan klik fav nya ya kak.
Sampai jumpa di episode selanjutnya 🤗
__ADS_1