Diary Artha

Diary Artha
BAB 2


__ADS_3

"Hoi Artha!" Sapa Dio. Dio adalah salah satu sahabatku di kampus ini. Meskipun dia kalem, tapi kalo sudah berkumpul, dia yang paling cerewet.


"Astaghfirullah setan!" aku yang kaget. Bagaimana tidak kaget, aku sedang melamunkan Hana, malah Dio yang ada di depanku.


"Hehehe, muka gue imut Tha, masa lu bilang gue setan" Kata Dio sambil merajuk.


"Imut dari mana coy! Gak sudi temenan sama lu.  Dah lah gue mau masuk kelas" selesai mengatakan, aku langsung berlari meninggalkan Dio yang sedang kesal.


Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 dan sang dosen sudah masuk kelas.


"Selamat pagi semua" sapa Bu Zumi, sang dosen yang mengajar pagi ini.


"Pagi bu" jawab kami serempak.


"Pagi ini, ibu akan memperkenalkan teman baru kalian. Saya harap kalian bisa menerima dia" jelas Bu Zumi.


"Baik Bu!"


"Kau yang diluar, silakan masuk" perintah Bu Zumi.


Tek..Tek..Tek.. (suara sepatu high heels). Tiba-tiba jantungku merasa berdebar.


"Pagi" sapa seseorang yang suaranya familiar di pendengaranku.


Aku yang tadinya sedang fokus memainkan pena, cepat-cepat ku angkat kepala,


dan melihat siapa mahasiswi baru. Aku tidak menyangka bahwa Hana lah


yang akan datang.


"Saya Hana Almira, mahasiswi semester 6. Saya dari jurusan Hukum, sekarang saya ingin mengikuti salah satu mata kuliah di jurusan Akuntansi. Mohon bantuannya semua" kata Hana saat memperkenalkan diri sambil membungkukan badan.


"Akhirnya ya, ada cewe cantik di kelas kita" celetuk salah satu teman sekelasku.


"Heh. Emang kalian kira, kita juga tidak cantik?!" Eriska,cewe yang paling ganjen dikelas mulai tersulut emosi


"Sudah-sudah, kalian tidak usah ribut. yang ribut silakan keluar dari kelas saya!" bentak bu Zumi. "Dan kamu Hana, silakan duduk disebelah Dio"


(Dio menepuk pundak Artha) "Tha..Tha.. Akhirnya gue duduk sama kating cakep.Ah elah mana bisa tidur ntar malem" kata Dio sambil kegirangan.


Aku tetap memperhatikan Hana yang berjalan ke arah kami. Kalau diliat-liat, dia punya senyum yang menggemaskan. Ah aku jadi teringat dia dimasa kecil.


"WOYY! ARTHA BUDEK" teriak Dio di telingaku. Yang tadinya kelas senyap, kini menjadi ramai karena teriakan dari Dio.


"Tadi siapa yang berteriak?" tanya Bu Zumi dengan wajah galaknya.

__ADS_1


"Lu ngapain Tha sampai bengong gitu dah?" kata Reza yang berada disebelah kiriku.


"Gapapa Za, rada ga enak badan aja gue" jawabku dengan berbisik. Reza menganggukan kepala seakan mengerti.


"Jangan- jangan lu suka ya Tha sama Hana. Gak nyangka gue, lu akhirnya suka sama cewe setelah mendapat julukan sadboy hahahahaha...." celetuk Edo yang membuat seluruh mahasiswa menertawakanku.


Saat ini aku sudah sangat malu.


"DIAM SEMUA" amarah dari Bu Zumi sudah tidak tertahankan lagi. "Kelas saya akhiri. Selamat pagi." Bu Zumi keluar kelas dengan tergesa-gesa.


Kami bersorak gembira karena dosen tersebut memutuskan untuk mengakhiri mata kuliah ini. Hana hanya tersenyum, tanpa sadar aku melihatnya tersenyum. Menyejukan hatiku.


~~


Kelas berakhir lebih cepat dari biasanya. Kuputuskan untuk berkumpul dengan Dio, Reza,dan Edo. Mereka adalah sahabatku. Meski berbeda karakter dan kepribadian, kami saling menyayangi. Kali ini kami berkumpul di kantin kampus.


"Heh Tha, lu kenapa sih hari ini?" tanya Edo.


"Ralat woy, maksudnya sejak Hana masuk kelas kita, wakakakakakak" ledek Dio.


Aku hanya menampilkan senyum masam. Bagaimana tidak, sikapku terlalu terang-terangan.


"Hoi, kalian inget gak gue pernah cerita tentang apa?" tanyaku.


"Oh"


"Emang lu pernah cerita ya?"


Pletak... ( aku menyentil dahi mereka bertiga karena gemas).


"Yang tentang gadis kecil di masa lalu gue. Jangan bilang kalian lupa?" kataku.


Mereka mengangguk bersama-sama.


(Aku hanya bisa menepuk jidat sambil menggelengkan kepala)


"Jadi, selama ini gue nyari tuh gadis kecil. Nah tadi pagi, gue gak sengaja nabrak si Hana. Dia samar-samar aja tuh nyebut 'teman kecil'. Tapi kayanya ini cuma firasat gue aja sih, kalo gue tuh 'teman kecil' dia", kataku dengan nada serius.


"Oh.. terus gimana?"


"Ngaco lu. Jangan kepedean coy, hahaha..."


"Kok gue gak percaya sih?"


Aku masih sabar menghadapi mereka bertiga. Belum aja aku keluarkan jurus cubit rawitku (cubitan kecil namun terasa pedas).

__ADS_1


"Kalian bertiga! Gue ajak nongki buat diajak curhat malah bikin emosi semua", kataku menggebu-gebu karena kesal.


"Maaf Tha, gue bingung nanggepinnya. Lu tau sendiri kan, gue gak pernah deket sama cewe" kata Reza dengan wajah cool-nya.


"Iya Za, gue paham. Kalo menurut lu gimana, Do?"


"Kalo menurut gue sih Tha, lu mending deketin Hana dulu. Cari informasi dari masa kecilnya, kemudian lu analisis sama berdasarkan pengalaman lu" saran Edo.


"Oke Do, gue bakal nerapin saran lu. Dan lu Dio?" aku mengangguk mengerti.


"Ya maap mas Artha, gue kan gak ngerti apa yang lu omongin. Jadi gue gak bisa ngasih saran", kata Dio sambil cengengesan.


"Gila lu, Artha cerita panjang lebar, gak ada satupun yang lu ngerti?" tanya Edo dengan terheran-heran.


Reza tersedak minumannya dan aku hanya bisa melongo mendengar perkataan Dio.


"Untung lu temen gue yang lemot, Yo" kataku sambil meremas rambut Dio.


Kita tertawa lepas dengan suasana bahagia. Sehabis itu, suasana kembali hening. Kami menikmati makanan dan minuman masing-masing.


"Eh, gue mau pulang yak. Gue ada urusan penting" kata Edo memecah keheningan.


"Gue nebeng dong. Kan rumah kita sejalur beb. Gimana, mau kan?" kata Dio sambil menunjukkan puppy eyes nya.


"Geli gue ada cowo modelan gini " tanpa sadar, Edo bergidik ngeri.


"Gue juga pulang. Biasa bantu emak bikin pesenan kue." kata Reza yang sudah berdiri dari bangkunya.


"Oke ati-ati bro!" kataku.


Mereka mengangguk kepala, kemudian melakukan salam perpisahan ala cowo. Kini aku sendirian, aku putuskan untuk membeli beberapa makanan di kantin untuk aku makan di kost nanti.


30 menit berlalu.


Aku melakukan perjalanan pulang dengan berjalan kaki. Ternyata asyik juga melakukan ini. Lebih santai, bisa mampir ke pedagang kaki lima. Bisa melihat anak-anak SD pulang sekolah.


Aku rindu orang tuaku, masakan mamahku, tapi mereka tidak ingin menetap di Yogyakarta, aku disini merasa kesepian. Huft... udah semester 4, tugasku semakin banyak. Banyak hal-hal yang tidak dapat aku lakukan lagi selain belajar, olahraga.


Di sepanjang jalan pulang, banyak makanan jadul yang sebelumnya belum pernah aku makan. Excited banget aku.


Dan akhirnya aku sampai di kost. Lelah sekali badan ini. Namun aku sangat menikmati, sambil mengenang masa kecil dan merasakan hal baru.


Kini sudah menunjukkan pukul 11.00, aku ingin tidur siang. Sembari mengumpulkan energi.


~~

__ADS_1


__ADS_2