Dia Anak Ku

Dia Anak Ku
Dave Matthew


__ADS_3

Saat semuanya masih dalam keterkejutannya, Sreya berlalu pergi keluar dari dapur.


Sreya lari naik keatas tangga kemudian masuk kedalam kamarnya, wanita itu mengatur nafasnya setelah mendudukkan dirinya disofa kamar.


Sreya memukul mulutnya beberapa kali meruntuki kebodohannya, "Ais dasar mulut sialan! kenapa bicaramu mudah sekali?! apa kau tidak ingat tinggal sebelas hari lagi Dave gila itu akan menceraikan mu?! kenapa bicaramu seperti akan menjadi nyonya rumah ini selamanya saja?!" ucapnya kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangan, membayangkan bagaimana si Jelly sialan itu akan tersenyum lebar saat ia keluar dari rumah ini sambil menyeret koper membuatnya malu setengah mati.


"Dasar bodoh kau sreya!" gumam Reya sambil mengusap wajahnya kasar.


Sreya berdiri dari duduknya kemudian berjalan lesu kearah kamar mandi, ia benar-benar mengumpati mulutnya yang lepas kendali saat berbicara tanpa berpikir.


****


Aroma musk tercium disebuah ruangan ber-AC dengan interior khas eropa. Didalam ruangan yang menampakkan langsung pemandangan padat ibu kota berbatas kaca transparan, seorang pria berjas hitam duduk di kursi kebesarannya sambil membaca berkas ditangannya. Kaki kiri ia silangkan diatas kaki kanan, secangkir kopi mug tersedia diatas mejanya dengan asap mengepul.


Suara ketukan pintu mengalihkan atensinya, pria itu mendengus dingin sambil menutup berkasnya dengan kasar lalu melepas kacamata minus yang bertengger dihidungnya.


Satu hal yang paling tidak disukai pria itu adalah terganggunya waktu ia berkerja.


Suara pintu terbuka menampakkan sosok pria tinggi berkulit putih berkacamata sedang menundukkan setengah badannya.


"Maaf menganggu waktu anda tuan, ada hal yang harus saya sampaikan"


Pria yang sedang memijit pelipisnya itu mengangguk singkat kemudian berdiri dari duduknya berjalan kearah sofa.


"Katakan" ucapannya tanpa basa-basi.


Biru melangkah masuk kedalam ruangan setelah menutup pintunya. Pria itu berdiri didepan sosok pria dengan aura kepemimpinan yang kuat sedang duduk disofa sambil menyilangkan kakinya.


"Tuan muda Delvin ada dikantor polisi pusat tuan, Liam sendiri yang memberi tahu saya jika tuan muda menelfonnya berulang kali untuk minta dibebaskan. Saya kemari meminta persetujuan anda untuk membebaskan tuan muda" jelas Biru, asisten yang merangkap sebagai sekretaris pria yang bernama Dave Matthew.


Dave Matthew, pria yang sedang duduk disofa berbahan beludru itu menampilkan kerutan di dahinya, menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil mengepalkan tangannya kuat.


Dave menegakkan badannya yang semula menyender disofa. "Kantor polisi?" tanyannya dengan nada tertahan membuat atmosfer di sekeliling Biru menjadi lebih dingin dari suhu AC biasanya.


"Benar tuan, tuan muda tertangkap saat mengikuti balap liar di sirkuit ilegal bersama teman-temannya" jawab Biru.

__ADS_1


"Anak itu berulah lagi" Dave mendesah, tangannya mengetuk pinggiran sofa sambil matanya menatap kedepan.


"Biarkan saja" ucap Dave tiba-tiba setelah lama diam membuat Biru terkejut.


"Maaf tuan?" tanya Biru tidak yakin dengan apa yang otaknya tangkap. Tuannya mau membiarkan adiknya sendiri mendekam di penjara? pikirnya setengah tidak percaya.


"Hubungi Liam jangan membebaskannya, biarkan anak itu belajar dari kesalahannya aku tidak mau menolongnya lagi kali ini"


"Baik tuan"


Dave terdiam cukup lama sedangkan Biru masih berdiri diam diposisinya.


"Kira-kira berapa lama hukumannya?" tanya Dave kembali menyenderkan punggungnya disofa.


"Saya belum tau pastinya tuan. Saya akan menanyakan detail informasi pada Liam" jelas Biru, dia tidak mencari tau itu semua karena berpikir jika tuannya ini akan langsung membebaskan adiknya seperti yang sudah-sudah terjadi.


Dave mengangguk kemudian perlahan ia menutup matanya.


"Tuan nyonya-"


"Jangan membahasnya" balas Dave cepat membuat Biru langsung bungkam.


***


Dave Matthew suamiku adalah seorang pengusaha muda yang namanya selalu terpampang dihalaman utama majalah bisnis kelas dunia. Pria yang selalu mendapat julukan si penggila kerja itu berhasil merintis perusahaannya hingga ke mancanegara.


Dave Matthew, pria yang selalu menjadi incaran para kaum hawa. Pria yang memiliki kandidat calon suami sempurna! bukan hanya kekayaan yang melimpah yang dimilikinya tapi wajahnya yang rupawan membuat para wanita langsung jatuh hati sekali melihatnya.


Tatapan matanya yang tajam membuat para wanita langsung terpana. Jika ketampanan adalah dosa besar maka Dave akan langsung terperosok ke jurang neraka paling dalam. Pria itu dianugerahi ketampanan bak dewa yunani, bola matanya biru laut membuat orang lain hanyut didalamnya saat menatapnya.


Anak perusahaannya tersebar luas di berbagai belahan dunia, dinegara maju maupun negara berkembang. Mth'Group, menjadi salah satu perusahaan incaran para lulusan terbaik diberbagai universitas ternama.


Perusahaan yang menawarkan gaji selangit, tunjangan kesehatan, dan kenyamanan bagi para pegawainya membuat semua orang berlomba-lomba untuk bisa bekerja disana. Tapi semua itu tentu tidak mengunakan skil yang mudah, Mth' Group tidak pernah merekrut sembarang orang untuk bisa bekerja didalamnya.


Tidak pernah ada yang berani mengusik pemilik Mth' Group bahkan jika itu media sekalipun. Privasi Dave sangat terjaga, pria blasteran Inggris-Indonesia itu tidak pernah menampakkan dirinya jika bukan diacara-acara penting yang melibatkan banyak pebisnis terkenal dan orang-orang kalangan atas. Tidak ada yang berani mengeluarkan skandal atau berita miring tentangnya.

__ADS_1


***


Reya berjalan keluar dari kediaman Matthew dengan tas selempang dipundaknya. Hari ini tidak ada mata kuliah yang harus ia ikuti jadi dirinya bisa menghabiskan waktu liburan keluar dari rumah terkutuk ini. Seperti biasa jika ia sedang tidak ada jam kuliah ia akan menghabiskan waktunya diluar untuk bersenang-senang anggap saja sebagai rileksasi otak.


Daripada bertemu manusia jelmaan kadal yang merangkap sebagai pelayan kan?.


Reya mengotak-atik ponsel ditangannya saat dirinya sudah sampai didepan pintu utama. Wanita itu menyenderkan tubuhnya dipilar kokoh berwarna putih dengan ukiran emas yang menghiasinya.


"Kenapa baru sampai disini sih?" gerutu Reya saat melihat aplikasi di ponselnya yang menunjukkan maps taksi online yang ia pesan masih berjarak empat kilo dari tempatnya.


"Selamat pagi nona" sapa salah seorang pengawal berjas hitam yang tidak Reya ketahui namanya.


"Pagi"


"Anda akan pergi kemana nona?"


"Jalan-jalan" jawabnya dengan mata berfokus pada layar ponselnya.


"Apa nona ingin ditemani sopir ?"


"Tidak perlu, aku sudah memesan taksi online"


"Maaf sebelumnya nona Reya tapi orang asing tidak bisa masuk kekediaman Matthew. Ini sudah aturannya sejak dulu" ucapnya sopan sambil menundukkan kepalanya.


"Lalu aku harus berjalan kaki sampai keluar pagar untuk menunggu taksi begitu?!"


"Jika anda ingin seperti itu saya tidak melarang atau nona bisa mengunakan salah satu mobil disini"


Reya tergelak pelan sambil berdecak pinggang ia mendongakkan kepalanya melihat wajah pengawal pria yang lebih tinggi darinya.


"Lebih baik aku berjalan kaki daripada menggunakan mobil pria bajingan itu" ucapnya kemudian berjalan meninggalkan pengawal pria yang menatapnya tajam.


"Silahkan saja nona, sepertinya yang gila disini adalah anda karena memilih pilihan yang sangat salah. Saya harap kaki anda akan tetap lurus setelah sampai didepan pagar" ucap pengawal itu kemudian pergi kearah halaman samping.


"Hanya jalan kesini sampai sana kau pikir kakiku bisa bengkok, hah. Ini kaki besi kau tau pengawal pria gila!!" Teriak Reya menggebu-gebu.

__ADS_1


****


Jangan lupa likenya teman-teman!!


__ADS_2