Di Matanya, Gadis Itu Seorang Bidadari

Di Matanya, Gadis Itu Seorang Bidadari
Prolog [Part 2]


__ADS_3

Saat itu, di kursi depan kamar rawatnya, aku duduk termenung. Aku sadar, itu bukan soal kisah cinta mereka hingga Kakak memintaku keluar. Ini soal lain. Soal sesuatu yang Kakak minta dan harapkan dari gadis itu tapi ia tak mengabulkannya. Sesuatu seperti itu, tapi apa? Apa sebenarnya yang terjadi pada kepergian mereka hari itu, hingga mereka -baik Kakak maupun gadis itu- terlihat aneh, terasa berbeda? Aku memejamkan mata, ada apa sebenarnya dengan tingkah mereka?


...[Kakak.. itu adalah hal pertama yang tak peduli berapa kalipun aku memikirkannya, aku tak mendapat jawaban. Yang tak peduli berapa kalipun aku memikirkannya, aku tak mengerti alasannya]...


……………………………


Hari-hari berikutnya, 18 dan 19, berlalu seperti biasa. Pagi hingga siang kami berada di Laboratorium, sibuk dengan proyek baru. Sore hari Kakak akan bertemu gadis itu; bekerja, berdiskusi, berbicara entah apa itu. Yang aku tahu, Kakak sering memperhatikannya diam-diam tanpa gadis itu sadari, bertanya tentangnya, bertanya kabarnya, lalu tersenyum kecil setelah mendengar tentang gadis itu.


Yang sering aku pikirkan adalah, mengapa Kakak tak bertanya sendiri pada si gadis alien itu?! Toh mereka bertemu hampir setiap hari. Apakah ia malu untuk membiarkan sahabatku tahu bahwa Kakak sangat mencintainya? Atau harga dirinya membuatnya tak ingin mengakui bahwa seorang lelaki sepertinya takluk di depan seorang gadis?


Padahal aku tahu ia mencintai Aisyah dari dulu, bahkan Mama dan Papa pun mengetahuinya.


Hari ini, 20 Oktober, kembali terjadi sesuatu yang tak seperti biasanya. Mungkin tidak tergolong aneh, tapi aku ingin menulisnya karena bagiku itu terlihat begitu manis. Sebenarnya ini kejadian buruk, tapi perhatian Kakak padanya dan interaksi mereka membuatku berpikir itu sangat manis, juga janggal.


Tadi di akhir jam kerja, gadis itu kembali terlihat lemas, wajahnya sedikit pucat. Sepertinya ia kembali kelelahan. Ia pamit keluar sebentar. Karena sedang mendapatkan kemajuan besar dalam proyek, kami tak terlalu memperhatikannya, tapi setelah kupikirkan lagi sekarang, ia saat itu tampak terburu-buru, seperti ada urusan mendadak, dikejar waktu. Tapi seharusnya itu bukan hal yang aneh untuk seseorang sesibuk dia, kan? Apa aku yang terlalu banyak berpikir?


Tapi gadis itu keluar selama dua jam, tak juga kembali hingga kami mematikan mesin-mesin, mulai bersiap pulang. Kami bahkan sedikit terkejut saat melihatnya kembali. Karena ia keluar sangat lama, itu terlihat seperti ia sudah pulang. Baju luarnya pun sudah terpakai, tubuhnya sudah tertutup penuh. Tapi sepertinya ia memang datang kembali hanya untuk mengambil tasnya, karena setelah itu, ia langsung keluar lagi - setelah meminta maaf atas ketidakhadirannya dua jam ini.


Sebenarnya beberapa dari kami -termasuk aku- tak berencana pulang hari ini. Seperti biasa, kemajuan besar dalam proyek membuat kami antusias dan memilih lembur semalaman. Tapi saat itu, aku begitu khawatir akan keadaannya, terutama karena ia sempat masuk Rumah Sakit beberapa hari lalu. Kurasa ia kembali kelelahan seperti saat itu.


Aku meminta maaf pada mereka karena aku tak jadi lanjut bekerja. Ada sesuatu yang harus kuselesaikan, sekaligus menemaninya pulang. Mau itu kemajuan besar dalam proyek atau bahkan keberhasilan proyek itu sendiri, saat itu aku sudah tak peduli lagi. Tentu saja Aisyah lebih penting, ia sahabat terbaikku. Tidak, ia bagiku bukan hanya sahabat, tapi juga sosok yang sangat kukagumi. Seseorang yang sangat berarti bagiku. Seseorang yang aku berhutang banyak padanya.


Untung saja aku masih sempat mengejarnya -untuk kemudian terkejut melihatnya berhenti. Nyaris saja aku menabrak punggungnya. Sebelum aku bertanya padanya mengapa ia tiba-tiba berhenti, mataku sudah menangkap sosok lelaki yang berdiri di seberang kami.


Hei, aku bahkan lebih terkejut darinya saat menyadari bahwa Kakakku ada di sana. Dari ekspresi Kakak dan respon terkejut Aisyah saat itu, aku tahu bahwa mereka bukan janjian untuk bertemu, itu murni rencana Kakak.

__ADS_1


Kakak memberi isyarat dengan tangannya, menyuruh kami untuk masuk ke mobil. Awalnya gadis itu tak mau, mengatakan bahwa saudaranya akan menjemputnya sebentar lagi. Tapi akhirnya ia menurut saat Kakak mempertegas kalimatnya. Tujuh menit perjalanan, sambil mengemudi Kakak beberapa kali menoleh ke samping, ke arah gadis itu -yang bersandar di kaca. Lalu bertanya padaku mengapa aku bisa berada di luar bersama Aisyah, mengapa aku mengejarnya.


Aku terdiam sejenak saat Kakak bertanya, berpikir apa Kakak harus tau. Dan akhirnya memutuskan untuk menjawab. Bercerita bahwa dua jam yang lalu ia terlihat lemas, wajahnya pucat, lalu bergegas ke luar, karena itu aku khawatir dan berniat menemaninya pulang.


Belum juga aku memutuskan apa harus bercerita pada Kakak 'bahwa istrinya keluar dan baru kembali setelah dua jam' atau tidak, Kakak sudah kembali menoleh ke samping, menatap gadis itu. "Kukira tadi hanya firasat antah berantahku yang menyuruhku datang, tapi apakah firasatku benar, kau kembali kambuh?"


Tanpa di suruh atau di tanya, aku mengangguk-anggukkan kepalaku cepat. Tentu saja itu yang seharusnya dilakukan di saat seperti itu kan? Jelas ia kembali sakit seperti tiga hari yang lalu. Yang ditanya tetap terdiam, tak berkata sepatah kata pun. Setelah kupikirkan lagi sekarang, ia memang sedikit pendiam hari ini.


Kakak menghentikan mobil, didepan kami lampu merah sedang menyala. Ia lalu kembali menoleh ke samping, menghadap ke arah Aisyah, "Apa ada yang sakit? Di mana kau merasa sakit?" Suaranya saat itu terdengar khawatir, membuatku ingin cepat-cepat begosip dengan Mama. Sebenarnya itu juga pertanyaanku, karena itu aku juga menatap gadis itu lekat, menunggu jawabannya. Dan ia menggeleng pelan sebagai jawaban.


Sebenarnya siapa yang percaya padanya bahwa ia tidak sakit. Jelas sekali ia sedang tak sehat saat itu, aku yakin. Mana pernah ia menggeleng selemah itu?!


Tapi Kakak hanya diam saja, tak membantah sedikit pun, kembali melajukan mobil begitu lampu lalu lintas berganti warna.Berbeda denganku yang meragukan jawabannya, kembali menatapnya lekat, kembali melontarkan pertanyaaan yang sama, "Apa kau sungguh baik-baik saja?" Dan tentu saja ia mengangguk, yang bagiku anggukan lemahnya itu, sekali lagi adalah bukti bahwa ia tak baik-baik saja.


Kakak mengatakan pada Aisyah bahwa sepertinya ia harus berada di rumah kami dulu sore ini. Karena keluarganya sudah tahu bahwa ia hari-hari ini akan pulang telat karena proyek baru kami, jadi jika ia pulang di jam seperti ini, keluarganya akan bertanya-tanya ada apa dengannya. Sepertinya Kakak tak ingin keluarganya tahu bahwa ia kelelahan akhir-akhir ini, tak ingin mereka khawatir.


Gadis itu mengangguk. Tentu saja ia setuju. Ia tipe orang yang tak suka membuat orang lain khawatir pada dirinya. Lebih suka menyimpan luka dan deritanya seorang diri. Kami keluar dari mobil setelah ia mengangguk setuju. Kakak mengisyaratkan pada supir kami untuk memasukkan mobil ke garasi -membuatku semakin yakin bahwa ia sangat khawatir hingga memarkirkan mobil begitu saja di depan pintu.


Kakak menelepon Mama begitu masuk rumah dan menyadari bahwa tak ada orang di dalam, bertanya di mana Mama sekarang. Ia terdiam sejenak, lalu ber-oh dan menutup panggilan. Tak perlu susah menebak, aku bisa langsung tahu saat itu juga bahwa Mama masih berada di luar kota bersama Papa. Mungkin saat itu sedang dalam perjalanan pulang.


Kakak tertawa begitu menyadari bahwa aku masih mengikuti mereka. Mengusap kepalaku, berkata bahwa sahabatku baik-baik saja di sisinya. Menyuruhku kembali ke kamar. Gadis itu mengangguk setuju, aku baik-baik saja.


Aku sangat kesal. Lihatlah mereka, meninggalkanku seorang diri. Tapi entah kenapa, saat itu aku sangat khawatir. Atau mungkin itu hanya alasan yang dibuat hatiku agar bisa mengikuti mereka diam-diam.


Aku mengikuti mereka ke halaman belakang tanpa suara, mendapati mereka yang sedang berdiri berhadapan di ujung taman. Kakak meraih tangan gadis itu. Awalnya ia menahan tangannya, tapi ia kalah kuat -ia sedang sakit.

__ADS_1


Dan aku terkejut. Sama terkejutnya dengan Kakak atau bahkan lebih. Walau saat itu aku berada jauh dari mereka, tapi mataku cukup tajam untuk melihat dari kuku-kuku sahabatku menetes darah. Hampir saja aku menampakkan diriku pada saat itu saking terkejutnya.


Gadis itu membuka cadarnya, ini sudah di dalam rumah dan tak ada lelaki lain di sini. Wajah cantiknya terlihat pucat. Aku melihat Kakak berbicara, seperti sedang mengomel. Mungkin ia mengomel tentang betapa gadis itu membiarkan dirinya sendiri kelelahan hingga keluar darah seperti itu. Ia terus berbicara, berbicara dan berbicara. Bukankah seharusnya ia langsung membawa Aisyah ke Rumah Sakit atau memanggil Dokter pribadi kami?!


Aku benar-benar tak paham cara pikir Kakak. Ia benar-benar berbicara lama sekali. Apa kau percaya bahwa aku bahkan menghitungnya? Jika suatu hari nanti aku membiarkanmu membaca buku ini Kak, maka ketahuilah bahwa saat itu kau terus berbicara selama dua menit dan tiga belas detik!!!


Benerapa saat hanya terdiam, gadis itu akhirnya mengucapkan sesuatu. Kakak dibuat terdiam karenanya. Sejurus kemudian, gadis itu menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca. Ia berbicara beberapa saat, masih dengan wajah pucat, air matanya mulai menetes. Dan Kakak hanya terdiam, menunduk. Sekali dua kali melirihkan kata. Ada apa lagi?


...[Kakak.. ini hal kedua yang tak peduli berapa kalipun aku memikirkannya, memikirkan sebab yang membuatmu hanya terdiam dan ia menangis, aku sama sekali tak mengerti. Yang tak peduli berapa kalipun aku memikirkannya, aku sama sekali tak punya ide, ke manakah arah pembicaraan kalian saat itu]...


Satu jam setelah itu, Papa dan Mama datang. Mama berlari senang, memeluk gadis itu. Mengomel tentang akhirnya gadis itu datang, setelah lama sekali melupakannya. Aku selalu senang bila kami bertiga berkumpul. Ini seperti kami berdua bersaudara, mengobrol dengan Mama. Rasa-rasa seperti aku memiliki saudari, seperti Mama memiliki dua putri.


Papa tertawa kecil melihat mereka. Hanya aku dan Kakak yang terdiam. Kakak yang terdiam entah kenapa -sudah begitu sejak beberapa saat, dan aku yang terdiam memperhatikan Kakak, memperhatikan sahabatku, kembali berpikir tentang arah pembicaraan mereka sebelumnya.


……………


Aku.. jika aku boleh mengungkapkan isi hatiku saat itu, rasanya aku ingin menuntut mereka untuk memberitahuku. Apa ini sesuatu yang berhubungan dengan cinta mereka, atau tentang kerjasama perusahaan mereka, atau sama sekali tak ada kaitannya dengan itu semua? Jauh dalam lubuk hatiku, aku sangat mengkhawatirkan mereka, Kakak dan Sahabatku.


Buku kecil.. tunggulah sebentar. Aku akan kembali menceritakan padamu lanjutan kisah mereka. Kau juga penasaran sepertiku kan? Ya, ini bukan sebuah novel yang bila kita penasaran pada ujung kisahnya, kita bisa membuka lembaran terakhirnya, mengintip ending nya -itu yang selalu ingin kulakukan saat membaca novel-novel gadis sahabatku itu, karena dia selalu membuatku penasaran- tapi ini adalah kehidupan, yang untuk mengetahui akhirnya, kita harus menunggu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2