Dibawah pelukan tanpa kepastian

Dibawah pelukan tanpa kepastian
Putusan


__ADS_3

Waktu terus bergulir, Aira semakin sibuk dengan perkuliahan dan mengajar disekolah, namun di sela sela waktu kosongnya Aira selalu memikirkan Arkanza yang sudah jarang mengabarinya, status yang dibuat Aira jarang dilirik, pesan dari Aira lambat di balas bisa seharian padahal Arkanza online.


Kesal tentu saja dirasakan oleh Aira dengan sikap Arkanza. Suatu ketika Aira memprotes sikap Arkanza yang enggan membalas pesan darinya.


*Ada apa dengan sikap Kaka? Udah gak mau hubungan sama aku? Kaka marah sama aku?


Maaf aku sibuk*!


Selalu saja demikian balasan dari Arkanza. Sekali dua kali Aira memaklumi tapi terkadang jengkel juga, bahkan mereka bisa tidak bicara selama seminggu. Hal itu spontas membuat hati Aira hancur menahan rindu. Dia tahu, sebagai wanita tak seharusnya mengejar lelaki, tapi mau bagaimana lagi cinta membutakan akal pikirannya. Meski demikian kadang-kadang Aira mengalah dan menghubungi Arkanza lebih dulu, tapi balasan darinya terlambat seperti biasanya.


*Aku pengen ngobrol bisa?


Aku lagi kerjaan banyak.


Ya udah kapan bisanya*?


Pesan ini pun berkahir dengan hanya dibaca saja oleh Arkanza. Sewaktu-waktu diwaktu libur selesai kuliah Aira menyempatkan untuk menelpon Arkanza, telpon tersambung tapi tak kunjung diangkat oleh Arkanza. Dua sampai tiga dihubungi tidak ada respon. Aira menyerah dengan sikap Arkanza yang tampak menjauh.

__ADS_1


Dia kembali menatap laptopnya, dia harus fokus menyelesaikan pekerjaan kantor dan kuliahnya. Pola tidurnya acak-acakan, pola makan tidak teratur, ditambah beban pikiran terhadap Arkanza yang seolah menjauhinya.


Selain itu Aira juga harus menghadapi konflik di keluarganya yang terlilit hutang, tugas-tugas kuliah yang tidak kunjung selesai, dalam satu malam harus selesai perangkat pembelajaran membuatnya stres. Aira hanya butuh seseorang menghiburnya, dan orang itu adalah Arkanza.


Namun, semua hiburan itu hanya ada dalam khayalan Aira belaka.


Andai aku tidak jatuh cinta, mungkin tidak seperti ini, Bisik Aira dalam hatinya.


Sungguh jatuh cinta sangat menyiksaku, aku terganggu, hatiku gelisah juga. Lanjutnya dia menatap foto profil lelaki yang baginya pemilik hatinya saat ini.


****


Dua bulan berlalu komunikasi Arkanza dan Aira semakin menipis. Aira berhenti mengirimkannya pesan karena takut kecewa. Tidak jarang pesan-pesannya jarang dibaca. Sungguh perih rasanya. Sampaj suatu ketika Aira memutuskan mengirimkannya pesan.


Jika memang sudah tidak menginginkan aku, katakan dengan jujur, jangan pedulikan hatiku hancur biar aku obati sendiri. Jujur kak Arkan masin mau dengan aku atau pengen udahan?.


Pesan tersebut langsung bercentang biru. Jantung Aira berdebar kencang, dia mengetik sampai tertampilah pesan yang tidak bisa dipahami.

__ADS_1


*Udah ya. Aku cape sama kerjaan dan kamu cuma menghalangi aku menyelesaikan tesis ku!


Apa maksudnya? Aku tidak menghalangi sama sekali, demi Allah.


Emang kamu gak menghalangi, tapi kamu cukup membebani aku.


Aku minta maaf membuat kamu terbebani. Tapi aku gak ada niatan kesana.


Memang gak ada udah ya, kita udahan.


Beneran?


Iya*.


Seketika dunia terasa hancur, memang Aira menginginkan kepastian yang harus dinantikannya berbulan bulan. Hubungan keduanya sudah berjalan setahun dan baru sekarang Arkanza mengatakan ingin mengakhirinya. Bagaikan disambar petir bagi Aira, jika tidak menanggis bukan Aira namanya. Air matanya meleleh membasahi pipinya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2