Diary Artha

Diary Artha
BAB 3


__ADS_3

Tok..Tok..Tok...


Engh...


Perlahan kubuka mataku. Sayup-sayup terdengar ketukan pintu. Aku pun bergegas mencuci muka kemudian membuka pintu.


"Tha, itu hujan. Lu jemur baju gak?" tanya penghuni kost yang mengetuk pintu kamarku.


"Enggak mas" masih kondisi setengah sadar, aku menjawab.


"Ok. Deh" kemudian si mas penghuni sebelah pergi. Aku pun baru tersadar, kalau aku "JEMUR SPREI".


Aku bergegas keluar, dan fiuh... spreiku belum terlalu basah. Di angin-anginkan sebentar, mungkin akan kering.


"Kenapa bisa lupa kaya gini sih? Aku dari tadi padahal gak mikir apa-apa. Sedih dah..", ocehku kepada dinding.


Sekarang sudah pukul 16.00, sebaiknya aku mandi dulu.


~~


Mandi dulu gaes ..


~~


"Huaaaaaaaa suegeeeeerrreee" teriakku karena sekarang merasa lebih fresh.


Aku bingung, hanya mondar-mandir saja dari kasur ke kamar mandi. Di luar masih hujan, entah kapan redanya. Yang terpenting, cadangan makananku masih tersedia.


Aku pun makan sedikit demi sedikit makanan tersebut. Tapi rasanya ada yang kurang. Kubuka kembali buku catatan, ternyata tidak ada tugas apapun. Dan akhirnya aku ingat, kemarin Hana memberikan nomor telepon kepadaku.


Aku mencari whatsapp-nya, line-nya, dan akhirnya muncul. Rasanya aku ingin menari-nari.


"Hana lucu ya.." gumamku sambil tersipu malu.


Aku menjelajahi akun line-nya, dan menemukan sebuah postingan yang menarik. Hana ternyata sedang bercerita tentang teman masa kecilnya.


Aku akhirnya mengirim pesan singkat ke Hana.


 

__ADS_1


"Hai Hana, saveback ya"


 


Aku gemetar, apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?


Aku menunggu sekitar 5 menit, namun tetap saja pesanku belum terbaca. Jadi semakin galau hatiku.


Karena aku sudah bosan menunggu, akhirnya ku buka buku catatan tadi. Aku mulai mempelajari materi hari ini. Beginilah aku, kalau sudah bosan, hanya bisa baca materi saja. Ataupun tidur lebih awal.


Meskipun aku cowo, aku suka menulis. Ada satu buku yang tidak boleh dibaca orang lain, yaitu diaryku. Isi dari diary itu hanya keluh kesahku selama ini mencari Al. Tau kan kalian? Teman masa kecilku dulu.


Aku selama ini berfikir, apakah Al mencariku juga? atau mungkin malah melupakan aku? Aku pun tidak tau.


Kring...kring..kring...


Ponselku berdering. Apa mungkin Hana?, kataku dalam hati. Setelah kulihat ternyata mamahku.


~~ percakapan dalam telepon ~~


Mamah : "Dek, gimana kabarnya? Kuliahnya lancar?"


Aku : "Baik mah, kuliahku juga lancar. Aku sehat. Mamah gimana? Mamah sama Papah harus jaga kesehatan. Meskipun adek disini sendiri, adek gak kesepian kok."


Aku : "Mamah yang cantik, sekarang adek udah besar. Adek gak kesepian karena banyak temennya, ada buku, bantal, baju, lemari."


Mamah : "Duh, anak mamah jadi jomblo ngenes ini mah. Memangnya enggak ada cewe yang mau sama adek? Adek kan tampan, mempesona, idola ibu-ibu kompleks."


Aku : "Aku tuh nolak mereka semua mah. Aku tampan, jadi bisa cari yang lain. Masa di idolain ibu kompleks. Mamah nelfon ada apa?"


Mamah : "Oh iya lupa mamah. Kamu ingat tetangga kita yang dulu ? yang punya anak perempuan lebih tua diatasmu satu tahun? mereka balik lagi kesini. Tadi mamah nanya, anaknya kok gak keliatan, terus kata mamahnya dia lagi kuliah di Jogja. Udah semester 6. Dan dia satu universitas sama kamu. Kamu kenal enggak?" (dengan nada kepo)


Aku : "Mamahku yang cantik, disini cewe bukan dia doang mamahhhhh. Yang dari Bandung juga bukan dia doanggg. Disini mah cewe banyak yang cakep atuh. Gimana sih mamah?"


Mamah : "Ya siapa tau kan? kamu masih ingat terus dia juga ingat. Terus kalian pendekatan dan akhirnya piupiu.. pacaran hahahahah" (dengan ledekan dan tawa menggoda)


Aku : "Mah.." (nada datar)


Mamah : "Oh iya dek, udah dulu ya. Mamah mau masak dulu. Kamu jangan lupa makan. Dah ya. Bye sayang."

__ADS_1


Tut..Tut..Tut.. (sambungan telepon terputus)


Aku : "Mamaaaaaaaahhhhh kenapa teleponnya dimatiin" (dengan nada kesal dan amarah yang meluap-luap)


~~ end call ~~


"Tadi mamah bilang kalau tetangga yang baru pindah itu punya anak cewe lagi kuliah di Jogja? Hemmm siapa ya kira-kira?(sambil memegang dagu). Kenapa aku gak nanya namanya, bodoh banget!" gumamku sambil menepuk jidat.


~~


Hari semakin malam, aku sudah makan malam. Karena tidak ada tugas, aku lanjut menulis diary. Aku sebenarnya suka banget nulis. Apapun yang terjadi kemarin lusa, kemarin, hari ini, akan aku tulis. Apa alasannya? aku pun tak tahu.


Setelah menulis, aku mempunyai kepuasan tersendiri. Mungkin hobi ini terlihat hanya untuk anak perempuan, tapi kenyataannya laki-laki pun bisa. Aku menulis hal seperti ini di diary karena aku belum bisa mempercayakan orang lain sebagai tempat berkeluh-kesah.


Seperti aku yang merindukan "Al", aku tidak mempunyai teman yang bisa diajak curhat, jadi aku hanya menggunakan diary ini untuk menumpahkan segala sesuatu.


Balik lagi ke topik...


Aku sedang mengecek ponselku, namun hasilnya tetap nihil. Hana tidak membaca pesanku, sesibuk apakah dia hingga tak dapat membalaskan pesanku? Apa mungkin karena aku bukan siapa-siapa Hana? makanya dia tidak meresponku.


Diriku yang malang..


Waktu sudah menunjukkan pukul 22.10, hujan diluar masih deras dan angin kencang, bahkan sekarang terdengar suara gemuruh. Aku memasukkan buku catatan untuk kuliah serta buku pendamping lainnya. Aku cowo, tapi rajin, meski gayaku berandalan hehehehe...


Aku sedang berjalan mendekati jendela, suasana di luar sepi. Udara sekitar menjadi sangat dingin. Aroma tanah yang terkena hujan sangat menenangkan. Aku merindukan saat-saat seperti ini. Mamah dan papah yang selalu menemaniku disaat hujan. Kehangatan keluarga yang tidak ternilai harganya.


Nit not..


Bunyi notifikasi hp membuyarkan lamunanku. ternyata ada sebuah pesan dari Edo, yang mengatakan bahwa dia absen untuk hari esok karena ayahnya jatuh dari tangga.


Aku hanya membaca pesan itu, lagi-lagi aku mengharapkan pesan dari Hana yang tak kunjung terbalas.


Aku berbaring di atas ranjang. Mengingat kembali kenangan masa lalu yang tak kunjung selesai. Mengingat senyum manis Al, saat pertama jumpa hingga tangis dari Al saat meninggalkan aku. Hujan, sepi, adalah waktu terbaik untuk merenungkan kembali.


Hingga tanpa aku sadari, mataku sudah mulai berat. Aku menguap begitu lebar, mataku sudah berkaca-kaca. Aku memanjatkan doa agar tidurku nyenyak.


Tapi tetap saja mataku tidak ingin terpejam, ingin selalu terbuka.


Ada apa gerangan ini?, gumamku.

__ADS_1


Aku bangkit, kemudian mencuci muka serta membasuh tangan dan kaki. Ku nyalakan kipas angin dengan angin sepoi-sepoi. Aku berdoa kembali, dan memejamkan mata.


~~


__ADS_2