Di Matanya, Gadis Itu Seorang Bidadari

Di Matanya, Gadis Itu Seorang Bidadari
Episode 1


__ADS_3

☆ 21 Oktober ☆


Pagi ini gadis itu kembali bekerja seperti biasa. Sepertinya kondisinya sudah membaik. Kakak juga kembali bekerja, tak membuntuti gadis itu, menjaganya jangan sampai terluka seujung jari pun -seperti yang kutakutkan, mengingat si Kakak memang orangnya seperti itu.


Pagi ini Kakak menghadiri pertemuan antah berantah di Eropa. Kutanyakan pada Aisyah, di mana Kakak mengadakan pertemuan, apakah di Jerman, atau di Inggris. Akhir-akhir ini ia hobi sekali ke sana. Mungkin karena keluarga Mama ada di sana? Aku juga tak terlalu peduli, hanya khawatir kejadian tahun lalu terulang kembali, saat Kerajaan Inggris memintanya untuk kembali, membuat Kakak kerepotan setengah mati.


Tapi kau tau apa yang ia jawab? Gadis itu hanya menggeleng, bahkan tak tahu bahwa Kakak pergi ke Eropa pagi ini, karena sepertinya mereka mempunyai janji untuk bertemu nanti sore. Tadi sebenarnya aku hanya asal bertanya, tapi jawabannya membuatku terdiam tak menyangka.


Bukankah itu hal yang wajar untuk ia ketahui? Bagaimana mungkin Kakak tak memberitahunya? Apa gadis itu juga tak bertanya? Apa ia benar-benar tak menanyakan pada Kakak tentang agendanya?


Kali ini aku menyadari satu hal. Ya, sepertinya gadis itu masih belum bisa mencintai Kakak. Sepertinya di mata sahabatku, Kakak masih hanya seorang rekan kerja, seorang teman mungkin? Apakah gadis itu tahu betapa Kakak mencintainya.. Apakah ia tahu Kakak sangat mengkhawatirkan dirinya..

__ADS_1


Buku kecil.. sebenarnya, apa aku perlu membantu Kakakku untuk mendapatkan hati Aisyah? Sepertinya ini adalah waktu kemunculan seorang adik hebat yang akan menyelamatkan kisah cinta Pangeran kaku itu. Kurasa, menjadi seorang pahlawan juga bukan ide yang buruk, bukan begitu?


Oh.. dan juga, tadi malam aku bermimpi sesuatu. Mimpi yang panjang. Ini sebenarnya bukan tentang pasangan aneh itu, tapi itu terus mengganggu pikiranku seharian ini, jadi aku akan menuliskannya. Di mimpi itu.. aku melihat Rahma. Kami semua berkumpul, delapan orang, seperti tiga tahun lalu saat awal 7MGT. Itu membuatku kembali sangat merindukan Rahma, merindukan saat-saat itu. Hari-hari kami tertawa bersama, bekerja bersama. Kenangan yang hanya berdurasi beberapa bulan saja.


Di mimpiku, entah kenapa Rahma memberi tatapan sendu. Ia adalah orang yang sangat mirip dengan Aisyah, mereka hampir tak pernah memperlihatkan kesedihan di depan orang lain. Jadi, tatapan sendunya di mimpiku itu terasa begitu menyakitkan, sangat asing bagiku.


Di tengah-tengah kebersamaan kami di mimpi itu, tiba-tiba Rahma seakan tersedak. Tubuhnya berguncang. Aku tak tahu bagaimana harus menuliskannya, tapi dari dadanya keluar darah. Kami semua terkejut. Awalnya kukira itu peluru yang menancap di dadanya, tapi ternyata bukan. Itu seperti.. suntikan?


Kecuali Aisyah -yang posisi duduknya paling dekat dengan Rahma. Ya, gadis bagaikan bidadari bersayap itu. Tangannya akhirnya berhasil menggapai suntikan itu. Darah mengalir dari tangannya saat ia mencoba menyentuh suntikan di dada Rahma. Di saat itu, aku tiba-tiba menyadari ada yang aneh di suntikan itu. Seperti suntikan beracun yang pernah kulihat saat Kakakku masih menjadi Dokter. Aku hanya samar-samar mengingatnya sekarang, tapi aku yakin itu bukan suntikan normal.


Aku berseru, menjadi akhir dari mimpi burukku. Aku bahkan masih terisak saat terbangun. Rasa sakit itu, kenangan buruk kehilangan dirinya saat itu kembali terbayang jelas di kepalaku. Kami semua tahu bahwa kepergian Rahma ada campur tangan seseorang di dalamnya, tapi kami tak pernah membahasnya. Itu seperti membuka luka lama. Dan juga, membicarakan itu terasa tak sopan, ketika masih banyak kebaikannya yang bisa kami bicarakan. Kecurigaan itu hanya tersimpan di hati kami masing-masing, bersama dengan dendam yang terus memudar seiring dengan berjalannya waktu.

__ADS_1


Sejujurnya, kukira aku sudah benar-benar merelakan kepergiannya sejak lama. Kukira aku sudah melupakan soal dendam, konspirasi atau apapun itu. Kukira aku sudah melupakan semuanya -itu pasti yang di inginkan Rahma dari kami. Tapi mimpi tadi malam membuatku menyadari, bahwa aku belum sepenuhnya merelakan.


Dan.. bagaimanapun juga kecurigaanku dulu, tapi mimpi semalam terasa aneh. Saat itu ia tak tertembak peluru atau sakit apapun di dadanya. Dari diagnosis pihak Rumah Sakit, kondisi tubuhnya baik-baik saja, kecuali organ di perutnya yang rusak. Beberapa tahun sebelum itu, ginjalnya memang sempat bermasalah dan karena itu ia melakukan transplantasi ginjal. Jadi itu masuk akal jika dikatakan bahwa organ-organ di bagian perutnya mengalami kerusakan karena ginjal barunya tak bisa bekerjasama dengan baik. Meski bagi kami itu mencurigakan karena selama ia bersama kami ia tak pernah mengeluh sakit perut.


Aku bukan termasuk orang yang sering bermimpi, karena itu mimpi tadi malam terus terbayang di kepalaku. Aku begitu memikirkannya hari ini. Soal sahabat kami yang sudah lama pergi. Ia yang tiba-tiba berdarah, sesuatu yang samar-samar kuingat seperti suntikan, ia yang begitu kesakitan tapi tak mencabut suntikan itu, dan kami yang tak bisa membantunya. Juga, cairan di dalam suntikan yang terlihat seperti racun itu.


Buku kecil.. itu bukan mimpi yang bisa kuceritakan pada sahabat-sahabatku, jadi aku menulisnya, menceritakannya padamu. Kurasa aku sudah sedikit lega sekarang. Besok-besok jika aku memiliki waktu luang, mungkin aku akan mencoba mencari tahu tentang kepergiannya. Mencari tahu siapa yang mencoba mencelakainya. Mencari tahu apa yang saat itu terjadi dan seberapa besar pengaruhnya pada Rahma.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2