
☆ 22 Oktober ☆
Sejak kemarin, di Laboratorium, saat kami bekerja dan juga saat beristirahat sejenak, aku terus memperhatikan gadis itu, istri kakakku. Bisa di bilang, aku bahkan lebih fokus memperhatikan dirinya daripada proyek kami, seperti tadi pagi. Tapi tak ada sesuatu yang spesial, ia terlihat seperti biasa, dengan beberapa keanehan kecil -yang memang sudah muncul sejak ia pergi bersama Kakak kali itu.
Aku mulai merasa diriku seperti lelucon. Lihat saja, jika nanti akhirnya aku tahu bahwa tak ada apapun yang terjadi -dan semoga memang seperti itu- aku akan menjitak kepala mereka sekeras mungkin, karena telah sukses membuatku penasaran. Kalau perlu, aku akan menunjukkan catatanku di buku kecil ini pada mereka, awas saja jika mereka sampai menertawakanku.
……………………………………………………
☆ 23 Oktober ☆
Tadi pagi, gadis itu kembali terlihat pucat. Bahkan beberapa kali terlihat linglung, seakan hampir kehilangan kesadaran. Sebenarnya tidak terlalu terlihat juga, karena ia menutupinya dengan senyum cerah itu. Wajahnya kembali terlihat tak begitu baik, tapi matanya masih menyinarkan semangat. Apakah tadi malam ia kembali lembur, kurang beristirahat? Ah sungguh, mengapa akhir-akhir ini ia tak peduli pada 'istirahat'?!
Aku tak memberitahu kakakku soal itu. Ia sedang pergi ke Singapura dan mungkin baru kembali besok. Yang benar saja, aku akan membuat Kakak membatalkan seluruh jadwalnya, dan dengan terburu-buru disertai wajah paniknya, ia akan kembali ke sini dengan Pesawat Jet Pribadi, menyeret gadis itu ke Rumah Sakit dengan penuh kecemasan. Memang seperti itulah adanya Kakak. Aku sudah bisa membacanya.
Aku bahkan masih ingat ekspresinya, saat setahun yang lalu ia mendengar kabar bahwa pesawat yang di naiki Aisyah mengalami kecelakaan. Ia berusaha tetap terlihat seperti biasa, padahal TV di kantornya terus di biarkan menyala, menayangkan kabar terbaru soal kecelakaan pesawat itu. Sejak kapan dia punya waktu untuk menonton TV di kantornya?! Bahkan ia bertanya padaku, berkali-kali malah, apa kau tak mengirim beberapa pesawat untuk melihat keadaan dan menyelamatkan para korban? Aku bahkan tidak bekerja di 'Pusat Kesejahteraan Manusia Di Udara' ataupun 'Pusat Pelayanan Berita Terbaru Dari Udara', mengapa ia bertanya padaku?!
Tapi setelah kupikirkan lagi, mungkin Kakak tak akan bersikap separah itu sekarang. Kakak memang sudah aneh sejak beberapa waktu lalu. Sama anehnya dengan gadis itu. Jadi mungkin respon Kakak tak akan seposesif itu. Apa sebaiknya kuberitahu saja Kakak? Ah, tapi tetap saja, itu bukan ide yang bagus, seaneh apapun tingkah Kakak dan gadis itu.
…………………………………………………………
__ADS_1
☆ 24 Oktober ☆
Hari ini, aku menyesal telah berniat menjitak kepala Kakak dan sahabatku jika ternyata aku hanya salah paham. Sungguh, lebih baik aku salah paham daripada melihat gadis itu sakit.
Tadi pagi, seperti kemarin, ia tak terlihat sehat. Kami semua menanyakan padanya apa ia tak sebaiknya beristirahat dulu. Yah, meski dalam hati kami berharap ia akan ikut bekerja. Proyek ini terbilang memiliki tingkat keberhasilan yang rendah, jadi kehadiran masing-masing dari kami sangat di butuhkan. Dan tentunya Aisyah menyadari fakta itu, jadi ia menolak untuk absen. Ia bilang kondisi tubuhnya tak separah itu, masih sanggup untuk tetap bekerja.
Selama empat jam pertama, kondisinya tampak mulai membaik. Itu membuat kami menjadi tenang, termasuk aku. Tapi meskipun begitu, di jam kelima, saat waktu istirahat kami, aku tetap berniat menguntitnya. Memangnya kelelahan seperti apa yang bisa muncul dan pergi sesuka hati seperti itu?! Itu terasa asing bagiku. Jadi, aku diam-diam mengikutinya.
Sejujurnya, hari ini adalah kali pertama aku menguntit seseorang. Aku benar-benar merasa bersalah melakukannya. Di Departemen tempat Laboratorium kami berada, sangat terkenal dengan orang-orangnya yang sangat sibuk dan tak memiliki waktu untuk mencampuri urusan orang lain. Begitupun kami. Tapi kali itu berbeda. Sebenarnya hanya untuk memuaskan rasa penasaranku, tapi karena itu aku 'melanggar' aturan dan adat tak tertulis di Departemen.
Tapi buku kecil, aku sungguh tak tahu, apa perbuatanku mengikutinya hari ini adalah sesuatu yang akan kusesali di masa depan, atau aku bahkan akan mensyukurinya. Aku mengikuti Aisyah hingga ia memutuskan untuk duduk di salah satu kursi di taman sepi belakang Laboratorium kami. Suasana di sana begitu tenang. Tak ada orang, bahkan suara angin sepoi yang menerpa dedaunan terdengar jelas. Dan kau tahu apa yang ia lakukan di sana?
Ia memejamkan matanya, perlahan menunduk hingga wajahnya nyaris tak terlihat. Tangannya mencengkram dada. Begitu kuat, hingga aku -yang berada di balik dinding pun- melihat dengan jelas kuku-kuku jarinya memutih. Suasana taman saat itu sangat hening, aku bahkan bisa mendengar gerahamnya yang saling menekan. Wajahnya memerah sesaat, untuk kemudian ia membuang nafas. Perlahan, begitu hati-hati. Ia terlihat sedang.. kesakitan?
Melihatnya seperti itu, mataku berkaca-kaca. Jantungku berdegup kencang, terkejut dan takut. Aku tak pernah melihat Aisyah seperti itu, tak pernah melihatnya kesakitan seperti itu. Fisiknya selama ini begitu kuat, hampir tak pernah sakit. Paling hanya beberapa kali kelelahan, demam, atau saat ia mengalami percobaan pembunuhan. Ia yang seperti itu begitu asing di mataku.
Beberapa saat terlihat begitu kesakitan, akhirnya cengkraman tangannya mengendur. Matanya terbuka perlahan. Nafasnya juga mulai kembali normal. Ia menghapus air matanya, tatapannya terlihat sendu. Sesaat kemudian menengadahkan kepalanya ke langit, menghela nafas lemah.
"Rabbi.. Terima kasih Kau masih mengizinkanku mampu merasakan sakit. Terima kasih.."
__ADS_1
Itulah yang sahabatku lirihkan. Dengan keadaan seperti itu, begitulah caranya ia mengobati dirinya sendiri. Begitulah caranya ia menghibur diri sendiri. Begitulah caranya, ia mengungkapkan rasa sakitnya.
Buku kecil.. mendengar kalimatnya, kurasa aku tak sanggup untuk tetap diam-diam mengawasinya. Takut ia mendengar degup jantungku, takut ia mendengar isakku. Takut melihat dirinya kesakitan. Aku berjalan cepat meninggalkan tempat itu, bergegas masuk kembali ke Ruang Lab.
Sebenarnya, aku tak tahu apakah yang aku lakukan benar. Apakah seharusnya tadi aku menanyakan padanya ia sakit apa? Aku sungguh takut aku akan menyesal karena sesuatu yang tak kulakukan untuknya hari ini.
Semalam Kakak menelepon, bertanya padaku apa keadaannya baik-baik saja. Aku memberitahunya bahwa gadis itu baik-baik saja, tertawa riang bersama kami seperti biasa. Aku sama sekali tak memberitahunya bahwa gadis itu kemarin terlihat pucat, tak ingin membuatnya khawatir. Kakak sangat lega, mengatakan tentang jika keadaannya baik-baik saja seperti itu, Kakak akan langsung pergi ke Jordan pagi ini, tak perlu pulang dulu. Dan aku benar-benar menyesal.
Begitu pulang kerja hingga saat ini, aku terus berusaha menghubungi Kakak, tapi handphone-nya tidak aktif. Mungkin ia sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya, dengan persaan lega karena gadis itu baik-baik saja. Mungkin ia sungguh percaya bahwa kekasihnya sudah benar-benar sembuh.
Kakak.. maafkan aku. Aku benar-benar menyesal tak jujur padamu kemarin. Sekarang aku harus bagaimana? Aku sungguh takut ia kenapa-napa. Aku takut ini adalah sesuatu yang harus kau ketahui, tapi aku tak mengatakannya padamu. Kakak.. apakah aku melakukan kesalahan besar?
Hari ini aku teringat sesuatu. Tiga tahun yang lalu, awal-awal kami bertemu, awal-awal perjuangan bersama kami berdelapan, ia pernah bercerita. Cerita sambil lalu, tak begitu kami ingat. Ya, gadis itu Kakak, gadis yang kau cintai bercerita tentang sakitnya, bercerita tentang alasan ia ingin menjadi Dokter. Salah satu alasannya mempelajari Kedokteran adalah karena sakit yang ia rasakan sejak kecil. Sakit yang sangat menusuk di tulang-tulang dadanya, yang tak peduli ia ceritakan sesakit apapun itu, orang-orang di sekelilingnya tak ada yang menganggapnya serius.
Kakak, aku melupakan kata-kata nya persis setelah ia bercerita hari itu. Itu hanya cerita sambil lalu, ia juga tak pernah mengungkitnya lagi. Tapi hari ini, melihatnya begitu kesakitan seperti itu, aku kembali teringat. Seharusnya, jika ia sudah tak pernah mengungkitnya lagi, artinya ia sudah tak pernah merasakan sakit itu lagi, kan? Seharusnya itu artinya ia sudah sembuh. Ini seharusnya bukan sakit yang ia ceritakan saat itu, hanya kelelahan saja.
Kakak.. untuk seorang gadis sekuat dirinya, ia akan baik-baik saja, bukan begitu?
.
__ADS_1
.
.