Diary Artha

Diary Artha
BAB 1


__ADS_3

Aku, Arthasya Malik, teman-temanku selalu menyebutku sadboy. Terdengar menggelikan sih, namun julukan ini didapatkan ketika aku sedang mencari seorang gadis dari masa lalu. Selama aku tinggal di Bandung, kenangan itu selalu menghantuiku. Dulu aku tidak mempunyai seorang teman, hingga akhirnya dia datang. Setiap sore kami selalu bermain bersama, senyum khasnya membuatku jatuh cinta. Anak umur 6 tahun sudah jatuh cinta? mungkin terdengar konyol, namun kenyataannya begitu. Dia menemaniku bermain di taman, hingga akhirnya dia meninggalkan aku sendiri. Selain dia, aku tidak ingin mempunyai teman lagi.


14 tahun kemudian, aku meninggalkan Bandung untuk melepas bayang-bayangnya. Aku memilih Yogyakarta sebagai kota pelarian untuk kuliah dan mencari pekerjaan. Kedua orangtuaku tidak setuju, namun aku hanya ingin mencari jati diri dan menghindari Bandung dan segala kenangannya.


~~


Setiap fajar tiba, aku berolahraga mencari udara segar. Jogja di pagi hari sangatlah indah, makanya aku tidak salah memilih kota ini sebagai pelarian. Setelah mengelilingi kompleks perumahan, aku selalu berhenti di tempat yang sama.


"Eh mas Artha, pagi amat mas jogingnya ?" tanya Mang Ono, si tukang bubur langgananku.


"Iya nih mang, mumpung tadi bangunnya kepagian hehehe. Biasa ya mang, seporsi tanpa kerupuk!" kataku.


"Baik mas ganteng, hehehe" jawab Mang Ono sambil tertawa.


Tidak lama kemudian, bubur ayam pesanan aku sudah disajikan di depan mata. Akupun sudah tidak sabar memakannya.


"Mang, buburnya 3, dibungkus ya?" kata si pembeli.


Deg....


"Aku merasa tidak asing dengan suara ini, pernah mendengar dimana ya?" gumamku sambil menyuapkan buburnya.


"Ini neng, jadi semuanya delapan belas ribu aja" kata Mang Ono.


"Ini mang, lebihnya buat mamang aja" kata si gadis itu.


"Terimakasih banyak ya neng Mira"


"Sama-sama mang" (Mira tersenyum pada mang Ono)


Aku baru tersadar, suara itu milik sang gadis! Ya aku baru mengingatnya. Kini aku makan dengan cepat.

__ADS_1


"Ini mang uangnya, kembaliannya buat mamang." kataku sambil menyerahkan uang sepuluh ribuan.


"Oh iya mang, inget nama cewe tadi gak mang?" tanyaku sembari mencari info tentang gadis tadi.


"Oh neng Mira. Dia langganan mamang dari dulu tuh. Kalau tidak salah, namanya teh Hana Almira" kata Mang Ono sambil mengingat-ingat.


Bressss....


Tiba-tiba hujan turun dengan deras.


"Ok makasih mang. Aku mau lanjut dulu" kataku.


"Hati-hati mas Artha lagi hujan, jalannya licin" dan aku membalas dengan anggukan.


"Hana Almira..


Nama ini seperti milik gadis pada masa kecilku. Ah hujan makin deras.. aku harus bergegas pulang untuk berangkat kuliah" gumamku.


~~


"Akhirnya, ketika balik hujannya sudah tidak deras" kataku sambil menghela nafas dengan lega.


Sekarang masih pukul 06.45 dan kuliahku dimulai pada pukul 08.00. Sambil menunggu hujan reda, aku akan membereskan kamarku yang terlihat berantakan.


15 menit kemudian...


Aku bergegas menuju halaman kostku. Menunggu ojol kesayanganku menjemput. Jarak kostku ke kampus hanya 15 menit.


Kini aku berjalan santai menuju kelas. Sambil menikmati musik dari HP menggunakan headphone dan menikmati aroma tanah yang terkena hujan.


Bruk...

__ADS_1


"Maaf mas.. maaf sekali lagi. Saya terburu-buru" kata dia sambil membungkukkan badan.


"Oh iya gapapa. Saya juga yang salah mba, hehehe" kataku sambil berdiri dan membersihkan celana.


(Mengeluarkan sapu tangan) "ini mas ambil saja sapu tangan saya. Oh iya mas, saya Hana Almira, masnya bisa manggil saya Hana atau Mira bahkan Al kayak teman masa kecilku(dengan suara lirih), hehehe" kata Hana.


Aku perlahan-lahan melihat ke arahnya. Wajah itu mirip dengan dia, gadis kecil 14 tahun yang lalu.


"Mas..mas... mass... jangan ngelamun" katanya sambil melambaikan tangan di depan wajahku.


"Ah iya maaf Al" aku tergugup.


"Maaf tadi kamu manggil aku, Al? Oh iya nama kamu siapa?" dia bertanya padaku untuk menghindari kecanggungan.


"Oh um aku Artha. Arthasya Malik" aku yang mempernalkan diri di hadapannya.


"Apakah dia Artha teman kecilku? heum..." Hana bergumam lirih hingga Artha tak mendengarkan.


"Oh, ayo kita masuk ke kelas. Hari ini aku ada kelas pagi." ajakku kepada Hana.


"Oh iya, bolehkah aku minta nomor telepon kamu? Siapa tahu aku bisa mengajakmu main." tawarku sambil tersenyum.


"Um boleh kok. Kemarikan ponselmu" kata Hana dengan bersemangat.


Setelah ponselku diisi nomor telepon Hana, aku pamit duluan untuk masuk kelas. Dan Hana akan melanjutkan perjalanan ke gedung rektorat untuk bertemu dengan salah satu pegawai disana.


Pagi ini, menjadi awal untuk mencari informasi tentang Al (gadis kecil) ke Hana Almira. Kalau dipikir nama mereka hampir mirip, dan lagi, tadi mereka menyebut kata 'teman kecil'.


"Ah kupikir ini awal untuk pendekatan dengan Hana. Semoga saja, aku bisa mendapatkan sesuatu darinya" doaku sebelum menuju kelas.


Aku mempercepat langkah kakiku untuk menuju kelas.

__ADS_1


~~


__ADS_2