Di Matanya, Gadis Itu Seorang Bidadari

Di Matanya, Gadis Itu Seorang Bidadari
Prolog [Part 1]


__ADS_3

20 Oktober


Hari ini, aku membeli buku kecil cantik, khusus untuk seseorang, tentang seseorang. Aku ingin menuliskan di sini, sesuatu yang tak dapat kumengerti, yang tak peduli berapa kalipun aku memikirkannya, aku sama sekali tak menemukan jawaban.


Hari itu, awal September, atau itu akhir Agustus, Kakakku menikah. Aku sangat senang untuknya, juga karena ia menikah dengan sahabat terbaik yang pernah kukenal. Itu baru Aqad, yang bahkan hanya dihadiri beberapa orang. Pernikahan mendadak, sebelum Kakak berangkat ke Inggris. Ada sebuah alasan di sana, alasan mengapa pernikahan itu begitu penting dilaksanakan, secepat mungkin. Tapi aku tak tahu apa itu, yang kutahu adalah, aku hari itu sampai menangis penuh syukur, berharap yang terbaik untuk mereka.


Awal September, entah itu tanggal 8 atau 9, Kakak memintanya pergi bersama Kakak, mengurus proyek yang bermasalah, proyek kerjasama mereka. Aku menahan senyum saat mendengar tentang itu. Mungkin itu memang sangat penting hingga harus di 'turun-tangani' mereka sendiri, tapi aku tahu, jauh di dalam lubuk hati Kakak, ia melakukan ini agar bisa berada di samping gadis itu, terus melihatnya. Ya, karena aku tahu, Kakak sangat mencintainya, jauh sejak sebelum menikahinya.


Beberapa hari kemudian, tanggal 13, mereka datang. Dan disitulah awal mula masalahnya. Gadis itu kembali ke rumahnya, dan Kakak kembali ke rumah kami. Aku sibuk bertanya padanya, menggodanya, tapi Kakak hanya mengabaikanku. Ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Aku tak tahu apa itu, tapi ia berbeda. Seperti ada yang terjadi pada kepergian mereka saat itu. Hari itu aku tak memedulikannya, hanya keanehan kecil.

__ADS_1


Hari berikutnya, tanggal 14, ada pertemuan tim kami. Tentu saja, gadis itu juga datang, dia ketua tim. Aku melihat di wajah cantiknya ada sinar kelelahan, ada sedikit pucat yang terukir di sana. Mungkin selama mereka pergi kemarin, ia tak pernah istirahat, seperti kebiasaannya. Dalam hati aku mengomeli Kakak, bagaimana mungkin ia membiarkan jadwal mereka terlalu padat, hingga gadis kuat -yang hampir tak pernah sakit ini- terlihat pucat dan kelelahan?!


Aku menyapanya, bertanya apa ia baik-baik saja. Bertanya apa Kakakku membiarkannya tak beristirahat. Bertanya apa justru ketika mereka bersama, mereka menikmati padatnya jadwal, saling mendukung untuk "Beristirahatnya nanti saja".


Ia tertawa kecil mendengar omelanku, menggeleng. Menjawab bahwa ia memang tak enak badan, tapi itu akan baik-baik saja.


Di akhir pertemuan itu, diputuskan bahwa kami akan memulai proyek bersama lagi. Kembali mengulang masa-masa kebersamaan kami dua tahun silam. Kami tersenyum senang, kembali satu proyek dengannya, setelah satu tahun ini hanya ber-enam, karena gadis itu pergi ke Palestina. Saat itu, aku tahu ada yang salah dengan tatapannya, ada yang salah dengan senyumannya. Ia sedikit berbeda dari sebelumnya. Tapi aku berusaha melupakan itu, mengingat bahwa ia memang berbeda, sangat spesial.


Kakak bergegas pergi, dan karena aku mendengar percakapannya, aku memaksanya untuk ikut serta dengannya. Di mobil, aku melihat Kakakku, menatapnya yang sedang mengemudi. Ia sangat cemas, menggigit bibir, terus menghela nafas cemas. Apa yang ia rasakan sekarang?

__ADS_1


Gadis itu memang hampir tak pernah sakit, membuat kami begitu terkejut mendengar kabar sakitnya, apalagi hingga dilarikan ke Rumah Sakit. Kudengar saudaranya menemukannya dalam keadaan pingsan, dan segera membawanya ke Rumah Sakit. Gadis itu tak pingsan lama, memaksa pulang begitu ia sadar. Tapi saudaranya tak mengabulkan.


Kakaku berlari cepat begitu kami memasuki Rumah Sakit. Menyusuri koridornya hingga tiba di depan kamar rawat gadis itu. Ada saudaranya dan Dokter di sana. Kakakku menyalami mereka. Dokter menerangkan bahwa dari hasil lab, sahabatku itu baik-baik saja. Tak ada yang serius, mungkin hanya kelelahan, kurang tidur, atau depresi. Kami menghela napas lega.


Saudaranya pamit, menitipkan gadis itu pada Kakakku. Ia mengangguk kecil. Wajahnya sama sekali tak terlihat lega, ia masih begitu cemas. Apakah ia benar-benar mencintai sahabatku sebesar itu?


Kami membuka pintu kamar rawatnya perlahan, berjalan ke sisi ranjang. Gadis itu terbaring lemah, perlahan membuka matanya, sedikit terkejut melihat kami. Ia tersenyum tipis, wajahnya terlihat pucat. Aku menggenggam tangannya, dingin. Mataku berkaca-kaca, mengomel tentang betapa ia tak mengindahkan saran kami untuk istirahat. Ia tersenyum teduh, menenangkanku bahwa ia tak apa-apa. Sedetik kemudian, ia menoleh menatap Kakak yang berdiri mematung, bergumam tentang "sungguh aku baik-baik saja". Kakakku menatapnya kosong, lirih memintaku keluar, ia ingin mengatakan sesuatu pada sahabatku.


...Saat itu, di kursi depan kamar rawatnya, aku duduk termenung. Aku sadar, itu bukan soal kisah cinta mereka hingga Kakak memintaku keluar. Ini soal lain. Soal sesuatu yang Kakak minta dan harapkan dari gadis itu tapi ia tak mengabulkannya. Sesuatu seperti itu, tapi apa? Apa sebenarnya yang terjadi pada kepergian mereka hari itu, hingga mereka -baik Kakak maupun gadis itu- terlihat aneh, terasa berbeda? Aku memejamkan mata, ada apa sebenarnya dengan tingkah mereka?...

__ADS_1


...[*Ka**kak.. itu adalah hal pertama yang tak peduli berapa kalipun aku memikirkannya, aku tak mendapat jawaban. Yang tak peduli berapa kalipun aku memikirkannya, aku tak mengerti alasannya*]...


.


__ADS_2