
Setelah keluar dari bar yang barusan ia tempati bersama Jordan, Nael menyandarkan tubuhnya ke belakang, ia mencoba mengatur nafasnya. Jujur saja emosinya masih membara, jujur saja ia masih ingin menghajar Jordan. Tapi ia tidak ingin lepas kontrol, ia tidak ingin membuat masalah di dekat hari pernikahannya.
Setelah bisa menormalkan dirinya, akhirnya Naell pun menegakkan tubuhnya, kemudian ia langsung berjalan keluar dan menuju untuk pulang. Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil yang dikendarai Nael sampai di mansion keluarganya.
Ia pun turun dari mobil, kemudian masuk ke dalam. Saat melewati tempat berdoa, Nael menghentikan langkahnya ketika ia mendengar suara isakan dari dalam.
Perlahan, Nael mengintip. Ternyata, melihat Leticia sedang berdoa. Dada Nael terasa berdesir pedih, saat mendengar isakan adiknya. Entah seberapa berat luka yang ditanggung Leticia. Hati Nael, semakin hancur ketika menyadari bahwa selama ini ia tidak dekat dengan adiknya.
Bahkan sebelum ia berpura-pura mati, Ia pun jarang sekali mengajak Leticia berbicara bahkan terkesan acuh pada adiknya, sekalinya mereka berbicara, mereka hanya akan berdebat dan sekarang ia sadar adiknya mungkin tidak mempunyai tempat untuk bercerita, aalagi Aurora berada di Spanyol sedangkan dia pun tidak terlalu dekat dengan Leticia.
Nael menghapus sudut matanya yang berair, kemudian melangkahkan kakinya ke arah Leticia, membuat Leticia tersadar, ia menguraikan tangannya kemudian menghapus air matanya.
__ADS_1
“Kakkak!” ucap Leticia, ia menatap Nael dengan nada sendu.
Perlahan, Nael maju ke arah Leticia, kemudian membawa sang adik ke dalam pelukannya. Leticia terdiam, saat berada di pelukan Nael. Mati-matian, ia berusaha untuk tak menangis.
Jujur saja, tiga tahun ini benar-benar berat untuknya. Selama tujuh tahun, Ia menjalani hubungan dengan Jordan, dan ia harus berakhir dengan kekecewaan yang mendalam. Tentu saja itu tidak mudah untuk dilupakan.
Beberapa kali Leticia berusaha untuk membuka hatinya. Tapi tak bisa, rasa sakit itu membayanginya. Hingga rasanya, ia tidak percaya lagi pada seorang lelaki.
Selama ini, ia memendamnya semua sendiri karena Aurora jauh. Sedangkan untuk bercerita pada ayah ibunya juga tidak mungkin, ia tidak mungkin menambah pikiran ayah dan ibunya. Ia tidak mau mengganggu hari tua ayah dan ibunya, itu sebabnya ia memendamnya semua sendiri.
•••••
__ADS_1
Nael membuka pintu kamar, kemudian Ia masuk ke dalam kamar, ternyata Gabby sudah tertidur. Setelah bercerita panjang lebar bersama Leticia dan Leticia sudah kembali ke kamarnya, Nael pun memutuskan untuk masuk ke dalama kamar, rasanya ia ingin secepatnya merebahkan tubuhnya di sisi Gabby
“Ya, Tuhan Gaby kamu mengagetkanku!” pekik Nael ketika ia duduk di samping Gabby dan menurunkan selimut yang menutupi wajah Gabby, dan ketika Nael membuka selimut, ternyata Gabby masih membuka matanya.
“Kenapa kau lama sekali!” protes Gabby.
“Kau menungguku dari tadi?” tanya Nael.
“Aku menunggumu dan kau lama sekali!” gerutu Gabby membuat Nael menarik sudut bibirnya.
“Kau pasti tidak bisa jauh-jauh denganku, kan?” seketika wajah Gabby memerah saat mendengar ucapan Nael, kemudian ia kembali menutup wajahnya dengan selimut karena ia tersipu, membuat Nael tertawa ternyata Gabby mempunyai sisi yang menggemaskan.
__ADS_1
scroll gengs