
Siapa yang tidak pernah jatuh cinta, tua dan muda pasti pernah merasakannya. Saat cinta hadir tidak ada yang bisa mengelaknya, karena semua berasal dari hati. Namun ingatlah, pandai-pandailah dalam mengelola hati saat jiwa dilanda rasa cinta, agar kamu tidak terjatuh dan terjerumus pada perasaan cinta yang mendalam. Bila sudah terjerumus tak ada yang bisa menolongmu kecuali dirimu sendiri melawan rasa itu.
Bertahun-tahun menjalin kasih dengan seorang pemuda yang tidak memberikan status dalam hubungan, hanya bermodal rasa sayang dan cinta, tidak saling menuntut, namun saat dibutuhkan selalu ada. Tidak pernah ada rasa curiga dan ketakutan akan saling meninggalkan.
Namun, pada suatu kondisi saat mereka lulus kuliah, keduanya terpisah jarak, hubungan masih terjalin, sampai saat yang tidak mengenakkan datang menghampirinya. Aira Dzakiyah masih fokus mengetik depan layar laptopnya. Dia harus menyelesaikan laporan akhir pelatihannya. Tiba-tiba ponselnya berdering, menampilkan nama pemuda yang selalu ada dihatinya. Seulas senyuman terulas dibibirnya, dia segera mengangkatnya.
" Iya kenapa?"
" Ai," Panggil pemuda disebranh telpon dengan suara lirih.
" Iya, ada apa?"
"Ai, aku.."
" Apa Abizar, kau mau nikah?" tiba-tiba Aira mengucapkan hal itu, entah dari mana dia bisa-bisanya langsung mengatakan hal ini, entah karena feelingnya sebagai wanita atau hanya menerka saja.
" Iya," Jawabnya.
Seketika, Aira terhenti dari aktivitasnya itu. Dia mulai terdiam mendengar jawaban dari sang kekasih tanpa status ini. Dia mulai mengatur nafasnya.
" Jelaskan." Balas Aira.
" Aku akan menikah dengan seorang wanita disini, aku minta maaf padamu, aku harap kamu bisa ikhlas."
Mendengar penuturan dari Abizar, air matanya mengalir dipipinya, sesak sekali dadanya merasakan hal tersebut, tidak ada angin tidak ada petir dia mendapatkan kabarntak sedap. Jiwanya serasa melayang.
__ADS_1
" Aira aku minta maaf."
"Kenapa kamu menikahinya?" Dengan suara tertahan, Aira mencoba tegar mendengar semua penjelasan Abizar.
" Orang tuanya meminta aku segera meminangnya, aku mengenalnya sebulan yang lalu. Dia yatim."
Semakin mendengar penjelasan Abizar, semakin sesak dadanya, kini Aira hanya hening menahan suaranya agar tidak terdengar sedang menanggis. Panggilan telpon beralih ke video call. Aira hanya terdiam.
" Biarkan aku melihat kamu Aira,"Ucap Abizar.
"Untuk apa? bukankah kamu tidak perlu melihatku lagi?"
" Aku tidak ingin menyakitimu"
" Sudahlah, tidak mungkin aku tidak sakit hati."
"Lupakan." Ucap Aira menutup telponya dan menanggis hebat.
Hidupnya serasa hancur, dan kini panggilan itu datang lagi, Abizar menelponya berkali-kali. Aira mendiamkannya tidak mengangkat telponnya sama sekali. Hatinya remuk berkeping-keping, tidak pernah terpikir Abizar akan meninggalkannya.
Matanya sendu menatap seorang diri, dia kehilangan dirinya, letih rasanya. Tatapannya kosong, mengadu kepada sang pencipta agar diberikan keikhlasan yang besar atas segala hal yang menimpanya. Tiada henti siang dan malam dia mencurahkan semua rasa sakitnya, semua kesedihanya kepada sang Pemilik hati.
Setahun kemudian....
Tidaklah muda bagi Aira melupakan kejadian itu, saat dirinya berada dalam kehancuran yang sehancur-hancurnya. Di berusaha membangun jiawanya kaut lagi. Kini dirinya tengah menatap sebuah rapot yang bertuliskan Emilia, seorang siswi binaanya di kelas X sains. Dia membaca biodata siswi tersebut dan menatap foto yang terpangpang disana.
__ADS_1
Kini Aira, sedang menunggu seorang wali bagi siswanya untuk mengambil rapot siswa tersebut. Terlihat siswi itu memegang ponselnya dengan gelisah karena tidak ada yang datang untuk mengambil rapotnya. Sesekali Aira meliriknya dan menghela nafasnya. Emilia adalah salah satu siswi yang sedikit nakal, jarang mengerjakan tugas, sukanya hanya bersolek, selfi dan main tiktok, sudah banyak teguran dan laporan dari para guru yang sampai ke telinga Aira sebagai walikelasnya. Terlihat diluar sana Emilia merenggek.
" Ayolah, bantu aku kak, ambilin rapot gitu doang sih."
"*Kenapa gak bilang dari kemarin kan sekarang kakak sedang mengasuh ponakanmu!"
" Ya terus siapa yang bakal ambilin, ayolah kak. nantu papi marah lagi sama aku."
" Ya udah tungguin om kamu!"
" Yes yes*!!!"
Aira melihat siswa ABG itu terlihat girang, bisa diprediksi anak itu berhasil merayu seseorang untuk menjadi wali nya. Aira kembali pura -pura tidak memperhatikan tingkah anak tersebut. Aira kembali melihat ponselnya menatap jam disana waktunya 15 menit lagi untuk menunggu orang tua wali siswa. Dia mulai merapihkan dua rapot yang belum diambil.
Sambil bersadar dibangkunya, Aira menatap atap diruang kelas, kilatan kenangan buruk itu terkadang datang menghampirinya, rasa rindu ingin menyapa terkadang menyeruak. Perpisahan dengan Abizar yang tidak mengenak itu membuatnya tidak pernah berkomunikasi lagi sejak pernikahan Abizar dilangsungkan. Aira tidak lagi berteman di sosial medianya Abizar, bukan niat memutuskan silaturahmi tapi semua demi kesehatan mental Aira yang hampir depresi karena kejadian itu.
Setelah setahun berlalu, perasaan Aira mulai bisa menerima yang terjadi padanya memang sebuah takdir yang harus dilaluinya. Tidak ada didunia ini yang ingin ditinggalkan oleh orang yang dikasihi tapi terkadang ada yang harus berpisah untuk menemukan yang lebih baik lagi.
tap
tap
tap
Suara langkah kaki memasuki ruang kelas menyadarkan Aira dari lamunannya, dia menoleh ke arah datangnya suara langkah kaki itu, pandangannya tertuju pada lelaki berjas hitam yang didampingi gadis ABG yang terlihat senang mengintilnya. Lelaki berjubah itu terlihat menebarkan senyuman ke arahnya, wajah itu terekam jelas dalam pandangan Aira yang terdiam membeku.
__ADS_1
#Bersambung.