Dia Anak Ku

Dia Anak Ku
Jajan


__ADS_3

Belum ada setengah perjalanan menuju gerbang utama, Sreya terduduk di trotoar sambil mengibaskan tangannya.


"Kenapa gerbang dan rumah harus berjauhan seperti ini sih!. Takut ada maling apa?! Lagian juga maling akan mikir dua kali masuk ketempat seperti ini." Ucap Sreya kesal.


Jalan menuju gerbang utama kediaman Matthew ini melingkar, ditengah-tenghnya terdapat air mancur dengan patung mahkota raja melambangkan simbol keluarga Matthew. Arsitektur mewah kediaman ini bahkan bisa dilihat hanya dari luarnya saja.


Setelah berjalan cukup jauh ditemani sinar matahari yang lumayan membakar kulit. Akhirnya Sreya berhasil sampai di gerbang utama walaupun hanya tinggal separuh nafas.


"Si pengawal gila itu benar-benar tidak menolongku. Ais kakikuu" ringis Sreya sambil memijit pelan kakinya.


"Heii buka gerbangnya, kalian menunggu apa hah?" sentak sreya kepada lima pengawal yang menjaga gerbang utama yang sedang menatapnya bingung.


"Anda sampai juga nona"


Suara salah satu pengawal mengalihkan atensi Reya, dia menengok keasal suara melihat pengawal pria yang berbicara dengannya didepan rumah tadi sedang duduk dimobil listrik.


"K-kau!" ucap Sreya geram sambil melihat mobil listrik yang ditumpangi pengawal itu. Jika ada kendaraan seperti ini kenapa harus menyuruhnya jalan kaki pikirnya.


"Maaf nona, saya hanya memastikan anda tidak pingsan. Sekarang apa kaki anda baik-baik saja?" tanya pengawal itu dengan nada mengejek.


Sreya menahan nafasnya yang mulai memburu, ia yakin pengawal ini membalasnya karena ia mengumpat tuannya tadi.


"Arkhh memang kalian semua gila! cepat buka gerbangnya!!" teriak Sreya melengking membuat para pengawal dengan cepat menekan remote kontrol gerbang untuk membukanya.


****


Dave Matthew


"Menu makan siang dimasak sesuai dengan apa yang diberikan ahli gizi"


Biru menangguk kemudian berjalan kearah pria yang sedang duduk menyilang dikursi sofa dengan jas hitam melekat ditubuhnya.


"Tuan muda, minuman anda." .


Dave menengguk minumannya pelan menikmati setiap rasa wine yang memiliki kombinasi rasa dari aroma blackcurrant dengan aroma pohon oak yang sangat cocok di lidahnya.


Bibirnya menyunggingkan senyum tipis membuat para pelayan yang berdiri di setiap sudut ruangan bisa sedikit menghirup udara.


Biru yang berdiri dibelakang Dave menyuruh para pelayan untuk membersihkan peralatan makan yang ada dimeja.


Orang-orang yang mengenakan pakaian putih dibalut rompi hitam khas ala waitress dengan sigap langsung melangkahkan kakinya menuju meja tempat orang berkuasa ini duduk. Para waitress menahan napasnya saat tangan mereka terulur untuk mengambil peralatan makan, masih dengan senyuman yang harus tetap terbit di bibirnya walau entah sudah seheboh apa jantung mereka berdisko didalam.


Dave berdiri dari duduknya membuat para pelayan mematung diposisinya yang sedang mengambil piring dan beberapa alat makan lainya.


"Dave? apa ada lagi yang kau butuhkan?." Tanya pria berbalut jascook dengan topi tinggi diatas kepalanya.


"Tidak" Jawabnya kemudian berjalan keluar dari ruang makan diikuti Biru dibelakang.


Dave masuk kedalam mobil saat Biru membukakan pintu belakang. Pria itu menghela nafas sambil menyenderkan kepalanya dikursi.

__ADS_1


Biru mendudukkan dirinya dibelakang kemudi lalu mulai menyemprotkan cairan bening berbau harum distir kemudi. Pria berstatus asisten seorang pengusaha besar itu mulai mengelap beberapa benda yang mungkin akan disentuhnya nanti.


Sedangkan Dave, pria itu tetap diam tidak bergeming dari posisinya yang sedang menyenderkan kepalanya dan memejamkan matanya.


Selesai dengan rutinitas wajib Biru, ia melirik kearah spion melihat tuannya dibelakang menarik nafas sebelum mengucapkan kata yang mungkin akan membuat dirinya terbunuh walau hanya dengan tatapan matanya saja.


"Tuan, apa anda akan mengunjungi kediaman utama hari ini?" hati-hati Biru melirik lagi kearah spion depan melihat reaksi Dave.


Dave spontan membuka matanya menatap kearah Biru yang langsung membuat sang empunya terdiam menahan nafas.


Dave mengambil iPad disampingnya, "Tidak" jawabnya acuh.


Biru menjalankan mobilnya pergi dari halaman restoran bintang lima tempat yang sering digunakan untuk mengisi perut tuan muda Matthew.


*****


"Kau itu kenapa Rea?"


Reya yang ditanya hanya diam acuh tidak menjawab, wanita itu berdiri dari duduknya kemudian melangkah naik diatas motor vestic milik Jenifer, teman seperjuangannya.


"Ayo kita putari kota dan menghilangkan penat ini bersama" ucap Sreya dengan nada putus asa, Jenifer mencibirkan bibir saat mendengarnya.


"Eywhh, kau menjijikkan" ucapnya kemudian ikut menempelkan bokongnya di jok belakang.


***


"Ya!" Jawab Sreya tak kalah kerasnya.


"Dimana?"


"The king of hotel city" jawab Reya langsung membuat mata Jenifer melotot.


"What?! oh my God, kau beruntung sekali sih" ujar Jenifer cemburu.


"Kenapa memangnya?"


"Ya karena itu five star apalagi nama hotelnya sangat populer akhir-akhir ini. Dan juga five star hotel pasti hanya menerima anak magang yang fasih berbahasa Inggris, sedangkan aku? huh! nasib jadi wanita bodoh" umpat Jenifer untuk dirinya sendiri sambil memukul helmnya.


"Ya, itu nasibmu"


****


"Kapan kau mulai magang?" tanya Jenifer kemudian memasukkan setusuk cilok pedas kedalam mulutnya.


"Lusa" jawab Reya sambil mengunyah makanan, matanya memutari jajanan pinggir jalan. Menyeleksi mana yang akan dibelinya lagi.


"Wah cepat sekali ya? kayaknya baru kemarin kita masuk kuliah sekarang udah semester enam aja" ujar Jenifer yang langsung ditanggapi dengusan nafas dari Reya.


Tiba-tiba mata Sreya berbinar saat melihat bapak penjual rujak lewat didepan mereka sambil mendongakkan gerobaknya.

__ADS_1


"Pak rujaknya satu ya!" teriak Reya sambil berdiri.


"Oh iya mbak, ditunggu yah" jawab bapak penjual rujak yang langsung melakukan eksekusinya.


"Okey" jawab Reya sambil mengacungkan kedua jempolnya kemudian kembali duduk dipinggir trotoar.


"What Rea? are u okay? bukannya kamu nggak suka makanan asem-asem ya?" tanya Jenifer tidak percaya.


"Lagi pengen aja" jawab Sreya gampang kemudian mengeluarkan ponsel dari tas selempangnya.


"Ngapain?" tanya Jeni saat melihat Sreya mengangkat ponselnya keatas.


"Selfi, mau ikut?" tanya Reya sambil melihat layar ponsel yang memperlihatkan wajahnya.


"Mauu"


"Mbak rujaknya sudah jadi" ucap bapak penjual rujak sambil mengulurkan sebungkus rujak.


"Ah iya pak, terimakasih" ucapnya sambil menerima bukusan plastik kemudian mengambil uang di dompetnya lalu menyerahkannya pada bapak penjual rujak.


"Ditunggu sebentar ya mbak, tak ambil kembaliannya dulu"


"Nggak usah pak, kembaliannya buat bapaknya aja" jawab Sreya sambil membuka bungkus rujaknya.


"Wah yang bener mbak, makasih banyak ya mbak"


Sreya mengangguk, bapak penjual rujak itu menyebrang jalan menghampiri gerobaknya.


Sreya memasukkan setusuk mangga muda kedalam mulutnya, mengunyah dengan cepat sambil memejamkan matanya seolah itu adalah makanan terenak yang pernah ia makan.


Jenifer meringis melihatnya, "Enak?"


Sreya mengangguk mantap menjawabnya, jujur rasa rujak ini lebih enak dari pada dugaannya.


"Omg, enggak asem apa Re?"


"Enggak, mau coba?" tanya Reya sambil mengacungkan setusuk belimbing pada Jenifer.


Jenifer menggeleng membuat Reya memakan sendiri belimbingnya.


"Kayak orang hamil aja Re" ucal Jenifer spontan saat melihat temannya makan rujak tanpa mengeluarkan ekspresi keasaman.


Reya yang baru mau menyuapkan setusuk nanas, terdiam tangannya menggantung diudara. Ia tiba-tiba teringat saat ia mual tadi pagi dan ia juga bingung dirinya tidak menyukai makanan asam tapi rasanya lidahnya berair saat melihat rujak lewat tadi. Dan juga jika dipikir-pikir ia sudah telat datang bulan.


Apa jangan-jangan?


*****


Jangan lupa like dan vote!!!

__ADS_1


__ADS_2