Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Tubuh terdiam


__ADS_3

Arsen menyingkirkan tangan Gisel dari pinggangnya, karena ia ingin bangkit dari berbaringnya. Degupan jantunya semakin terasa kala Gissel memeluknya. Namun tak lama, Arsen terpekik kaget ketika tangan Giseel kembali lagi memeluk pinggangnya.


Rupanya, Gisel tidak tertidur ia hanya berpura-pura tertidur. Itu sebabnya, ketika Arsen menyingkirkan tangannya, Gisel kembali memeluk pinggang Arsen.


“Giseel, apa-apaan kau, kenapa kau lancang sekali memelukku!” hardik Arsen. Padahal, beberapa jam lalu dia pun juga memeluk Gisel di depan pintu.


“Tutup mulutmu. Aku masih mengantuk,” jawab Gisel, ia berbicara ketus.. Padahal mati-matian Ia menahan tangisnya, rasanya ia belum sanggup membahas apapun dengan Arsen.


Arsen mahalan nafas, kemudian menghembuskannya. Ia tidak boleh kalah dengan Gisel, Ia pun langsung menyingkirkan tangan Gisel secara paksa, lalu bangkit dari berbaringnya.


“Gisel, bangun dari ranjangku. Aku tak ingin ranjangku ditempati oleh siapapun,” ucap Arsen, ia menahan tubuhnya agar tidak jatuh..Apalagi matanya berkunang-kunang dan kepalanya berdenyut nyeri. Tapi ia harus tegas pada Gisel.

__ADS_1


Gisel bangkit dari berbaringnya, kemudian ia menatap Arsen. “Kau ingin terus pura-pura seperti ini? apa kau tidak tersiksa membohongi dirimu sendiri? kau mencintaiku bukan?” tanya Giseel, seketika Arsen tertawa


“Mana mungkin aku mencintaimu, kau mau dengan mantan pendosa sepertiku? Bukan ... Aku bukan mantan pendosa, bahkan sekarang aku masih pendosa. Bisa saja aku nanti menghianatimu sama seperti dulu aku menghianati Gabby.”


Tidak ingin memperpanjang masalah dengan Gisel, Arsen pun langsung menarik tangan Gisel dengan sedikit keras, hingga Gisel turun dari ranjang.


“Kau mau membawakku ke mana?” tanya Giseel.


“Keluar dari apartemenku, sepertinya hujan sudah reda,” balas Arsen. Setelah sampai di luar kamar. Gisel melepaskan tangannya dari tangan Arsen, hingga Arsen menoleh ke belakang.


“Apakah kau rela aku menikah dengan laki-laki lain?” tanya Giseel.

__ADS_1


“Sudah kubilang, itu bukan urusanku, itulah urusanmu. Kenapa juga harus bertanya padaku,” ucapnya lagi Gisel merogoh tasnya, kemudian ia langsung mengambil ponselnya. Lalu, menelepon Gabriel.


“Kakak, aku bersedia mengikuti kemauanmu untuk menikah dengan Stev!” ucap Giseel yang menelpon Gabriel. Kali ini, wajah Arsen yang tertegun. Namun secepat kilat, Arsen menetralkan ekspresinya.


“Stev, tawaran Minggu lalu masih berlaku, kan?Aku mau menikah denganmu.” Setelah menelpon Gabriel, rupanya Giseel pun menelpon


Stev dan langsung membicarakan tentang pernikahan.


“Pernikahanku akan diselenggarakan di sini, dan kau harus menjadi tamu di terdepan, ketika aku menikah dengan Stev.” kata Gisel setelah mematikan panggilannya dari Stev dan ia langsung berbicara menantang Arsen.


Dada Arsen seperti tersayat belati saat mendengar ucapan Giseel, Rasanya begitu menyakitkan, ketika mendengar dari mulut Gissel secara langsung. Padahal, jelas-jelas Ia tahu bahwa Gabriel sudah menjodohkan lelaki itu dengan Gisel.

__ADS_1


“Jika aku tidak bisa menjadi alasanmu untuk bertahan hidup, Tolong ingatlah Seina, apakah kau tidak ingin lebih dekat dengannya? dan awas saja, jika kau tidak tidak hadir di pernikahanku!” Setelah mengatakan itu, Gisel pun berbalik kemudian ia keluar dari apartemen Arsen meninggalkan Arsen yang masih diam terpaku, apalagi Giseel membahas tentang Seina yang tak lain adalah putrinya bersama Kristine


Scroll gengs


__ADS_2