Diary Artha

Diary Artha
BAB 4


__ADS_3

Kukuruyuk... kukuruyuk....


Hoamm... aku terbangun di pagi hari dengan suasana bahagia. Entah kapan terakhir kalinya aku tidur dengan nyenyak seperti ini. Ku buka jendela, membiarkan udara segar masuk kedalam kamar.


Aku bergegas mandi dan menggunakan pakaian untuk kuliah. Setelah itu aku berjalan menuju pedagang nasi uduk depan kosku. Untung saja tidak ramai, banyak bangku yang masih kosong.


"Eh, mas Artha, baru keliatan nih. Kemarin-kemarin kemana mas?" tanya ibu penjual.


"Iya Bu, kalau pagi saya jogging dulu jadi jarang mampir kesini hehehe" kataku sambil menggaruk tengkuk.


"Owalah gitu toh. Ini mas nasduknya. Selamat menikmati yo." Perlahan si ibu kembali ke tempat sebelumnya. Aku berdoa terlebih dahulu sebelum makan.


Aku menyuapkan sedikit demi sedikit nasi. Sangat menikmati. Aroma tanah masih terasa, udara juga terasa dingin. Sambil menyesap segelas teh hangat. Sungguh nyaman...


Setelah selesai makan dan membayar, aku pergi ke kost-an lagi untuk mengambil tas dan berangkat menuju kampus.


Aku juga mengecek kembali ponselku, namun belum terbalaskan. Aku kecewa namun tidak bisa melakukan apapun.


Aku menyusuri jalanan menuju kampus, sesekali sambil menyapa orang-orang yang sudah aku kenal.


Ting..


Tiba-tiba suara pesan berbunyi dari ponselku.


 


Lo dimana Ar?


Ternyata sebuah pesan dari Reza yang menanyakan keberadaanku. Namun pesan tersebut tidak aku buka. Aku melanjutkan perjalanan ke kampus.


10 menit kemudian, aku tiba di kampus. Lumayan juga untuk mengganti kegiatan lari pagiku. Aku berjalan menuju ke ruang kelas.


"Artha, tungguin!", teriak seseorang.


Aku menoleh, ternyata yang memanggilku Hana. Aku tersenyum karena dia tersenyum ke arahku. Ada perasaan lega setelah melihatnya.


"Artha, maaf ya. Aku sudah melihat pesanmu, namun belum sempat ku balas karena baterai hpku habis," kata Hana berterus terang.


"Iya tidak apa-apa, aku paham dengan situasimu." Meskipun aku tersenyum pada Hana, percayalah hatiku perih huhuhu.


"Ayo kita masuk kelas," ajak Hana sambil menggandeng erat tanganku. Aku merasa melayang.


Aku berjalan menikmati bergandengan tangan ini dengan hangatnya sinar matahari mengenai kulit. Rumput dan bunga-bunga seakan mempersilakan diriku berjalan melewati ini.

__ADS_1


"Tha, aku mau ke ruang sekretariat dulu. Kamu ke kelas duluan aja. Oh iya, aku duduk di sebelah kamu ya?" pinta Hana, kemudian dia pamit dan berjalan menuju sekretariat. Sedangkan aku berjalan menuju kelas.


Aku tersenyum kepada setiap orang yang aku temui.


"Wihhh senyum-senyum mulu lo. Kesambet apaan sih?" tanya Edo yang tiba-tiba muncul entah darimana.


"Eh setan lu ye! jadi orang demen banget ngagetin," kesalku pada Edo.


"Ututu bahasa nyablaknya keluar dong. Gemay deh, pengin peyuk babang Artha.." kata Edo sambil memonyongkan bibirnya.


"Sejak kapan lo jadi homo, Do?" tanya Reza sambil membawa lima bungkus nasi uduk.


"Sejak lo ninggalin gue ke kantin." Dengan nada ketus Edo menjawab.


"Udah-udah dimakan dulu tuh nasduknya. Mumpung masih anget," ajak Dio.


"Makasih sob," kataku pada Dio. Dio membalasnya dengan senyuman.


Kami berempat makan bersama di dalam kelas sambil menunggu mata kuliah pertama dimulai. Dosen di semua mata kuliah jam pertama itu, hampir semuanya ngaret hihi..


"Halo semua," tiba-tiba Hana sudah muncul di depan kami. Kami jadi tersedak, yang kasihan itu si Edo. Dia makan nasduk dengan sambal yang begitu banyak, sekarang dia kelimpungan mencari air.


Kebetulan aku, Dio, Reza sedang tidak terburu-buru makan, jadi tidak akan serempong Edo.


"Maaf ya semua, gara-gara aku datang tiba-tiba, kalian jadi keselek," Hana menyesali perbuatannya. Dia menjadi murung.


"Yodah sini Han, duduk di sebelahku. Noh bangku masih kosong," kataku mencairkan suasana.


"Hana mau nasduk? Ini masih sisa satu bungkus," tawar Dio.


"Tidak usah. Tadi Hana sudah sarapan di sekretariat kok," tolak Hana sambil tersenyum.


Dio dan Reza hanya mengangguk-anggukkan kepala.


Jam pertama sudah dimulai. Untungnya kami sudah selesai sarapan, jadi makannya tidak terburu-buru karena mepet dengan jadwal datangnya dosen. Matkul kali ini dilakukan hanya 50menit tatap muka, sisanya dipakai untuk mengerjakan tugas. Hari ini, semua dosen akan mengadakan rapat besar, jadi semua mahasiswa di pulangkan.


Aku, Edo, Dio, dan Reza sedang bermain di kostan Dio. Kost milik Dio berada di samping kampus, tapi herannya Dio sering terlambat datang. Membuat kesal saja ..


Aku pulang menuju kost dengan membonceng teman kost yang kuliah di kampus yang sama denganku, tujuannya untuk menghemat pengeluaran.


Tring..


Sebuah pesan dari ibu masuk.

__ADS_1


*From : Mamah


Pukul : 12.56.04


Artha, bisa pulang ke Bandung dulu gak? Ini kakek dan nenek kamu datang, pengin ketemu kamu*.


Jujur saja aku senang karena nenek dan kakek main ke Bandung. Segera ku balas pesan dari ibu.


To : Mamah


From : Artha


Pukul : 12.57.02


Mah, Artha ke Bandung liat sikon ya. Maksudnya liat jadwal Minggu ini dulu. Nanti kalau udah fiks, Artha langsung ke Bandung.


Aku mengirim pesan dan sudah mendapatkan balasan.


*From : Mamah


Pukul : 12.58.01


Goodboy 🐒*


Heishhh, mamah emang suka begitu. Apalagi dulu waktu bikin aplikasi pesan, ngirim emoticon aneh. Sedih tapi juga lucu gitu. Mamah emang paling konyol xixixi..


Aku selalu mengantuk di siang hari. Sekarang aku sudah mengurangi beberapa hal seperti kerja part time atau paruh waktu. Aku sering sakit-sakitan sejak kecil, jadi ku putuskan tahu ini untuk tidak melakukan kerja paruh waktu.


Aku jadi penasaran, ada maksud apa di balik semua ini. Nenek dan kakek tiba-tiba ke Bandung dan menyuruhku pulang. Biasanya mereka juga menghubungiku melalui telepon atau video call.


*Lebih baik aku tidur siang daripada mikirin hal yang gak pasti," gumamku.


Langit diluar tak secerah tadi pagi. Kini mendung datang, dan sepertinya akan turun hujan. Hari ini aku tidak mencuci apapun, karena di aplikasi cuaca, hujan badai akan datang, jadi ku putuskan untuk tidak mencuci pakaian.


Aku mulai memasuki alam mimpi..


"*Hai Asya, masih ingat aku?" huh suara ini tidak asing. Ya! pasti suara Al. Aku mencari sumber suara, berlari kesana-kemari. Namun tak kunjung ku temukan.


Sebentar, aku melihat seorang gadis dibawah pohon. Duduk di atas ayunan gantung. Dia memiliki rambut panjang.


"Al?" sapaku. Saat dia membalikkan badan, itu adalah wajah milik Hana.


"Apakah Hana itu Al teman masa kecilku?" kalimat ini melayang-layang di pikiranku terus menerus.

__ADS_1


Aku ingin kebenaran terungkap. Agar aku bisa mendapatkan dirimu, Al*...


__ADS_2