Dia Anak Ku

Dia Anak Ku
Permintaan Yang Tidak Masuk Akal


__ADS_3

"Maaf tuan, saya hanya menyampaikan permintaan nona."


Jari-jari Dave mengetuk meja kerjanya, keningnya sedikit mengkerut sepertinya ia sedang sedikit berpikir.


"Apa sekarang kau juga menjadi asisten wanita itu?."


"Tidak tuan, saya setia pada anda."


"Pergilah, jangan membahasnya lagi"


"Baik tuan, sekali lagi maafkan saya " Ucap Biru menundukkan setengah badannya kemudian berjalan keluar.


****


Tepat pukul satu malam, Dave menyenderkan punggungnya dikursi kerjanya. Pria itu memijit pelipisnya sendiri, seharian penuh ini ia hanya berkutat dengan pekerjaannya. Hal yang selalu dilakukan setiap hari sudah mendarah daging ditubuhnya.


Tok..tok..Tok


"Apa?." Tanya Dave tanpa membuka matanya.


"Tuan, telfon dari rumah untuk anda." Ucap Biru sambil memberikan ponselnya kepada Dave yang disambut ukuran tangan malas pria itu.


Dave menempelkan benda pipih itu ke telinganya tanpa berniat membuka suaranya lebih dulu.


"Tuan?." Tanya pria dari sebrang telpon dengan nada sedikit cemas.


"Hm."


"..."


"Apa?."


"...."


"Baiklah"


Dave mematikan sambungan teleponnya, pria itu berdiri dari duduknya sambil melemparkan ponsel ketangan Biru.


"Kita pulang kerumah." Ucapnya mendapat anggukan kepala dari Biru, asisten yang merangkap menjadi sekretaris itu mengambil jas hitam dikursi kerja Dave dan memasangkannya ketubuh pria itu.


***

__ADS_1


Hujan deras mengguyur jalanan kota, mobil Dave melaju dengan kecepatan sedang. Hanya tercipta keheningan malam didalam mobil, Biru sang asisten menerka-nerka hal besar apa yang sedang terjadi di rumah utama yang membuat tuannya ini mau kembali.


Singkat saja, ini pertama kalinya setelah tiga minggu usai kejadian malam pertama yang membuat kemarahan besar seorang Dave Matthew. Tuan mudanya ini mau kembali menemui istrinya.


Mobil yang ditumpangi Dave masuk kedalam gerbang utama, para pengawal yang ada didepan pintu langsung menundukan kepala mereka saat melihat Dave turun dari dalam mobil.


Pria bertubuh jangkung itu melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah setelah menghembuskan nafasnya kasar.


"Selamat malam tuan." Sapa para pelayan berjejeran rapi saat Dave masuk kedalam.


"Bima masih didalam?." Tanyanya tanpa membalas sapaan para pelayan.


"Masih tuan, dokter Bima menunggu anda diruang tengah." Jawab kepala pelayan menunduk hormat.


Dave berjalan kearah ruang tengah diikuti Biru dibelakangnya.


"Dave kau pulang nak?." Suara lembut seorang wanita paruh baya tidak membuat langkah Dave terhenti. Pria bertubuh tinggi itu melewati begitu saja tanpa menoleh ataupun melirik wanita yang berstatus sebagai ibunya.


"Dave." Bima berdiri dari duduknya saat melihat Dave berjalan mendekat kearahnya.


Dave merebahkan tubuhnya disofa membuat Bima kembali mendudukkan dirinya.


"Ada apa dengannya?"


"Jadi kalian menelfonku hanya untuk mengatakan itu?."


"Dengar dulu Dave, Sreya pingsan itu karena-."


"Jangan bertele-tele, aku tidak punya banyak waktu."


"Dave kau akan menjadi ayah"


*****


Seorang wanita muda membuka matanya perlahan, yang ia rasakan sekarang ini adalah kepalanya seperti sedang berputar-putar belum lagi perutnya yang seakan ingin mengeluarkan seluruh isinya.


"Gugurkan."


Suara Bariton tegas berasal dari sofa pinggir tempat tidurnya, ia menoleh ke asal suara dengan wajah terkejut.


"A-apa?."

__ADS_1


"Gugurkan, aku tidak ingin ada sesuatu yang mengikat kita setelah perceraian."


Rasanya benda tajam menembus ulu hatinya, sakit sangat sakit saat ayah dari anak yang ia kandung memintanya membunuh janin yang bahkan masih terbentuk gumpalan darah dirahimnya.


Wanita itu menggelengkan kepalanya pelan sambil mencengkram erat sprei tempat tidurnya.


"Tidak! anak ini tidak bersalah, aku tidak akan pernah membunuhnya." Entah keberanian dari mana ia berani membantah bahkan berteriak kepada pria yang berstatus suaminya itu.


Dave tertawa pelan tapi tawa itu terdengar menyeramkan ditelinga Sreya yang masih mencengkram erat seprei. Ditambah petir yang menggelegar dan hujan disertai angin kencang seakan alam juga sedang menumpahkan isinya, mencurahkan perasaan jika alam juga tidak setuju dengan apa yang baru saja diminta calon ayah itu.


"Kau ingin mengunakan anak itu sebagai alasan agar kau tetap bersamaku ya?." Tanyanya masih dengan senyum diwajahnya, sedangkan Sreya yang mendengar itu menunjukkan raut wajah tidak percaya.


"Atau mungkin kejadian malam itu juga karena ulahmu? agar aku bisa menamakan benihku dirahimmu?, Cuih menjijikkan." Dave meludah sembarangan setelah mengatakannya.


Sreya mengeratkan gigi-giginya saat mendengar ucapan yang seakan menyalahkannya. Wanita itu turun dari ranjangnya berjalan mendekati Dave yang masih duduk tenang disofa sambil menyilangkan kakinya.


Tampilan wanita muda itu sangat berantakan, tidak ada yang tau jika ia juga sangat tertekan karena kehadiran kehidupan baru dirahimnya.


Ia juga sedih, ia juga frustasi, apalagi umurnya yang masih sangat muda untuk menjadi seorang ibu, disini dirinya yang sangat dirugikan. Tapi dengan mudahnya pria itu bilang jika ia sengaja? sengaja mengandung anak dari lelaki bajingan yang bahkan terang-terangan ingin membunuh anaknya dihari mereka mendengar kehadirannya?.


"Apa kau bilang? Aku juga tidak mau mengandung anak dari laki-laki sepertimu!. Kau adalah laki-laki pengecut yang pernah aku kenal!!." Teriak Sreya kemudian menarik nafasnya dalam-dalam, sebelum berteriak lagi dengan pria tidak tau diri ini.


" Kejadian malam itu tidak sepenuhnya salahku, kau yang datang ke kamarku dan langsung menodaiku, mengambil harta yang paling aku jaga selama ini. Dan sekarang dengan mudahnya kau menyalakan aku? Dan menuduhku melakukan hal yang merugikan ku sendiri? Apa kau pikir aku senang mengandung anak darimu? aku juga ingin mengandung anak dari lelaki baik yang bisa menghormati dan menyayangi ku. Bukan laki-laki tidak tau diri seperti mu, anak ini juga pasti akan membencimu suatu hari nanti jika dia tau bagaimana sifat ayahnya sendiri!."


Malam gelap ditemani hujan deras dengan petir yang menggelegar, Sreya seorang wanita yang selalu terlihat baik-baik saja mengeluarkan seluruh kekesalannya, seluruh beban pikirannya kepada pria yang selalu ia hindari.


Dave mengangkat salah satu sudut bibirnya membuat Sreya yang melihatnya geram.


"Sudah? apa kau ingin mendapatkan hartaku lewat anak itu?. Tenang saja, bahkan tanpa kehadirannya aku akan memberikan lima persen saham perusahaan kepadamu. Kau bisa hidup sampai mati dengan bergelimang harta tanpa susah payah bekerja." Ucapnya.


"Makan saja uangmu itu sampai mati!." Teriak Sreya didepan wajah Dave


Dave terbahak sambil mengusap wajahnya pelan, pelan-pelan ia mendongakkan kepalanya menatap tajam mata yang sedang melihatnya seakan ingin menusuk dirinya.


"Beraninya kau berteriak padaku?!" ucap Dave sarkas sambil berdiri dari duduknya membuat Reya yang melihatnya memundurkan langkah.


"Dengar jal*ng, kau harus tetap mengugurkan anak itu besok pagi dan setelah itu aku akan mengurus surat perceraian kita secepatnya. Aku tidak ingin hidup lebih lama dengan seorang wanita manipulatif seperti dirimu"


"Jam sepuluh pagi, persiapkan dirimu" ucap Dave kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar Sreya.


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote!


__ADS_2