
Jerome dilahirkan dari sebuah keluarga biasa. Nenek moyangnya adalah petani, dan mereka menjalani kehidupan yang sulit. Beberapa dari mereka pergi untuk tinggal di kota. Jerome diterima di Universitas Andalas dan Rumah Sakit Andalas atas usahanya sendiri.
Dia membiayai sekolah dan hidup dengan menjadi
pengantar makanan, dan terkadang dia menyisihkan
sejumlah uang untuk keluarganya.
Sejak mulai berpacaran dengan Zola, dia menghabiskan hampir semua uangnya untuk gadis itu. Selama tiga tahun mereka bersama, dia memperlakukan Zola dengan baik, dia tidak menyangka Zola akan mengkhianatinya.
Bahkan, dia tidak menyadari usaha terbaiknya tidak
memenuhi tuntutan Zola. Dia juga merasa bersalah.
Jerome menatap langit dengan tatapan kosong. Dia berjalan tanpa tujuan ke arah rumah sakit seperti zombie.
Pada saat itu, dia melangkah ke tengah jalan tanpa
memperhatikan lampu merah. Sebuah Maserati melaju dengan cepat.
"Tin.Tin.Tin.Tin."
Pengemudi membunyikan klakson dengan panik, tetapi mobil itu gagal berhenti dan menabrak Jerome.
Jerome tiba-tiba merasa jantungnya berdetak dengan cepat hingga rambutnya berdiri tegak. Dia punya firasat buruk, kemudian dia berbalik dan melihat sebuah mobil sport merah muda menuju ke arahnya. Namun, sudah tidak ada waktu lagi untuk menghindar, dia langsung menutup wajahnya.
"Break!"
Dengan suara yang keras, Jerome terbang seperti
layang-layang rusak, lalu menghantam tanah dengan keras. Akhirnya, dia terguling tepat di samping Maserati itu.
Semua orang ketakutan menyaksikan kecelakaan lalu lintas yang tiba-tiba itu. Tempat kejadian ditutup, dan ambulan dipanggil.
Sebelum Jerome pingsan, dia melihat sepasang sepatu hak tinggi yang indah di tanah, dan darah mengalir di celananya. Tak lama kemudian, dia pingsan.
"Dimana ini? Apakah ini neraka?"
Tanpa sadar Jerome menutup mukanya. Dia mendapati dirinya bukan lagi berada di depan mobil sport merah muda itu, melainkan di tempat yang suram. Dia tidak dapat melihat dengan jelas, tapi dia bisa berdiri. Dia merasakan udara bergerak di setiap langkahnya. Dia pikir dia berada di neraka.
Lalu seekor sapi hitam perlahan menghampirinya. Di punggungnya ada seorang pria tua yang memegang sebatang ranting. Dia berpakaian serba abu-abu, janggutnya menyentuh dadanya. Meskipun rambutnya beruban, dia kelihatan muda, tanpa kerutan.
Orang tua ini mirip dengan Jerome. Namun, matanya lebih jernih, seperti bintang. Dia menatap Jerome sambil tersenyum.
"Aku sama sekali tidak tahu bahwa dua ribu tahun
__ADS_1
kemudian, keturunanku akan sangat biasa saja. Namun, karena kamu berada di Ruang Kekuatan, aku punya hadiah untukmu. Aku akan memberkatimu menjadi seorang dokter terbaik di dunia. Aku berharap kamu bisa menyelamatkan banyak orang."
Tubuh pria tua itu tiba-tiba berubah menjadi udara
berwarna, dan dengan cepat masuk ke dalam pikiran Jerome. Tiba-tiba banyak gambar obat-obatan pemurnian bermunculan di dalam otaknya.
Jerome merasa otaknya sakit, dan dia berguling-guling di lantai sampai dia tidak tahan lagi, kemudian dia berhenti meronta, dan jatuh pingsan.
Lama setelah itu, Jerome membuka matanya. Dia
merasa seluruh tubuhnya sakit, dan dia putus asa.
Dia mengira lelaki tua itu adalah dokter hebat yang
menurunkan keahliannya kepadanya. Dia akan menjadi pria yang luar biasa, dan punya masa depan yang cerah.
Dia terbangun dengan rasa sakit di bagian belakang kakinya, dan seluruh kakinya memar. Lengannya diperban seperti mumi. "Sebuah mimpi yang bodoh!" pikirnya.
Dia melihat sekelilingnya dan melihat ada sebuah
ranjang rumah sakit otomatis. Dia sadar ini adalah
ruang VIP Rumah Sakit Andalas, di mana harga kamar ini sehari setidaknya 11,2 juta.
Tidak ada siapa-siapa di kamar ini. Jerome
Sebuah papan kayu dengan karakter-karakter kuno
tercetak di atasnya, muncul di benaknya.
Sebelum dia sempat bereaksi, kayu itu berubah menjadi seberkas cahaya dan menyembur masuk ke dalam matanya lagi. Gambaran-gambaran itu berputar seperti film dalam pikirannya.
Termasuk keahlian pengobatan tertinggi,
dongeng-dongeng kuno, dan keahlian pengembangan kemampuan magis ... Yang terakhir, senyuman pria tua yang mirip dengannya itu. Kemudian semuanya menghilang.
"Anda lagi!" ujar Jerome terkejut.
"Jadi, orang tua itu adalah leluhurku yang hebat.
Ternyata semua ini benar-benar terjadi. Ada keahlian-keahlian warisan yang nyata," pikirnya.
"Terima kasih untuk semua yang Anda tinggalkan
untukku. Aku pasti akan memenuhi cita-cita Anda untuk menjadi seorang dokter yang baik. Sekarang aku telah terlahir kembali, aku akan meneruskan keahlian medis leluhurku," Jerome bersumpah.
__ADS_1
Tiba-tiba, dia kembali ke kehidupan nyata. Sebelum
sempat bereaksi dengan apa yang baru saja dia alami, dia mendengar seseorang memanggilnya.
"Jerome, kamu masih hidup?" Sandra bertanya dengan terkejut.
Kecelakaan serius yang menghancurkan Maserati itu, tapi Jerome hanya mengalami luka ringan. Dia hanya tidak sadarkan diri untuk beberapa saat.
Jerome tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya memutar bola matanya. "Sandra, sudah berapa hari aku tidak sadarkan diri?"
"Kamu tidak sadarkan diri selama tujuh hari. Jika kamu tidak sadar, kami semua berpikir kamu akan mengalami koma." Sandra terkejut melihat kondisi Jerome yang tak kurang satu apa pun.
"Siapa pengemudi mobil itu? Mengapa hanya aku
sendiri yang berada di sini?"
Jerome tiba-tiba ingat Zola sudah memutuskan
hubungan dengannya, dan tidak ada seorang pun yang datang menjenguknya di rumah sakit.
"Setelah kecelakaan itu, seorang pejalan kaki menelepon ambulan dan membawamu ke rumah sakit. Pengemudi itu yang mengirim ke kamar VIP dan menyimpan deposit 112 juta. Kamu tidak perlu khawatir tentang biaya pengobatan."
Sandra adalah mentor Jerome. Dia tahu Jerome sedang mengalami kesulitan keuangan, dan dia tidak akan mampu membayar biaya pengobatannya jika pengemudi itu tidak membayarnya.
Jerome merasa lega ketika mendengar biaya pengobatan sudah teratasi. Dia berpikir, "Sungguh beruntung aku ditabrak oleh orang kaya. Jika aku diusir dari rumah sakit karena kekurangan uang, semua warisan leluhur yang aku peroleh akan hilang dengan sia-sia."
"Sandra, terima kasih sudah menjagaku selama
beberapa hari ini," ujar Jerome dengan tulus. Dia sudah terbiasa dengan sikap acuh tak acuh orang-orang selama berada di rumah sakit, jadi dia merasa sangat berterima kasih kepada Sandra karena telah merawatnya.
Sandra melambaikan tangannya dan berkata, "Tidak
apa-apa. Aku harap kamu bisa segera sembuh."
.,.,.,.,.,
Sandra melambaikan tangannya dan berkata, "Tidak
apa-apa. Aku harap kamu bisa segera sembuh."
Jerome melihat baju pasien yang dia kenakan dan
mencium aroma tubuhnya sendiri, lalu dia menjilat
bibirnya. "Terima kasih sudah memandikan dan
__ADS_1
mengganti pakaianku. Kalau tidak, sepertinya tidak akan ada yang mau masuk ruang perawatan." ucapnya.