Dia Anak Ku

Dia Anak Ku
Sreya Deliana Adiwangsa


__ADS_3

Dua hari sebelumnya


"Eughh" Suara erangan kecil keluar dari mulut seorang wanita yang sedang mengucek matanya sambil menguap lebar.


Sreya nama wanita yang sedang mengumpulkan nyawanya setelah tertidur pulas semalaman.


"Haus sekali" Ucapnya dengan suara serak sambil turun dari ranjang dan melangkah menuju pintu keluar setelah melihat tidak ada air diatas meja.


Umphh


Sreya menutup mulutnya berlari menuju kamar mandi, berdiri didepan wastafel mencoba mengeluarkan isi diperutnya tapi nihil, tidak ada yang keluar sama sekali mulutnya.


Huek


Huek


Huek


"Hah...hah....gila maunya apa sih?" ucapnya kesal sambil mengatur nafasnya dan menyeka bulir-bulir keringat di dahinya.


*****


Sreya turun dari tangga sambil melihat para pelayan yang sedang melakukan tugas mereka. Miris sekali, disini statusnya adalah seorang istri tapi tetap saja tidak semua pelayan segan padanya, jarang mereka membantu dan melayani dirinya.


Memang siapa yang mau melayani seorang wanita yang sama sekali tidak dipedulikan oleh majikan mereka?.


Disini suaminya adalah tuan besar mereka, titahnya adalah sebuah keharusan besar yang mereka laksanakan. Sekali tuan mereka tidak mempedulikan sesuatu maka para orang-orang setianya juga akan melakukan hal yang sama.


Kaki Sreya melangkah memasuki dapur, ia bisa melihat empat orang juru masak sedang berkutat dengan pekerjaan mereka.


Sreya tidak mempedulikan tatapan para pelayan yang seakan mengejeknya, mungkin mereka berpikir jika dirinya adalah seorang istri yang menyediakan. Menikah dengan seorang pengusaha kaya raya tapi tidak mendapat perlakuan istimewa.


Rasanya aku ingin mencongkel mata kalian satu persatu, batin Sreya kesal kemudian meletakkan gelasnya kasar dimeja sampai menimbulkan bunyi keras membuat para pelayan yang mencemoohnya terkejut.

__ADS_1


"Apa kalian tidak punya pekerjaan lain selain melihatku dengan tatapan kagum seperti itu?." Sreya mengangkat dagunya seolah sedang menyombongkan diri.


Haha apa?! kenapa diam?, Batin Sreya tertawa dalam hati.


"Kagum? sepertinya kau terlalu percaya diri nona, kami sedang mengasihani hidupmu." Suara seorang wanita dari arah samping membuat perhatian Sreya teralihkan.


Ini lagi, pelayan sok berkuasa, hei pangkatku jauh lebih tinggi darimu sialan, batinnya lagi geram.


Didepan Sreya sekarang ada seorang wanita berpakaian pelayan identitas keluarga Matthew sedang melipat di dada, dia adalah Melly seorang kepala pelayan keluarga Mattew.


"Aku? kau mengasihani hidupku? apa kau tidak punya kaca? Jelly jelas-jelas hidupmu yang harus lebih dikasihani, kau hanya pelayan yang mengejar cinta pangeran. Tapi sayang pangeran itu sudah memiliki seorang ratu yang pangkatnya jauh diatasmu." Ejek Sreya dengan wajah menyebalkan membuat asap tak kasat mata keluar dari kedua telinga kepala pelayan itu.


Sudah tidak asing lagi di lambe gosip para pelayan jika Melly, sang kepala pelayan kediaman Mattew menyukai Dave Matthew sejak lama. Berbagai cara sudah wanita itu lakukan untuk menarik perhatian Dave tapi sama sekali tidak pernah dilirik pria itu.


"Ratu heh?" ucapnya tertawa mengejek.


"Ratu mana yang ditelantarkan oleh sang pangeran? nona sepertinya mimpimu terlalu tinggi, kau memang istri tuan Dave tapi kau tidak jauh lebih baik dibandingkan kami para pelayan. Kau sama dengan kami Sreya" ucap Melly diakhir kata berbisik ditelinga Sreya.


Sreya mengepalkan tangannya erat kurang ajar sekali pelayan ini, walaupun dirinya tidak dianggap istri oleh seorang Dave Matthew tapi tetap saja ia adalah putri dari Affandi Adiwangsa, pemilik perusahaan industri yang lumayan besar dikota ini. Mulus sekali mulut pelayan itu menyebutkan namanya, pikirnya kesal.


Sialnya Melly tidak bisa mengelak itu, sekali lagi ia kalah dengan wanita didepannya ini. Jika Sreya sudah membawa nama keluarganya jelas memang ia yang kalah.


"Nona and-"


"Kakak ipar, ada apa?" suara itu mengalihkan perhatian kedua orang yang saling menatap dengan tatapan sengit.


"Nona Ammera" sapa Melly sambil menundukkan kepalanya sopan diikuti juga para pelayan yang sedari tadi ada disana.


Cih, Sreya berdecih melihat perubahan sikap Melly yang signifikan berbeda sekali saat denganya tadi.


Dasar pelayan pilih kasih, batinnya sambil membuang muka.


"Kakak ipar sedang apa?" tanya Ammera bingung, kenapa pagi-pagi sudah berisik sekali pikirnya.

__ADS_1


"Aku sedang mengambil air minum, kau tau adik ipar para pelayan disini sangat sibuk bahkan untuk melayani istri majikannya saja mereka tidak memiliki waktu" jawab Sreya menekan kata istri untuk memberitahukan statusnya lebih jelas kepada pelayan tidak tau diri ini.


Ammera mengeryit kemudian beralih menatap Melly yang wajahnya nampak pias, "Melly akukan sudah memberitahumu jika kamu harus memperlakukan kakak ipar seperti kamu memperlakukan aku dan ibu, ingat Melly kak Reya itu istri sah kak Dave" ucap Ammera menekankan kalimatnya, ia memang tidak dekat dengan kakak iparnya itu tapi jika seseorang menganggu istri kakaknya bukankah ia juga harus turun tangan.


"Maafkan saya nona" ucap Melly menunduk.


"Minta maaf pada kak Reya, kau buat kesalahan padanya" ucap Ammera membuat semburat raut wajah tidak suka muncul dimuka Melly.


"Maafkan saya nona Sreya" ucap Melly pelan.


Maaf? cih lihat saja nanti sore wanita kadal itu pasti akan mengulanginya lagi, batin Sreya kesal tapi bibirnya tetap tersenyum secerah mentari.


"Baiklah, karena aku bukan orang pendendam aku memaafkanmu pelayan. Aku harap lain kali kamu sadar dengan posisimu disini" ucap Sreya sambil tersenyum miring, ia tidak sadar jika lawan bicaranya sedang mengepalkan tangannya kuat disana.


Ammera berdehem untuk menormalkan situasi yang mulai sedikit memanas, "Bay the way, kakak ipar kapan kak Dave pulang?"


Tiba-tiba raut wajah Sreya berubah masam mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Ammera.


Jelas-jelas kau sudah tau jika kakak mu itu tidak pernah mengangapku ada. Kenapa malah bertanya padaku? tanya saja pada sekertaris laki-laki gila itu!, batin Sreya kesal. Entah mengapa mendengar nama pria itu membuat moodnya tiba-tiba memburuk, akhir-akhir ini memang suasana hatinya sering berubah.


"Maaf nona Ame, tapi tidak ada gunanya bertanya tentang tuan Dave pada nona Sreya. Karena kita tau sendiri jika....."tiba-tiba Melly ikut menimpali ucapan Tiara membuat emosi Reya naik keubun-ubun.


"Melly!" tekan Ammera meminta kepala pelayan itu untuk diam.


Pelayan ini benar-benar minta aku hajar, batin Reya sambil mengibas-ibaskan tangannya merasa udara disekitarnya panas.


"Maaf nona Ame, tapi apa yang saya katakan itu benar pasti nona Sreya tidak akan mengetahui apa-apa tentang tuan Dave karena-"


Plak


Bunyi tamparan menggema didapur membuat para pelayan yang melihatnya membelalakkan matanya terkejut. Bahkan Ammera yang melihatnya ikut membuka mulutnya, Sreya selama ini terkenal dengan wanita yang tidak peduli sekitar tiba-tiba menampar pelayan karena sebuah ejekan.


Sedangkan Reya yang menjadi pusat perhatian hanya menatap tajam kearah Melly. Ia tidak peduli dengan tanggapan orang tentangnya karena tangannya tiba-tiba gatal ingin menampar pelayan tidak tau diri ini. Selama ini ia diam saja karena yang mereka bilang itu memang benar adanya jika ia tidak pernah dianggap, tapi entah kenapa gejolak amarahnya meningkat lima kali lipat dari biasanya.

__ADS_1


"Ku ingatkan pelayan, aku pastikan kau akan menyesal suatu hari nanti dan saat itu tiba lihatlah bagaimana aku akan memperlakukan mu seburuk kau memperlakukanku bahkan lebih dari itu" ucap Sreya geram sambil menunjuk kearah Melly.


****


__ADS_2