Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Sebuah Hantaman


__ADS_3

"Ah!" Savana berteriak ketika Joshua meloncat ke arahnya. "Paman, kau mau apa?" tanya Savana.


Joshua yang sudah dalam kondisi meninggi langsung menarik tubuh istrinya dan membawanya keranjang, lalu setelah itu dia menarik selimut. Tampak Savana ternganga, walaupun sempat menolak tapi pada akhirnya dia menurut dengan perlakuan Joshua.


Kini, akhirnya detik-detik mendebarkan bagi Joshua dan Savana pun tiba, di mana saat ini Joshua berusaha menyatukan tubuh mereka.


"Savana, are you virginn?" tanya Joshua. Dia begitu terkejut saat merasakan ada penghalang yang dimiliki istrinya.


"I-ia, paman," jawab Savana dengan terbata, dia menyangka bahwa Joshua kecewa.


Joshua menyeringai, dia benar-benar bahagia saat mengetahui bahwa Savana adalah gadis suci.


"Kau boleh cakar punggungku ataupun gigit tanganku jika kau kesakitan," ucap Joshua.


Savana mengangguk, dan seketika itu juga Joshua langsung menyatukan tubuh mereka. Saat setelah berusaha dengan keras, akhirnya Joshua berhasil menghancurkan pembobol milik istrinya, hingga kini tubuh mereka sudah menyatu.


Joshua menatap ke arah Savana, dia menghapus air mata istrinya karena tahu wanita itu pasti kesakitan. "Boleh aku menggerakkannya sekarang?" tanya Joshua.


Rasanya, dia menggila ketika milik Savana benar-benar membuatnya melayang, hingga Savana mengangguk. Sedetik kemudian Joshua benar-benar menggerakkan tubuhnya. Awalnya dengan gerakan pelan namun sedetik kemudian Joshua menggila hingga dia menyerang tubuh Savana tanpa ampun hingga Savana kelelahan.


Ini adalah pertama kalinya Joshua menjamah tubuh wanita, hingga dia tidak bisa menahan dirinya lagi.


***


Joshua menggulingkan dirinya ke samping, sedangkan Savana sudah memejamkan mata karena kelelahan dengan ulah Joshua.


Joshua mencoba mengatur napasnya. Dia menoleh ke arah Savana, kemudian lelaki itu pun memejamkan mata karena dia juga merasa lelah.


Satu jam kemudian.


Joshua terbangun, pria itu langsung membuka mata. Tak lama, dia melihat ke arah samping. Dia membulatkan mata saat melihat Savana ada di kamarnya. Baru saja dia akan berteriak, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dia teringat tentang apa yang dia lakukan.


"Kenapa aku bisa melakukan itu?" tanya Joshua. Sungguh di dalam kamusnya dia tidak ingin menyentuh Savana, tapi sekarang lihatlah, dia malah sudah menjamah tubuh istrinya. Lalu bagaimana jika Savana nanti mengandung?

__ADS_1


Sejatinya, pikiran Joshua tetap sama, dia tidak ingin anaknya lahir dari wanita seperti Savana yang ceroboh dan sangat jauh dari kriteria ibu sempurna.


Saat Joshua melamun, Savana terbangun dari tidurnya. Wanita itu meringis karena merasa sakit.


"Paman," panggil Savana ketika Joshua melamun, hingga pria itu tersadar lalu menoleh.


Savana mengerutkan keningnya saat Joshua menatap dengan aneh. Bukankah seharusnya pria itu senang karena mereka telah melakukan hal yang indah? Begitulah pikir Savana. Lalu kenapa sekarang Joshua melihatnya dengan tatapan tak suka?


Joshua mengerjap kemudian tersadar, dia tersenyum pada Savana membuat wanita itu menghela napas karena suaminya sadar, dialah yang memulai semuanya.


***


Satu bulan kemudian.


Savana berdiri di depan kampus tempat Joshua mengajar, wanita itu berharap suaminya segera keluar. Ini sudah satu bulan berlalu semenjak mereka tidur bersama.


Keesokan harinya setelah memadu kasih, Joshua pergi dan tidak datang lagi ke apartemen, hingga sudah satu bulan ini Savana tidak melihat suaminya. Dia bingung apa yang terjadi dengan Joshua. Kenapa tiba-tiba lelaki itu menjauh?


Pada akhirnya, Savana pun menyusul Joshua. Dia tidak berani masuk, hingga dia memutuskan untuk menunggu di luar. Dia hanya ingin mengabarkan pada Joshua bahwa dia sedang mengandung.


Ya, tadi pagi Savana baru mengetahui dia sedang mengandung, dan berharap suaminya senang dengan kabar ini.


Tak lama, mahasiswa mulai keluar satu persatu melewati gerbang, dan Savana memutuskan untuk datang ke parkiran, mencari mobil Joshua. Dia menghela napas ketika melihat mobil suaminya.


Joshua,terus menyesali keputusannya yang meniduri Savana. Walau bagaimana pun, dia tidak ingin punya anak dari wanita itu, karena bisa saja sewaktu-waktu dia menceraikan Savana.


Joshua adalah tipe orang yang berpikir rasional, selama enam tahun menikah, dia sudah berusaha untuk menasehati Savana tentang tugasnya Savana seorang istri, tapi Savana tetap kukuh pada hobinya. Dia tidak pernah mau mendengarkan Joshua.


Pada awalnya, Joshua ingin seperti orang lain, dia berusaha untuk menerima Savana sebagai istrinya, tapi di mata Joshua, tingkah Savana masih saja kekanak-kanakan, hingga Joshua lelah menasehati wanita itu.


Dan Joshua malah berpikir. Mungkin suatu saat akan menceraikan Savana, karena dia ingin mencari wanita yang benar-benar bisa menjadi istrinya, dan bisa melayani dengan baik.


Inilah alasan kenapa dia tidak pulang selama sebulan dan lebih memilih untuk tinggal di hotel, dia takut mendengar Savana hamil. Apalagi ketika melihat wanita itu, dia selalu merasa kesal sendiri. Andai saat itu Savana tidak datang ke kamar, tentu saja Joshua tidak akan berbuat lebih.

__ADS_1


Joshua terdiam saat melihat Savana di depan mobilnya. Dia menghela napas. "Kenapa juga dia harus datang ke mari?" tanya Joshua, tapi mau tak mau dia menghampiri wanita itu.


"Kenapa kau ke mari?" tanya Joshua.


Savana menatap Joshua dengan bingung, nada bicaranya terdengar dingin. "Aku ingin berbicara dengan Paman," ucap Savana dengan cepat.


Kini, Joshua dan Savana sudah duduk di mobil, dan dengan cepat wanita itu membuka tas kemudian menyerahkan surat dari dokter.


"Apa ini?" tanya Joshua.


"Aku hamil," ucap Savana. Dia berharap Joshua senang dengan kabar ini.


"Apa? Kau hamil?!" tanya Joshua dengan sedikit berteriak saat mendengar ucapan Savana, membuat wanita itu langsung terperanjat.


"Pa-Paman tidak suka aku hamil?" tanya Savana, air mata hampir saja menggenangi wajah cantik wanita itu.


Joshua menarik napas kemudian mengembuskannya, pada akhirnya yang dia takutkan terjadi. Tidak ada jalan untuk mundur selain jujur pada Savana tentang apa yang dirasakan.


Joshua menoleh ke arah Savana. "Kau ingin mendengar kejujuran dariku?" tanya Joshua.


Savana mengangguk.


"Jujur aku masih menyalahkanmu karena kau dulu menjebakku," kata Joshua membuat Savana menunduk, "kau tahu beberapa tahun lalu, aku ingin kau berubah menjadi wanita dengan kriteriaku, menjadi istri yang baik untukku, dan dengan begitu aku akan berubah menerimamu, tapi ternyata kau tidak mendengarkan nasehatku. Kau tidak mendengarkan arahanku dan kau terus sibuk dengan duniamu, seolah kau lupa bahwa kau sudah memiliki suami, dan aku pernah berpikir aku tidak akan pernah menyentuhmu karena suatu saat aku akan menceraikanmu," ucap Joshua.


Kali ini, ucapan Joshua begitu menancap membuat Savana langsung menoleh ke arahnya. "Selama sebulan ini, aku memang sengaja tidak pulang karena takut mendengar kau hamil."


Rasanya, tubuh Savana begitu lunglai ketika mendengar itu. Dia tidak percaya Joshua mengatakan hal yang sangat menyakitkan. Dia pikir Joshua akan senang dengan kabar kehamilannya.


"Tapi, berhubung kau sudah mengandung anakku, maka aku akan bertanggung jawab tapi dengan satu syarat, tolong berubah. Belajar menjadi wanita dan ibu yang baik. Aku tidak mau anakku diasuh oleh Ibu sepertimu, yang tahunya hanya menghambur-hamburkan uang. Selalu bertingkah layaknya seorang remaja, padahal umurmu juga sudah sangat dewasa. Seharusnya kau tahu apa tugasmu sebagai seorang istri dan sebagai seorang ibu. Aku ingin anakku tumbuh di lingkungan yang berkualitas seperti aku dan keluargaku. Aku harap kau mengerti dengan apa yang aku katakan."


"Jadi maksudmu, kau ingin mempunyai anak dari wanita yang sesuai kriteriamu?" tanya Savana dengan bibir gemetar. Tak pernah terbayangkan dia akan mendengar ucapan semenyakitkan ini.


"Hm, seandainya saat itu kau tidak datang ke kamar hanya karena serangga, kita tidak akan pernah melakukan ini, dan mungkin aku akan menceraikanmu kapan saja, tapi berhubung seperti ini dan tidak bisa diulang, maka ikuti apa kemauanku. Belajar menjadi Ibu yang baik, yang pintar dan yang bisa menempatkan diri dan anakku bangga mempunyai ibu sepertimu.”

__ADS_1


__ADS_2