
Pandangan mata Aira jatuh ke lelaki yang berjalan ke arahnya. Dia tumudak membalas senyuman yang diberikan lelaki itu, hanya berusaha menahan debaran jantungnya yang melonjak. Emilia mengandeng lelaki itu dan segera mendudukan walinya di kursi tepat dihadapan Aira.
Lelaki dihadapannya tampak sedikit salah tingkah, Aira tidak langsung berbicara dia menyiapkan rapot Emilia dihadapannya, dan menyiapkan draf tanda tangan kehadiran wali orang tua siswa.
Baru kemudian Aira menarik nafasnya, dan menatap ke arah lelaki dihadapanya sedikit menarik senyuman dibibirnya. Kemudian menjulurkan tangannya.
" Terima kasih sudah datang, saya sudah menunggu orang tua Emilia hadir." Ucap Aira dengan formal dan tangan itu disambut cepat oleh lelaki dihadapan itu dan memegangnya erat, tatapanya dalam ke arah Aira yang menatap tajam dengan mata tersenyum jelas itu bukan aura ketulusan tetapi kepura-puraan.
"Senang bertemu dengan bu Aira." Ucapnya.
Aira segera menarik senyuman dan tanganya, lalu menghindari kontak mata dengan lelaki dihadapannya yang terus menerus menatap ke arahnya.
" Silahkan pam ditandatangan dulu kehadirannya disini." Ucap Aira sambil menyodorkan map kehadiran.
Lelaki itu menurut dan mengisi daftar hadirnya seraya berkata.
" Tidak mungkin kamu lupa? bagaimana kabarmu? aku om nya."
" Baik terima kasih." Aira tidak membahasnya.
"Emil, kamu tunggu diluar saja, om ingin mendengar banyak tentangmu." Ucap Lelaki itu pada ponakannya.
" Okey om ganteng, jangan lupa godain bu guru yaaaa." Emilia langsung berlalu sambil cekikikan.
Hening, tidak ada suara yang memulai percakapan, Aira tampak mengatur emosinya dan dia menatap rapot Emilia, Aira sama sekali tidak ingin menatap wajah lelaki dihadapannya.
" Urusan kita sepertinya belum selesai melihat ekspresi kemarahanmu" Ucapnya.
" Oh baiklah, ada beberapa yang perlu saya diskusinya dengan orang tuanya Emilia."
" Okey."
"Emilia sebenernya anak yang cukup baik, hanya saja dia tidak bisa mengontrol dirinya. Saya sebagai walukelasnya bukan berniat mengajari cara mendidik, jelas orang tua Emilia lebih berpengalaman soal ini, daripada saya. Saya hanya memgatakan Emilia membutuhkan banyak perhatian dan kontrol orang tua." Ucap Aira lugas.
"Baiklah aku akan sampaikan ke orang tuanya."
" Terima kasih, dan saya menyarankan agar Emilia ikut ekstrakurikuler Videografi dan seni tari, sepertinya dia memiliki bakat dibidang tersebut. Kemudian saya minta agar kosmetik tidak selalu dibawa ke sekolah. Tutur Aira sesekali menatap lelaki itu lalu mengalihkan padangannya.
__ADS_1
" Emmm okey.. Apakah dia sangat merepotkan bu Guru?" Tanya lelaki itu sambil menopang dagunya di meja seolah mengoda Aira.
"Tidak." Jawab Aira dingin.
"Benarkah? Bagaimana kabarmu?"
"Anda lihat sendiri kondisi saya baik saat ini"
"Bu Aira masih marah?"
" Bagaimana anda tau saya marah?"
" Lihatlah kau menganggapku orang asing."
"Ah. Sepertinya percakapan kita cukup sampai disini, saya harap ke depannya bisa bertemu orang tua Emilia." Ucap Aira sambil seraya berdiri dan merapihkan dokumennya.
" Kita luruskan permasalahan kita." Ucap lelaki itu.
" Tidak perlu, ini silahkan rapot Emilia." Aira langsung menyodorkan rapot tersebut.
Sejenak lelaki yang mengaku om nya Emilia menatap rapot yang disodorkan Aira dia terpaku lalu mengambilnya.
"Aira!!" Panggilnya membuatnya terhenti. Lelaki itu melangkah mendekat dan berdiri dihadapan Aira.
"Jangan terus menghindar seperti ini."
"Siapa yang menghindar, kita hanya bertemu hari ini."
" Aira. Aku tau kamu marah."
" Aku tidak marah, hanya saja aku tidak suka bertemu denganmu lagi."
"Kamu membenciku?"
Aira tidak membalas ucapan lelaki tersebut langsung memutar bola matanya, dan seraya pergi, namun tangannya ditarik dan jatuhlah Aira ke dalam pelukN lelaki itu. Sebuah pelukan yang sangat erat.
"Lepaskan anda tidak sopan!!" Berontak Aira.
__ADS_1
"Pelukan akan meredam amarah Aira, lagi pula aku belum pernah memelukmu selama kita menjalin kasih." Bisiknya.
" Tidak tahu malu!!" Gertak Aira.
" Memang. Kamu sangat wangi ternyata aku suka parfummu." Ucap lelaki itu tersenyum dan melepaskan pelukannya.
Aira yang terlepas dari pelukan lelaki itu terlihat kesal, dan langsung menginjak kaki lelaki itu lalu segera keluar dari ruang kelas dengan perasaan yang berkecambuk.
Lelaki itu mengaduh sambil tersenyum melihat sikap Aira yang begitu dingin tapi membuatnya ingin terus mengodanya. Emilia yang berada diluar langsung memghampirinya.
" Om, kenapa?"
" Ah tidak, ini tadi kejedot kaki meja." Ucapnya berbohong.
" Om tadi ibu Aira bilang apa?"
" Kamu gak boleh menor!" Ucap Abizar mengacak rambut Emilia.
" Iiih Ommm!" Emilia Kesal karena rambutnya jadi acak-acakan.
Abizar berjalan beriringan dengan emilia menuju ke mobil pribadi yang terparkir. Jauh disana Aira menatap memperhatinya.
Tidak seharusnya kita bertemu lagi
Ting
Sebuah pesan masuk ke ponselnya, Aira melihat pesan dari Arkanza. Dia lelaki yang akhir-akhir ini menguasai hatinya.
Kenapa tidak menghubungiku?
Aku sedang cemburu, kamu jalan sama dia.
Balas Aira yang saat ini menjalani hubungan dengan seorang lelaki yang sama mengantungkan perasaannya. Aira pun menyimpan ponselnya dan segera berkemas untuk pulang, di ruang guru sudah mulai sepi.
Ting
Sebuah pesan kembali masuk.
__ADS_1
#Bersambung...