
Gavin tak menghiraukan ucapan Damar, ia tetap pergi meninggalkan teman-temannya.
"Gimana ini, masa tim kita kurang satu," tanya Dion pada Damar.
"Gimana, gue nggak nyangka kalau Gavin bakalan kabur," jawab Damar seraya memakai sepatu.
"Damar, maafin aku ya. Gara-gara aku Gavin jadi pergi," lirih Hana.
Lalu Damar menarik lengan Hana, menyuruhnya untuk duduk di bangku panjang yang sama dengannya.
"Nggak papa, emang Gavin aja parno," jawab Damar. Ia melihat kucing Hana yang menatapnya tanpa berkedip.
"Ini kucing nggak bisa apa ya, senyum dikit gitu," gumam Damar dalam hati.
"Semangatin gue ya, biar tanding malam ini menang," kata Damar, ia tersenyum manis pada Hana.
Sedangkan Hana, ia tak memiliki rasa tertarik pada Damar, karena di hatinya sudah memiliki T, dan Hana tidak membutuhkan pria lain manapun. Hana tersenyum tipis, dan hanya Hana yang mengetahui arti senyumnya itu.
Lalu, Damar mengusap pucuk kepala Hana membuat Tomo semakin cemburu.
Setelah itu, Damar mendekati Dion yang sedang menelepon salah satu temannya untuk datang.
"Bentar lagi dateng, awas aja besok Gavin gue pites dia," kata Dion seraya menyimpan ponsel ke tasnya.
Seraya menunggu, semua tim melakukan pemanasan. Dan tim lawan menanyakan, "harus nunggu berapa lama lagi, ntar keburu waktu habis buat nunggu, jam sewanya nambah, udah ngantri, habis kita ada lagi yang mau main."
"Sabar, nggak sampai sepuluh menit," jawab Dion dan benar saja teman yang di hubungi datang.
Permainan pun dimulai.
Sedangkan Hana, dirinya merasa bosan, lalu datang Kia yang duduk tidak jauh dari Hana, ia ingin menonton Damar bermain futsal.
Awalnya, Kia belum menyadari kalau ada Hana di sebelahnya. Lalu, Hana yang bosan itu bermain dengan Tomo menggunakan daun kering yang gugur, dan dengan senang Tomo menghibur Hana, Tomo berusaha menangkap daun yang Hana goyang-goyangkan di depan hidungnya.
Tawa Hana mengundang perhatian Kia, ia memperhatikan gadis yang berada di sebelahnya.
"Kaya pernah liat, di mana ya?" gumam Kia dalam hati.
"Ah, iya. Diakan Hana yang tadi siang gue liat kontennya," kata Kia, kemudian ia bangun dan berjalan mendekati Hana.
"Lo Hana kan?"
Dan Hana pun melihat kearah sumber suara. "Iya, kamu siapa? Dari mana tau namaku?"
"Tau lah, kan lo dukun lotre yang kemaren sempat viral," jawab Kia, si gadis cantik berbadan mungil, keturunan Cina dan Sunda.
"Maaf, saya harus pergi," kata Hana yang kemudian membopong Tomo, ia berlari kecil meninggalkan lapangan futsal.
Sementara itu, Damar sempat melihat Hana yang berlari, ia ingin mengejar tapi tak bisa meninggalkan teman-temannya.
__ADS_1
"Duh, si Hana kenapa lagi," gumam Damar, ia tak fokus untuk bermain sehingga ia tak melihat ada bola yang mengarah ke arahnya mengenai senjata pusaka-nya.
"Aduh," pekik Damar mengundang tawa teman-temannya.
"Damar, kenapa cewek lo, pergi tuh," tanya Dion seraya menendang bola yang mendekat.
"Gue juga nggak tau," jawab Damar.
Lalu Damar mendengar suara teriakan dari Kia yang menyemangatinya.
"Hadeeh," dengus Damar.
Sementara itu, Gavin kembali masuk lapangan setelah kepergian Hana, karena sebenarnya, Gavin terus mengawasi Hana dan Damar dari luar lapangan, melihat kedatangan Gavin membuat Damar berfikir untuk meminta Gavin menggantikannya.
"Kemana lo?" tanya Gavin.
"Urusan," jawab Damar.
"Eh, jangan gara-gara cewek jadi nggak solid dong!" seru Gavin.
"Payah kalian, gimana mau menang ini," gerutu Andra salah satu teman Gavin dan Damar.
_____________
"Damar, lo mau kemana? Gue ikut!" seru Kia seraya mengejar Damar.
Damar yang tak menghiraukan Kia, ia terus berlari, sesampainya di luar lapangan dirinya sudah tidak melihat Hana.
Setelah itu, Damar kembali ke teman-temannya, ia beristirahat lebih dulu di bangku panjang.
"Nih minum buat lo," kata Kia seraya menyodorkan air mineral dalam botol.
"Ngga usah, gue bawa sendiri kok," kata Damar yang kemudian mengambil air minumnya sendiri.
Sementara itu, Hana sedang mengantri untuk membeli nasi goreng, satu porsi dibungkus, tidak pedas sesuai permintaan Hana nasi goreng pun sudah siap.
"Terimakasih," kata Hana seraya memberikan uang 15ribu rupiah.
Setelah itu, Hana berdiri di tepi jalan ia menunggu angkot, Hana pulang ke rumah.
"Ya Tuhan, bukannya aku udah hapus semua konten ku, ya. Apa mungkin pernah ada yang download terus di up sama orang itu," gumam Hana yang sudah berada di angkot.
"Sudahlah, yang penting aku jangan sampai ketemu sama dia lagi." Hana yang melamun sampai tak menyadari kalau rumahnya sudah terlewat.
"Eeeh..., Bang kiri, Bang." Hana yang berhasil membuat sopir angkot tersebut mengerem mendadak.
"Aduh, Mbak. Bikin kaget aja, lain kali jangan mendadak ya, bahaya," kata sopir tersebut.
"Iya, Bang. Maaf," kata Hana seraya memberikan ongkos.
__ADS_1
Lima menit Hana berjalan untuk sampai ke rumahnya, setelah sampai Hana segera menyantap nasi goreng tersebut, ia duduk lesehan di kamar seraya memainkan ponsel, dan benar saja ia melihat seseorang mengunggah konten miliknya yang sedang berpura-pura meditasi.
"Ya Tuhan, apa ini," kata Hana, ia merasa kesal tapi bisa apa, hanya bisa mematikan layar ponselnya.
Ia takut akan mengulangi hal yang sama saat ia tinggal di kos yang lama, akan dikucilkan oleh tetangga terdekat.
"Gimana cara hapus semua konten ini," gumam Hana seraya menggigit sendok.
Dan Tomo memperhatikan Hana, kemudian ia keluar dari kamar.
Ia mendatangi si pengunggah konten Hana untuk menghapus apa yang Hana khawatirkan.
________________
Di lapangan, Gavin merebut air mineral milik Damar, ia juga menanyakan Kia, "Dimana Kia?"
"Udah balik!" jawab Damar.
"Mar," lirih Gavin seraya membuka tutup botol.
"Hm."
"Please, jangan deketin Hana!" ucap Gavin tanpa melihat Damar.
"Gue udah tertarik sama dia, gue mau ngajak dia pacaran," kata Damar, ia memberi senyumnya pada Gavin yang tersedak air minum.
"Makanya, lo beli sendiri airnya biar berkah," ledek Damar.
"Bukan itu, gue kaget denger lo mau deketin Hana!"
"Vin, ketakutan lo itu enggak mendasar. Gimana mungkin Gavin takut kucing terus ngajak-ngajak." Damar bangun dari duduknya, menyambar tas miliknya dan pergi meninggalkan lapangan, dan Gavin mengejarnya, ia meraih tas yang berada di punggung Damar.
"Gue kaya gini perduli sama lo!" Kata Gavin, kemudian pergi meninggalkan Damar yang masih menatapnya.
Sedangkan teman yang lain mengira kalau Gavin dan Damar memperebutkan satu gadis yang sama.
"Susah banget di kasih tau!" gerutu Gavin seraya mengendarai motornya.
"Aneh!" gumam Damar, ia ingin pergi menemui Hana terlebih dulu sebelum pulang, karena merasa tidak enak pada Hana.
Dan benar saja, Damar pergi ke rumah Hana.
"Damar, Ngapain malam-malam gini?" tanya Hana dari pintu.
"Gue mau minta maaf kalau udah bikin lo nggak nyaman tadi," kata Damar yang masih berdiri diluar pagar.
"Oh, nggak apa-apa. Lebih baik kamu pulang sana, udah malam, aku juga mau istirahat."
"Gue pamit, ya. Besok gue datang lagi," kata Damar yang kemudian melambaikan tangan walaupun Hana tak membalasnya.
__ADS_1
Apa yang akan Tomo lakukan pada Damar? Nantikan episode selanjutnya.