Dibawah pelukan tanpa kepastian

Dibawah pelukan tanpa kepastian
Bukan Pilihan


__ADS_3

Kamu sendiri kan tau! kenapa masih menanyakannya!


Kak, aku gak bisa menunggu kamu harus kasih kepastian.


Sabarlah, aku sedang sibuk dengan pekerjaanku, sama tesisku juga. Bisa kan kamu gak bikin aku pusing.


Iya maaf


Begitulah percakapan Aira dan Arkanza yang selalu berakhir dengan perdebatan. Memanglah hubungan yang dijalin Aira dan Arkanza tidak baik, karena Arkanza memiliki wanita lain juga selain Aira. Namun, cinta yang membuat Aira tetap bertahan. Aira sangat nyaman dengan Arkanza semenjak Arkanza selalu ada untuknya saat dia patah hati ditinggalkan oleh Abizar.


Aira saat ini yang sedang menyantap makan malam hanya bisa melihat layar ponselnya yang pesannya hanya dibaca oleh Arkanza. Sesak rasanya di dada, bertahan sakit lepas darinya lebih sakit. Tidak terasa air matanya pun membasahi kedua pipinya. Bukan sekali dua kali Arkanza membuatnya harus menelan pil pahit.

__ADS_1


Niat hati untuk menyembuhkan luka, justru malah menambah luka baru dengan menjalin hubungan tersembunyi dengan Arkanza. Meskipun tau salah tapi tidak ada yang bisa menyalahkan cinta, mungkin yang patut disalahkan ada orang yang tidak meredam rasa itu yang pada akhirnya akan menjadi boom waktu yang siap meledak.


Dalam hati, Aira pun memutuskan untuk berhenti menganggu Arkanza dan mulai fokus dengan pekerjaannya, dan pelan-pelan melepaskan perasaannya. Karena akhir dari kisahnya jika tidak pelaminan maka siap siap dengan perpisahan kembali. Dia yang sudah terbiasa dengan Arkanza harus siap tanpanya. Ponselnya pun di matikan.


Malam ini, akan menjadi malam yang sunyi, kilatan kemesaraan dengan Arkanza terputar, Arkanza yang setiap malam akan menelponnya, menemaninya bercerita. Seiring berjalannya waktu, semua itu tidak pernah ada lagi. Kenangan dengan Arkanza sangat berkesan dalam hati Aira, sampai air matanya terus mengalir, dia merasa bagaimana sakitnya jika dirinya akhirnya harus melepaskan cintanya untuk kesekian kalinya. Tanpa terasa Aira terlelap dalam batin yang penuh luka.


****


Jika pagi harusnya menjadi waktu yang begitu memberikan semangat, namun tidak berlaku bagi Aira yang terbangun dalam keadaan hati berantakan, Dia tunaikan ibadah wajib dan membaca Alquran, setelahnya dia mengecek ponselnya. Tidak ada satu notif dari kekasih pujaannya. Memang begitulah sikap lelaki ini akhir-akhir ini.


" Oh Alhamdulillah"

__ADS_1


Balas Arkanza dingin, Aira hanya menghela nafas seraya membalasnya.


" *Kita sama sama berjuang, aku akan selesaikan kuliahnya begitupun dengan Kak Arkanza. Semangat ya"


" Ok*"


Lelah rasanya melihat respon Arkanza yang tidak berselera berkomunikasi dengannya, dalam hati Aira berpikir mungkin Arkanza sedang sibuk atau tidak menyukainya.


Terkadang sikap Arkanza manis, tapi kadang dia bersikap dingin, acuh, dan tidak peduli padanya. Aira bukan tidak paham dengan tanda-tanda lelaki yang bisa mempermainkannya, tapi rasa cintanya menolak semua itu dan percaya Arkanza lelaki yang baik dan berbeda dengan orang dimasa lalunya. Tanpa memperdulikan balasan sikap dingin Arkanza, Aira mengirimkan lagi pesan.


"Jaga kesehatannya, semangat kerjanya"

__ADS_1


Pesan tersebut langsung dibaca namun tidak ada balasan dari si empunya. Aira berusaha tidak memperdulikan hal tersebut, walau dalam hatinya dia sangat ingin Arkanza bersikap seperti dulu lagi. Tapi semua tampak seperti hanya hayalan belaka saat ini. Entah Arkanza pura-pura sibuk atau tidak menginginkannya lagi.


Bersambung....


__ADS_2