DI CINTAI JIN TAMPAN

DI CINTAI JIN TAMPAN
Episode lima belas (mencari Hana)


__ADS_3

Biasakan untuk like setelah baca ya kak, dukungan dari kalian sangat berarti buatku.


Happy Reading!


____________


Hana baru saja masuk pagar rumahnya, ia baru kembali dari kursus, terlihat ia membawa beberapa barang belanjaan, seperti panci kecil, ada gelas dan piring plastik, juga mie instan beserta telur. Sekarang, Hana sedang menutup pagar dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya yaitu Damar, Hana melihat ia yang bolak-balik seperti mencari alamat.


Lalu Hana memanggilnya, "Damar!" seru Hana, "cari siapa?" lanjutnya.


Dan yang dipanggil pun menoleh, ia berjalan ke rumah Hana.


"Gue cari lo, kata Gavin kemarin dia liat lo di sekitar sini," jawab Damar seraya berlari kecil ke arah Hana.


"Ada perlu apa?" tanya Hana seraya membuka pagar.


"Kenapa lo pindah? Tumben sendirian kucing lo mana?" tanyanya.


"Loh kok kamu nanya, harusnya kamu lebih tau kenapa aku pindah, kan kamar aku buat sepupu kamu."


"Sepupu?" tanya Damar heran.


"Iya, kata Bu Miranti buat keponakannya kan berarti sepupu kamu," tutur Hana.


"Lah ngapain, aneh, di rumah kan banyak kamar kosong," jawab Damar yang tak mengerti maksud Ibunya.


"Aku juga nggak tau, mungkin Ibu kamu nggak suka sama aku, iya udah, maaf ya Damar aku nggak ngajak kamu masuk, aku capek banget pengen istirahat," kata Hana seraya menutup pintu pagar rumahnya.


"Iya udah, maaf ya Hana."


"Maaf buat apa, kan kamu nggak salah," jawab Hana yang kemudian meninggalkan Damar yang masih berdiri di pintu.


"Dingin banget sih lo, Hana," gumam Damar, "tapi lo cukup menarik," lanjutnya.


Setelah itu, Damar pergi meninggalkan rumah Hana, ia pulang ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, Damar melihat Miranti sedang menyiram tanamannya di teras.


"Mah," seru damar yang baru saja masuk gerbang.


"Assalamu'alaikum," kata Miranti, "bukannya salam dulu," lanjutnya, ia kembali melanjutkan aktivitasnya.


"Iya, Waalaikumsalam, Mah, kenapa Hana di usir?" tanya Damar yang sudah tak sabar ingin bertanya.


"Tau dari mana kalau Mamah ngusir dia," jawabnya terdengar cuek, ia masih terus menyiram tanaman hias nya.


"Kan Mamah yang bilang mau ada sepupu Damar, tapi mana, nggak ada satupun sepupu Damar yang datang, itu namanya ngusir, Mah," ucap Damar seraya melepas sepatunya. Lalu Damar duduk di kursi yang berada di teras, memperhatikan Miranti seraya menunggu jawaban.

__ADS_1


"Kamu masih kecil nggak boleh tau urusan orang dewasa," jawabnya.


"Damar udah gede, Mah, nih bentar lagi lulus, terus kuliah," jawabnya.


"Jadi bener kamu pengen tau?" tanya Miranti seraya menutup keran dan menggulung selang, setelah itu ia ikut duduk di kursi sebelah Damar.


"Sepertinya Hana bukan gadis baik-baik," jawab Miranti seraya menatap wajah Damar.


"Pasti nih Mamah udah kemakan gosip, udah cari buktinya belum?"


"Buat apa, kan udah ada yang melapor sama Mamah, Mamah lebih percaya sama dia dari pada Hana yang baru sehari kita kenal," jawab Miranti seraya telunjuknya menunjuk kamar Vie.


"Hhmmm, tapi kan Mamah bisa cek lewat CCTV, Mah," jawab Damar yang kemudian masuk ke rumah, ia berjalan menaiki tangga, lalu masuk ke kamarnya, ia menjatuhkan badan di atas ranjang empuk, seraya memejamkan mata, dan terlihat bayangan wajah Hana di matanya.


"Cantik," gumam Damar seraya tersenyum, ia memuji wajah cantik Hana yang memiliki gigi gingsul, berwajah oval, dan mata yang tidak sipit atau bulat.


Bila tersenyum terlihat jelas lesung pipi Hana.


_________________


Di rumah Hana, ia sedang menikmati mie instan yang baru saja ia masak.


"Eeemmm, emang paling enak tuh makan mie," gumam Hana yang duduk lesehan di dapur.


Lalu, datang Tomo yang langsung duduk di pangkuan Hana.


"Aku ada urusan Hana, di tempat lain," jawab Tomo dalam Hati.


Tomo mulai menjilati area bibir Hana yang terkena kuah mie membuat Hana merasa geli. Hana tertawa mendapati kucingnya ternyata sangat manja.


"Astaga, Tomo. Kamu mau mie juga?" tanya Hana, ia kemudian mengambilkan beberapa sendok kuah mie untuk Tomo, ia menempatkannya di piring plastik.


"Dasar, kamu itu kucing apa sih, kayanya semua makanan kamu doyan yah," kata Hana seraya mengusap pucuk kepala Tomo.


Selesai dengan itu, Hana mencuci perabotan yang kotor, setelahnya ia mengajak Tomo bermain di kamar, Hana juga mengambil gambar bersama dengan Tomo di ponselnya, lalu Hana memposting di salah satu akun sosmednya.


"Sekarang, saya akan hidup bahagia bersama dengan Tomo, dan terimakasih untuk Paman yang sudah menipuku, membuat aku menjadi mandiri dan sekuat ini," caption Hana, ia tersenyum getir mengingat masa lalunya sebelum berada di kota jakarta.


Ia kembali menangis untuk sesaat, lalu ia memeluk Tomo membawanya ke dalam dekapan.


Waktu berlalu, dan terasa sangat cepat bagi Hana, tetapi tidak bagi Gading.


Di rumahnya, ia yang masih berduka, setelah beberapa bulan lalu ditinggalkan oleh Ibunda tercintanya, dan sekarang dalam waktu yang berdekatan ia kehilangan adik dan Ibu sambung yang ia anggap baik.


Sekarang, Gading sedang duduk di balkon kamarnya, ia menatap bintang-bintang berkelip di langit.


Ia menganggap tiga bintang yang ada di atas sana adalah mereka yang sedang ia fikirkan.

__ADS_1


Lalu, pandangan Gading mengarah ke pagar rumahnya setelah mendengar suara gesekan antara kunci dan pagar, Gading melihat Eyangnya berusaha keluar dari rumah.


"Eyang," lirih Gading, kemudian ia bangun dari duduknya, turun ke lantai bawah untuk menemui Eyangnya.


"Eyang, mau kemana?" tanya Gading seraya menuntun Eyangnya masuk ke rumah.


"Eyang mau cari Celine, kasian Celine kedinginan di luar,"jawab Eyang seraya berusaha membuka gembok yang terkunci itu.


" Untung pintunya udah di gembok, kalau enggak bisa-bisa Eyang udah kabur lagi," gumam Gading seraya menuntun Eyangnya.


Gading juga berpesan pada dua satpam yang sedang berjaga, untuk selalu menggembok pintu. Dan dua satpam itu mengangguk seraya menjawab, "Siap!" dengan tegas.


Gading menenangkan Eyangnya dengan telaten, sementara itu, ternyata Wicaksono memperhatikan Gading yang begitu sangat sabar dan penyayang. Setelah itu Wicaksono kembali masuk kamarnya.


Kebetulan, kamar Wicaksono tidak tertutup rapat membuat Gading yang baru saja mengantar Eyangnya ia dapat melihat Wicaksono yang sedang duduk termangu.


Gading masuk ke kamar, "Yah," lirih Gading seraya mendekatinya.


"Pergilah, Ayah sedang tidak ingin diganggu!" jawab Wicaksono tanpa melihat ke arahnya.


"Jangan begadang, jaga kesehatan Ayah!" kata Gading yang kemudian keluar dari kamar, ia menutup rapat pintu kamar itu.


Dan Gading kembali ke kamarnya.


____________________


Di rumah Damar, ia kedatangan tamu yaitu sahabat karibnya, Gavin.


"Mar, tadi pulang sekolah lo kemana gue cariin juga," kata Gavin seraya membaca komik di atas ranjang.


"Nyari Hana," jawabnya singkat.


Mendengar itu, Gavin melempar komik yang berada di tangannya mengenai punggung Damar yang sedang mengerjakan tugas di meja belajar.


"Aduuh," pekik Damar, ia membalas Gavin dengan melakukan hal yang sama, dan Gavin menangkis buku yang Damar lempar.


"Nggak bisa di biarin ini, nggak boleh tidur nih anak, gue takut dia kenapa-napa," batin Gavin.


Lalu, Gavin pamit untuk keluar.


"Gue pergi dulu sebentar," katanya.


Tidak lama Gavin kembali masuk kamar Damar dengan membawa beberapa kopi siap minum.


Damar menggelengkan kepala melihat itu. "Jadi, lo mau begadang lagi?" tanya Damar.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2